
Sesuai kesepakatan yang dilakukan antara Bella dan Dilla tadi malam bahwa mulai hari ini, Bella akan belajar bangun pagi. Hal itu karena dirinya tidak ingin ditinggal sendirian di rumah Lim. Selain itu, Bella juga sudah menerima pekerjaan sebagai petugas kebersihan sementara di rumah sakit, menggantikan Dilla yang kebetulan ditugaskan Dokter Damar untuk menjaga Lusia.
Namun, dasar Bella, si gadis malas, jika sudah terlelap ia bisa melupakan segalanya. Seperti pagi ini, Dilla masih saja mati-matian membangunkan Bella.
Byurr
Satu gayung berisi air terpaksa disiram Dilla ke tubuh Bella yang masih lengket dengan selimutnya. Membuat Bella yang sejak tadi dibangunkan, akhirnya menunjukkan responnya.
“Ya Tuhan, akhirnya dia bangun juga,” gumam Dilla.
“Ugh,” Bella melenguh. Tangannya direntangkan guna melemaskan otot-otot dan sendi-sendi di tubuhnya.
“Sudah pagi kah, Dilla?”
“Iya, Bel, ini sudah pagi. Cepatlah kau mandi! Jika tidak kita berdua bisa kesiangan,” jawab Dilla.
“Kalau gitu tidak jadi lah, Dil. Aku masih punya banyak uang pemberian dari David yang 10 juta itu. Lagi pula akhir bulan juga aku masih bisa mendapatkan 20 juta lagi darinya. Jadi, untuk apa aku harus bekerja. Mending aku tidur lagi saja,” ucap Bella yang hendak merebahkan dirinya kembali.
“Eitttt, Bella, jangan tidur lagi! Kau kan semalam sudah janji akan menggantikan pekerjaanku. Hanya sementara saja kok. Nanti kalau Lusia sudah pulang dari rumah sakit, aku yang akan menggantikan pekerjaanmu sebagai OB di rumah sakit itu lagi bagaimana?" bujuk Dilla sambil mengangkat tubuh Bella agar tidak tertidur lagi.
“Baiklah-baiklah. Sebagai teman terbaikmu, aku akan menurutinya.”
“Oh, terima kasih, Bella! Sekarang cepat mandi lah!” seru Dilla.
“Harus mandi gitu?” tanya Bella yang enggan melangkah ke kamar mandi.
“Ya ampun, Bellaaa!" menepuk jidat “Kau ini akan bekerja di rumah sakit, bukan di pasar tradisional seperti biasa, “ ucap Dilla kesal melihat kelakuan sahabatnya yang pemalas itu. Namun Bella, masih juga tak bergerak.
“Cepat mandi! Atau mau kupanggilkan David?” sahut Dilla setengah berbisik.
“Untuk apa kau memanggil pria brengsek itu?” tanya Bella dengan mata yang langsung terbuka lebar.
“Tentu saja untuk memandikanmu,” jawabnya terkekeh.
“Cih, terima kasih,” jawab Bella yang langsung melangkah ke kamar mandi.
Dilla yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya bisa senyum-senyum sendiri.
“Ha ha ha, sekarang aku tahu cara agar kau mau cepat bangun dan segera bangun Bella,” gumamnya.
***
“Hey, sampai kapan kau akan melihat jarimu terus? Bisa-bisa sarapanku jadi telat karena kau sibuk melihat luka kecil itu,” ejek David saat mendapati Lim sedang memandang bekas luka yang dibalut Dilla kemarin.
“Tenang, Bos. Sarapannya sudah selesai dibuat,” ucap Lim menunjukkan hasil karyanya dengan bangga.
“Kau yakin ini bisa dimakan?” tanya David memandang makanan yang dibuat Lim.
“Tentu saja, meski mungkin tak seenak yang dibuat Chef Juna. Tapi, masakanku ini aman untuk dikonsumsi dan dapat dipastikan makanan ini tidak mengandung bubuk beracun, serta tidak akan membuat bibir Bos terlihat lebih seksi,” jawab Lim meledek David.
“Sial, kau! Ini semua gara-gara si Juna yang bodoh itu,” maki David saat ingat kejadian semalam.
“Ditambah karena kita memiliki sutradara yang sangat hebat,” jawab Lim sambil menoleh ke arah Bella dan Dilla yang baru saja turun dari lantai atas.
Tumben gadis ini sudah bangun dan terlihat rapi (batin David).
