
Dilla masih memikirkan tentang fakta yang baru saja didengarnya. Ia sungguh tidak menyangka jika Lusia, gadis kecil yang begitu disayangi Az dan Ar ternyata bukan putri kandung dari Az.
Awalnya, Dilla mengira jika Lusia hanyalah seorang gadis piatu yang tak punya ibu seperti dirinya. Ibunya meninggal dan itulah sebabnya Az menjadi pria dingin. Namun, rupanya hal itu semua salah. Ketika tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan antara Az dengan Steven, saat itulah ia baru mengetahui tentang kenyataan yang sebenarnya.
Ternyata Az memang berbeda dari apa yang terlihat, meski pria itu sering kali tampak jutek, dingin, dan sedikit galak. Namun, rupanya ia memiliki jiwa kepedulian yang sangat besar kepada sesama. Pantaslah jika ia menjadi seorang dokter dan kakak yang begitu disayangi dan dikagumi oleh Ar.
“Jadi Lusia ditemukan Az di sebuah tong sampah saat Az akan berangkat kuliah?” tanya Dilla yang kini tengah duduk di kantin bersama Ar.
“Iya, seperti itulah,” jawab Ar.
“Lalu sekarang orang tua kandung Lusia mencari keberadaannya? Setelah delapan tahun?”
“Benar, dari informasi yang disampaikan Steven, Lusia sebenarnya tidak dibuang, melainkan diculik. Mereka selama ini menyangka kalau Lusia telah meninggal sampai Dara yang merupakan adik dari orang tua kandung Lusia dan sekarang bekerja di Badan Intelejen Negara R mengetahui fakta ini,”
“Seperti itu kah? Kalau begitu Az pasti sangat sedih saat ini,”
“Iya, tapi dia masih bisa mengesampingkan perasaannya. Saat ini yang dipikirkannya justru Lusia. Ia sangat takut jika kesehatan Lusia akan kembali drop saat mengetahui kabar ini. Oleh karena itu, ia berkeras agar Ayah mengizinkannya untuk keluar dari rumah sakit dan terbang hari ini juga ke Negara R untuk mengurus masalah ini. Ia ingin mengetahui seperti apa orang tua kandung Lusia secara langsung dan memastikan jika Lusia akan aman bersama mereka setelah ia melepaskannya,”
“Tapi bukannya kedua lengan Az masih terluka?” tanya Dilla khawatir.
“Iya, itu sebabnya aku akan menemani Az ke sana,”
“Jadi kau juga akan pergi bersama Az ke negara R?”
“Benar, karena Ayah tidak mungkin menemani Az. Ia sedang sangat sibuk di sini. Oleh karena itu, tolong kau bantu aku jaga Lusia ya? Upayakan agar dia tidak sampai tahu tentang kebenaran ini,”
“Baiklah, tapi aku tidak mungkin menginap di sini terus kan?”
“Kau tak perlu menginap. Untuk malam hari biarkan Ayah dan perawat saja yang menemani Lusia,”
“Baiklah, kalau begitu kau hati-hati ya,” ucap Dilla.
Setelah selesai makan bersama dengan Ar, Dilla kembali bekerja di rumah sakit dan Ar pamit kepadanya untuk meninggalkan negara ini menemani Az ke negara R.
Seusai melepas kepergian Ar, raut wajah Dilla terlihat panik saat ia melihat Steven sedang menggendong Bella yang masih tak sadarkan diri. Terlebih saat melihat darah mengalir di tangan kanan Bella.
“Kau ini, apa yang kau lakukan pada Bella?” bentak Dilla.
“Harusnya aku yang bertanya? Kenapa kau membentakku? Bukannya memanggil dokter atau perawat,”
Mendengar kalimat dari Steven, Dilla tersadar akan kekeliruannya, ia segera memanggil dokter dan perawat. Namun, sebelum dirinya memanggil mereka, para dokter dan perawat telah datang terlebih dahulu. Saat itulah, Dilla baru menyadari jika Bella bukan hanya datang bersama Steven, melainkan juga dengan Nenek Kanaya dan Bibi Mun.
“Nenek, apa yang terjadi?” tanya Dilla, namun Nenek Kanaya tak menghiraukannya. Ia berlalu begitu saja mengikuti arah ke mana Bella dibawa untuk mendapatkan penanganan dari Dokter Damar.
