
Di Rumah Sakit Internasional XXX
“Dasar bocah tengik! Apa yang kau lakukan pada cucuku, hah?! Rasakan ini! Rasakan, rasakan!" teriak Neni bersamaan dengan pukulan centong nasi yang berkali-kali mengenai pundak David.
Saking terlalu paniknya, Neni sampai membawa centong nasi ke rumah sakit. Itu semua karena berita yang baru saja ia dapatkan dari Sandi yang kebetulan sedang mengantar anak bosnya ke rumah sakit tersebut.
“Aku sudah bilang kau jangan melakukan itu dulu. Kau malah melakukannya,” ucap Neni kesal dan kembali memukul David dengan centongnya.
“Ampun, Neni. Aku tak sengaja melakukannya,” jawab David.
“Kau bilang tak sengaja, hah? Kau melakukannya berkali-kali hingga membuat cucuku kelelahan bahkan sampai pingsan seperti itu kau bilang tak sengaja,”
“Huss, Neni. Bisakah kau pelankan sedikit suaramu. Di sini banyak orang,” ucap David sambil menempelkan jari tunjuk di bibirnya dan melirik ke arah Lim yang saat ini sedang berusaha menahan tawanya.
Rasakan kau, Bos. Emang enak kena amukan singa betina (batin Lim)
“Ini baru pertama kali buat Bella dan kau melakukannya sampai seperti ini,”
“Ini juga baru pertama kali buatku, Neni,”
“Siapa yang bertanya seperti itu padamu David?” bentak Neni dengan mata yang sudah melotot tajam ke arahnya.
“Aku kan sudah bilang. Kau boleh melakukan itu jika pernikahanmu dan Bella sudah diumumkan secara resmi. Lagi pula kau juga belum berhasil menemukan keluarga menantuku,” ucap Neni dengan kecewa.
“Maaf, Neni. Aku tak akan membuat Bella sampai kelelahan dan pingsan seperti ini lagi,” janji David sambil memperlihatkan senyuman manisnya.
“Cih, melihatmu tersenyum seperti itu membuatku tidak tega memukulmu lagi,” gumam Neni.
“David, apa yang terjadi?” tanya Diana saat sampai di rumah sakit.
Di belakang Diana tampak pula Dilla, Han, Nenek Kanaya, dan Steven mengikutinya.
“Tadi Bella pingsan,” jawab David dengan wajah tertunduk.
“Pingsan? Bagaimana bisa istrimu pingsan? Memang apa yang kau lakukan kepadanya David?” tanya Han bingung.
“Dia pingsan karena kelelahan Paman. Em.. Aku melakukan itu hingga berkali-kali,” ucap David malu-malu.
“Hah? Tidak kusangka kau sesemangat itu David,” sahut Kanaya menggelengkan kepalanya karena terkejut.
“Wow, tidak disangka temanku itu sangat keren,” gumam Steven sambil mengangkat kedua jempolnya dam itu langsung mendapat pukulan centong nasi dari Neni.
Pletak
“Berani sekali kau memuji bocah tengik itu. Apa kau ingin dia melakukan hal seperti itu pada cucuku lagi, hah?” bentak Neni sambil berkacak pinggang dan menunjuk Steven dengan centong nasinya.
“Anda siapa?” tanya Nenek Kanaya yang merasa bingung dengan wanita tua yang tiba-tiba memukul Steven.
Neni yang mendengar pertanyaan Kanaya, kemudian mengulurkan tangannya.
“Kenalkan Nyonya, saya Nilam, Neneknya Bella,”
Kanaya memperhatikan Nilam dari atas hingga bawah membuat David merasa khawatir jika Neneknya akan mengabaikan uluran tangan dari neneknya Bella.
“Kanaya,” jawab Kanaya menyambut uluran tangan dari besannya.
Hal itu membuat David, Diana, Dilla, dan Han merasa lega sekaligus senang melihat perubahan sikap Kanaya.
