
Dilla mengikuti petunjuk yang disampaikan oleh sekuriti itu, ia berjalan lurus ke depan. Kemudian belok ke kanan, dan setelah sampai di pertigaan ia mengambil arah kiri. Dan..
Bruk
Sebuah tubuh kekar menabrak Dilla, membuat tubuhnya terjatuh ke lantai. Laki-laki berbadan kekar itu berbalik memandang Dilla sebentar, lalu mengabaikannya. Aura dingin terpancar dari wajah pria itu. Bukannya minta maaf atau menolong Dilla, pria itu malah berjalan begitu saja. Suara decakan keluar dari mulutnya. Seolah Dilla, telah mengganggu perjalanannya.
“Duh, sombong sekali laki-laki itu. Tapi, sepertinya dia dokter di rumah sakit ini,” terka Dilla saat memperhatikan penampilan pria kekar tersebut yang saat ini mengenakan jas putih yang biasa dikenakan para dokter.
“Ya Tuhan, mudah-mudahan aku tidak akan sering-sering berurusan dengannya di sini. Tapi, entah kenapa wajah dokter dingin itu seperti tidak asing bagiku ya. Apa aku pernah bertemu dengan dia sebelumnya? Tapi di mana? Ah, sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja,” pikir Dilla mencoba mengingat wajah laki-laki yang telah menabraknya itu.
Saat Dilla berusaha untuk bangkit dan berdiri kembali, sebuah uluran tangan menyambutnya, membantu Dilla untuk berdiri kembali. Suara lembut pun keluar dari orang yang memberikan uluran tangan tersebut. Suara yang persis sama dengan seseorang yang selama ini dirindukannya.
“Kamu tidak apa-apa?” suara sedikit serak keluar dari mulut laki-laki tampan yang telah menolongnya.
“Kamu?” Dilla nampak terkejut saat melihat sosok tampan yang selama ini dirindukannya itu tengah berdiri di hadapannya.
“Kamu Dilla, kan? Temannya Bella?” tanyanya.
“Iya, dan kamu itu Ar, bukan?” tanya Dilla sedikit ragu saat melihat penampilan Ar saat ini.
“Kamu benar,” jawab Ar tersenyum hangat.
“Kamu bekerja di sini?” tanya Dilla.
“Menurutmu?” Ar balik bertanya.
Dilla kemudian memperhatikan penampilan Ar dengan seksama.
“Kamu dokter di sini?” tanya Dilla saat melihat Ar mengenakan jas putih yang biasa dipakai para dokter.
“Iya, kamu benar,” jawabnya.
“Astaga, Ar, jadi kamu beneran dokter di sini?” tanyanya lagi seakan tak percaya dengan jawaban yang baru saja ia dengar.
“Benar. Kenapa? Heran ya?” tanya Ar yang mengerti dengan keterkejutan Dilla.
“Iya, karena aku beneran enggak nyangka sebelumnya kalau kamu itu seorang dokter,”
“Aku mengerti. Kebanyakan orang tidak akan menyangka kalau seorang dokter seperti aku ini ternyata memiliki hobi balap, di arena liar pula. Mungkin, Bella pun kalau tahu tentang ini akan sama terkejutnya seperti kamu,” jawab Ar.
“Jadi, Bella juga tidak tahu tentang ini?”
“Belum, dia belum tahu tentang ini,”
__ADS_1
“Kenapa kamu merahasiakan ini dari Bella?”
“Aku tidak bermaksud merahasiakan ini, Nona cantik,” panggilan Ar membuat pipi Dilla merona.
“Bella sendiri yang tidak pernah bertanya tentang ini,” jawabnya penuh penekanan.
“Jadi, kalau Bella tidak pernah bertanya, kamu tidak akan pernah memberi tahu Bella tentang pekerjaanmu ini?”
“Apa pentingnya aku memberi tahu Bella tentang pekerjaanku ini?” tanya Ar balik.
Membuat Dilla berpikir, “Iya, juga sih,”
“Oh ya, kamu ke sini ada perlu apa? Apa kamu sakit?” tanya Ar.
“Ti-tidak, aku ke sini untuk melamar pekerjaan. Aku dengar dari temanku Nina kalau rumah sakit ini sedang membutuhkan tukang cuci dan bersih- bersih,” jawab Dilla.
“Jadi kamu ini teman yang Nina maksud untuk menggantikannya bekerja di sini?”
“Iya, apa kamu kenal dengan Nina?”