Merasa tak mendapatkan jawaban, Dilla memutuskan untuk mengikuti mereka. Dari balik kaca yang terpasang di pintu ruangan itu, Dilla melihat bagaimana Dokter Damar dan perawat melakukan tindakan pada Bella.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Bella terluka? Lalu kenapa Nenek bisa terlihat sangat mencemaskannya? Bukan kah selama ini Nenek tak menyukainya?” gumam Dilla.
Ia melihat bagaimana neneknya mengelus dan membelai lembut wajah Bella. Bahkan, di kedua sudut matanya tampak cairan bening yang berusaha ditahannya agar tak mengalir.
Sekilas, ada rasa iri yang menyelinap dalam hatinya. Bella yang merupakan orang asing mendapat perhatian dari nenek kandungnya, sedangkan ia diabaikan begitu saja.
“Bagaimana keadaannya Dokter Damar?” tanya Nenek Kanaya.
“Tante tenang saja, Bella gadis yang kuat. Luka seperti ini dia pasti akan segera sembuh,”
“Tapi kenapa dia masih tidak sadarkan diri?” tanya Nenek David cemas.
__ADS_1
“Sebenarnya dia sudah sadar dari tadi kok Tante, hanya saja dia sekarang sedang tertidur. Sepertinya ia sangat kelelahan,”
Ngooooooooooorrkkhhh
“Tuh, Tante dengar itu? Mana ada orang pingsan mendengkur begitu keras seperti itu Tante,” sahut Damar menahan tawa saat mendengar suara dengkuran Bella yang begitu keras.
Cih, gadis ini mempermainkanku saja. Aku sudah takut setengah mati. Eh, dia malah ngorok (batin Nenek David jengkel)
Sementara di luar.
“Kau? Sedang apa kau di sini?” tanya Steven saat melihat Dilla yang sedari tadi sibuk mengintip.
“Saya temannya Bella, Tuan. Saya ingin mengetahui bagaimana kondisi Bella saat ini dan kenapa dia bisa sampai terluka seperti itu?” tanya Dilla.
Steven tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah Bibi Mun untuk mengetahui kebenaran dari yang dikatakan Dilla.
“Benar, Tuan Steven. Saya memang pernah melihat gadis ini waktu berkunjung ke rumah kami saat bersama Nona Bella dan Tuan Muda David,”
“Tunggu! Jadi, Bella itu nama gadis yang di dalam? Lalu apa hubungannya dia dengan David?” tanya Steven yang masih belum mengerti.
“Nona Bella itu tunangannya Tuan David, Tuan Steven,”
“What?! Jadi, gadis cantik itu tunangannya David?” sahut Steven yang tampak terkejut mendengar jawaban Bibi Mun. Terlebih saat Dilla dan Bibi Mun mengangguk untuk membenarkan uacapannya.
Arrgh, sial! Kenapa si David sombong itu selalu saja selangkah di depanku? Bisa-bisanya dia mendapatkan tungangan secantik itu. Hey, tapi tunggu! Bukankah media mengatakan jika tunangannya David itu sangat jelek, wajahnya bahkan dibandingkan dengan ondel-ondel. (batin Steven tak percaya)
“Bibi Mun jika gadis itu tunangannya David. Lalu siapa gadis yang diakui David sebagai tunangannya di depan para awak media beberapa pekan lalu? Yang katanya wajahnya seperti ondel-ondel,” tanya Steven bingung.
“Dia itu Bella yang sedang menyamar. Dia sengaja melakukan itu untuk mengerjai David,” sahut Dilla.
“Kalian sedang apa di sini? Kalau ingin menjenguk pasien ke dalam lah? Jangan membuat keributan di sini!” ucap Damar saat keluar dari ruangan Bella.
“Paman, bagaimana keadaan Bella?” tanya Dilla. kepada Damar, namun belum sempat Damar menjawabnya, Kanaya sudah lebih dulu berbicara.
“Dia baik-baik saja. Sekarang dia sedang tidur di dalam. Kau jagalah dia! Mun, ayo kita pulang!” jawab Nenek David saat keluar dari ruangan itu.
“Baik, Nyonya,” sahut Bibi Mun.
