
Tiga hari sudah Az dan Ar berada di Negara R mengurus masalah hak asuh Lusia. Az bersih keras untuk memperjuangkan hak asuh Lusia, meski secara biologis dia tidak memiliki hubungan apa pun. Tentu hal ini mendapat pertentangan dari keluarga kandung Lusia, Keluarga Morris.
“Az, aku ingin membuat kesepakatan denganmu,” ucap seorang wanita dengan tumbuh tinggi semampai, berkulit putih, dengan rambut lurus diikat ke belakang.
“Kesepakatan apa? Aku sudah katakan kepadamu Dara. Aku tidak mungkin membiarkan Lusia diasuh oleh keluargamu. Kakakmu, ibu kandung Lusia itu wanita depresi, sedangkan ayahmu sudah sangat tua. Tidak mungkin aku membiarkan Lusia tinggal dengan keluarga kalian. Lalu kau sendiri, wanita pekerja yang mengemban tugas negara,” sahut Az yang langsung menolak kesepakatan yang ditawarkan Dara.
“Aku tahu itu aku sudah memikirkannya. Tapi, tolong kau juga mengerti keadaan kakakku. Dia membutuhkan Lusia putri kandungnya. Hidupnya sudah sangat hancur ketika dia harus menyaksikan bagaimana mereka membunuh suaminya. Lalu, dia dipisahkan dari putri kandungnya sendiri dan menyangka bahwa putri kandungnya itu sudah tewas,”
“Tapi kita tidak bisa membebankan semua ini pada Lusia,”
“Iya, aku tahu. Itu sebabnya aku akan menyerahkan hak asuh Lusia kepadamu, asal kau mau menerima syarat yang aku ajukan,” ucap Dara.
Az terdiam sejenak, lalu memandang Ar adiknya yang kini berada di sampingnya dan ikut mendengarkan pembicaraan antara Azril dan Dara. Ar menganggukkan kepalanya seolah sedang memberikan isyarat pada sang kakak untuk mendengarkan syarat yang diberikan Dara kepada mereka.
“Kau boleh merawat Lusia asalkan setiap dua hari sekali, kau mengajak Lusia kemari agar bisa bertemu dengan ibunya. Setidaknya itu bisa membantu proses penyembuhan kakakku,” pinta Dara.
“Dara, jangan becanda! Kau pikir jarak antara Negara R dan S itu dekat?”
“Aku tahu itu karenanya aku minta agar kau dan Lusia pindahlah ke negara ini. Tinggallah di dekat kami,” pinta Dara.
“Lagipula Lusia akan lebih aman di sini karena musuh-musuh ayahnya masih berkeliaran di Negara S,” lanjut Dara.
“Apa maksudmu? Musuh apa?” Az tampak kaget sekaligus bingung, sungguh keluarga Lusia memiliki latar belakang yang tak biasa.
“Aku dengar di sana kau disebut Pangeran Kegelapan, tentu kau mengenal nama Edwin Morgan bukan?” tanya Dara.
“Edwin Morgan? Bukankah dia laki-laki yang mendapat julukan iblis kegelapan?”
“Kau benar. Edwin Morgan atau si iblis kegelapan adalah buronan Negara R yang berhasil melarikan diri ke Negara S. Dia juga yang telah menyebabkan kakak iparku yang merupakan ayah Lusia, tewas terbunuh hingga menyebabkan kakakku mengalami depresi. Selain itu...,”
“Selain itu apa?” tanya Az penasaran.
“Dia juga adalah orang yang kau dan adikmu cari selama ini,”
“Apa maksudmu?” tanya Az mengernyitkan kening.
__ADS_1
“Dia adalah si pengendara motor itu. Orang yang telah menyebabkan ibu kandung kalian tewas di tertabrak,”
“Apa??” ucap Az dan Ar bersamaan.
Perkataan Dara sangat mengejutkan Az dan Ar. Pantas saja jika selama ini mereka berdua kesulitan untuk mencari pelaku itu. Ternyata penjahat yang mereka cari bukanlah penjahat biasa. Melainkan salah satu anggota mafia kelas atas.
Sementara bagi Dara, hal itu merupakan hal yang mudah. Mengingat dia adalah seorang anggota pasukan khusus yang bekerja di Badan Intelejen Negara R.
“Kalau begitu aku ingin meminta syarat yang lain,” ucap Az kemudian.
“Syarat apa?” tanya Dara.
“Kau harus menangkap Edwin Morgan terlebih dahulu. Setelah itu, aku dan Lusia bersedia pindah ke Negara R,”
“Baiklah, kalau begitu sepakat,” sahut Dara antusias. Ia pun menyodorkan tangan kanannya sebagai tanda kesepakatan kepada Az. Namun, Az tak menerimanya sama sekali. Ia hanya mengucapkan kata “sepakat” sebagai tanda persetujuan. Lalu berlalu meninggalkan Dara dengan wajah dinginnya.
