Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Ekstra Part Az dan Dara Bagian 2


__ADS_3

“Apa?! Kau ingin aku dan Lusia tinggal di dekat rumahmu? Yang benar saja. Apa tidak cukup dengan pekerjaanmu yang suka menguntit orang?” tuduh Az.


“Apa maksudmu? Kau mengataiku penguntit? Atas dasar apa? Kapan aku pernah menguntitmu, hah?” tanya Dara setengah berteriak.


“Kapan? Kau bertanya kapan? Pertama, kau ikuti aku ke toilet bandara. Setelah itu, kau memesan tiket pesawat dengan tempat duduk yang sama dengan aku dan Lusia. Sekarang, kau masih ingin aku tinggal di dekat rumahmu. Apa kau benar-benar senang menguntit kami, hah?”


“Hey, Dokter. Berhenti menuduh aku seperti itu. Kalau kau memang tidak ingin tinggal dekat rumahku ya, sudah.. Tapi itu artinya Lusia harus tinggal bersama kami,”


“Jangan menguji kesabaranku, Nona. Walaupun kau keluarga kandung Lusia, tapi aku yang telah merawat dan membesarkannya,” ucap Az menatap tajam ke arah Dara.


Dara ikut menatap ke arahnya. Jarak di antara mereka kali ini benar-benar dekat hingga hembusan nafas keduanya bisa dirasakan satu dengan yang lain.


“Baiklah, terserah kau saja,” ucap Dara mengalah.


Lalu Azril menyeret koper yang dibawanya.


“Ayah, tapi aku ingin tinggal di sini. Aku ingin tinggal di dekat Mami. Aku ingin merasakan belaian lembut seorang Mami,” ucap Lusia sontak menahan langkah kaki Az.


“Baiklah, kau boleh tinggal di sini jika kau mau,”


“Tapi Ayah, aku juga ingin tinggal bersamamu. Bukan kah ini tujuan kepindahan kita kemari? Agar aku tetap bisa bersama ibu kandungku tanpa harus berpisah darimu,”


Ucapan Lusia berhasil menahan langkah kaki Az.


“Kenapa kita tidak mendengarkan saran dari Tante Dara saja?”


“Baiklah, kita akan tinggal di sini jika itu memang keinginanmu. Tapi, ingatkan Tantemu untuk tidak menggangguku,” ucapnya tanpa melihat wajah Dara.


“Ck, dia pikir aku senang mengganggunya,”


“Ayo, Lusia kita naik ke mobil Paman Sam,” ajak Dara membawa keponakannya itu masuk ke mobil sedan hitam yang menjemputnya di bandara.


Paman Sam adalah supir pribadi keluarga Morris yang dimintanya untuk menjemput Dara, Lusia, dan Az di bandara. Sam sebelumnya telah mengetahui bahwa Dara akan datang bersama cucu kandung dari majikannya serta ayah angkta dari sang cucu.


Setelah Dara dan Lusia masuk ke dalam mobil tersebut dan duduk di bagian belakangnya. Az pun mengikuti mereka dengan duduk di depan, di dekat supir mereka. Sam, sang supir, sepintas memandang Az yang duduk di dekatnya sebelum mobil dilajukan.


Pemuda yang tampan dan gagah. Dia sangat cocok menjadi pasangan Nona Dara (batin Sam).


“Tante Dara, apakah Tante sudah punya calon suami?” tanya Lusia.


“Jangankan suami, pacar saja Nona Dara belum punya, Nona,” kali ini Sam yang menjawab bukan Dara.


“Benarkah Tante?”


“Iya, memang untuk apa kau menanyakan ini? Apa kau punya kandidat untukku, Sayang?” tanya Dara.


“Ada. Dia laki-laki yang tampan, gagah, dan juga pintar,”


“Oh, ya? Siapa dia? Apa Tante mengenalnya?”


“Tentu, dia itu ayahku,” jawaban Lusia sontak membuat Az yang mendengarnya terbatuk-batuk.


“Uhuk, uhuk.. Lusia, jangan bicara sembarangan!”


“Aku tak sembarangan bicara Ayah. Menurutku kalian cocok. Benarkan Paman Supir?” tanya Lusia mencari dukungan.


“Benar, Nona. Ayahmu dan Tantemu jika benar-benar menjadi pasangan pasti akan sangat serasi,”

__ADS_1


“Paman Sam, Paman itu bicara apa sih?” protes Dara tidak suka.


Yang benar saja, aku dan macan kutub ini dikatakan serasi? Serasi dari mana? Dia ini Paman, walaupun tampan, tapi galak dan dinginnya enggak ketulungan.... (batin Dara).


“Maaf, Nona. Saya hanya memberikan pendapat saja,”


“Sudahlah. Apakah rumah kalian masih jauh?” tanya Az enggan menanggapi hal yang menurutnya hanya pemikiran konyol dari anak kecil.


“Sebentar lagi, Tuan,” jawab Sam.


Tak lama berselang, mobil itu pun akhirnya sampai di kediaman Moris. Sebuah rumah berlantai dua dengan ukuran yang cukup besar, namun tampak sederhana dari luar.


“Nanti kau dan ayahmu tinggal di rumah yang bercat biru itu,” ucap Dara menunjuk sebuah rumah yang letaknya berdekatan dengan rumahnya.


“Az, kau mau bertemu dengan Ayah dan Kakakku dulu kan?” tanya Dara hati-hati.


“Hemmm,”


Laki-laki ini benar-benat menyebalkan (batin Dara).


Dara mengajak Lusia untuk turun dan bertemu dengan sang ibu.


“Kau mau di sini terus atau ikut kami turun?” tanya Dara pada Az yang tak segera turun dari mobilnya.


