
Setelah lelah menggoda Bella, David akhirnya setuju membawa Bella ke rumah sakit. Ia memutuskan membawa Bella ke Rumah Sakit Internasional XX. Selain jaraknya lebih dekat dari rumah Lim, rumah sakit itu juga milik Damar Effendi, dokter pribadi keluarga David.
Damar Effendi adalah salah satu sahabat dari Handika dan almarhum Haris Erlangga, ayah David. Hubungan kekeluargaan mereka juga terbilang cukup dekat, mengingat ayah Damar, Yusuf Effendi adalah teman baik dari Kanaya dan Tomi Erlangga.
“Ini kan rumah sakit tempat Dilla bekerja. Yeay, aku bisa bermain dulu dengannya,” ucap Bella senang.
“Hey, kau dibawa ke sini untuk berobat bukan untuk bermain,” sahut David.
“Yah.. memangnya salah kalau sekalian aku ingin bertemu dan bermain dengan sahabatku,”
“Tetapi sesudah ini aku dan Lim harus kembali ke kantor sesegera mungkin, tidak mungkin menemani kau bermain di sana,”
“Memangnya siapa yang menyuruhmu menemaniku? Aku bisa bermain sendiri di sana bersama Dilla,”
“Lalu siapa yang akan membawamu pulang saat kau bosan?”
“Tenanglah, aku tidak akan bosan. Aku bisa menunggu Dilla di sana. Lagipula di sana juga ada Ar,”
“Apa maksudmu?”
“Iya, Ar pasti membawa kendaraan ke rumah sakit ini kan? Jadi, aku bisa meminjam kendaraannya untuk berkeliling sebentar atau kalau Ar senggang dia juga bisa menemaniku jalan-jalan,”
“TIDAK BOLEH!” bentak David.
“Kenapa tidak boleh?” tanya Bella dengan suara meninggi.
Ya Tuhan, kenapa gadis ini suka sekali membuatku kesal (batin David)
“Pokoknya tidak boleh!!” tegas David sekali lagi.
“Tidak mau, kalau kau tidak memberikan alasannya maka aku akan tetap jalan-jalan bersama Ar, TITIK!” sahut Bella dengan nada yang tak kalah tegasnya, membuat David menghela nafasnya panjang.
“Hah, kau lupa kalau kau itu tunanganku. Bagaimana kalau ada wartawan yang melihat kalian? Mau ditaruh di mana mukaku,” ucap David sedikit menurunkan nada bicaranya.
“Tapi kan mereka tidak mengenaliku. Apa kau lupa? Tunangan David yang mereka kenal kan adalah gadis yang mirip dengan ondel-ondel, ha ha ha,” sahut Bella saat teringat aksinya mempermalukan David.
David yang mendengar ucapan Bella, kemudian mendorong tubuh Bella lalu mengapit tubuhnya dengan kedua tangannya yang kekar.
“Tentu saja, aku tidak akan lupa. Dan kuharap kau juga tidak lupa bagaimana caraku menghukum gadis yang sengaja membuatku tak punya muka,” kembali mengingatkan Bella akan kejadian setelahnya.
“Wartawan itu mungkin tak mengenalimu, tapi seluruh penghuni di rumahku sudah mengenalimu dan mereka bisa saja melihatmu dan menyampaikan hal ini pada nenekku. Jadi, kuharap kau jangan berani-beraninya jalan berduaan dengan laki-laki lain,” ancam David.
“Oke, oke aku tidak akan jalan-jalan berdua dengan Ar. Tapi tolong duduklah dengan benar,” pinta Bella yang sedari tadi merasa tidak nyaman dengan posisi David yang sudah terlalu dekat dengannya.
David yang sadar, tubuhnya sudah terlalu menempel dengan Bella kini menjauh dan kembali ke posisi duduknya yang semula.
Laki-laki ini! Kenapa semakin lama semakin aneh saja? Bukannya dia sendiri yang buat aturan kalau aku tak boleh terlalu menempel dengannya. Tapi, sekarang dia terus-terusan yang menempeliku. Kalau seperti ini terus kan aku yang rugi, bisa-bisa nanti aku juga yang menanggung akibatnya (ucap Bella dalam hati).
“Lim kenapa kau diam saja?” tanya David pada sekretarisnya saat menyadari bahwa mobil itu tak lagi bergerak.
“Sudah sampai dari tadi, Bos,” jawab Lim santai.
“SUDAH SAMPAI, BOS,” Bella mengulang kata-kata Lim lalu turun dari mobil tanpa mempedulikan David.
“Eh, kenapa lagi dengan dua orang ini,” gumam David yang kemudian ikut turun menyusul Bella.
David, Lim, dan Bella kini sudah memasuki area rumah sakit. Banyak mata yang memandang kagum pada ketiganya. Meski, ada juga yang mencibir gaya berpakaian Bella yang terkesan tak berkelas. Namun, Bella tak mempedulikannya.
