Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 76 Karma


__ADS_3

Di luar ruangan pemeriksaan saat Bella dan Dokter Lolita sedang berada di dalam, tampak David dan Lim sedang berdiri menunggunya. Sedangkan, Dokter Damar pamit karena mendengar kabar kalau Lusia telah sadarkan diri.


“Bos, sepertinya saya tidak asing dengan wajah Dokter Lolita,” ucap Lim yang kini berdiri di samping David.


“Kau benar. Aku juga sepertinya pernah melihat dia sebelumnya. Tapi di mana?”


Saat David mencoba mengingat sosok dokter itu muncul Clarissa yang sekarang tengah berjalan ke arahnya.


“Kenapa wanita ****** itu bisa ada di sini?” gumam David.


“David ternyata benar-benar kau. Akhirnya aku bisa melihatmu juga,” sahut Clarissa senang dan hendak memeluk David, namun David menepisnya.


“David, kau kenapa? Sejak dua tahun lalu kau bersikap begitu dingin kepadaku,”


“Bukannya dari dulu juga aku seperti ini,”


“Iya, kau memang pria dingin. Tapi, sebelumnya kau tidak pernah menghindariku,”


“Kau ingin tahu apa alasannya?” menatap tajam Clarissa.


“Tentu,” jawab Clarissa.


Saat David hendak mengemukakan alasannya, tiba-tiba terdengar...


“Aww,” terdengar suara teriakan Bella yang menjerit karena dipijat oleh Lolita.


“Suara siapa itu?” tanya Clarissa menatap David.


“Bella,” jawab David singkat.


“Bella? Siapa dia? Lalu kenapa kalian berdua berdiri di sini?” tanya Clarissa dengan nada sedikit emosi.


“Aww,” teriakan Bella kembali terdengar lagi.


“Apa yang sebenarnya dilakukan dokter itu di dalam? Kenapa gadis itu terus saja menjerit?” tanya David menoleh ke arah Lim.


“Entahlah, Bos. Apa perlu saya ke dalam untuk melihatnya?”


“Melihat apa?” tanya David dengan nada tinggi.


“Ya tentu saja melihat keadaan Nona Bella, Bos,”


“TIDAK PERLU! Aku yang tunangannya saja tidak boleh melihatnya. Apalagi kau! Lagi pula kau kan tadi sudah sempat melihatnya. Itu pun karena aku lupa kalau kau laki-laki,”


“Astaga, Bos! Jadi selama ini kau menganggapku apa? Kau anggap aku ini bukan laki-laki,” sahut Lim sebal.


“Helo, omong kosong apa sih yang sedang kalian bicarakan? Sebenarnya siapa yang ada di dalam ruangan itu? Siapa Bella? Apakah dia tunanganmu David?” tanya Clarissa kesal karena tak segera mendapat jawaban dari David.


“Iya, wanita yang di dalam itu Bella, tunanganku. Kau puas?”


“Aww...,” kali ini teriakan dari suara yang berbeda terdengar dari dalam ruangan.


“Lolita,” gumam Clarissa yang langsung menerobos pintu itu, namun lengannya dicekal oleh David.


“Sedang apa kau? Mau ke mana?” tanya David.


“Aku mau ke dalam, David. Karena tadi aku mendengar suara teriakan temanku dari dalam,”


“ Temanmu? Siapa temanmu?” tanya David.


“Dokter Lolita,” jawab Clarissa.


Setelah mendengar jawaban Clarissa, tanpa berpikir panjang, David langsung menerobos masuk ke dalam. Saat tiba di dalam ia melihat Dokter Lolita sedang meringis kesakitan.


“Ada apa ini?” tanya David.


“Sayang, maaf. Tadi aku tidak sengaja mematahkan tangan dokter itu karena tadi aku benar-benar reflek. Dokter itu memijatku dengan sangat keras sehingga tanganku reflek bergerak mematahkan tangannya begitu saja. Kau tahu kan aku memegang sabuk hitam taekwondo, jadinya kalau ada yang menyakitiku dari belakang, reflek tanganku akan bergerak begitu saja,” jelas Bella memasang tampang memelas.


“Baiklah, kalau begitu Dokter, aku meminta maaf atas nama tunanganku. Aku yakin dia benar-benar tak sengaja. Mengenai kerugian dari cidera yang Dokter alami aku bersedia menggantinya 10 kali lipat,” ucap David.


“Oh, tidak apa-apa, aww. Saya juga tahu dia pasti tidak sengaja, aww. Terima kasih karena Anda mau mengganti kerugian, aww,” ucap Lolita sambil meringgis menahan sakit.


Sial! Apanya yang tidak sengaja? Jelas-jelas dia sengaja melakukannya! Tapi kalau aku ngotot gadis ini bersalah, bisa-bisa reputasiku dipertaruhkan di sini (batin Lolita).

