
Clarissa dengan senyuman jahatnya membawa minuman yang telah dicampurnya ke arah Diana. Namun, belum sampai ke tempat Diana seseorang telah menyenggolnya.
Byurr
Minuman yang dibawa Clarissa tumpah begitu saja.
Sialan! (umpat Clarissa)
Ia ingin sekali mencaci maki orang yang telah menumpahkan minumannya itu. Namun niat itu segera ia urungkan saat tahu bahwa orang yang sepertinya telah sengaja menjatuhkan minumannya itu adalah Steven.
Sial, sepertinya malam ini Kak Steven benar-benar memata-mataiku. Dia sepertinya telah sengaja menumpahkan minuman ini. (batin Clarissa).
“Aduh, maaf sekali ya, adikku sayang. Aku sunggguh tidak sengaja menjatuhkannya. Akan kuambilkan lagi minuman lain untukmu,” ucap Steven berpura-pura.
Dasar, kau aktor gadungan sialan! Kau pikir aku tidak tahu kau hanya bersandiwara. Aku harus memikirkan cara agar kau tak mengganggu rencanaku lagi malam ini (batin Clarissa).
“Bagaimana?” tanya Lolita menghampiri Clarissa.
“Sepertinya aku benar-benar diawasi Steven malam ini,” jawab Clarissa.
“Apa maksudmu?” tanya Lolita bingung.
“Dia tadi telah mendorongku dan menjatuhkan minuman yang telah kucampur dengan obat perangsang,” jawab Clarissa.
“Kalau begitu sekarang kita perlu mengalihkan perhatian Steven terlebih dahulu. Kau tenang saja, kakakmu Steven itu playboy. Perhatiannya pasti akan segera teralihkan jika ada wanita cantik di dekatnya,” ucap Lolita.
***
“Hah, pesta yang membosankan sekali. Semua wanita cantik sudah digandeng oleh pria-pria berlevel rendah itu,” keluh Steven yang kini sedang duduk bersama Az dan Lim.
“Az, kenapa kau tidak membawa pasanganmu? Bukankah di rumah sakitmu itu banyak sekali dokter dan perawat-perawat cantik?” tanya Steven.
“Apa itu penting? Lagi pula aku kemari karena Ayah dan Ar yang membujukku,” jawab Az.
“Ah, kau benar. Aku lupa kalau kau itu kan sedang patah hati. Tenanglah, mereka itu belum menikah. Kau masih bisa mendapatkannya,” ucap Az yang membuat Lim terbatuk mendengarnya.
“Uhuk, Uhuk,”
Masalahnya di antara mereka bertiga, hanya Lim lah yang mengetahui kalau Bella dan David sudah menikah. Bahkan, pagi ini David begitu ngotot ingin segera mendapatkan akte pernikahan dirinya dan Bella karena sang Nenek meminta Bella untuk tidak tinggal lagi di rumah itu usai pesta malam ini.
“Kau ini kenapa Lim? Jangan bilang kalau kau juga menyukai tunangan si David itu,” tuduh Steven.
“Bukan begitu, aku hanya heran sebenarnya kau ini sahabat macam apa? Masa kau meminta Az untuk menikung kekasih sahabatnya sendiri. Lagi pula apa kalian tidak melihat kalau mereka berdua saling menyukai,” jawab Lim yang membuat Steven dan Az terdiam.
Biar bagaimana pun ucapan Lim kali ini benar, mereka berdua memang tampak saling menyukai satu sama lain. David tampak memanjakan Bella dan Bella terlihat senang mendapatkan perlakuan seperti itu dari David.
“Waw, ternyata masih ada dua bidadari cantik yang tersisa dari pesta malam ini rupanya,” ucap Steven tampak bersemangat saat melihat kehadiran Dara dan Kalista di pesta malam itu. Kalista dan Dara datang bersama Rani dan Angga, orang tua Lim.
__ADS_1
Kenapa perempuan menyebalkan itu pakai datang ke pesta malam ini sih? (batin Lim saat melihat kehadiran Kalista).
Kalista tersenyum saat melihat Lim duduk bersama dengan teman-temannya tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia ingin menghampiri Lim, namun saat melihat ekspresi tidak suka dari Lim membuatnya mengurungkan niatnya.
“Halo, Nona cantik, boleh kita berkenalan,” sapa Steven mengulurkan tangannya kepada Kalista.
“Tentu saja, siapa yang akan menolak pria tampan sepertimu,” jawab Kalista.
Cih, dasar wanita penggoda (umpat Lim dalam hati)
“Kenalkan namaku Steven William, panggil aku Steven, dan kau gadis cantik?”
“Namaku Kalista Ricardo,, panggil aku Kalista” balas Kalista seraya menerima uluran tangan dari Steven.
“Bagaimana kalau kita berdansa bersama? Apakah kau bersedia?” ajak Steven.
“Tentu saja. Siapa yang akan menolak tawaran pria tampan sepertimu?” jawab Kalista tersenyum manis.
Mendengar jawaban Kalista, membuat darah Lim terasa mendidih. Baru kemarin, perempuan itu menggodanya dan sekarang dengan mudahnya ia jatuh ke dalam pelukan laki-laki lain.
Apalagi saat ini Kalista tampak mesra berdansa dengan Steven. Hal itu membuat Lim ingin sekali menarik perempuan itu dari dekapan Steven.
Dari kejauhan Lolita dan Clarissa yang melihat itu tampak tersenyum dan saling berpandangan.
“Sepertinya kali ini Tuhan telah berpihak padamu Clarissa. Sudah waktunya kau menjalankan rencanamu kembali,” ucap Lolita.