“Itu bukannya Tuan David ya?” bisik para perawat yang melihat kedatangan David ke rumah sakit.
“Iya, benar itu Tuan David. Sudah beberapa kali melihatnya di acara ulang tahun rumah sakit ini, tapi dia terlihat semakin tampan saja,”
“Benar banget, sayangnya dia sudah punya tunangan,"
“Iya, sayang sekali,”
“Apanya yang sayang sekali? Kenapa kalian malah bisik-bisik di sini?” tegur Damar.
“Eh, Dokter Kepala, anu Pak, ada Tuan David,” jawab perawat itu sambil menunjuk David yang berjalan menghampiri Dokter Damar.
“Kebetulan Paman, kau sudah kembali. Aku ke sini untuk memeriksakan kondisi tunanganku,” ucap David saat sampai di hadapan Damar.
__ADS_1
“Ternyata benar kau, David. Tumben sekali kau langsung datang ke rumah sakit, biasanya kau akan memanggil Paman untuk datang ke rumahmu. Jadi gadis itu tunanganmu?” menunjuk Bella yang sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit.
“Benar, Paman,” jawab David.
“Wah, seleramu bagus juga David, " puji Damar yang dijawab senyum oleh David.
“Kalau begitu ikut aku,” ajak Damar ke ruangannya.
David memberikan isyarat pada Lim dan Bella untuk mengikuti dirinya dan Dokter Damar.
***
Sesampainya di ruangan Dokter Damar
“Apa keluhanmu, Cantik?” tanya Dokter Damar pada Bella.
“Dav, dia bukan Dokter Tua yang mesum kan?” bisik Bella di telinga David.
“Saya bisa mendengar ucapan kamu loh” sahut Damar tersenyum melihat Bella yang begitu ceplas ceplos.
“Ups, maaf Dok,”
Dasar gadis ini mulutnya benar-benar gak bisa direm (pikir David)
“Saya ini bukannya dokter mesum, Nona. Hanya saja saya belum tahu siapa nama kamu. Jadi, saya panggil kamu cantik daripada saya panggil kamu ganteng,”
“He he, Dokter bisa saja, berati memang saya yang telah salah paham sama Dokter,”
“Jadi siapa namamu Cantik?”
“Nama saya Bella, Arabella,”
“Oh, Bella. Nama yang indah seindah orangnya,”
“Oh, terima kasih,”
“Dan kau tahu Bella ini pertama kalinya saya melihat David membawa seorang wanita bersamanya, ”
Ucapan Bella yang asal membuat tawa Damar meledak.
“Ehem, Paman, aku ke sini untuk memeriksakan kondisi tunanganku. Bukan mengajaknya berkenalan dengan Paman,”
“Aih, kau ini sama sekali tidak berubah. Sikapmu itu benar-benar sebelas dua belas dengan almarhum ayahmu,”
“Baiklah Bella, kalau begitu apa keluhanmu?”
“Begini, Paman. Ini..,” hendak membuka kaos yang menutup memar di bagian pinggangnya. Namun, David langsung menahannya.
“Maaf, Paman. Bisakah Paman memanggil dokter perempuan saja?”
“Ah, kau ini sifat posesifmu juga sama dengan ayahmu. Baiklah, sekarang ceritakan dulu kondisinya secara garis besar agar aku dapat merekomendasikan dokter yang tepat untuk memeriksakan Bella,”
“Begini di bagian belakang pinggang Bella ada luka memar yang membiru dan itu terjadi karena Bella baru saja terjatuh dari kamar mandi. Aku takut selain luka luar juga ada cedera di bagian dalam. Jadi, bisakah Paman memeriksakannya untukku,”
“Oh, kalau begitu aku akan memanggil dokter spesialis ortopedi. Kebetulan yang bertugas hari ini adalah seorang wanita. Kalian tunggulah dulu,” ucap Damar yang kemudian menggunakan telepon untuk memanggil Dokter tersebut.
“Dokter ke ruanganku sekarang!” seru Dokter Damar.
“Baik, Dok,” jawab si penerima.
Tak lama berselang seorang dokter wanita sudah berada di ruangan Dokter Damar. Dokter wanita cantik itu tak lain adalah Dokter Lolita, sahabat Clarissa.
Eh, ternyata David ada di sini. Untuk apa dia meminta Dokter Damar memanggilku kemari. Siapa yang mengalami cedera otot? (ucap Dokter Lolita dalam hati).
“David, ini Dokter Lolita. Dia yang akan memeriksa kondisi tunanganmu,” sahut Dokter Damar.
"Tunangan? Jadi David kemari membawa tunangannya. Tapi di mana dia? Di mana gadis ondel-ondel penjual bakso itu (pikir Lolita).
