
“Sah?” Suara bariton seorang laki-laki menyadarkan Dara dengan apa yang kini sedang dialaminya.
“Saaaahhh,”
Jawaban serempak itu pun kini menjadi tanda bahwa wanita berparas cantik dengan tinggi semampai ini kini telah resmi menjadi istri dari seorang laki-laki yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Walaupun sebenarnya, saat ia masih duduk di bangku dasar, Dara pernah diam-diam menaruh hati pada laki-laki yang kini menyandang status sebagai suaminya. Saat itu fisik Az tidak sesempurna sekarang. Dia hanya seorang bocah laki-laki gendut, pendek, dan berkulit coklat. Namun, Az anak yang cerdas, baik, dan selalu membantu Dara saat David dan gengnya menjahili Dara. Akan tetapi, Az sama sekali tidak mengingat hal itu.
“Kenapa? Aku tahu wajahku tampan, tapi kau tidak perlu terus-terusan menatapku kan?” gumam Az tanpa memandang Dara.
“Cih, kepedean,” sahut Dara mencoba mengelak.
“Ayo, menantuku, cium tangan suamimu,” perintah Damar yang diikuti isyarat mata dari Bernardo yang kini masih memakai alat bantu pernafasan.
Dengan gugup Dara meraih tangan Az dan mencium punggung tangan milik suaminya itu.
“Az, kenapa wajahmu masih saja datar? Senyum dong,” goda Ar sambil mengarahkan kamera ponselnya pada kakak dan kakak iparnya.
Cepret
“Sungguh pasangan yang serasi,” gumam Ar saat melihat hasil fotonya.
“Paman Ar, kapan Paman menikah seperti ayah?” tanya Lusia tiba-tiba.
“Nanti gadis cantik, kalau Paman sudah dapat keponakan satu lagi dari Ayahmu,”
“Plak,” Sebuah pukulan mendarat di Ar setelah mengatakan itu.
“Bicara sembarangan!” sahut Az masih dengan ekspresi dinginnya.
Entah mengapa, hati Dara merasa sedih mendengar hal itu. Mungkin karena Dara sadar bahwa pernikahannya dengan Az tanpa didasari cinta.
“Halo, semuanyaaaa,” teriakan nyaring seorang wanita terdengar saat pintu kamar rawat inap Bernardo tiba-tiba dibuka dari luar.
Rupanya wanita yang berteriak itu tak lain adalah Bella yang datang bersama David, Lim, dan Kalista.
“Aih, sepertinya kita terlambat Sayang,” gumam Bella.
“Ya, sepertinya pernikahan mereka sudah berlangsung,” sahut David.
“Dara, selamat ya Sobat,” Kalista langsung menghampiri dan memeluk Dara.
“Terima kasih, Kalista,” jawab Dara membalas pelukan sahabatnya.
__ADS_1
“Ini benar-benar kejutan,” bisik Kalista.
“Jangankan kamu, aku pun terkejut dengan pernikahanku,”
“Sayang, berikan kado spesial telah kita pilih untuk keduanya,” pinta Bella memandang David.
“Lim,” panggil David.
Sekretaris Lim yang paham akan maksud bosnya mengeluarkan sebuah kado dari dalam paper bag yang dibawanya. Kado yang dibeli dan dipilih khusus oleh David dan Bella dan membuat mereka datang terlambat ke acara itu hingga membuat dirinya sempat diberi wajah masam oleh Kalista yang kini menyandang status sebagai tunangannya.
“Ini hadiah spesial untuk kalian berdua dari Bos David dan Nona Bella. Tolong diterima dan dipakai,” ucap Lim menyerahkan kado milik Bella dan David kepada Az.
“Aku harap kau tidak pingsan saat kau membukanya,” bisik Lim yang membuat Az mengerutkan dahinya.
“Dan ini kado dariku dan Kalista,” kali ini Lim memberikan kado pilihannya dan Kalista kepada Dara.
Dara tersenyum dan menerimanya dengan senang hati.
Sebenarnya kado apa yang dipilih si David ini? Kenapa Lim bilang jangan pingsan saat membukanya? Apa mungkin ada petasan yang akan meledak saat kado ini dibuka? (batin Az sambil membolak-balik kado pemberian David)
“Baiklah, sudah waktunya kita pulang Sayang. Bukankah malam mini kita akan kembali ke Negara S?” ucap David setelah melihat angka pada jam yang ada di pergelangan tangannya.
