Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 56 Dilarang Jatuh Cinta


__ADS_3

David dan Lim menoleh ke arah Bella secara bersamaan. Bella yang sadar dirinya akan mendapat amukan yang super dahsyat, menutupi wajahnya dengan lembaran surat kontrak yang baru saja akan dibacanya kembali,


“Bella!!!!” teriakan menggema di ruangan David. Oh, bukan, bukan hanya di ruangan David, tapi lebih tepatnya di ruangan yang ada di lantai 101 gedung tersebut.


“Bos, sepertinya saya permisi keluar dulu, karena masih ada pekerjaan tertunda yang harus segera saya selesaikan,” pamit Lim.


Ia sengaja memilih keluar dari ruangan itu agar tak mendengar perang mulut antara David dan Bella lagi.


“Gadis tengik! Kau ini benar-benar jorok!” ucap David geram.


“Maaf, aku pikir kau tidak akan duduk di sofa itu,” jawab Bella.


“Kau!!” David tak tahu harus berkata apa lagi, saat ini dia benar-benar merasa kesal. Rasanya ingin sekali mencekik Bella sampai mati.


David menghembuskan nafasnya kasar meninggalkan Bella menuju kamar mandi.


“Gadis ini.. sebentar terlihat manis, sebentar menyebalkan,” gerutu David sepanjang jalan.


“Cih, benar-benar pemarah sekali sih,” cibir Bella.


Ia lalu mulai berkonsentrasi kembali membaca pasal demi pasal yang tertera dalam lembaran surat perjanjian kontrak tersebut.


“Banyak sekali pasalnya, dan apa ini?”


Pasal 1


Setiap kali bertemu pihak kedua harus memberikan senyum yang manis kepada pihak pertama. Dilarang cemberut!


“Perasaan dia deh yang suka cemberut,” gumam Bella.


Pasal 2


Pihak kedua dilarang berpakaian yang aneh-aneh apalagi saat akan bertemu dengan pihak pertama.


“Ha,”


Pasal 3


Pihak kedua harus menuruti semua perintah yang diberikan pihak pertama tanpa ada bantahan sedikit pun.


“Gila, emang aku pesuruhnya? "


Pasal 4


Pihak kedua harus memanggil pihak pertama dengan panggilan “Sayang” di depan semua orang, kecuali saat sedang berdua.


Pasal 5


Pihak kedua harus segera datang menemui pihak pertama jika pihak kedua memanggil.


Pasal 6


Pihak kedua diminta bisa menjaga jarak dengan pihak pertama, dalam artian tidak terlalu menempel kecuali saat sedang berada di depan umum. Jika hal itu terjadi, maka pihak kedua akan merasakan hukumannya.


“Apa ini? Pasal mesum! Ada juga dia kali yang suka nempel terus, "


Pasal 7


Pihak kedua dilarang mengurusi masalah pribadi pihak pertama.


“Siapa juga yang mau ngurusin? Kerajinan banget, "

__ADS_1


Pasal 8


Pihak kedua dilarang memutus kontrak tiba-tiba tanpa persetujuan dari pihak pertama.


Pasal 9


DILARANG JATUH CINTA!


“Cih, siapa juga yang bakal jatuh cinta sama orang sombong kaya dia?” gumam Bella.


“Amit-amit, amit amit,” mengetuk-ngetuk meja dan kepalanya berkali-kali.


“Amit-amit?” David yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar ucapan Bella..


Gawat (batin Bella)


“Apa itu amit-amit?” tanyanya.


Oh, ternyata dia tidak mengerti toh. Baiklah akan aku permainkan Bos yang bodoh itu (ucap Bella dalam hati).


“Emm, amit-amit itu hampir sama dengan imut-imut. Hanya kalau kata imut-imut biasanya kita pakai untuk anak kecil, sedangkan untuk orang dewasa biasanya kita akan memakai kata amit-amit sebagai padanannya,” jawab Bella.


“Sama dengan imut-imut?” tanya David lagi, seolah ia menyangsikan ucapan Bella.


“Iya, imut-imut. Kau tahu kan maknanya?” balik bertanya.


David berpikir sejenak, kata imut-imut memang sudah tak asing lagi baginya. Berbeda dengan amit-amit yang baru kali ini ia dengar. Ia tahu kalau imut-imut itu artinya “lucu” sehingga saat Bella manyamakan kata imut-imut dengan amit-amit, David nampak terlihat sangat senang.


“Iya, tapi kuharap kau lagi tidak berbohong kali ini,"


“Tidak lah, aku mana berani membohongimu,” sahut Bella.