“Dokter Lolita itu pasien Anda,” ucapnya menunjuk Bella.
“Hay,” sapa Bella.
__ADS_1
Jadi ini gadis ondel-ondel itu? Kenapa berbeda sekali dengan yang diberitakan? (batin Lolita).
“Halo, Nona Bella, saya Lolita. Bagian mana yang ingin saya periksa?” tanya Lolita.
“Yang..” ucapnya terpotong.
“Baiklah, agar Dokter Lolita bisa lebih leluasa memeriksanya, sebaiknya kita tinggalkan dulu ruangan ini,” ujar David yang disetujui oleh Lim dan Dokter Damar. Membuat Dokter Lolita yang mendengarnya tersenyum senang.
Bagus, mereka semua pergi. Dengan begitu aku bisa memberi dia pelajaran untuk membalas sakit hati sahabatku. Heh, berani-beraninya gadis gembel sepertimu mendekati pria yang telah disukai sahabatku dari kecil. Rasakan pembalasanku! (pikir Lolita).
“Baik, Nona Bella, apa yang Anda rasakan? Boleh saya melihat lukamu?” pinta Dokter Lolita.
“Iya, tentu saja, kalau tidak dilihat bagaimana dokter bisa mengobati lukaku memang dokter seorang peramal,”
Cih, berani sekali gadis tengik ini mengataiku (umpat Lolita dalam hati).
Bella menyingkap kaos yang menutupi lukanya dan menunjukkannya pada Lolita.
Dih, apa-apaan si David ini? Konyol sekali! Hanya luka seperti ini saja pakai dibawa ke rumah sakit segala. Pakai jasa seorang dokter ortopedi seperti aku lagi (lagi-lagi Lolita mengumpat dalam hati).
“Bagaimana Dok?” tanya Bella
“Oh, lukanya tidak terlalu parah. Saya rasa cukup dengan diberikan salep dan dipijit sebentar pasti akan sembuh,” jawab Lolita dengan senyum palsunya.
“Dipijit Dok?” tanya Bella sedikit takut.
“Iya, benar. Sebentar saya ambilkan salepnya dulu,” ucap Lolita sambil mengambil salep memar yang tersedia di kotak penyimpanan obat yang ada di ruangan itu.
“Silakan dibuka sedikit lagi kaosnya,” pinta Lolita yang dituruti Bella.
“Rasakan ini gadis gembel!”
“Aww.., “ Bella menjerit kesakitan saat Lolita memijat lukanya dengan sangat keras.
“Dok, kenapa sakit sekali?”
“Oh, maaf, memang seperti itu reaksinya? Tahan, ya, nanti juga sembuh,” ucap Lolita penuh dengan kepura-puraan.
“Aww.., Ini beneran sakit, Dok,”
Sakit, jelaslah karena saya memang sengaja melakukannya agar kamu tahu rasa sakit itu seperti apa (ucapnya dalam hati).
Bella lagi-lagi menahan sakit akibat perbuatan dokter ini. Kali ini sepertinya kecurigaan Bella memang benar, dokter itu memang sengaja melakukan hal ini, terlebih saat Bella tanpa sengaja melihat senyuman jahat yang terukir di bibirnya dari kaca etalase obat yang ada di ruangan itu.
Oh, jadi dokter cantik ini ingin bermain-main denganku ya? Baiklah, kalau begitu bersiaplah dokter kau akan menerima pembalasan dariku sepuluh kali lipat dari yang kau berikan saat ini hingga kau akan menyesalinya (batin Bella).
Lolita yang tak menyadari kalau Bella sudah bisa mencium rencana jahatnya, terus melancarkan aksinya. Dan..
“Krekkk,”
“Aww...” teriakan yang jauh lebih keras kini l dari ruangan itu.
“Ups, maaf, Dokter. Aku sungguh tidak sengaja. Aku benar-benar reflek melakukannya,” ucap Bella berpura-pura.
Dasar gadis tengik! Dia benar-benar sudah mematahkan tanganku. Aww.. sakit sekali (rintih Lolita dalam hatinya).
“Biar aku bantu menyambungkan tulangmu yang patah, Dokter. Kebetulan aku pernah mempelajari cara menyambung tulang,,” sahut Bella.
“Oh, tidak-tidak, Nona. Tidak perlu, biar nanti aku yang mengatasinya sendiri, aww..” tolak Lolita sambil merintih kesakitan.
Rasakan itu dokter jahat! Bella dilawan (batin Bella tersenyum penuh kemenangan).
****
Bersambung
Bagaimana pembacaku? Cukup puas dengan perlawanan Bella.
Jika puas berikan like, vote, dan komen terbaikmu pada karya ini dan tetaplah menjadikan karya ini favoritmu.
Terima kasih.😍😍😍
__ADS_1