__ADS_1


“Kau yakin tidak sengaja melakukannya, hah!” bentak Clarissa seraya mendorong Bella.


“Apa-apaan ini? Siapa kau? Kenapa kau ikut campur masalah ini?” tanya Bella tak kalah keras.


“Clarissa, cukup! Kau tidak dengar apa yang dikatakan temanmu tadi? Atau memang kau yang tuli, hah?”


“David, kau jangan bodoh! Apa kau yakin luka seperti ini karena ketidaksengajaan?” memegang tangan Lolita.


“Aww, Clarissa cukup! Tanganku benar-benar sakit, aww. Aku sudah tidak tahan, aww. Sebaiknya kau antar aku berobat, aww,” pinta Lolita yang terus saja meringgis menahan sakit di lengannya.


“Baiklah, akan aku antar kau berobat dulu. Dan kau gadis gembel, tunggu pembalasanku!” ancam Clarissa seraya membawa Lolita pergi. David yang melihat kepergian Clarissa dan temannya itu menatap mereka dengan tatapan tidak suka.


Gadis itu semakin berani saja. Apa selama ini aku memang sudah terlalu baik padanya? Berani sekali dia mengancam wanitaku. Lihat saja kalau kau atau temanmu itu berani menyentuh wanitaku, aku tidak akan sungkan lagi. Sekalipun Nenek berpihak padamu (batin David).


“Gadis itu siapa sih? Kenapa menyebalkan sekali?” tanya Bella melihat ke arah David.


“Namanya Clarissa. Aku harap ke depannya kau lebih berhati-hatilah dengan dia,”


“Hah, tidak salah? Bukan kah kau seharusnya memperingati dia bukan aku? Karena jelas aku lebih hebat darinya,”


“Aku tahu kau hebat. Bahkan, sangat hebat. Saking hebatnya kau bahkan berani mematahkan tangan seorang dokter,”


“Jadi kau sudah tahu kalau aku berbohong?”


“Tentu saja, memang kau pikir aku bodoh. Jangankan aku, Lim saja dari jauh pasti sudah tahu kalau kau hanya berakting,” melihat ke arah Lim yang berdiri agak jauh dari mereka.


“Benar, Nona Bella dan perlu Anda tahu. Hal yang paling ditakuti dari seorang Clarissa adalah kelicikannya. Maka dari itu dengarkan ucapan Bos untuk selalu berhati-hati padanya,” ucap Lim.


“Baiklah, baiklah. Lalu bagaimana dengan lukaku? Karena aku yakin dokter itu tidak mengobati lukaku dengan benar. Mana mungkin ada yang mengoleskan salep sambil menekan lukanya kuat-kuat seperti yang tadi dia lakukan,” sahut Bella sebal.


“Iya, sepertinya dokter itu memang sengaja melakukan itu pada Anda, Nona. Karena dia sudah tahu Anda tunangan Bos David,” sahut Lim.


“Kau benar, Lim. Begini saja, kau carilah temanmu itu. Bukan kah dia bekerja di sini? Biarkan dia yang mengoleskan obatnya,” saran David.


“Oh, kau benar. Kalau begitu aku akan segera mencari Ar,” ucap Bella antusias.


“Eits, kenapa kau malah mencari laki-laki itu?” tanya David menahan Bella.


“Loh, bukannya tadi kau yang memintaku mencari dia,” jawab Bella.


“Tadi, kau yang barusan bilang kalau aku ingin mengobati lukaku, maka carilah saja temanku,” jawab Bella.


“Iya, tapi bukan dokter itu. Teman yang kumaksudku itu Dilla,”


“Oh, Dilla. Baiklah aku akan mencarinya” berjalan mencari Dilla.


“Hey, gadis bodoh. Kau mau mencari Dilla di mana? Memang kau tahu dia ada di mana?” tanya David.


“Oh ya,” menepuk jidat.


“Kalau begitu aku telpon dia dulu,” ucap Bella.


Tut tut


“Tidak diangkat,” gumamnya.


“Boleh, aku telpon Ar? Siapa tahu dia tahu tentang keberadaan Dilla?” pinta Bella menatap David.p


“Terserah,” jawab David malas.


“Dih, apa susahnya sih bilang boleh,” gerutu Bella sambil menekan nomor Ar.


“Halo,” sahut si Penerima.


“Halo, ganteng, apa kabar?” ucap Bella berbasa-basi.


“Cih, tunanganmu tidak pernah kau tanya kabar. Pria lain malah kau tanyakan,” ucap David jengkel sangat mendengar Bella mengucapkan kalimat itu.


“Baik, Bel. Ada apa?” tanya Ar dari balik telepon.


“Kau tahu Dilla ada di mana? Aku ingin bertemu dia,” ucap Bella.