“Dilla, apakah burung hantu sekarang sudah bisa bangun di pagi hari?” tanya Lim menyindir Bella.
“Oh, sepertinya mulai hari ini si burung hantu akan lebih sering bangun pagi karena dia sudah mulai akan bekerja,”
Brurr
Ucapan Dilla membuat David menyemburkan kopi yang sedang diminumnya.
“Apa? Gadis bodoh ini bekerja? Perusahaan mana yang akan menerimanya,” ejek David meski sebenarnya dia sedikit khawatir.
“Heh, apa maksudmu Bos idiot? Memang kau pikir aku ini benar-benar tidak berguna sampai-sampai tidak ada yang mau menerimaku bekerja,” sahut Bella kesal.
“Memang apa yang bisa kau kerjakan?” tanyanya.
“MERACUNIMU,” jawab Bella penuh penekanan dan langsung memilih untuk duduk di meja makan dengan wajah yang ditekuk.
Heran, bajingan ini kenapa sih senang sekali membuat orang kesal? (batin Bella)
Bos, bos, kau ini.. kapan kau akan membuatnya jatuh cinta padamu kalau setiap hari masih suka mengejeknya? (batin Lim)
David, kenapa kau masih saja suka mengejeknya? Bukannya seharusnya kau memuji gadis ini (batin David merasa sedikit bersalah).
“Bella, ayo dimakan sarapannya!” bujuk Dilla mengajak Bella makan, lalu menoleh ke arah Lim dan berkata, “Lim, maaf aku tidak membantumu menyiapkan sarapan.”
“Tidak masalah, kuharap kalian semua menyukai sarapan buatanku ini,” jawab Lim.
Mereka mulai menyantap sarapan berupa nasi goreng keju dan omelet yang dibuat Lim.
“Tuan David, apakah Tuan sudah menemui Neni?” tanya Dilla memecah keheningan.
__ADS_1
“Rencananya hari ini aku dan Lim akan ke sana untuk menemui Neni kalian,”
“Baguslah, aku harap Neni bisa segera menerima kami pulang kembali ke rumah,” ucap Dilla.
“Tidak, kalian tidak akan kembali ke rumah itu,” sahut David.
“Maksud Tuan?” tanya Dilla tidak paham.
“Kalian akan kuajak tinggal di rumahku,”
Brurr
Kali ini Bella yang menyemburkan air putih dari mulutnya saking kaget mendengar ucapan David.
“Hey, maksudmu apa mengatakan kami akan tinggal di rumahmu?” tanya Bella dengan nada tinggi, ia benar-benar kesal dengan keputusan sepihak yang dibuat David.
“Kau tentu tidak lupa alasan aku membayarmu satu juta per hari kan, Bella,”
“Bukannya kau hanya ingin aku menjadi tunangan pura-puramu,” jawab Bella.
“Menjadi tunangan tentu, tapi yang lebih penting adalah menjauhkan gadis yang bernama Clarissa dari sisiku. Dan perlu kau tahu sudah dua hari ini gadis itu tinggal di rumahku,”
“Oh, pantas saja. Kau punya rumah yang begitu besar malah tinggal di tempat asistenmu, ternyata karena masalah ini. Cih, pengecut sekali!” ejek Bella.
“Terserah, kau mau berkata apa? Yang jelas itulah misimu. Bagaimana apa kau setuju?”
Sebenarnya bagus juga jika aku dan Dilla bisa tinggal di sana, setidaknya harapanku untuk menyatukan Dilla kembali dengan keluarganya semakin lebih besar (pikir Bella).
“Baiklah, aku setuju. Tapi, kau benar-benar mengajak Dilla ikut tinggal di sana kan?” tanya Bella lagi.
“Tentu, kau dan temanmu akan tinggal di sana,” jawab David.
Untungnya aku mendengarkan perkataan Lim semalam agar mengajak temannya untuk tinggal bersama kami (batin David).
Jadi aku akan tinggal di rumah itu. Berarti kesempatanku untuk bisa lebih dekat dengan Ayah akan semakin besar (batin Dilla senang).
Sepertinya Dilla senang sekali mendengar ajakan David. Apa yang aku dan David duga itu benar kalau Dilla memang memiliki hubungan dengan keluarga David (batin Lim).
Setelah selesai dengan sarapannya, mereka berempat bersiap untuk meninggalkan rumah itu.