“Kanaya,” panggil seseorang yang tak lain adalah Oma Anna yang datang bersama Opa Robert.
“Anna, kalian sudah sampai?" tanya Kanaya.
“Iya, begitu mendengar kabar darimu kami langsung kemari,” jawab Anna.
“Bagaimana kondisi Bella?” tanya Opa Robert kepada David.
“Dokter bilang kondisinya sudah lebih baik,” jawab David.
“Sekarang di mana Bella?” tanya Diana.
“Dia sekarang ada di kamar itu Tante,” jawab David menunjuk ke sebuah ruang perawatan VVIP yang kini berada di depannya.
Mereka semua pun masuk ke dalam ruang perawatan itu dan melihat Bella yang masih tertidur pulas. Neni mendekati Bella dan membelai lembut wajah cucunya.
“Bella, bangunlah Neni kemari ingin melihatmu,” panggil Neni.
Perlahan Bella membuka matanya dan tersenyum saat melihat Neni berada di sampingnya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mengejutkan semua orang dan saat David membuka pintu itu tampak Nikita sudah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
“Oh, maaf mengganggu,” ucap Nikita saat semua orang menatap ke arahnya.
“Aku kemari ingin melihat keadaan Bella sekaligus mengembalikan barangnya yang tertinggal di tempatku,” ucap Nikita lagi sambil menyerahkan kalung yang di dalamnya terdapat sebuah cincin kepada David.
David yang menerimanya melihat cincin itu dan merasa bentuk cincin itu begitu unik.
“Bella, cincin siapa ini?” tanya David
memperlihatkan cincin itu pada semua orang.
Anna dan Diana yang merasa mengenali bentuk cincin itu segera mendekat ke arah David dan mengambil cincin itu darinya.
“Tante Anna, bukankah ini cincin yang seharusnya berada di tangan Thomas?” tanya Diana.
“Benar, ini cincin milik Thomas. Bella dari mana kau mendapatkannya?” tanya Anna yang membuat Bella dan Neni saling berpandangan.
“Cincin itu pemberian dari menantuku, ayahnya Bella,” jawab Neni.
“Apa? Siapa ayahmu Bella? Katakanlah! Apakah ayahmu itu Thomas?” tanya Anna lagi.
“Anna, tenanglah. Ada apa ini?” ucap Robert menenangkan istrinya.
“Robert, lihatlah! Cincin ini milik Thomas, putra kita yang hilang saat kecelakaan pesawat itu terjadi,” jawab Anna mulai menitikkan air matanya.
“Aku tidak tahu siapa putra Anda Nyonya, tapi ayahnya Bella memang ditemukan oleh almarhum suamiku dalam keadaan luka parah dan sudah kehilangan ingatannya di sebuah pulau terpencil,” sahut Neni.
Mendengar perkataan Neni, Anna dan Robert saling berpandangan. Mereka seolah melihat sebuah sinar harapan. Anna pun membuka kalungnya dan memperlihatkan sebuah foto yang terdapat dalam liontin biru muda miliknya.
“Apakah Anda mengenal wajah ini?” tanya Anna sambil memperlihatkan foto Thomas.
“Iya, ini foto menantuku, ayahnya Bella,” jawab Neni.
Anna dan Robert kembali berpandangan, lalu berjalan mendekat memeluk Bella.
“Bella, aku tidak menyangka kalau kamu adalah cucuku, putri Thomas, putraku," sahut Anna memeluk Bella.
Bella benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi hingga akhirnya Anna dan Robert menceritakan semua yang terjadi.
***
Sebuah pesta mewah, kini tengah digelar di sebuah taman yang ada di Mansion William. Taman itu kini telah disulap dengan begitu indah. Berbagai ornamen mewah dengan bunga-bunga putih menghiasi taman yang letaknya tak jauh dari kamar tempat di mana Bella dan Dilla kini berada.
“Bella, kau terlihat sangat cantik,” puji Dilla saat melihat Bella yang tampak cantik dengan balutan gaun pengantin putih yang begitu indah.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” sahut Dilla menenangkan sahabatnya.