“Kau benar Lolita, aku tak akan melewatkan kesempatan ini dan akan aku pastikan setelah malam ini David sepenuhnya akan menjadi milikku,” sahut Clarissa.
Untuk memastikan agar David meminum minumannya, Clarissa hanya mengadakan satu macam minuman kesukaan David, sedangkan minuman lainnya adalah minuman beralkohol yang tak disukai David. Selain itu, Clarissa sengaja meminta seseorang untuk mengalihkan perhatian Bella agar tak terus menerus bersama dengan David.
Sama seperti rencana Lolita, Clarissa juga meminta seseorang untuk menumpahkan minuman kepada Bella hingga Bella harus membersihkan minuman itu di kamar mandi.
“Kau itu ceroboh sekali? Bagaimana bisa kau menumpahkan minuman itu ke pakaian tunanganku?” bentak David kepada pelayang itu.
“Ma-maafkan saya Tuan. Saya tidak sengaja” ucap si pelayan.
“Sudahlah sayang, dia kan tak sengaja. Aku ke kamar mandi dulu membersihkannya,” jawab Bella.
“Apa perlu aku temani ke kamar mandinya sayang?” tawar David.
“Kau mau apa? Jangan macam-macam ya! Di kamar mandi pasti banyak sekali orang,” sahut Bella yang sudah membayangkan apa yang akan terjadi jika David menemaninya ke kamar mandi. David tersenyum, sepertinya istrinya itu sudah bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya.
Bella pergi ke kamar mandi sendirian, saat itulah pelayan yang diminta Clarissa datang menghampiri David. Ia menawarkan beberapa minuman kepada David dan sesuai perkiraan Clarissa, David memilih minuman yang telah dicampur obat perangsang oleh Clarissa.
“Berhasil! Ikan telah memakan umpannya. Sekarang aku tinggal menangkap ikan itu,” ucap Clarissa dengan senyum jahatnya setelah melihat David meneguk habis minuman pemberiannya itu.
Ia kemudian menulis sebuah pesan untuk David dan meminta pelayan yang tadi menjatuhkan gelas minuman kepada Bella untuk memberikannya pada David.
__ADS_1
“Berikan pesan ini kepada laki-laki tadi. Katakan padanya, jika ini pesan dari wanitanya itu,” ucap Clarissa saat memberikan secarik kertas itu kepada pelayan.
David mulai merasakan sesuatu yang aneh setelah meneguk minuman tadi.
“Kenapa kepalaku terasa sedikit pusing ya?” gumam David.
Pelayan yang tadi diminta Clarissa pun datang menghampiri David dan memberikan secarik kertas yang berisi pesan dari Clarissa.
“Tuan, Nona yang bersama Anda tadi memintaku untuk memberikan ini kepada Anda,” ucap pelayan itu sambil memberikan pesan tadi kepada David.
David menerima pesan itu dan segera membukanya.
Sayang, aku sangat lelah dan sekarang sedang beristirahat di kamar hotel sendirian. Bisakah kau datang ke kamarku untuk menemaniku sekarang. Aku menunggumu di kamar nomor 133. Aku harap kau bisa segera datang. (isi pesan tersebut).
David tersenyum saat membaca pesan itu.
“Ternyata kau sedang di kamar hotel rupanya. Kalau begitu aku akan segera menemuimu sekarang juga di sana dan seperti yang kau minta, aku akan menemanimu. Menemanimu bermain di sana sepanjang malam,” gumam David.
Mungkin karena pengaruh obat David melupakan acara yang terselenggara malam ini. Ia hanya fokus pada pesan yang dikirimkan pelayang tadi.
“Sepertinya berhasil Clarissa. Sekarang nikmatilah malammu bersama David dan jangan lupa nyalakan videonya,” ucap Lolita.
“Tentu saja, aku tidak akan lupa karena dengan itu David tidak akan bisa mengelak lagi,” sahut Clarissa.
Clarissa bergegas menyusul David menuju kamar yang sudah direncanakannya. Sedang Lolita, segera melakukan aksinya untuk membuat Dilla terusir dari pesta malam ini.
David mulai merasakan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya saat berjalan menyusuri jalan untuk mencari kamar yang dimaksud Bella. Ia mulai bisa bernafas lega. Saat mendapati kamar yang dimaksud Bella dalam pesannya.
“Ternyata di sini rupanya kamar yang dimaksud Bella itu,” gumam David.
Sebenarnya David merasa heran saat mendapati kamar itu tak terkunci. Namun, karena hawa panas yang menjalar di tubuhnya membuatnya mengabaikan semua itu. Kewaspadaannya pun berkurang.
“Bella,” panggilnya lirih, namun tak ada sahutan dari Bella. Ia pun menyalakan lampu yang sebelumnya mati di kamar itu.
“Ke mana Bella? Kenapa tidak ada siapa-siapa di sini?” ucap David saat mendapati bahwa kamar itu kosong.
“Ah,” David merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang ada dalam kamar itu. Ia merasa kecewa saat tak mendapati Bella di sana.
Hawa panas terus menjalari tubuhnya hingga ia mulai membuka dasi, lalu kancing kemeja yang dikenakannya. Namun, tetap saja tak menghilangkan rasa panas yang dideritanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi padaku saat ini?” gumamnya.
Kini David mulai melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya, mulai dari jas, kemeja, bahkan celana panjang yang dikenakannya. Ia mulai melangkah ke kamar mandi, mengguyur seluruh badannya untuk menghilangkan hawa panas yang dideritanya.
***
Bersambung
__ADS_1
Jika sudah singgah di karya ini jangan lupa, like, vote, komentar dan favoritnya ya...
Terima kasih