Az yang mendengar ocehan Dara, langsung turun dari mobilnya. Sebenarnya ia malas untuk berkunjung ke rumah Dara. Namun, perasaan untuk mengetahui seperti apa keluarga kandung Lusia membuatnya tetap melangkah ke rumah bercat putih itu.


“Selamat siang, Ayah,”


“Oh, Dara. Akhirnya kau datang,” sapa seorang laki-laki tua yang kini duduk di ruang tengah rumah itu.


“Kau kah Lusia, cucuku?” tanya pria tua sambil memandang Lusia dengan mata berkaca-kaca.


“Iya, Kakek. Aku Lusia dan kau boleh memanggilku Cia,”


“Cantik sekali, kau persis seperti ibumu,” sahut pria tua yang memiliki nama asli Bernardo Morris.


“Benarkah, di mana ibuku?” tanya Lusia.


“Silvia, kemarilah,” panggil Bernardo.


“Silvia,” panggilnya lagi saat tak mendengar ada jawaban.


“Mungkin Kakak tidak mendengar. Biar aku panggil dia di kamarnya,” ucap Dara yang kemudian berjalan ke salah satu kamar di lantai atas.


“Apa kau yang menjaga dan merawat Lusia selama ini?” tanya Bernardo saat melihat Az bersama mereka.


“Iya, Tuan,”


“Tidak, jangan panggil Tuan. Panggil Paman saja,”


“Iya, Paman. Saya ayah angkat Lusia,” jawab Az tersenyum ramah.


“Mana, mana, mana? Mana putriku? Mana dia? Kau tak membohongiku kan Dara,” teriak seorang yang wanita setengah berlari dengan wajah kebingungan.


Bibirnya gemetar, wajahnya tampak pucat. Wanita itu lalu memandang ke arah Lusia dan Az berada.


“Kau, kau putriku?” tanyanya pada Lusia dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Lusia tampak sedikit ketakutan. Namun, saat melihat isyarat dari Tantenya, Lusia memberanikan dirinya untuk mendekati wanita itu.


“I-iya, aku Lusia. Aku putrimu,” jawab Lusia yang langsung disambut pelukan oleh Silvia.


“Oh, putriku. Kau, kau benar masih hidup,”


Silvia memeluk Lusia erat, air matanya mulai menetes membasahi baju Lusia. Ia menangis tanpa suara membuat semua yang berada di sana nampak terharu melihat pertemuan Ibu dan anak yang telah terpisah selama kurang lebih delapan tahun lamanya. Tak terkecuali Az, hatinya yang selama ini dingin tampak tersentuh, ia menjadi teringat almarhum ibunya yang sangat mencintai kedua putranya. Tanpa sadar, air mata menetes dari pelupuk matanya dan itu tak lepas dari pengamatan Dara.


Eh, beruang kutub itu menangis. Apa aku tidak salah lihat? (batin Dara).


Namun, suasana haru itu berubah seketika. Kala Silvia tiba-tiba berteriak saat memandang Az.


“Kau! Pembunuh!!” Kenapa kau bisa berada di sini? Pergi, pergi!!” teriaknya sambil memandang semua barang ke arah Az dan itu membuat Lusia nampak ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh ayah angkatnya.


“Tidak, Kakak! Kau, salah. Dia bukan pembunuh itu,” ucap Dara yang langsung memeluk dan mengapit tangan sang kakak agar tak terus mengamuk.


“Tidak, Dara!! Dia pembunuh dan penculik itu! Dia ingin membunuh kita semua,”


“Tidak, Kakak. Kakak salah, dia itu Dokter Azril, laki-laki yang selama ini menjaga dan merawat Lusia,”


“TIDAK, aku tidak mungkin salah. Kau yang salah. Dia itu pembunuh. Dia juga seorang penculik. Di-dia, dia ingin mengambil putriku lagi. Lepaskan aku, aku akan membunuhnya,” teriak Silvia sambil meronta-meronta agar tangannya bisa lepas dari cengkeraman Dara.


“Ayah, aku takut,” bisik Lusia yang langsung bersembunyi di balik tubuh Az.


“Maaf, Tuan. Aku tidak bisa membiarkan Lusia dengan putrimu. Aku akan membawanya pergi,” ucap Azril.


“Az, tunggu. Kumohon tunggulah,” pinta Dara sambil meneteskan air matanya.


Ya Tuhan, tidak kusangka gadis angkuh itu bisa menangis juga. Tapi apa aku harus membiarkan Lusia bersama ibunya yang sakit? (batin Az).


“Dara, lepaskan aku. Kumohon dia akan kembali mengambil putriku lagi. Lepaskan!” teriak Silvia.


“Silvia, tenanglah. Kalau kau bersikap seperti ini terus kau benar-benar akan kehilangan putrimu,” teriak Bernardo.


“Tidak, aku tidak akan kehilangan putriku. Akan kubunuh dia,” teriak Silvia dan seketika itu juga ia berhasil lepas dari cengkraman Dara. Bahkan, ia juga berhasil merampas pistol yang disembunyikan Dara di bagian belakang pinggangnya.


“Kakak, tenanglah! Jangan lakukan apa pun!” teriak Dara.


Semua orang yang berada di sana benar-benar terkejut dengan tindakan yang telah dilakukan oleh Silvia. Suasana di kediaman Moris itu pun kini berubah menjadi tegang.


Dor


“Tidak!!!”


Suara letupan senjata milik Dara menggema di ruangan itu bersama dengan teriakannya yang lantang.


***


Bersambung


Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaiman keadaan Azril saat ini? Apakah dia baik-baik saja?


Temukan jawabannya di kelanjutan kisahnya ya...


Jangan lupa dengan memberikan like dan vote pada tiap bab cerita ini dan tetap jadikan cerita ini favoritmu.


Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2