
Dilla setengah berlari menyusul Bella yang berjalan dengan sangat cepat. Ia masih ingin bertanya dengan apa yang baru saja dilakukan Bella.
“Bella, tunggu. Kau itu berani sekali berbohong pada mereka. Apa kau pikir mereka akan percaya begitu saja?” tanyanya.
“Hus!! Aku tahu itu. Mereka tidak akan mudah percaya begitu saja. Aku melakukan itu semua agar kita bisa pergi dari sini secepat mungkin. Sebelum pria itu menyadari siapa aku,” jawab Bella.
“Apa maksudmu?” tanya Dilla bingung.
Bella pun menarik Dilla menjauh dari tempat itu.
“Dilla, dua hari yang lalu aku memecahkan kaca spion mobil pria itu,” ucap Bella.
“Apa?!!” teriak Dilla kaget
“Iya, dan dia bilang kalau sampai dia bertemu aku lagi, dia enggak kan melepaskan aku,” lanjut Bella.
“Ha, kau bisa kebetulan sekali? ” ucap Dilla melongo tak percaya.
“Benar, aku juga enggak tahu kenapa bisa kebetulan seperti ini dan kau tahu Dilla, kemarin aku sempat melihat di internet, ternyata mobil yang dipakainya itu harganya sangat mahal. Entah berapa rupiah yang harus aku keluarkan kalau dia meminta aku menggantinya,” ucap Bella.
“Astaga, Bella!! Setelah kau memecahkan kaca spion mobil pria itu, sekarang kau membuat masalah dengannya lagi. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah dia menyadari tentang hal ini,”
“Apa yang akan aku lakukan? Tentu saja aku tidak akan membiarkan temanmu lepas begitu saja,” suara seseorang dari belakang mengejutkan keduanya.
“Ya, Tuhan, sejak kapan dia ada di sini?” bisik Bella.
“Entahlah,” jawab Dilla ketakutan.
__ADS_1
“Oh, jadi kau gadis gila yang memecahkan kaca spion mobilku. Pantas saja aku seperti pernah melihatmu,” ucap David.
“Kali ini aku tidak akan ..”
Sebelum David sempat menyelesaikan ucapannya Bella menarik Dilla untuk berlari menjauh dari David dan Lim.
“Hei, kalian..” teriak David.
Bella dan Dilla terus berlari menjauh dari David dan Sekretaris Lim. Begitu sampai di tempat parkir motornya, Bella langsung menaiki motornya dan menyalakan mesinnya. Kemudian berasama Dilla melajukan motornya dengan yang sangat cepat.
“Sial !! Gadis brengsek itu lepas lagi,” umpat David begitu tahu Bella dan Dilla sudah tidak terlihat lagi.
“Kenapa Bos?” tanya Sekretaris Lim yang melihat raut wajah bosnya yang begitu kesal.
“Gadis gila itu lolos lagi,” jawabnya.
“Iya, dan kau tahu ternyata perempuan itulah yang memecahkan kaca spion mobilku waktu itu,” jawab David gemas.
“Loh kok bisa? Lalu kenapa tadi bos melepaskan dia begitu saja?” tanya Lim semakin bingung.
“Aku baru tahu kalau itu dia karena waktu pertama kali kami bertemu wajahnya kotor penuh dengan cipratan lumpur,” jawab David.
“Pokoknya aku tidak mau tahu, Lim. Dalam satu jam aku minta semua informasi lengkap tentang gadis itu,” lanjut David yang berjalan ke arah mobilnya diparkirkan.
Sekretaris Lim pun segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang yang kemungkinan tahu mengenai gadis itu.
“Halo, aku minta kirimkan nomor salah satu sekuriti yang tadi berjaga di depan lobi perusahaan. Kalau tidak salah namanya Sandi,” ucap Sekretaris Lim.
__ADS_1
“Baik, Tuan. Nomornya akan segera saya kirimkan,” jawab suara yang ada di ujung telepon itu.
Setelah menutup telepon itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku jasnya, Lim segera berlari menyusul keberadaan David. Namun, sebelum sampai ke dekat mobil, ia melihat sebuah ponsel tergeletak tak jauh dari tempat parkir mobil mereka. Lim pun mengambil ponsel itu.
“Lim, apa yang sedang kau lakukan?” teriak David.
“Aku menemukan sebuah ponsel, Bos,” jawab Sekretaris Lim.
“Untuk apa kau memungut ponsel jelek seperti itu? Buang saja! Tidak berguna,” sahut David ketus.
Lim mengabaikan ucapan David. Ia tetap mengambil ponsel itu karena ia tahu David yang merupakan bos sekaligus teman kecilnya itu memang terbilang sombong. Tapi, Lim bukanlah orang seperti itu. Ia berpikir mungkin saja orang yang kehilangan ponsel itu sangat membutuhkan ponsel tersebut. Jadi, dia bermaksud menitipkan ponsel itu di pos sekuriti yang di gerbang depan.
“Kenapa kau lama sekali? Apa kau masih mengambil ponsel jelek itu?” tanya David.
“Iya, Bos. Saya akan menitipkannya di pos sekuriti di depan. Saya khawatir kalau ponsel itu tetap di sana, ponsel itu akan terinjak oleh orang atau kendaraan yang lewat atau bisa jadi diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” jawab Lim.
“Hah, kau itu memang terlalu baik dan tak pernah mau mendengarkan aku,” sahut David kesal, lalu kemudian masuk ke dalam mobil yang sekarang ada di hadapannya.
“Maaf, Bos,” ucap Sekretaris Lim yang kemudian menyusul masuk ke dalam mobil yang sama dengan David.
***
Bersambung
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak kalian dengan like dan favorit ya...😍😍
Mampir juga ke ceritaku "Cintaku di Kampus Pelangi" sudah tamat loh...
__ADS_1