
Di salah satu koridor rumah sakit, tampak Dilla yang sedang kebingungan karena tiba-tiba Bella memutuskan sambungan teleponnya.
“Bel, Bel, Bela, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba sambungan teleponnya terputus,” gumam Dilla.
Ia kemudian menekan kembali nomor ponsel Bella.
Tut tut tut
“Berani sekali kamu,” terdengar suara bentakan dari belakang.
“Saat sedang jam kerja seperti ini malah asyik telepon-teleponan,” merebut ponsel Dilla.
Suara bentakan itu berasal dari Dokter Azril yang kebetulan sedang lewat saat Dilla sedang berusaha menelepon Bella.
“Ma-maaf, Dok,” ucap Dilla menundukkan kepalanya.
“Maaf, maaf, pantas saja kerjamu lambat sekali! Ternyata ini yang kamu lakukan,” ucapnya dengan suara meninggi sambil menatap tajam ke arah Dilla.
Duh, dokter ini galak sekali sih. Kalau harus terus berurusan dengan dia, aku tidak yakin aku bisa bertahan lama di sini. (ucap Dilla dalam hati).
“Lain kali aku tidak ingin melihat hal seperti ini terulang lagi. Tidak ada telepon-teleponan di saat jam kerja. Sekarang, hp-mu aku sita dan akan aku laporkan masalah ini pada Bu Wati. Aku harap dia tidak segan-segan memecatmu jika kau melakukan hal ini lagi,” ucap Dokter Azril penuh ancaman.
“Ba-baik, Dok,” suara Dilla terdengar lirih, ia hampir saja menangis.
“Sekarang bersihkan koridor ini dengan baik, lima menit harus sudah selesai,” ucapnya sebelum meninggalkan Dilla.
Seorang perawat yang sedari tadi mengikuti Dokter Azril dan melihat kejadian itu tampak prihatin dengan keadaan Dilla saat ini.
“Sudah, dia memang seperti itu. Lanjutkan pekerjaanmu dengan baik!” ucap perawat itu sambil mengusap punggung Dilla dengan lembut.
“Makasih, Sus,” sahut Dilla sambil menyeka air mata yang tergenang di sudut matanya.
“Sama-sama,” setelah mengatakan itu perawat itu pun segera meninggalkan Dilla.
Ya Tuhan, berikan aku kesabaran dalam menerima semua ujian, agar aku dapat membuktikan kepada seluruh dunia bahwa aku dapat menjadi manusia yang bermanfaat. Meskipun, semua itu harus kumulai dari titik nol. (ucap Dilla dalam hati).
Sebenarnya Dilla menerima pekerjaan ini hanya agar dirinya bisa memperoleh uang untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, bukan hanya sekedar lulusan SMA. Ia ingin menjadi seorang dokter sebagaimana yang pernah ia janjikan pada almarhumah Ibu dan neneknya.
***
Wajah David masih tampak ceria setelah kejadian itu. Ia tak henti mengelus pipi kanannya yang baru saja dicium Bella.
“Gadis nakal,” gumamnya.
“Ehem,” Lim berdehem untuk memberi kode pada David bahwa di ruangan itu tidak hanya ada dirinya, tapi juga Lim yang masih setia menunggu perintahnya.
“Bos, apakah masih ada pekerjaan yang bisa saya bantu?” tanya Lim saat kesadaran David telah kembali.
“Tidak ada, pekerjaanmu sudah selesai. Kau boleh kembali ke ruanganmu,”
“Baik, Bos,”
“Oh ya, Lim,” ucap David yang membuat langkah Lim terhenti.
“Iya, ada apa lagi, Bos?”
__ADS_1
“Kau masih ingat dengan laki-laki yang dekat dengan Bella di arena balap liar malam itu?” tanya David saat ia teringat kembali hal yang membuatnya begitu kesal.
Kenapa si Bos tiba-tiba menanyakan hal itu? Apa ini ada hubungannya dengan kemarahannya barusan? (ucap Lim dalam hati).
“Lim!” panggil David yang melihat Lim melamun.
“Tentu, Bos,” jawab Lim cepat.
“Tentu?”
“Iya, tentu saja saya ingat dengan laki-laki itu Bos karena wajahnya itu sangat mirip dengan seseorang,” jawab Lim.
“Mirip seseorang?”
“Iya, Bos. Dan untuk meyakinkan itu sebelumnya saya telah menyelidikinya,”
“Jadi kamu sudah menyelidiki laki-laki itu?”
“Benar, Bos,”
“Kalau begitu bawa hasil laporan penyelidikanmu kemari, aku ingin melihatnya,” perintah David.
Dengan cepat Lim, meninggalkan ruangan David dan kembali ke ruangan tersebut dengan membawa beberapa berkas yang berisi laporan penyelidikan tentang Ar.