“Cih, sifatnya dari dulu sama sekali tidak pernah berubah. Masih saja sama seperti dulu. Dingin dan menyebalkan. Kurasa informasi tentangnya yang selama ini kuperoleh pasti banyak sekali kesalahan. ES BALOK TETAP SAJA ES BALOK,” gerutu Dara sebal.
***
“Kalau sebelumnya Steven tak menceritakan masalah Dara kepada kita, aku hampir saja tak bisa percaya kalau gadis cantik itu adalah Dara, Diandara Morris. Gadis kecil yang item, dekil, kumel, dan cengeng itu. Yang setiap hari dibully oleh gang David dan Steven bukan?” tanya Ar setelah berjalan menjauh dari Dara.
“Iya, contohnya seperti kakakku ini. Sekarang, dia terlihat lebih tampan,”
“Kau ini sedang memuji atau mengejekku, hah? Kau ingin mengatakan kalau aku dulu itu jelek,” ucap Az.
“Hey, bukan begitu maksudku Az, aku hanya ingin mengatakan kalau kau dan dia itu memiliki banyak persamaan. Jangan-jangan kalian berdua ini berjodoh lagi,”
Plak
Sebuah pukulan mendarat di kepala Ar.
“Kau ini bicara apa? Sembarangan saja!”
“Tidak, aku tidak bicara sembarangan. Aku hanya menebak saja. Kau dan dia juga kan dulu sering dijodoh-jodohkan bukan? Selain itu, kalian berdua juga sama-sama pernah menjadi korban pembullyan David,”
__ADS_1
“Ar, kalau aku perhatikan kau ini semakin hari semakin bertambah cerewet saja. Mungkin karena kau terlalu akrab dengan Bella ya?”
“Mungkin, bisa jadi. Oh ya? Bicara tentang Bella, aku jadi ingat bukan kah kau pernah mengajak David bertanding saat kau sudah sembuh?” tanya Ar mengingat kembali apa yang pernah kakaknya ceritakan beberapa hari yang lalu.
“Kau benar, sekarang tanganku sudah sembuh dan kita juga akan kembali ke Negara S. Kalau begitu teleponlah Dilla. Katakan padanya kalau kita akan segera kembali ke Negara S dan sampaikan pesanku pada David bahwa aku sore ini sudah siap bertanding dengannya di Sirkuit Labora,” ucap Az.
“Baiklah, akan segera kusampaikan,” jawab Ar.
“Lalu masalahmu dengan Dilla sudah selesaikan?”
“Sudah, saat aku mendapatkan foto itu aku langsung menelepon Dilla dan meminta penjelasan kepadanya,”
“Dan kau percaya?” tanya Az.
“Tentu saja aku percaya. Aku percaya sepenuhnya pada gadis yang aku cintai,” jawab Ar membuat Az tersenyum.
“Terkadang aku sering berpikir, apa kau itu benar-benar adik kandungku? Karena kulihat kau itu terlalu baik pada orang lain Ar,” sahut Az yang dibalas senyuman oleh Az.
“Bukan kah kau juga sama? Kau mati-matian ingin mempertahankan Lusia padahal dia bukan putri kandungmu. Selain itu, kau juga rela kehilangan uang 50 juta dan reputasimu sebagai pangeran kegelapan hanya untuk menolong orang lain yang saat itu kecelakaan. Mungkin uang 50 juta memang bukan jumlah uang yang besar bagimu, tapi masalah reputasi itu adalah hal yang berbeda. Dan yang terakhir, kau hampir mati dipukuli preman hanya karena menolong seorang bocah yang tak kau kenal hingga membuat kedua tanganmu terluka padahal bagi seorang dokter bedah seperti dirimu tanganmu itu sangat berharga. Bukan kah itu yang lebih pantas dikatakan terlalu baik?” sahut Ar.
“Bicara denganmu aku memang selalu kalah, tapi terima kasih. Terima kasih kau selalu ada untukku. Bersabar menghadapiku, menghadapi kemarahanku, kebencianku. Kau juga selalu mendukung dan merawatku di sini. Kau adalah adik terbaikku,” sahut Az lalu memeluk Ar.
“Maafkan aku, Ar. Aku telah salah paham kepadamu selama ini. Aku telah menuduh dan menyakitimu tanpa sengaja. Aku memang kakak yang bodoh, sangat bodoh,” ucap Az dengan mata berkaca-kaca saat ia teringat bagaimana ia memperlakukan adiknya dengan tidak adil.
“Sudah Az, aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf kepadaku dan aku senang semua kesalah pahaman di antara kita telah berakhir. Aku yakin Bunda di sana juga akan senang menyaksikan ini,”
“Tentu dan setelah ini penjahat yang menyebabkan kematian Bunda akan segera menerima hukuman yang setimpal,” ujar Az.
Dara, aku harap kau bisa memegang ucapanmu (batin Az).
***
Bersambung
Satu per satu misteri sudah mulai terbuka, nikmati terus alur cerita ini..
__ADS_1
Sebelum ke bab selanjutnya jangan lupa berikan like, vote, dan komen untuk episode ini agar level novel tidak jatuh ya... dan tetap jadikan favorit.
Terima kasih 💐💐💐