
Setelah David selesai menanda tangani surat kontrak yang telah dibuat kembali oleh sang pengacara, Sekretaris Lim segera menghubungi Bella kembali.
“Halo, Nona Bella,” ucap Lim begitu telepon itu diangkat.
“Maaf, aku bukan Bella,” jawab Dilla saat mengangkat telepon Bella.
“Oh, jadi ini Nona Dilla?”
“Eh, Sekretaris Lim, apa kamu lupa apa yang aku katakan kemarin, cukup panggil aku Dilla,” sahut Dilla.
"Maaf, Dilla, di mana Nona Bella? " tanyanya.
"Dia belum bangun, "
"Apa??!" Lim kaget melihat jarum jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 8.
“Iya, Bella memang jarang bangun pagi. Oh, ya, aku lihat kamu sudah menelepon Bella beberapa kali? Ada apa?” tanya Dilla setelah memperhatikan riwayat panggilan ponsel Bella sebelumnya.
“Iya, dari semalam saya memang sudah meneleponnya, tapi tidak ada yang mengangkatnya,”
“Yah, mungkin karena ponsel Bella tiap malam memang selalu di mode heningkan. Dia tidak ingin ada yang mengganggu tidurnya, makanya telepon semalam tidak ada yang mengangkat. Ini juga kebetulan aku melihatnya,” jelas Dilla.
“Kalau begitu tolong kamu bangunkan Nona Bella dan minta dia segera datang ke kantor kami,” pinta Sekretaris Lim.
“Untuk apa?”
“Bos David ingin membicarakan masalah surat perjanjian yang sebelumnya telah mereka sepakati. Tentu kamu tahu tentang hal itu sebelumnya kan?” tanya Lim.
“Iya, aku tahu. Tapi bukannya kata Bella, kamu yang yang akan mengantarkannya kemari,”
“Iya, sebelumnya memang saya berniat mengantarkannya tapi..”
“Tapi apa? Oh, jangan-jangan laki-laki yang semalam disiram oleh Neni itu kamu ya?” tebak Dilla menahan tawa.
“Iya, kamu benar.” Jawab Lim setelah menghela nafasnya pelan.
“Oke, aku mengerti. Jadi, ceritanya kamu kapok nih datang kemari?” goda Dilla.
“Bukan, kapok, hanya saja saya rasa akan lebih baik jika Nona Bella sendiri yang datang kemari. Jadi, jika ada isi surat yang tidak disetujuinya akan lebih mudah mengurusnya,” ucap Lim ngeles.
“Oke, baiklah aku mengerti. Aku akan bangunkan dia dan memintanya ke kantor kalian,”
“Baguslah. Oh, ya, apa perlu saya memanggil supir untuk mengantarnya?”
“Aku rasa tidak perlu. Tapi, jika Bella menginginkannya, dia pasti akan menghubungimu,”
“Baiklah, saya tunggu kehadiran Nona Bella di sini, terima kasih” ucap Lim sebelum menutup teleponnya.
“Sama-sama,” jawab Dilla.
***
“Bagaimana?” tanya David begitu melihat Lim yang masuk ke ruangannya.
“Dia masih tidur Bos,” jawab Lim datar.
“Apa?! Jam segini masih tidur? Benar-benar gadis itu,”
“Iya, tapi saya sudah menitipkan pesan pada temannya Dilla untuk membangunkannya dan memintanya memberitahu Nona Bella agar segera datang kemari,”
__ADS_1
“Baguslah, aku harap gadis tengik itu bisa segera datang kemari dan tidak membuang banyak waktuku,” ucap David yang mendapat tatapan dari Sekretarisnya itu.
“Bos,” panggil Lim.
“Ada apa?”
“Kenapa Anda masih memanggilnya dengan gadis tengik? Tidak kah Anda sebaiknya belajar untuk memanggilnya ‘sayang’ seperti isi perjanjian kontrak yang Anda buat,” goda Lim seraya menaik turunkan alisnya.
David tidak menjawab, ia malah memberikan tatapan membunuhnya pada Lim.
“Baiklah, baiklah, terserah Anda saja, saya permisi dulu Bos, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya urus,” ucap Lim yang segera beranjak keluar dari ruangan David.
“Ya sudah, sana pergilah! Dan berhentilah menggodaku,” teriak David sebelum Lim benar-benar keluar dari ruangannya.
Setelah Sekretaris Lim keluar dari ruangan David, sudut bibir David terangkat.
“Lim, benar. Sepertinya aku harus mulai membiasakan memanggil gadis tengik itu dengan panggilan ‘sayang’. ‘Sayang’ , iya sayang ,” gumam David yang tak berhenti tersenyum.
***
Di tempat lain
Dilla masih berusaha membangunkan Bella yang masih saja terlena dengan di atas tempat tidurnya.
“Bel, Bella, bangun Bella,” menepuk-nepuk pipi Bella.
“Huh, ini anak susah banget dibanguninnya ya? Masa harus nunggu Neni teriak-teriak dulu baru bangun!” gumam Dilla.
“Atau harus kusiram pakai air ya biar dia bangun? Ah, tidak. Bisa-bisa dia ngamuk lagi,” ujar Dilla bermonolog.
“Ah, aku ada ide,” sesaat setelah pikiran itu terlintas, Dilla mendekatkan mulutnya ke telinga Bella dan membisikkan sesuatu kepadanya.