“Sebaiknya kau tidak bekerja dulu hari ini, ikutlah dengan kami untuk menemui Nenimu dan berbicara dengannya,” ajak David.
“Bagaimana Dil?” tanya Bella menoleh ke arah Dilla.
Apa? Jadi Bella bermaksud bekerja di rumah sakit. Heh, tidak akan kubiarkan hal itu terjadi. Bisa-bisa dia akan semakin bertemu dengan si Bakpau Gosong dan adiknya itu (batin David yang tampak tidak suka mendengarnya).
“Baiklah, aku akan ikut dengan kalian menemui Neni dulu. Setelah itu baru pergi ke rumah sakit,” jawab Bella menyetujui usulan Dilla.
Setidaknya kesempatan ini bisa kumanfaatkan untuk mengambil motorku kembali (batin Bella)
***
Mobil yang dikemudikan Lim, melaju dengan kecepatan sedang untuk sampai ke rumah sakit. Karena jarak menuju rumah sakit lebih dekat dibandingkan dengan rumah Bella, maka mereka putuskan untuk mengantar Dilla terlebih dahulu sebelum ke rumah Neni.
Tak lama setelah mengantar Dilla, mereka pun sampai di depan kedai bakso yang sekaligus juga rumah Bella.
“Neniiiiiii,” teriak Bella bersemangat menemui Neni. Namun, Neni yang sedang sibuk melayani para pengunjungnya dengan bantuan si Otoy, terlihat tak peduli dengan panggilan Bella. Neni masih kesal dengan kelakuan cucu satu-satunya itu.
“Neni, kenapa kau tidak menyambut kehadiran cucu kesayanganmu ini?” rengek Bella.
“Cih, kau memang masih ingat kalau kau punya Neni,”
“Tentu aja aku selalu ingat kalau aku punya Neni. Karena Neni itu kan tidak ada duanya. Badan Neni bohay, kulit keriput, rambut putih, tukang marah-marah, cerewet, dan sangat galak,”
Jebret
Ucapan Bella, membuat Neni memukulkan serbet yang dibawanya ke badan Bella.
“Dasar cucu kurang aja! Bisa-bisanya mengatai nenekmu sendiri,” umpat Neni.
“Ehem,” David berdehem agar Neni bisa menyadari kehadiran dirinya dan Lim yang sedari tadi sibuk memperhatikan pertengkaran antara cucu dan neneknya itu.
“Oh, cucu mantuku sayang.. ternyata kau juga datang ke sini! Ya ampun, kau terlihat semakin tampan saja,” memeluk David.
“Cih, waktu cucunya datang sama sekali tidak pedulikan. Giliran orang lain malah dipeluk begitu saja,” gumam Bella.
“Mari-mari duduk sini!” Mengajak David dan Lim untuk duduk di kursi yang masih kosong dan jauh dari para pengunjungnya.
“Otoy, layani para pengunjung dulu! Cucu mantuku yang tampan dan BEO hebat ini sedang datang mengunjungiku,” teriak Neni.
“Apa BEO?” tanya David heran.
“CEO Tuan maksudnya," ujar Otoy menimpali ucapan Neni yang selalu salah sebut.
“Tampan, kenapa dengan bibirmu ini sepertinya bertambah besar dan merah saja?” tanya Neni saat memperhatikan bibir David yang terlihat merah dan sedikit membengkak karena ulah Bella yang mengerjainya.
__ADS_1
Bella tidak tahu kalau bubuk pedas yang diberikannya kepada David semalam akan membuat bibir David masih terlihat membengkak seperti sekarang ini.
“Itu karena cucumu yang begitu rakus kepadaku Neni,” ucap David lirih, namun masih bisa didengar oleh Neni, Bella, dan Lim.
“Apa?” teriak Neni sambil melotot ke arah Bella.
“Iya, dia sering sekali meminta jatah ini kepadaku Neni,” ucap David menunjuk bibir seksinya. Ia memang sengaja mengatakan itu untuk mengerjai Bella.
“Hey, bajingan yang kau bicarakan dengan Neniku!” bentak Bella kesal.
“Diam kau, Bella! Neni tidak mengajakmu bicara! Biarkan cucu mantu Neni mengatakan semua yang kau lakukan di luar sana, yang selama ini tidak Neni ketahui!” bentak Neni.
“Tapi Neni, laki-laki bajingan itu tidak mengatakan yang sebenarnya,” rengek Bella.
