
Sementara itu di tempat lain Bella dan Dilla sedang berjalan menuju ke sebuah gedung tempat Maya bekerja untuk mengantarkan bakso pesanannya. Tepat di lantai bawah, David dan Lim baru saja hendak keluar meninggalkan gedung tersebut. Tanpa sengaja mereka pun berpapasan.
Dilla menganggukkan sedikit kepalanya sebagai bentuk sapaan, sedangkan Bella dengan gaya cueknya melewati David dan Lim begitu saja. David yang tidak terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu menghentikan langkah kakinya.
“Lim, panggil perempuan tadi. Sungguh tidak sopan, bertemu dengan atasan sama sekali tidak menyapa. Lagi pula pukul berapa ini? Keluar masuk seenaknya,” ucap David.
“Nona yang memakai jaket coba kemari,” teriak Lim menghentikan langkah Dila dan Bella.
Merasa diri mereka dipanggil, Bella dan Dilla pun saling memandang.
“Siapa yang dipanggil pria tadi?” tanya Bella.
“Sepertinya kamu deh, Bel,” jawab Dilla dengan tatapan mengarah ke jaket yang dikenakan Bella.
Bella lalu membalikkan badannya menghadap ke arah Lim dan David yang sedang berdiri di belakangnya.
“Maaf, ya, Pak, saya sedang terburu-buru, tidak ada waktu untuk bicara dengan Anda,” jawab Bella ketus dan langsung berbalik melanjutkan langkahnya.
David yang merasa tidak terima dengan kelakuan Bella yang dia kira karyawannya itu, mengepalkan tangannya menahan rasa marah.
“Sombong sekali kamu, memang kamu pikir waktuku tidak lebih berharga dari waktu yang kamu miliki,” ucap David dengan intonasi suara yang menggelegar membuat orang-orang yang ada di ruangan itu melihat ke arah mereka.
“Hey, Pak memang siapa Anda? Kenapa begitu marah kalau saya menolak bicara dengan Anda?” tanya Bella dengan nada tak kalah tinggi setelah berbalik menghadap ke arah David. Setelah mengucapkan perkataannya, ia pun kembali melanjutkan perjalanannya ke lantai atas.
Kurang ajar, berani sekali gadis itu (batin David)
"Hey, Nona, kamu ingin tahu siapa saya?"
Setelah David mengucapkan kata-kata itu, ia lalu memberi kode pada sekuriti yang berada di depan pintu masuk lewat matanya, sebagai isyarat agar menahan Bella dan Dilla hingga mereka tak bisa meneruskan perjalanannya.
“ Teh Bella, tunggu!” teriak sekuriti yang memang sudah mengenal Bella karena Bella memang sudah sering membawakan pesanan bakso ke gedung itu.
“Ada apa sih San? Enggak tau apa aku lagi buru-buru,” bentak Bella saat melihat sekuriti itu berlari menghampirinya.
__ADS_1
“ Teh Bella teh tidak boleh ke atas sama si Bos,” jawab sekuriti bernama Sandi.
“Oh, jadi pria itu bos kamu. Pantas saja sombong," ucap Bella geram.
Kemudian Bella berbalik dan menghampiri David.
“Eh, Bos, dengar ya... saya ke sini ingin mengantarkan pesanan bakso dari anak buah Anda dan dia minta saya untuk mengantarkan pesanannya langsung ke lantai atas! Dan kalau Anda tidak suka dengan ini, maka ambil ini !! Dan berikan uangnya kepada saya,” bentak Bella seraya memberikan dua bungkusan plastik yang dibawanya kepada David.
Orang-orang yang berada di sana terbelalak tak percaya melihat kelakuan Bella. Mereka sungguh tidak menyangka seorang Bella bisa begitu berani membentak bos mereka di hadapan banyak orang.
“Bella, sudah. Jangan membuat keributan di sini,” bisik Dilla.
Sementara di sisi lain rahang David mulai mengeras, ia merasa sudah benar-benar dipermalukan oleh Bella. Bungkusan yang tadi diserahkan Bella kepadanya, ia banting dengan keras begitu saja, membuat semua orang yang melihatnya begitu terkejut. Suasana berubah menjadi tegang.
“Beraninya kamu,” tubuh Bella didorong keras oleh David hingga menempel di salah satu dinding ruangan itu. Tubuh Bella dikunci oleh kedua lengan David.
