Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 119 Terungkap


__ADS_3

Mario telah memanggil manajer hotel untuk datang bersama dengan petugas kebersihan yang bertugas membersihkan kamar mandi di sekitar aula hotel tersebut.


“Tuan Han, dia lah orang yang bekerja membersihkan kamar mandi di sekitar area ini,” ucap sang manajer sambil menunjuk seorang wanita muda yang memakai seragam oranye.


“Jadi kamu orang yang bertugas membersihkan kamar mandi di area ini?” tanya Han.


“Benar, Tuan,” jawab si petugas yang tadi dibayar oleh Lolita.


“Apa kamu melihat ada sebuah kalung terjatuh di kamar mandi?” tanya Han.


“Iya, Tuan saya sempat melihat sebuah kalung mutiara terjatuh di kamar mandi. Lalu saya menyimpannya di dekat wastafel karena saat itu saya sedang sibuk membersihkan kamar mandi,”


“Lalu kenapa kamu tidak menyerahkannya kepada kami atau manajermu?” tanya Han.


“Maaf, Tuan. Sesudah saya membersihkan kamar mandi, kalung itu tiba-tiba saja menghilang. Saya pikir mungkin sudah diambil kembali oleh pemiliknya,” jawab si petugas tadi.


“Mana ada. Waktu saya kembali, kalung itu sudah tidak ada,” sahut Lolita.


“Tapi saya benar-benar tidak melihatnya lagi, Tuan. Atau mungkin telah diambil oleh pengunjung yang lainnya,”


Bagus, kau telah berbicara sesuai dengan skenario yang aku buat (batin Lolita).


“Kalau begitu, apa kamu masih mengingat siapa saja pengunjung yang masuk ke kamar mandi saat itu?” kali ini Nenek Kanaya yang bertanya.


“Emm.., ingat Nyonya,” jawab petugas itu sambil menundukkan kepalanya.


“Kalau begitu apa yang dia katakan? Apa dia ada di antara orang-orang ini?” tanya Nenek Kanaya lagi.


Petugas itu mengarahkan pandangannya ke segala arah.


“Ada, Nyonya. Nona itu,” tunjuk petugas tadi pada Dilla.


“Hey, apa maksudmu? Kamu ingin menuduh temanku sebagai pencurinya,” sahut Bella tak terima.


“Bella, kamu jangan marah. Petugas itu tidak mengatakan kalau temanmu itu yang telah mencurinya. Dia hanya mengatakan jika temanmu itu juga ada di sana waktu itu,” ucap Lolita.


“Mungkin memang temannya itu yang telah mengambil kalungmu, Lolita,” ucap Clarissa yang tiba-tiba muncul di antara mereka.


Clarissa ada di sini. Apa itu artinya rencana dia dan David tidak berhasil? (batin Lolita).


“Apa maksudmu Clarissa? Kau berani sekali menuduh temanku, hah,” sahut Bella kesal.


“Bella, diamlah!” bentak Nenek Kanaya.


Bella ingin berbicara kembali, namun Dilla menahannya.


“Kalau begitu bagaimana kalau kita periksa saja tas milik gadis itu?” usul Clarissa.


“Sepertinya memang harus seperti itu agar tidak ada salah paham di antara kita,” sahut Lolita memamerkan kemunafikannya.


“Dilla, berikan tas kecilmu,” pinta Han pada Dilla.


Dilla pun mengangguk dan memberikan tas kecil yang dipegangnya itu kepada Han.


Kenapa aku merasa ini tidak benar? Aku takut Dilla memang sengaja telah dijebak (batin Bella)


Han membuka tas kecil milik Dilla dan betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah kalung mutiara ada dalam tas kecil itu.


“Apa ini?” tanyanya menatap tajam Dilla.


Dilla, Diana, Damar, Az, Ar, Bibi Mun, dan Nenek Kanaya tampak terkejut saat melihat kalung mutiara yang dicari Lolita ada dalam tas kecil milik Dilla. Sementara yang lain tampak mencibir Dilla.


“Tidak mungkin,” gumam Ar yang tampak terlihat pucat.