“Dia ada bersamaku. Kebetulan aku ajak dia untuk menjenguk keponakanku,” sahut Aria.

__ADS_1


“Keponakanmu?”mengulang ucapan Aria.


“Iya, keponakanku. Kebetulan dia juga dirawat di rumah sakit ini dan tadi baru saja sadar dari operasi,”.


“Apa operasi? Keponakanmu dioperasi? Memang dia sakit apa?” tanya Bella kaget.


“Kanker otak, Bel.”


“Ya Tuhan, kasihan sekali. Kalau begitu semoga dia lekas sembuh,” sahut Bella merasa iba.


“Terima kasih,” balas Aria.


“Lalu sekarang kau dan Dilla ada di kamar mana? Boleh aku ke sana?”


“Tentu saja boleh, kami ada di Kamar VVIP rumah sakit yang berada di Cluster Melati,”


“Baiklah, aku akan segera ke sana,” ucap Bella sebelum mematikan teleponnya.


Bella menoleh ke arah David yang sedari tak menjauh darinya.


“Kau menguping?” tuduh Bella.


“Tidak, enak saja. Buat apa aku menguping?” jawab David memalingkan wajahnya dari Bella.


“Lalu apa kau sudah dengar semuanya?”


“Tentu saja, suaramu itu kan sudah seperti TOA masjid yang tutup telinga saja sudah bisa kedengaran,”


“Kalau begitu baguslah jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi dan aku harap kau masih mengingat salah satu pasal yang tercantum dalam surat perjanjian kita,”


“Yang mana?”


“Itu yang isinya dilarang mencampuri urusan pribadi kita masing-masing,”


“Mana ada?” David berkilah.


“Ada,” jawab Bella ngotot.


“Lim?” David menoleh ke arah Lim.


“Maaf Bos, saya lupa,” jawab Lim yang mengerti arti tatapan Lim.


“Cih, jangan suka berkilah untuk poin yang satu itu aku sangat mengingatnya. Sekarang, aku mau menemui Dilla dan Ar. Jadi, aku harap kau tidak mencampuri urusanku yang satu ini,”


“Memang siapa yang ingin ikut campur?” tanya David kesal.


“Kalau begitu baguslah, kau dan sekretarismu itu bisa pulang sekarang. Bukankah masih banyak urusan yang perlu kau tangani di kantormu,” sahut Bella yang membuat David semakin kesal.


“Hei, gadis tengik! Apa maksud perkataanmu? Kau pikir siapa dirimu? Berani sekali kau ingin mengusir kami dari sini, hah?” bentak David.


“Tidak, aku tidak mengusir kalian aku hanya menyarankan saja. Kalau kalian ingin tetap tinggal di sini. Silakan. Yang jelas aku mau menemui teman-temanku dulu. Dah, sayang...,” ucap Bella riang sambil membelai lembut pipi David hingga membuat kemarahan David sedikit melunak. Lalu berjalan meninggalkan David, namun berhenti sejenak.


“Terima kasih ya, sudah menggendong dan mengantarkanku kemari,” menoleh kembali ke arah David sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu melanjutkan kembali perjalanannya.


“Dasar gadis ini! Aku sudah capek-capek membawanya kemari karena khawatir dengan kondisinya. Bahkan mengabaikan segala urusan kantor. Eh, dia malah pergi begitu saja demi laki-laki lain,” gerutu David sebal dan itu membuat Lim menahan senyumnya.


Bos, Bos, dari dulu biasanya para gadis yang mendekatimu dan kau yang mati-matian menjauh dari mereka. Tapi sekarang, kau yang justru terlihat mati-matian ingin mendekati seorang gadis, tapi gadis itu malah berusaha menjauh darimu. Sepertinya kau telah mendapat karma dari sikap dinginmu itu Bos (ucap Lim dalam hati dengan senyum yang kini tak bisa ditahannya lagi).


“Hey, kenapa kau tertawa?” tanya David saat melihat tawa di wajah Lim.


“Ah, tidak Bos,” Lim berkilah.


“Awas saja kalau kau berani menertawaiku! Aku tidak akan segan lagi mengirimu ke kutub utara sana agar kau bisa menemani Paman Beruang dan Tante Pinguin di sana,” ancam David.


“Baik, Bos,”


Huh, lagi-lagi mengancam. Tidak sadar apa kalau dia dan Paman beruang itu sama. Sama-sama dingin dan sama-sama menakutkan (batin Lim).


****


Bersambung


Terima kasih ya, telah membaca cerita sampai di sini. Jangan lupa untuk terus memberikan like, vote, dan komen terbaiknya sebagai bentuk dukungan untuk karya ini.

__ADS_1


Salam sayang dan sehat selalu untuk semua, dan tetap jadikan karya ini favorit kalian.


__ADS_2