“Tapi, bagaimana kalau aku terjatuh? Gaun ini begitu berat dan high heelsnya juga tinggi sekali,” keluh Bella.
“Tenanglah, aku akan berada di sampingmu, membantumu berjalan,” sahut Dilla yang kini juga tampil cantik dengan balutan gaun merah mudanya.
***
Di ruangan yang lain.
“Sepertinya nanti malam akan ada pertempuran yang hebat lagi nih,” ucap Steven dengan sudut bibir yang sudah naik ke atas.
“Ingat, Bos. Anda tidak boleh sampai melakukan kesalahan lagi karena jika tidak terong arabmu itu akan dipotong oleh Neni,”
“Diam kau!” bentak David yang kini mulai merasa gugup.
Pasalnya sejak kejadian hari itu, Neni dan Oma Anna melarangnya untuk bertemu dengan Bella sampai acara resepsi itu berlangsung dan itu membuatnya harus berpuasa selama satu minggu penuh.
“David, turunlah! Semua tamu sudah menunggumu,” ucap Tante Diana saat masuk ke kamar David.
“Baiklah, Tante,” jawab David.
David melangkahkan kakinya ke sebuah taman luas tempat resepsi pernikahannya dan Bella diselenggarakan. Ia berjalan didampingi Diana, Han, dan Kanaya ke sebuah singgasana yang telah dipersiapkan untuknya dan Bella.
Beberapa menit David menunggu kedatangan wanita yang sangat dicintainya. Ia begitu sangat merindukan Bella. Terlebih hampir tiap malam di saat dirinya menelepon Bella, wanita itu selalu menggodanya. Jika tidak ingat ancaman Neni, mungkin diam-diam David akan menyelinap masuk ke dalam kamar Bella.
Bella yang kini didampingi Dilla, Oma Anna, dan Opa Robert berjalan mendekat ke arah David. Dirinya benar-benar gugup, terutama saat melihat senyuman nakal dari David. Saking gugupnya, membuatnya tergelincir dan menyebabkan salah satu high heelsnya patah.
“Bella, hati-hati!” ucap Dilla yang mencoba membantu Bella berdiri kembali. Namun usahanya sia-sia, karena Bella masih saja kesulitan untuk berdiri kembali. David yang melihat itu dengan sigap berjalan mendekati Bella, lalu menggendongnya dengan gaya ala bridal style.
"Jangan gugup sayang! Malam kita masih panjang,” bisik David di telinga Bella dan itu membuat pipi Bella merona mendengarnya.
David terus menggendong Bella hingga sampai di pelaminannya. Kemudian, ia membungkuk di hadapan Bella.
“Kau mau apa, David?” tanya Bella gugup. Ia takut David kembali membuat ulah. Namun, David tak menghiraukannya. Ia masih membungkuk dan meraih kedua high heels yang melekat di kaki Bella.
“Ini menggangu, sebaiknya dipatahkan,” ucap David yang membuatnya tercengang. Ia senang melihat David yang begitu perhatian kepadanya.
__ADS_1
Acara resepsi pernikahan mereka pun dimulai. Satu per satu tamu datang menghadirinya. Kecuali, Clarissa yang menolak untuk hadir dengan alasan bahwa ia sedang ada keperluan dengan ayahnya di Kota JK.
“Kau benar-benar akan pindah ke Negara R?” tanya Ar pada Az saat melihat kakaknya itu diam-diam mencuri pandang pada wanita bergaun merah yang berdiri tak jauh dari mereka. Wanita itu tak lain adalah Dara yang tampil begitu cantik di acara malam itu.
“Iya, sesuai janjiku. Aku akan membawa Lusia pindah ke Negara R,” jawab Az.
“Saat kau kembali, bolehkah aku meminta sesuatu?” tanya Ar.
“Apa itu?” tanya Az.