Kebetulan David dan Bella sudah sekitar dua bulan ini berada di Negara R untuk mengunjungi Opa dan Oma William. Sekaligus menghadiri pernikahan sepupunya Steven.
“Iya, Sayang. Aku ingin mengucapkan selamat dulu kepada keduanya,” Setelah mengatakan itu Bella lalu menghampiri Dara dan memberikan pelukan untuknya.
“Dan…,” Bella langsung ditarik oleh David saat ia hendak memeluk Az.
“Jangan coba-coba menyentuh pria lain di depanku!” bentak David.
“Berarti kalau di belakangmu boleh?”
Pletak
Pertanyaan Bella langsung disambut pelototan dan sentilan oleh David.
“Cih, pecemburu sekali,” gerutu Bella.
“Az, selamat. Aku harap kalian berdua bahagia dan jangan lupa dibuka kado spesial dariku dan Bella,” ucap David sambil menyalami Az.
Jangan harap! Aku tidak akan pernah mau membuka kado darimu (batin Az)
“Kalau kau tidak mau membukanya berarti kau pengecut,” ucap David lagi seolah sudah bisa membaca apa yang ada di pikiran David.
__ADS_1
Memangnya kado apa yang David dan Bella berikan pada Az? Aku jadi penasaran. (batin Ar)
“Paman Damar, Ar, semuanya kami pulang dulu,” ucap Bella.
“Iya, Bella berhati-hatilah dan terima kasih telah hadir di pernikahan putraku,” ucap Damar.
Setelah berpamitan David dan Bella segera meninggalkan ruangan itu dan pergi ke bandara untuk kembali ke Negara S. Sementara Lim, tidak ikut dengan David dan Bella. Ia masih menemani Kalista yang saat ini masih ingin berbicara lebih banyak dengan sahabatnya, Dara. Kalista sungguh merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi sehingga mendadak sahabatnya menikah dengan Az.
***
Dara sengaja beralasan lapar dan meminta Kalista untuk menemaninya ke kantin yang ada di sekitar rumah sakit yang letak agak jauh dari kamar rawat inap ayahnya. Ia tidak ingin semua orang mendengar apa yang ingin diceritakannya kepada sahabatnya.
“Jadi seperti itu ceritanya?” ucap Kalista setelah mendengar cerita panjang dari sang sahabat.
“Iya, apakah menurutmu keputusanku ini salah?” tanya Dara.
“Menurutku tidak. Mungkin, kalau aku yang berada di posisimu aku juga akan melakukan hal itu,” jawab Kalista.
“Tapi bagaimana aku harus menjalani kehidupan pernikahanku selanjutnya bersama Az?” tanya Dara kembali dengan nada penuh kekhawatiran.
“Ya kalian jalani saja seperti pernikahan pada umumnya,” jawab Kalista santai.
“Bagaimana bisa? Pernikahan kami tidak umum, kami menikah bukan karena cinta,” sanggah Dara.
“Yakin tidak ada cinta? Bukankah Az adalah cinta masa kecilmu, hah?” goda Kalista menaik turunkan alisnya.
“Huss, itu kan masa lalu,”
“Alah.. Masa lalu, jelas-jelas di matamu masih terlihat cinta yang begitu besar untuknya,”
“A-aku..,”
“Sudah, jangan menyangkal lagi. Aku sudah lama tahu tentang hal itu. Sekarang anggaplah kalau ini adalah cara Tuhan untuk menyatukan kalian berdua,” ucap Kalista yang tak lagi direspon oleh Dara.
Dara hanya diam karena sebenarnya apa yang disampaikan Kalista benar adanya bahwa Dara memang sudah lama memiliki perasaan itu. Perasaan yang sempat dikuburnya ketika mereka terlampau lama terpisah. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali karena siapa sangka bahwa keponakan yang selama ini dicarinya telah dirawat oleh Az.
Diam-diam, tak jauh dari kantin tempat Dara dan Kalista berada, ada sesosok tubuh tinggi yang tanpa sengaja mendengar semua yang mereka bicarakan. Sudut bibirnya terangkat sedikit setelah mendengar isi pembicaraan kedua sahabat yang kini masih melanjutkan makan malam mereka di kantin rumah sakit.
***
Bersambung
Siapakah sosok tersebut? Penasaran?
__ADS_1
Temukan jawabannya di bab selanjutnya. Jangan lupa berikan like, vote, dan komennya, serta jadikan karya ini ke rak favorit kalian dengan menekan lambing hati.
Terima kasih