“Iya, itu pasti jebakan,” sahut Az.


“Katakan apa ini, Dilla? Kenapa kalung mutiara ini ada dalam tasmu?” bentak Handika.


“Aku tidak tahu, Paman,” jawab Dilla menggelengkan kepalanya. Matanya kini mulai berkaca-kaca.


“Ini semua pasti jebakan mereka, Paman,” ucap Bella dengan nada meninggi menatap Clarissa da Lolita.


“Untuk apa kami menjebak gadis gembel seperti temanmu itu hah? ” sahut Clarissa.


“Clarissa, kau,” Bella mengangkat tangannya hendak memberikan tamparan pada Clarissa, namun berhasil ditahan oleh Han.

__ADS_1


“Beraninya kau hendak memukul tamuku di acara seperti ini, hah,” bentak Han.


“Cukup! Ini pasti ada kesalahan. Dilla tidak mungkin melakukannya. Dilla tidak mungkin melakukan kesalahan di acaramu ini Han,” kali ini Diana mulai mengangkat suaranya. Ia tidak tahan melihat Dilla dipersalahkan.


“Mengapa tidak mugkin Tante? Gadis ini adalah gadis miskin. Tentu saja ia akan tergiur dengan mutiara indah yang dimiliki temanku ini,” sahut Clarissa.


“Benar, Tante. Lagi pula aku tidak akan mempermasalahkan ini. Jika Dilla memang menyukai kalungku. Aku akan memberikan kalung ini untuknya. Tidak apa-apa kan Oma?” ucap Lolita memandang Oma Anna yang bingung dengan situasi yang kini tengah mereka hadapi.


“Cih, memberikannya. Kau pikir aku percaya dengan akting murahanmu itu,” cibir Bella.


“Bella, sebaiknya kau tidak perlu ikut campur dengan masalah ini. Dilla, kau jelaskan semuanya kepada kami. Mengapa kalung mutiara Lolita bisa ada padamu?” tanya Nenek Kanya menengahi.


“Aku juga tidak tahu, Nek. Kenapa kalung itu bisa ada di tasku,” jawab Dilla.


“Paman, apa Paman percaya dengan ucapan gadis miskin itu?” tanya Clarissa.


“Dilla, sekarang juga aku minta kau tinggalkan pesta ini!” usir Han yang membuat Dilla terpukul.


“Apa maksud Paman? Kenapa Paman tega mengusir Dilla? Dia itu putri kandungmu,” bentak Bella yang membuat semua orang terkejut mendengarnya termasuk Ar.


“Bella, jangan bicara omong kosong! Atas dasar apa kau mengatakan kalau Dilla adalah putri kandungku,” ucap Han yang tak percaya.


“Dilla, perlihatkan kalung peninggalan ibumu!” perintah Bella. Dengan terpaksa Dilla pun mengeluarkan kalung miliknya dan memperlihatkannya pada Han.


Han sangat terkejut saat melihat kalung itu. "Kalung ini,” gumam Han yang kemudian membuka liontin dan melihat foto yang ada di dalamnya. Satu foto dirinya dan satu lagi foto Arini yang sedang menggendong seorang anak perempuan.


“Heh, Paman itu hanya sebuah kalung. Mana mungkin itu bisa membuktikan kalau dia adalah putri kandung Paman,” sahut Clarissa.


“Clarissa, cukup! Han, dengarkan aku! Dilla memang putri kandungmu. David sudah memeriksakan DNA kalian dan hasilnya menyatakan bahwa kalian memang ayah dan anak,” ucap Diana menatap tajam Han, membuat semua orang yang mendengar itu semakin terkejut karenanya.


“Apa? Jadi kau dan David sudah mengetahui semua ini? Kalian sudah tahu kalau Dilla adalah putri kandungku. Lalu kenapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? Kenapa kalina menyembunyikan semua ini dariku? ” tanya Han kesal. Ia tak percaya jika selama ini istri dan keponakannya merahasiakan hal sebesar ini kepadanya.


“Karena kami ingin Dilla sendirilah yang memberitahukan semua ini kepadamu,


sahut Kanaya.


