
Dara dan Az kini terbaring di atas ranjang dengan jarak yang cukup lebar. Mereka berdua tidur sambil membelakangi satu dengan yang lain.
Sial, sial, kenapa aku jadi tidak bisa tidur seperti ini sih? Ini semua gara-gara David dan tidak, tidak, ini tidak mungkin ide Bella. Ini pasti ulah si David yang brengsek itu. Bisa-bisanya dia memberikan barang-barang aneh seperti itu (batin Az)
Aduh.. Gara-gara kado tadi aku jadi tidak bisa tidur. Menyesal aku minta izin untuk membukanya. Tahu isinya seperti itu aku tidak akan mau membukanya. Lalu, apalagi ini kenapa juga jantungku berdebar tak karuan terus seperti ini? Ayo, Dara kendalikan dirimu! Tutup matamu dan berusahalah untuk tertidur (batin Dara)
Kini keduanya sama-sama membalikkan badan. Sesaat mata mereka saling bertatapan.
“Eh, sebaiknya aku tidur di lantai saja,” ucap Dara spontan.
“Baiklah, aku piker memang seperti itu lebih bagus,” jawab Az yang membulatkan matanya.
Apa? Beruang kutub ini benar-benar tega ya.. Masa dia membiarkan seorang perempuan untuk tidur di lantai saat udara dingin seperti ini sih. Mengatakannya dengan sangat santai lagi (batin Dara)
“Kenapa masih belum pindah? Tidak rela jauh dariku?” ucap Az sedikit menggoda.
“Cih, siapa yang tidak rela? Aku hanya heran saja. Kamu kan laki-laki masa iya kamu menyuruh perempuan tidur di lantai,”
“Siapa yang menyuruh? Kan kamu yang menawarkan diri tadi,”
“Iya, memang benar tapi aku pikir, kamu akan mencegahku dan berkata tidak perlu biar aku saja yang tidur di lantai kau di atas saja aku kan laki-laki. Nah, begitu. Baru itu jawaban laki-laki,”
“Maksudmu aku bukan laki-laki? Apa perlu aku buktikan? Hah?” goda Az seraya mendekat ke arah Dara.
“Ti-tidak, tidak perlu, sekarang kondisikan tubuhmu. Jangan dekat-dekat, oke?” pinta Dara.
“Jadi, sekarang kamu mau tidur di lantai atau tidak?”
“Ogah, udara dingin seperti ini aku bisa beku nantinya. Lebih baik kamu saja, kamu kan laki-laki,”
“Maaf, kalau masih bisa tidur di ranjang untuk apa juga aku harus tidur di lantai. Lagi pula aku tidak tertarik dengan tubuhmu itu sekalipun sangat berisi,”
Ucapan Az yang membuat Dara spontan menutupi bagian dadanya.
“Cih, dasar. Semua laki-laki memang berotak mesum,” gumam Dara pelan, namun masih bisa didengar.
Kemudian, Az berbalik memunggungi Dara kembali. Diam-diam dia tersenyum saat membayangkan wajah kesal Dara.
Az, sepertinya sekarang kamu punya hobi baru (batin Az)
“Awas, kalau kau macam-macam saat aku tidur. Aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran,” ancam Dara sebelum dirinya memejamkan mata dan terlarut dalam mimpi.
***
Mentari pagi membiaskan cahayanya melalui jendela-jendela kamar. Meski di Negara ini tak terdengar suara kokok ayam jantan, namun kehangatan sang mentari cukup untuk membangunkan kesadaran Az dari mimpi yang menghiasi tidurnya.
“Astaga, kenapa aku bisa sampai bermimpi seperti itu? Aku tidak sedang mendambakan wanita bodoh ini kan,” gumam Az saat membayangkan mimpi nakal yang baru dialaminya.
Az kemudian menoleh ke sampingnya. Tampak Dara yang masih tertidur pulas di hadapannya.
Cantik
Itulah kata yang terlintas dalam pikiran Az saat melihat wajah Dara yang terlihat cantik natural.
Az meneguk salivanya saat matanya bertemu dengan bibir merah Dara, wanita yang kini berstatus sebagai istrinya. Terbayang kembali permainan yang dimainkannya dengan bibir merah itu dalam mimpi nakal yang baru ia alami.
“Ya Tuhan, bisa gila aku kalau terus seperti ini,”
gumam Az yang bergegas bangkit dari ranjangnya. Lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dengan air dingin.
__ADS_1
Tak berselang lama, Dara ikut terbangun. Kini keduanya bersiap untuk kembali ke rumah sakit mengunjungi Bernardo yang masih dirawat di sana.
***
Mereka berdua telah sampai di rumah sakit. Dara turun terlebih dahulu, sedangkan Az masih sibuk dengan ponselnya yang belum lama ini berdering.
Tidak lama memasuki rumah sakit, Dara melihat seorang gadis cantik berambut sebahu dengan kaki jenjangnya yang putih dan nyaris mencuri perhatian semua pria yang ada di sana. Siulan nakal juga sempat terdengar di koridor rumah sakit tersebut.
“Cantiknya,” puji Dara dalam hati.
Gadis itu tampak tersenyum ke arah Dara, tapi rupanya senyum itu bukan ditujukan untuk Dara, melainkan untuk seseorang yang ada di belakangnya.
“Az,” panggil wanita itu yang membuat Dara menoleh ke belakangnya.
Wanita itu setengah berlari menghampiri Az yang sepertinya cukup kaget dengan keberadaan wanita itu di rumah sakit.
“Tania?”
“Az, ternyata beneran kamu ya?” sahut wanita itu senang dan langsung memeluk Az.