“Apa kamu tidak tahu siapa saya, hah? ” bentak David dengan tatapan seorang pembunuh kepada Bella.
Seketika jantung Bella berdetak kencang karenanya, ada rasa takut menghampiri dirinya. Ia menatap wajah David yang begitu dekat dengannya saat ini. Nafas David memburu seolah menahan seluruh kemarahan yang ada dalam dirinya.
“Kenapa diam? Apa mulutmu yang beracun itu sudah kehilangan seluruh bisanya, hah? Apa kamu sekarang ini sudah tahu kamu berhadapan dengan siapa?” ucap David yang terlihat puas saat melihat wajah Bella yang terlihat sedikit pucat.
Bella mencoba menetralisir perasaannya, ia mencoba menghilangkan perasaan takut dalam dirinya. Setelah menghela nafas panjang, Bella mulai menampakkan senyum di wajahnya.
“Saya memang tidak tahu siapa Anda? Karena bagi saya Anda itu memang GAK PENTING karena Anda itu tidak ada apa-apanya dengan tunangan saya,” ucap Bella mendorong balik badan David yang sedari tadi menguncinya.
Dilla yang mendengar perkataan Bella memberikan ekspresi tak percaya, sementara David menarik ujung kanan bibirnya.
“Memang siapa tunangan kamu?” tanya David penasaran.
“Kamu tentu mengenal namanya, dia pria yang sangat hebat, " puji Bella.
"Kalau begitu siapa pria bodoh itu? "
__ADS_1
"DAVID ER-LANG-GA,” ucap Bella mengeja namanya.
‘Jeddar’
Jawaban Bella sontak membuat semua orang yang berada di ruangan itu terkejut, bahkan lebih terkejut dari sebelumnya tak terkecuali David.
“bodoh,” gumam David.
Astaga, Bella.. yang benar saja. Di saat genting seperti ini masih saja membual. Bagaimana kalau orang itu tahu kamu berbohong? (batin Dilla)
‘Ya.. Tuhan.. makhluk asing dari mana ini? Berani sekali mengaku sebagai tunangan Bos David. Padahal, dia bahkan sama sekali tidak mengenalnya. Apa dia tidak sadar bahwa laki-laki yang sedang dia bicarakan itu sekarang sedang berada di hadapannya. Konyol, gadis ini sungguh konyol. (batin Sekretaris Lim yang sedari tadi hanya menyimak pertengkaran David dan Bella)
Sementara David yang mendengar pengakuan Bella barusan, diam-diam tersenyum. Namun, tidak banyak yang bisa melihat senyuman itu, kecuali Lim.
Eh.. dia malah senyum (batin Lim saat memergoki senyum di wajah David)
“Teh Bella..” Ucap Sandi yang kemudian terhenti saat melihat David mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat agar Sandi diam, tidak perlu melanjutkan ucapannya.
Selain kepada Sandi, isyarat itu juga ditujukan kepada karyawan lainnya yang kini berada di ruangan itu agar tidak ada satu pun dari mereka yang memberitahukan hal sebenarnya kepada Bella.
“Kenapa sekarang diam? Tidak menyangka kan bahwa tunanganku David itu begitu hebat?” ejek Bella.
“Baiklah, karena aku sekarang sedang terburu-buru dan tidak ada waktu lagi meladeni kamu, aku pergi dulu. Mengenai bakso-bakso yang kamu tumpahkan, anggap saja aku sedang berbaik hati dan tidak akan mempersoalkan hal itu hari ini,” sambungnya sebelum meninggalkan gedung itu dengan sejuta tanda tanya yang masih melekat dalam hati dan pikiran orang-orang yang berada di tempat itu.
Gadis bodoh yang menarik (batin David tersenyum dalam hati)
Ia memandangi Bella dan Dilla yang keluar dari gedung itu. Lalu kemudian, meneruskan langkah kakinya keluar dari gedung tersebut.
“Suruh orang untuk membersihkan ini semua dan pastikan tidak ada orang yang memberitahu siapa Bos David yang sebenarnya kepada gadis itu,” ucap Sekretaris Lim sebelum meninggalkan gedung tersebut. Kemudian berjalan menyusul langkah David.
***
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa selalu kasih dukungan ya.. dengan like, vote, dan jadikan favorit... Terima kasih 😍😍