Eh, ada apa lagi dengan Nenek? Tadi dia terlihat cemas, sekarang seperti itu lagi (batin Dilla)
“Steven, kau jangan berdiri mematung seperti itu! Sekarang antarkan kami pulang!” perintah Nenek David.
“Lalu Bella?”
“Biarkan dia di sini bersama temannya,” sahut Nenek David.
Steven tak punya alasan untuk membantah ucapan Nenek karena biar bagaimana pun, ia baru mengenal Bella. Dengan berat hati, ia mengikuti perintah Kanaya, meninggalkan Bella bersama dengan temannya, Dilla.
***
Saat ini Lim sedang berada di ruangan David memberikan beberapa laporan proyek untuk ditanda tangani oleh David.
“Lim, hari ini jangan lupa kau harus mengambil laporan tes DNA milik Dilla dan Paman Han. Pastikan tidak ada kesalahan,”
“Baik, Bos,"
“Oh ya, jangan lupa juga berikan kalung itu pada gadis itu karena Bella tadi bilang kalau Dilla mencari kalungnya. Sepertinya kalung itu sangat penting baginya dan jangan lupa juga nanti bawalah dia ke kediaman Erlangga,” ucap David memberi perintah.
__ADS_1
“Jadi gadis itu akan tinggal di rumah Anda, Bos?”
“Iya, Bella bersih keras ingin mengajaknya tinggal di sana,” jawab David lemas.
“Oh ya, bagaimana dengan anak buahmu? Apa mereka sudah memberi kabar? Ke mana Nenek mengajak Bella pergi?”
“Belum, Bos. Saya belum mendapat kabar, tapi saya akan segera menghubungi mereka.
Lim mengambil ponselnya. Namun, belum sempat Lim menelepon anak buahnya, salah satu dari mereka sudah menelepon Lim terlebih dahulu.
“Bos, maafkan kami. Tadi, ada beberapa preman yang hendak merampok Nyonya Besar,”
“Apa? Merampok?” teriak Lim kaget yang membuat David mengarahkan pandangannya kepada Lim.
“Tapi sekarang mereka aman kan?” Pertanyaan Lim membuat David semakin gusar, ia pun mencoba menajamkan pendengarannya.
“Emm.. anu Bos, anu,”
“Anu-anu apa? Katakan yang jelas! Mereka aman kan?” Bentak Lim yang merasa kesal karena anak buahnya tak langsung menjawab.
“Nyonya Besar aman, tasnya pun bisa diambil kembali. Hanya saja..,” ucap si penelepon menggantung ucapannya.
David yang gemas langsung merebut ponsel dari Lim.
“Hanya saja apa? Cepat katakan! Kau tidak bisu kan?” bentak David.
“Eh, Tuan maaf itu... Nona Bella terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena tangannya terluka saat melindungi Nyonya,”
“Apa?!” teriak David tidak percaya “Kalian ini BODOH ya!” makinya kemudian.
Badan David seketika melemas, ia tidak menyangka bahwa hari ini ia akan mendengar kabar buruk tentang istrinya.
“Ma-maaf, Tuan,” sahut penjaga itu dengan nada terbata karena ketakutan.
“Menjaga dua orang wanita saja kalian tidak becus!” bentaknya sekali lagi.
Lalu ia pun menutup ponsel itu dan membuangnya dengan keras ke lantai.
Bruugh
Beruntung, ponsel Lim tahan banting, jika tidak mungkin ponsel itu saat ini sudah tak sudah tak berbentuk lagi.
“Sekarang, siapkan mobil segera! Kita berangkat saat ini juga ke rumah sakit!” ajak David.
“Baik Bos,” jawab Lim yang langsung bergegas turun ke bawah.
Nenek, apa yang sebenarnya kau dan Bella sedang lakukan di sana? Kenapa bisa jadi seperti ini? Aku harap ini bukan bagian dari rencanamu? Karena kalau sampai kau yang merencanakan ini semua aku tidak akan memaafkanmu (batin David).
***
Bersambung
Sebelum membaca episode selanjutnya, tinggalkan dulu ya likemu di episode ini.. 👍👍
Lengkapi juga dengan vote dan komennya, serta jadikan karya ini favorit terima kasih...🤩🤩🤩
(Mohon maaf jika kemarin tidak update ya..)
__ADS_1