“Jadi Mama juga sudah mengetahui semua ini? Mama juga ikut menyembunyikan semua ini dariku dan hanya aku di sini yang tidak mengetahui ini semua,” ucap Han menatap wajah ibunya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Kanaya hanya terdiam. Ia tak mampu bicara apa-apa lagi. Biar bagaimana pun semua yang terjadi saat ini adalah kesalahannya.


“Putriku.. Maafkan Ayah yang tak mengenalimu, Sayang. Maafkan Ayah,” ucap Han dengan suara terisak.


“Sudahlah Ayah, aku sudah memaafkanmu,” jawab Dilla dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


“Kau dan ibumu pasti menderita selama ini,” ucap Han yang tak mendapat jawaban apa pun dari Dilla, seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh sang Ayah.


Sial, kenapa jadi seperti ini sih (batin Lolita sambil memandang Clarissa)


Mereka sama sekali tak menyangka, jika Dilla adalah putri kandung Han.


“Az,” panggil Steven yang membuat perhatian semua orang teralihkan kepadanya.


“Ada apa Steven?” tanya Az.


“Ada apa dengan ponselmu? Kenapa dari tadi aku telpon kau malah tak mengangkatnya?” keluh Steven.


“Ada apa Steven? Kenapa kau berteriak seperti itu?” tanya Opa Robert yang tak suka dengan kelakuan cucunya.


“Maaf, Opa, tapi ini darurat. David pingsan Opa dan itu terjadi gara-gara cucu kesayangan Opa itu,” sahut Steven menunjuk Clarissa yang kini mencoba menyembunyikan dirinya di belakang Robert.


“Clarissa, apa yang kau lakukan pada cucuku?” bentak Kanaya.


“Nenek Kanaya, maaf. Ini bukan saatnya membahas itu dulu,” sahut Steven, lalu beralih pada Az.


“ Az, coba kau periksa keadaan David. Aku khawatir dengan keadaannya saat ini karena suhu tubuhnya sangat panas,” ucap Steven dengan wajah penuh kecemasan.


“Baiklah, di mana dia?” tanya Az.


“Dia ada di kamar bawah bersama Lim,” jawab Steven.


Az dan yang lain mengikuti Steven untuk mengetahui kondisi David.


“Ya Tuhan, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada cucuku,” gumam Kanaya cemas.


Bibi Mun yang merasa situasi sedang tidak baik segera memerintahkan Mario dan beberapa staf yang bertugas untuk meminta para tamu undangan membubarkan diri. Kemudian, memerintahkan para wartawan yang hadir agar tidak memberikan berita apa pun sebelum pihak keluarga memberikan pernyataan. Kini yang masih berada di tempat itu hanya orang-orang yang dekat dengan keluarga Erlangga.

__ADS_1


***


Saat tiba di kamar, mereka melihat David tengah terbaring di atas ranjang. Az, segera memeriksakan kondisi David. Kemudian, memberikan isyarat pada adiknya untuk ikut memeriksa keadaan David, memastikan jika dugaannya benar.


Sesaat sebelum bersuara mereka saling berpandangan.


“Apa David meminum sesuatu sebelum ini?” tanya Az.


“Iya, sepertinya David meminum sesuatu yang dicampur oleh adikku dengan obat perangsang,” jawab Steven membuat semua yang hadir di sana, melebarkan matanya tak percaya.


“Clarissa, apa kau gila?” maki Oma Anna yang tak mendapat jawaban apa pun dari Clarissa.


Dasar perempuan tidak waras berani sekali kau melakukan ini pada suamiku (batin Bella).


Ya Tuhan, aku benar-benar telah salah menilaimu Clarissa (batin Kanaya kesal)


“Sepertinya untuk menghilangkan efek obat, David telah merendam dirinya cukup lama di air dingin. Bisa dibilang sekarang dia pingsan karena demam tinggi yang sedang dialaminya,” jelas Ar.


Huh, aku pikir dia benar-benar seperti itu karena bau ketiakku. Dasar Lim brengsek! Berani sekali kau berbohong kepadaku (batin Steven).


