
Dengan wajah dingin, wanita paruh baya itu melangkah tegap ke arah dapur. Tatapannya menajam saat melihat para pelayan itu berkerumun memandangi benda persegi yang dipegang oleh salah seorang pelayan dari rumah itu.
“Sedang apa kalian?” Suara menggelar wanita itu mengejutkan para pelayan itu, hingga hampir saja benda persegi yang dipegangnya terlempar ke atas dan hampir jatuh.
“Bi-bi Mun,” ucap para pelayan terbata.
“Apa ini? Apa kalian lupa aturan di rumah ini?” tanya Bibi Mun mengambil ponsel yang dipegang oleh pelayan itu.
“Ma-maaf, Bi,” para pelayan itu menundukkan kepala mereka.
Bibi Mun menghela nafas berat. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah layar ponsel yang masih menyala. Matanya melebar seketika saat melihat siaran yang sedang ditonton para pelayan itu.
“Astaga,” gumamnya.
Bibi Mun langsung berjalan cepat meninggalkan para pelayan yang masih tampak ketakutan itu.
Tok tok tok
“Masuklah,” sahut seorang wanita tua yang sedang berada di dalam kamarnya.
“Ada apa, Mun?” tanya wanita tua yang tak lain adalah neneknya David.
“Nyonya, sebaiknya sekarang Anda nyalakan tv Anda,” pinta Bibi Mun.
Tanpa banyak bertanya nenek David pun menyalakan tv layar datar yang dipasang di dinding kamarnya.
__ADS_1
“Ya Tuhan! Apa ini Mun?” bentak Nenek David dan langsung melempar remot tv yang barusan dipegangnya.
“Saya juga baru tahu itu tadi Nyonya,” jawab Bibi Mun.
“Kalalu begitu cepat panggilkan David, Han dan Diana kemari!” perintah Nenek David.
“Baik, Nyonya, tapi sepertinya Tuan David masih belum pulang,” sahut Mun.
“Kalau begitu cukup mereka berdua saja,”
“Baik Nyonya,”
Tanpa menunggu lama Handika dan Diana sudah sampai di kamar Nenek David.
“Apa itu Han?” Bentak Nenek David sambil menunjuk layar persegi yang baru saja ditontonnya.
“Apa-apaan dia?” gumam Handika pelan.
“Diana, apa kamu tahu semua ini?” tanya Nenek David.
“A-aku tidak tahu, Ma. David tidak pernah cerita kalau dia sudah punya tunangan,” jawab Diana sedikit ketakutan.
“Bodoh! Kalian semua bodoh! Bagaimana bisa kalian membiarkan cucuku melakukan kesalahan yang memalukan ini? Dan kamu Diana! Kamu bukan hanya tidak bisa melahirkan cucu untukku, tapi merawat cucuku pun kamu tidak mampu,” bentak Nenek David yang membuat mata Diana berkaca-kaca.
“Ma, jangan salahkan semuanya pada Diana! Ini murni kesalahan cucu kesayangan Mama. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kami,” bela Handika.
__ADS_1
Handika merasa kasihan pada Diana yang selalu diperlakukan tidak adil oleh Mamanya. Sebenarnya semua itu bukanlah kesalahan Diana karena kenyataannya Diana bukannya tidak bisa hamil, tapi itu karena selama Handika menikah dengan Diana, Handika memang tidak pernah menyentuh Diana sedikit pun.
“Kamu, kenapa kamu terus membela dia? Bukankah dulu kamu tidak pernah setuju untuk menikah dengannya?” tanya Nenek David.
“Mama, cukup! Jangan terus menerus membahas masa lalu!” bentak Handika.
“Kenapa? Kamu masih belum bisa melupakan wanita penggoda itu?" tanya Nenek David.
“Mama-” Handika tak melanjutkan ucapannya. Ia langsung memilih pergi meninggalkan kamar ibunya.
“Ma-maaf, Ma. Diana yang lalai. Diana akan bicara dengan David,” ucap Diana dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
Nenek David yang melihat semua itu merasa tidak tega pada Diana.
“Tidak perlu, pergilah! Nanti kalau David sudah datang, suruh dia segera menemuiku!" ucapnya dengan nada yang mulai melemah.
“Baik, Ma, Diana permisi dulu,” ucap Diana sebelum meninggalkan ruangan itu.
Setelah Diana pergi, Nenek David merebahkan badannya di atas sofa, kemudian menghela nafasnya panjang.
***
Bersambung
Bagaimana David menghadapi reaksi keluarganya?
__ADS_1
Nantikan kelanjutan kisahnya di episode selanjutnya..jangan lupa beri dukungan berupa like, vote, dan favoritkan karya author ya...
Terima kasih... salam sayang dan sehat selalu 😘😘