“Diam! Kalau kau masih berusaha memotong pembicaraan Neni dan cucu mantu Neni ini, kau boleh angkat kaki dari kedai ini!”
“Neniiii,” rengek Bella yang terlihat sangat kesal karena Neninya itu tak mau mendengarkannya dan malah lebih percaya dengan orang lain dibandingkan dengan dia, cucunya sendiri.
Dasar laki-laki bajingan! Sepertinya belum cukup aku mengerjaimu semalam, hah! Kau malah membalasku dengan cara seperti ini. Dasar kau David brengsek! (umpat Bella kesal dalam hatinya).
“Sekarang ceritakan apalagi yang dilakukan cucuku selama aku tidak ada?” tanya Neni.
Sebelum David menjawab, ia menoleh sekilas ke arah Bella, menyunggingkan senyum yang penuh dengan ejekan. Sementara Lim hanya diam, memperhatikan apa saja yang sedang dibicarakan bosnya itu.
Ternyata ini rencana balas dendam yang dimaksud Bos. Luar biasa, Bos. Saya tidak pernah menyangka Anda adalah pengarang cerita yang paling pandai (batin Lim).
“Neni tahu, selama dua hari ini aku dan dia tinggal bersama dalam satu rumah,”
“Apa? Kalian berdua tinggal dalam satu rumah?” tanya Neni semakin terkejut.
“Tidak berdua sih Neni, kami tinggal berempat. Tapi Neni, kamar kami berdekatan dan kemarin..,”
Bella berusaha menutup telinga saat mendengar David menceritakan kejadian kemarin. D**avid bajingan! Awas, kau bicara macam-macam pada Neni ! (batin Bella).
“Kemarin apa?”
“Kemarin itu dia masuk kamarku saat aku sedang mandi Neni,”
“Apa? Itu benar Bella?” tanya Neni geram menatap ke arah Bella sambil *******-***** tangannya yang sepertinya sudah siap mengadoni Bella.
“Benar, Neni, tapi..” ucap Bella, namun Neni tak mengizinkannya melanjutkan ucapannya.
“Lalu apa yang terjadi setelah itu?” tanyanya pada David.
“Setelah itu aku keluar, melepas semuanya, dia ada di bawah, dan aku di atas. Lalu aku mendesah dan dia mendengarnya, dan kemudian dia pun menjerit,” jawab David menjelaskan dengan kalimat ambigunya.
“David, apa yang kau katakan? Neni ini tidak seperti yang David katakan. Dia itu mengatakan semuanya dengan tidak jelas,” sahut Bella.
“Diam! Apa perlu semua itu dijelaskan dengan lebih jelas lagi, hah? Kau ini benar-benar Bella,” bentak Neni kesal.
Bella yang tampak kesal memilih menjauh dari mereka bertiga.
“Jadi hubungan kalian sudah sejauh itu ya? Lalu kapan kalian akan menikah?” tanya Neni dengan wajah yang terlihat cemas.
“Secepatnya jika keluargaku sudah memberi restu kepada kami berdua,” jawab David.
“Memang keluargamu belum merestui hubungan kalian?” tanya Neni.
“Untuk saat ini belum. Oleh karena itu, aku ke sini untuk meminta izin kepada Neni agar mengizinkan Bella dan temannya itu untuk sementara waktu tinggal di rumah kami. Setidaknya dengan begitu keluargaku bisa lebih mengenalnya dan bisa menerimanya,” jelas David.
Neni berpikir sejenak, ia tidak ingin salah mengambil keputusan. Biar bagaimana pun Bella adalah satu-satunya cucu yang ia miliki.
“Ya, aku setuju. Tapi dengan satu syarat,”
“Apa itu?” tanya David penasaran.
“Syaratnya adalah....,” Neni menggantung ucapannya seolah ragu dengan syarat yang akan dimintanya pada David.
****
Bersambung
Wah, ternyata Neni punya syarat ya..
Syarat apa ya.. yang akan diminta Neni dari David?
Penasaran? Nantikan kelanjutan ceritanya dalam kisah selanjutnya.
Jangan lupa untuk memberikan like, vote, dan komen terbaikmu untuk cerita ini. Dan jadikan cerita ini sebagai cerita favoritmu!
Terima kasih 💐💐💐💐
Catatan author:
Selama author sempat, maka di luar jadwal update pun akan author berikan. Hanya saja, author tak bisa terlalu menjanjikan. Doakan saja semoga author bisa update dengan lancar.
__ADS_1