Cih, dasar laki-laki tak tahu diri. Di depan istrinya malah peluk-pelukan dengan wanita lain (batin Dara kesal)
“Tania, lepas! Aku sudah beristri. Jangan memelukku seperti ini!” ucap Az yang membuat wajah Tania langsung berubah menjadi tidak senang.
“Istri? Kau sudah menikah? Kenapa kau menikah tanpa memberi tahuku Az? Kenapa kau jahat sekali?” tanya Tania setengah berteriak.
“Memang Anda siapanya suamiku? Kenapa dia harus memberi tahu Anda?” tanya Dara seraya menghampiri keduanya. Matanya menatap keduanya dengan pandangan tidak suka.
“Oh.. Jadi kamu istrinya, Az ?” Tania memandang rendah Dara dari atas hingga bawah.
“Az, apa kau sama sekali tidak pernah menceritakan tentang aku kepada istrimu?”
“Baiklah, Nona…,”
“Dara,”
“Oh, baiklah Dara. Akan kuperkenalkan diriku agar kau tahu siapa aku. Namaku Tania Willis. Aku dan Az berkenalan di Negara S dan aku adalah wanita yang hampir tiap malam bersama Az,”
“Apa?” teriakan spontan keluar dari mulut Dara saat Tania menyelesaikan ucapannya.
“Kalau bilang apa? Hampir tiap malam kau bersama suamiku?” tanyanya kesal.
“Iya, hampir tiap malam aku bersama suamimu,”
“Untuk apa?”
“Ya, tentu saja untuk menemani suami kamu itu bermain,”
“Apa?” Dara terkejut pikirannya melayang entah kemana.
Kemudian, ia mengarahkan pandangannya menatap Az yang masih terlihat cuek.
“Az, apa benar selama ini kau sering bermain bersama dia?” tunjuk Dara pada Tania.
Saat ini Dara terlihat begitu kesal pada Az dan Tania, saking kesalnya wajahnya pun kini bahkan sudah memerah seperti kepiting rebus.
Ada apa dengan gadis bodoh ini? Sepertinya ada yang salah dengan pikirannya? (batin Az)
“Az, apa kau tidak mendengar pertanyaanku? Apa benar kau saat di Negara S hampir setiap malam bersama dia?” tanya Dara lagi dengan nada yang semakin menggebu.
__ADS_1
“Iya, saat di sana hampir setiap malam aku bersama dia dan memang benar kalau dia sering menema..,”
“Az, kau menjijikan!” umpat Dara sebelum Az menyelesaikan ucapannya.
“Tunggu!” Az segera memegang tangan Dara sebelum pergi menjauh.
“Az, lepaskan,”
“Aku belum selesai,”
“Kau ingin mengatakan apalagi? Kau sungguh menjijikan Az,” umpat Dara kembali dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Tania tersenyum melihat kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
“Tania, memang hampir setiap malam menemaniku bermain di arena balapan liar,”
“Ha?”
“Iya, dulu sewaktu Tania masih berada di Negara S, aku memang sering memintanya menemani dia ikut bermain balapan motor liar setiap malam di sana. Karena ayahnya seorang polisi. Jadi, jika aksi kami ketahuan dia bisa menolongku,” jelas Az.
Astaga, kenapa aku bisa melupakan hal itu? Bukannya sebelum bertemu Az, aku sudah menyelidiki kehidupannya saat di Negara S dan aku tahu kalau dokter hebat yang satu ini memang memiliki hobi yang terbilang langka untuk seorang dokter. Malunya aku tadi sudah marah-marah (batin Dara)
“Jadi istrimu tadi berpikiran macam-macam tentang kita ya, Az?” tanya Tania sambil menggelayut manja pada lengan Az.
“Hey, tolong ya.. kondisikan lengan Anda NONA TANIa. Dia suamiku, SUAMIKU,” ucap Dara.
Astaga, sejak kapan wanita ini jadi begitu possesif (batin Az).
Ya Tuhan, Dara. Kenapa kamu jadi tidak bisa mengendalikan dirimu? (batin Dara).
“Oh, kalau begitu maaf,” ucap Tania melepaskan tangan Az.
“Az, aku pergi dulu ya. Aku tidak mau nantinya ada macan yang mengamuk lagi, bye,”
Setelah mengucapkan kata-kata perpisahannya, Tania pun meninggalkan Az dan Dara.
Kini Dara terlihat salah tingkah di hadapan Az.
“Tadi kau bilang apa? Aku suamimu?”
“I-iya, kau kan memang suamiku,” menjawab tanpa melihat mata wajah Az.
“Suamimu ya?” tanyanya lagi dengan ekspresi yang sulit diartikan membuat Dara semakin salah tingkah.
“Sudahlah Az, jangan menanyakan lagi pertanyaan yang sudah jelas. Sekarang kita segera temui ayahku. Bukankah kita kemari untuk menemuinya,” ajak Dara menarik lengan Az.
Azril yang memahami kalau itu hanyalah trik dari Dara untuk menghindari pertanyaannya pun terdiam dan tak melanjutkan kembali pertanyaannya.
Kali ini aku tidak akan bertanya lagi, tapi tidak untuk nanti malam (batin Az)
***
Bersambung
Akankah Dara mengakui perasaannya terhadap Az?
Lalu bagaimana tanggapan Az setelah mengetahui perasaan Dara?
Tunggu kelanjutan ceritanya dan berikan like, vote, dan hadiah untuk karya ini, terima kasih
__ADS_1
Jika ada yang lupa dengan Tania, baca ulang Bab “Sang Pemenang”