“Selain itu, sepertinya Clarissa memberikan dosis yang cukup besar kepada David sehingga efek obat itu belum sepenuhnya menghilang dan jalan-jalan satu-satunya agar efek obat itu bisa menghilang hanyalah...,” Az tampak ragu melanjutkan ucapannya.


“Aku mengerti,” ucap Lim lantang mengejutkan semua orang yang ada di sana.


Kemudian, ia melangkah mendekati Bella dan memegang kedua bahu gadis itu. Bella yang sepertinya sudah bisa menerka apa yang akan dikatakan Lim hanya bisa menelan salivanya.


“Nona Bella, kuserahkan bos David kepadamu,”


Plak


Ucapan Lim langsung mendapat pukulan dari Steven.


“Kau bodoh. Mereka berdua kan belum menikah. Masa kau memintanya tidur dengan David,” maki Steven.


“Siapa bilang? Nih,” ucap Lim sambil mengeluarkan sebuah amplop yang diminta David untuk disiapkan. David memang berencana ingin mengumumkan kabar pernikahannya dengan Bella malam ini.


Steven segera membuka amplop itu dan berusaha melihat isi di dalamnya. Begitu pula dengan Nenek Kanaya dan Paman Han. Hanya Diana lah yang tidak tertarik dengan isinya karena dia sendiri sudah mendengarkan kebenarannya langsung dari David sendiri.


“Astaga, bocah tengik itu ternyata sudah menikah tanpa sepengetahuanku,” ucap Nenek Kanaya kesal, sedang Han hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Menatap Bella yang tampak tertunduk karena tak enak hati dengan kebohongannya selama.


Dasar, wanita sialan! Ternyata dia dan David sudah menikah (batin Clarissa kesal)


Bella, kenapa kau tak memberi tahukan hal sebesar ini kepadaku (batin Dilla yang nampak kecewa)


“Wah, si David ini memang benar-benar hebat ya.. Hal sebesar ini bisa disembunyikannya dengan baik,” gumam Steven. Lalu memasukkan kembali akte pernikahan David dan Bella itu ke dalam amplop yang diberikan Lim.


“Baiklah, saudara-saudara! Sepertinya kedua pengantin sudah tidak sabar ya? Mari kita tinggalkan tempat ini,” ajak Steven yang kemudian berjalan mendekati Bella.


“Berjuanglah,” sahut Steven sambil mengangkat salah satu tangannya yang terkepal.


“Eh, apa maksudmu?” tanya Bella pura-pura tak mengerti.


“Jangan pura-pura tak mengerti atau kau ingin Clarissa yang menggantikanmu,” goda Steven.


“Cih!” umpat Bella.


Kini Bella hanya tinggal berdua bersama David. Ia menggaruk kepalanya, bingung dengan apa yang harus dilakukannya.


“Ini semua gara-gara Clarissa, wanita liar itu,” umpat Bella.


Setelah berjalan bolak-balik cukup lama di kamar itu, Bella akhirnya memilih naik ke atas ranjang yang kini sudah ditempati David. Ia memilih merebahkan tubuhnya di samping David.


“Aaa,” teriak Bella begitu membuka selimut David. Ia begitu terkejut, saat melihat tubuh bagian atas David tak mengenakakan apa pun hingga perut sixpack David yang dulu tanpa sengaja pernah dilihatnya itu kini terpampang jelas di hadapannya.


Jantungnya kini berdetak semakin tak karuan, terutama saat ia mencoba merebahkan dirinya di samping David.


Melihat wajah pucat David, membuat hatinya terasa begitu sedih. Ia pun membelai lembut pipi putih yang kini berada di hadapannya dengan jarak yang sangat dekat.


Naluri gadis itu mendorongnya untuk menyentuh bagian yang selama ini mulai sering dirasakannya. Dan betapa kagetnya Bella saat David langsung tersadar dan merespon ciumannya itu. Ciuman yang semakin lama, semakin dalam dan semakin menuntut hingga kedua insan ini hanyut dalam jalinan kasih yang terjadi sepanjang malam.


***


Bersambung


Penasaran dengan kelanjutannya? Jangan lupa like dan votenya dulu ya... terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2