“Ini Bos,” menyerahkan berkas penyelidikannya pada David.
David pun membuka lembaran pertama dari berkas laporan tersebut. Tampak foto Ar yang terlihat sangat tampan.
Sial, ternyata dia benar-benar tampan, pantas saja gadis tengik itu selalu memujinya (ucap David dalam hatinya).
“Aria Damara Effendi,” membaca nama lengkap Ar.
“Damara Effendi?” mengulang dua kata terakhir nama lengkap Ar sambil menoleh ke arah sekretarisnya.
“Benar, Bos. Dia adalah putra kedua dari Dokter Damar Effendi," jawab Lim yang mengerti maksud pertanyaan David.
“Putra kedua Paman Damar?” tanyanya lagi.
“Iya, Bos,” jawab Lim.
Dokter Damar adalah dokter pribadi keluarga David. Ia adalah putra dari Dokter Yusuf Effendi, sahabat Nenek dan Kakeknya David.
“Bukannya putra keduanya itu sekarang sedang berada di luar negeri?” tanya David.
“Iya, tapi beberapa hari yang lalu dia sudah kembali ke Negara S dan dia juga sudah kembali bekerja di Rumah Sakit Internasional XX milik ayahnya,”
“Oh, jadi begitu. Bagus sekali selera gadis itu ya? Seleranya tinggi juga,” gumam David.
“Tapi Bos, dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Nona Bella sama sekali tidak menahu tentang identitas laki-laki itu,” sahut Lim berusaha membela.
“Iya, aku tahu,” jawab David.
“Bagaimana Bos bisa mengetahuinya?” tanya Lim heran karena setahunya ia baru saja memberikan hasil laporan penyelidikannya pada David hari ini.
“Karena tadi waktu dia sedang menelepon di sini, aku mendengar pembicaraan dia tentang laki-laki itu dengan temannya yang kemarin itu, siapa namanya?”
__ADS_1
“Dilla,”
“Iya, Dilla,” mengulang jawaban Lim.
“Oh, Bos tahu karena tadi Bos menguping," tuduh Lim.
“Menguping? Apa maksudmu? Aku mendengarnya tanpa sengaja. Kau tahu kan suara gadis itu seperti petasan mercon,” sangkal David.
“Tapi Bos suka kan?” goda Lim menaik turunkan alisnya.
“Suka?” David berdiri memandang Lim dan..
Plak
“Suka kepalamu,” ucap David setelah berhasil memukul kepala Lim.
Cih, dasar munafik (cibir Lim dalam hati).
“Sudahlah, sekarang kembali ke ruanganmu!” perintah David.
“Baik, Bos, tapi..,” ucap Lim menggantung.
“Tapi apa?” tanya David.
“Tadi, Nenek Bos sempat menelepon saya. Dia bilang bahwa sekarang Nona Clarissa sudah sampai dan dia sedang menunggu Anda di Mansion Orchid," ucap Lim.
“Jadi gadis itu sekarang sedang ada di rumahku?” tanya David.
“Benar, Bos. Dan tadi Nenek Anda juga sempat menanyakan kepada saya kapan Bos akan pulang?” sahut Lim.
“Lalu kau jawab apa?”
“Kemungkinan hari ini Bos akan lebih pulang lebih awal dari biasanya karena hari ini Bos sedang tidak ada pertemuan dengan siapa pun,” jawab Lim.
“Kau bodoh, Lim! Kenapa kau menjawab seperti itu?” sahut David tampak kesal.
“Maaf, Bos, Anda tahu seperti apa Nenek Anda. Saya tidak mungkin bisa berbohong padanya karena pasti dia akan segera mengetahuinya,” jawab Lim.
“Benar juga,” gumam David.
David dan Lim sama-sama tahu bahwa sang Nenek memiliki banyak sekali kaki tangan yang berada di perusahaannya. Tentu, ia tidak akan mudah percaya begitu saja dengan semua yang dikatakan Lim.
“Kalau begitu sekarang kau telepon Direktur Andi dari Eve Company. Katakan kepadanya bahwa aku meminta pertemuanku dengannya dipercepat menjadi malam ini dan aku mengharapkan dia sudah siap dengan semua dokumen yang dibutuhkannya itu sebelum pukul 06.30 nanti. Jika tidak semua kontrak EG Company dengannya akan dibatalkan,”
“Baik, Bos,” jawab Lim.
"Huh, kasihan sekali nasibmu ini Direktur Andi. Gara-gara seorang Clarissa, kini dirimu yang harus bekerja keras menanggungnya," gumam Lim saat melangkah meninggalkan ruangan David.
***
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, vote, dan komentar kalian pada karya ini.
Tekan juga tanda love untuk menjadikannya karya favorit kalian.
__ADS_1
Terima kasih 💐💐💐