“Bawakan aku seorang kakak ipar,” jawab Ar yang langsung mendapat sikutan di perutnya.
Sementara di sudut yang lain, tampak Lim yang sedang terbakar api cemburu. Ia benar-benar kesal melihat Kalista sedari tadi tertawa ria bersama Steven. Lalu, saat melihat Steven mulai meninggalkan Kalista, ia langsung menarik tangan Kalista dan membawanya ke sebuah tempat yang sepi dari pengunjung.
“Lim, kau ini kenapa?” tanya Kalista.
“Jauhi Steven!” ucap Lim dengan nada tegas.
“Kenapa aku harus melakukannya?” tanya Kalista.
“Karena aku tak suka melihatnya,” jawab Lim.
“Kenapa kau tak suka?”
“Karena.. karena...,” Lim bingung memikirkan alasannya.
“Karena apa?” tanya Kalista lagi.
“Karena hatiku sudah terlanjur memilihmu sebagai calon ibu untuk anak-anakku,” jawab Lim yang langsung mendapat pukulan dari Kalista.
“Dasar bodoh! Di mana-mana jadi istri dulu baru jadi ibu,” sahut Kalista.
“Jadi apakah kau bersedia?” tanya Lim kembali yang dijawab anggukan oleh Kalista.
“Yeeayyy,” teriak Lim sambil mengangkat tubuh Kalista.
***
Ar berjalan ke arah Dilla yang kini sedang berada di samping Han.
“Paman Han, bolehkah aku meminta sesuatu?” tanya Ar memandang wajah Dilla yang tertunduk melihat tatapan lembut dari laki-laki yang dicintainya.
“Meminta apa?” tanya Han.
“Bolehkah aku meminta putrimu untuk menjadi istriku?” pinta Ar yang membuat Dilla semakin tersipu malu.
“Kau sudah lihat kan. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Apa berani aku menolaknya?” jawab Han.
“Jadi Paman?” tanya Ar yang langsung mendapat pukulan dari Damar yang baru saja datang ke tempat mereka.
“Tentu saja itu artinya kau diterima, Boy. Kau ini sungguh memalukan ayahmu saja. Pintar, pintar, tapi bodoh,” cibir Damar yang membuat Han dan Dilla tertawa mendengarnya.
***
Acara resepsi pernikahan Bella dan David pun telah selesai dilaksanakan. Kini kedua mempelai telah memasuki kamar pengantin yang telah disiapkan. Tampak dari luar kamar, Lim dan Steven tengah menempelkan telinga mereka di pintu kamar itu.
“Hey, apa yang kalian berdua lakukan?” tanya Neni dan Oma Anna yang melihat kejadian itu. Mereka pun langsung menarik telinga Lim dan Steven secara bersamaan.
“Ampun, Neni, Oma” pekik Lim dan Steven bersamaan.
Oma Anna dan Neni pun menarik keduanya hingga menjauh dari kamar itu.
Sementara di dalam kamar, tampak David tengah bersiap melakukan hal yang selama ini ditunggu-tunggunya.
“Sayang, apa kau sudah siap?” bisik David mendekat ke arah istri.
“Siap apanya?” jawab Bella berpura-pura tidak tahu.
“Sudahlah, jangan berpura-pura lagi! Aku sudah tidak sabar,” sahut David yang langsung menarik selimut mereka.
“Ah, David..,” rengek Bella.
Namun, rengekan itu tak berarti untuk David yang sudah begitu lama merindukannya. Ia terus saja melakukan aksinya, memberikan kelembutan yang membuat Bella tak bisa berkutik lagi dan hanya bisa menikmati permainan dari suaminya itu hingga malam datang menjemput pagi.
***
TAMAT
Terima kasih kepada semua para pembaca yang telah memberikan dukungannya baik berupa like, vote, dan juga komentar positifnya terhadap karya ini, serta menjadikan karya ini favorit kalian.
Salam sayang buat semuanya dan semoga sehat selalu.
__ADS_1
😘😘😘