Bisikan Dilla ternyata cukup ampuh, perlahan Bella mulai membuka matanya.
“Hoam, apa? Tadi kamu bilang apa? Siapa yang akan membawakan uang satu milyar untukku?’ tanya Bella sambil menggeliat.
“David,” jawab Dilla cepat.
“Oh, ya?” tanya Bella tak percaya.
“Iya.." sahut Dilla.
" tapi boong,” lanjutnya.
“Huu, kamu ini mengganggu saja,” ujar Bella yang kembali menempelkan kepalanya di atas bantal.
“Eiiiit,” Dilla menahan tubuh Bella.
“Bella, jangan tidur lagi karena aku harus segera pergi,” ucap Dilla.
“Pergi ke mana?”
“Aku ada panggilan pekerjaan di rumah sakit?”
“Oh, ya? Jadi dokter atau perawat?”
“Ngaco, mana ada lulusan SMA sepertiku jadi dokter atau perawat di rumah sakit,”
“Terus? Ngapain kamu ke rumah sakit? Enggak mungkin melamar jadi pasien kan?”
__ADS_1
“Jelas, enggak lah. Mana ada orang yang bekerja sebagai pasien. Aku ke rumah sakit untuk menggantikan temanku bekerja menjadi tukang cuci dan bersih-bersih di sana,” jelas Dilla.
“Apa? Jadi tukang cuci? Tapi kamu itu kan putri dari Handika Erlangga. Masa jadi tukang cuci sih?”
“Iya, putri yang tidak dikenali dan tidak dianggap,” ucap Dilla sedih.
“Dilla, kamu jangan sedih. Kemarin itu kan baru pertemuan pertama kamu bertemu dengan dia. Mungkin saja dia masih lupa dengan ibumu,”
“Iya, kamu benar Bella. Dia sudah lupa dengan ibuku,”
“Aduh, bukan itu maksudku. Aku yakin setelah beberapa kali dia bertemu denganmu, dia pasti akan segera mengenali dan akan mengakui kamu sebagai putrinya,”
“Iya, aku sangat menantikan hari itu, tapi aku juga tidak ingin terlalu berharap Bella. Selama dia belum mengenaliku sebagai putrinya, maka aku akan tetap menjalankan kehidupanku sebagai gadis piatu miskin. Dan pekerjaan yang bisa aku peroleh saat ini hanya sebagai seorang tukang cuci,”
“Baiklah, baiklah, terserah kamu saja. Kalau begitu biarkan sekarang aku mengantarmu ke sana, setidaknya dengan begitu kamu bisa mengirit ongkos,”
“Tidak, Bella, tidak perlu. Karena hari ini kamu sudah ditunggu Tuan David di kantornya,”
“Heh, Tuan? Dia itu sama dengan kamu. Kalian berdua itu sama-sama cucu dari keluarga Erlangga. Kenapa kamu harus memanggilnya tuan sih?” protes Bella tidak suka.
“Baiklah, maksudku tadi kamu sudah ditunggu David di kantornya,” sahut Dilla.
“Ngapain laki-laki itu menungguku di kantornya? Jangan bilang kalau dia merindukanku dan memintaku mengantar makan siang untuknya,”
“Cih, kepedean sekali kamu ini Bella. Dia itu menunggu kamu di kantornya karena ingin membahas masalah surat perjanjian yang sebelumnya telah kalian sepakati,”
“Oh, masalah itu. Tapi, bukannya kemarin David bilang kalau sekretarisnya itu yang akan mengantarkannya kemari. Jadi, kenapa sekarang aku yang harus ke sana?”
“Sekretaris Lim bilang akan lebih baik jika kamu sendiri yang ke sana. Jadi, jika ada hal-hal yang tidak berkenan mengenai isi surat perjanjian tersebut kamu bisa segera mengatakannya pada David secara langsung. Lagi pula, Sekretaris Lim juga sebenarnya sudah ke sini kok semalam, saat kamu sedang tidur,” jelas Dilla.
“Oh, ya? Masa sih? Malam-malam dia ke sini??” tanya Bella tak percaya.
“Iya, beneran. Bahkan Neni dan tetangga sebelah kita sempat memberikannya hadiah yang mungkin tidak akan dia lupakan seumur hidupnya,” jelas Dilla penuh penekanan.
“Hadiah? Hadiah apa?” tanya Bella penasaran.
“Dua ember air,” jawab Dilla mengacungkan dua jarinya.
“Dua ember air? Maksudnya apa sih?”
“Iya, Neni dan tetangga sebelah kita semalam masing-masing menyiramnya dengan seember air,”
“Apa?! Yang benar?” tanya Bella terkejut.
“Iya,”
“Ha ha ha.. Waw, ini benar-benar berita hebat! Bagaimana kira-kira rupa wajah dari sekretarisnya saat itu ya?”
“Entahlah, yang jelas pasti sangat menggelikan” ucap Dilla sambil memandang wajah Bella.
“Ha ha ha,” tawa Bella dan Dilla bersamaan.
***
Bersambung
Terima kasih telah memberikan like dan vote terhadap karya ini, serta menjadikan karya ini favoritmu.
Salam hangat dan sehat selalu untuk semua 😍😍
__ADS_1