“Iya, dan sebelum keluar dia telah menyampaikan hal ini padaku,”
“Kalau begitu apa kamu tahu di mana ruang sanitasi yang dimaksud Bu Wati?”
“ Terima kasih, Ar. Aku ke sana dulu,” pamit Dilla.
“Sama-sama, semoga sukses,” ucap Ar sebelum akhirnya suara seorang perawat mendekat ke arahnya.
“Dokter Aria, Dokter Azril meminta Anda untuk segera menemui dia di ruangannya,” ucap perawat itu.
“Baik, Sus, saya akan segera ke sana, terima kasih,”
“Sama-sama, Dok,” sahut perawat itu.
****
Aria (Ar) melangkahkan kakinya menuju salah satu ruangan bertuliskan “Ruang Spesialis Bedah Saraf, dr. Azril Damara Effendi, Sp., BS., "
Tok tok tok
“Masuklah,” sahut laki-laki yang nampak masih sibuk memeriksa hasil rontgen pasien.
“Besok bersiaplah, jam 8 pagi kita akan melakukan operasi pada Lusia,” sahut dokter itu tanpa memandang wajah Aria.
__ADS_1
“Jadi, Lusia benar-benar akan dioperasi?” tanya Aria dengan wajah sedih.
“Iya,” jawab dokter dengan name tag “Azril Damara Effendi" itu datar.
Aria menarik nafas, lalu membuangnya pelan.
“Kasihan sekali dia,” itulah kalimat yang keluar dari mulut Ar sebelum akhirnya ia berlalu pergi meninggalkan ruangan tempat Dokter Azril berada.
***
Langkah Ar tampak begitu lemas, wajahnya pun terlihat sedikit pucat. Dalam benaknya terbayang wajah gadis kecil yang selalu ceria itu besok akan terbaring di meja operasi. Bertaruh dengan 50 persen peluang untuk memperoleh kembali kehidupannya.
*Aku harap, operasi besok akan berjalan dengan lancar. Kita akan berjuang bersama Lusia*, (ucapnya dalam hati)
Lusia adalah gadis kecil yang baru berusia delapan tahun. Ia menderita kanker otak stadium 3 sejak masih berusia tujuh tahum. Belakangan Lusia dirawat di rumah sakit untuk menerima perawatan intensif dari para dokter serta melakukan kemoterapi. Namun, karena kondisinya mulai memburuk, maka langkah operasi menjadi jalan keluar satu-satunya meski peluangnya hanya 50 persen saja.
Di rumah sakit itu sendiri, Ar biasanya bertindak sebagai dokter anastesi yang bertugas untuk mengukur takaran obat bius yang akan digunakan pasien selama operasi berjalan. Takaran obat bius yang diberikan kepada pasien haruslah tepat karena jika ada kesalahan akan fatal akibatnya.
Sebagai contoh, pasien yang mendapat obat bius dalam dosis berlebih bisa saja kehilangan kesadarannya dalam waktu yang cukup lama, bahkan beberapa pasien mengalami koma karenanya. Sedangkan, jika dosis yang diberikan terlalu rendah, maka kesadaran pasien akan lebih cepat dan itu tidak baik jika terjadi saat operasi sedang berlangsung. Itulah sebabnya obat bius yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan lamanya operasi berjalan.
“Dokter Aria, tolong kami,” ucap salah satu perawat yang berjalan cepat menghampiri Ar.
“Ada apa, Sus?” tanya Ar.
“Nona Lusia sekarang sedang histeris di kamarnya. Ia melempar semua barang yang ada di kamar tersebut,” jelas sang perawat.
Mendengar penjelasan sang perawat dokter Aria bergegas berjalan cepat menuju salah satu ruang rawat inap yang ada di sekitar koridor rumah sakit tersebut.
“Gawat, keadaannya akan semakin tidak stabil jika ia terus menerus histeris seperti ini,” gumam Ar dengan raut wajah penuh kepanikan.
***
Bersambung
Bagaimana keadaan Lusia? Akankah dia baik-baik saja.. ?
Temukan jawabannya di episode selanjutnya.
Terus berikan author dukungan agar lebih bersemangat dalam berkarya dengan memberikan like dan vote pada karya ini dan jadikan karya ini favoritmu dengan menekan tanda love. 🥰🥰
Mohon maaf jika belum bisa crazy up dan terima kasih 🙏🙏🙏
Salam sayang dan sehat selalu dari author untuk semua pembaca setia “Mengaku Tunangan CEO”.
__ADS_1