“Jadi bagaimana? Sudah bisa ditandatangani suratnya? Sepertinya kau sudah membaca semua isi kontraknya bukan?” tanya David dengan nada yang mulai sedikit tenang.


“Tidak?”


“Iya, karena aku ingin kau memperbaikinya kembali,”


“Memperbaiki bagaimana? Memang di bagian mananya kau tidak puas?”


Bella menghela nafasnya pelan, sebelum akhirnya membuka suaranya kembali.


“Tuan David Erlangga yang terhormat, perjanjian ini kan kita buat untuk keuntungan kita bersama tapi kenapa hampir semua pasal yang kau buat hanya menguntungkan dirimu saja, sedang tidak bagiku?”


“Wajar kan? Karena dalam hal ini aku yang membayarmu bukan kau yang membayarku?”


“Ck,” Bella berdecak.


“Aku memang dibayar, tapi untuk sebuah kesepakatan yang sama-sama menguntungkan, bukan untuk sebuah kesepakatan yang isinya cuma sebuah penindasan,”


“Jadi, perbaikan seperti apa yang kau inginkan? Cepat katakan! Aku akan coba untuk memikirkannya dulu,” sahut David.


“Dengar ya, yang pertama tolong perbaiki kalimat yang berisi ‘selama kontrak berlangsung pihak kedua harus mematuhi semua pasal yang tertera dalam surat perjanjian ini’ harap DIGANTI ‘selama kontrak berlangsung kedua belah pihak harus mematuhi semua pasal yang tertera dalam surat perjanjian,”


“Jadi jangan hanya pihak kedua saja, tapi pihak pertama juga harus mematuhi pasal-pasal yang ada dalam kontrak tersebut,”


“Baiklah selanjutnya apalagi?”


“Setiap kali ada kata ‘pihak kedua’ dalam pasal yang dituliskan, maka wajib pula disertakan pihak pertama. Contohnya pada pasal 1 ‘setiap kali bertemu pihak pertama dan pihak kedua harus memberikan senyum yang manis, dilarang cemberut!”.


“Baik, tak masalah, tapi itu hanya berlaku untuk pasal 1 dan 4 saja, pasal lain TIDAK!” tegas David.

__ADS_1


Mendengar ucapan David, Bella kembali melihat pasal-pasal yang sebelumnya disebutkan.


“Tunggu! Aku rasa pasal 7 juga perlu direvisi seperti itu,” protes Bella.


“Bukan hanya aku yang tidak boleh mengurusi masalah pribadimu, tapi kamu juga?”


“Cih, memang siapa yang akan mengurusi masalah pribadimu,” cibir David.


“Kalau begitu, tuliskan lah!” pinta Bella.


“Oke, ada lagi?”


“Kurasa cukup,” jawab Bella.


Setelah mereka selesai berdiskusi, David segera memanggil Lim ke ruangannya.


“Ada apa, Bos?” tanya Lim.


“Minta pengacara itu untuk segera perbaiki surat perjanjian ini. Aku harap sebelum pukul 1 siang, surat perbaikannya sudah sampai di sini,” ucap David menyerahkan kembali surat perjanjian yang belum ditanda tangani oleh Bella.


“Baik, Bos,” jawab Lim yang kemudian meninggalkan ruangan tersebut.


Namun, sebelum Lim benar-benar keluar meninggalkan ruangan David, terdengar Bella yang mulai merengek.


“Lim, mana camilan yang kuminta,” ucap Bella manja.


“Maaf, saya hampir lupa. Nanti, saya meminta OB untuk segera mengantarnya kemari,” sahut Lim.


“Hey, berhentilah merengek manja seperti itu pada Lim,”


“Memang kenapa?”


“Aku tidak suka,”


“Kenapa kau bisa tidak suka?” David kehilangan kata-kata, dia sendiri pun tidak tahu alasan kenapa dia sangat tidak suka dengan sikap manja Bella pada Lim.


“Sudahlah, terserah kau saja! Aku akan kembali bekerja. Kau tunggulah di sini!” ucap David.


David memulai kembali pekerjaannya yang sempat tertunda karena kedatangan Bella. Sedangkan, Bella memilih merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan David.


Dia terlihat sangat tampan saat sedang serius bekerja seperti itu (ucap Bella dalam hati).


Tak lama OB pun datang, membawakan beberapa camilan untuk Bella.


Bella tampak begitu senang menerima berbagai macam camilan tersebut.


“Terima kasih,” ucapnya.


Dengan riang ia segera memasukkan camilan tersebut ke dalam mulutnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah David.


“Dasar gadis rakus!” gumam David yang sesekali menoleh ke arah Bella. Memperhatikan cara Bella menghabiskan seluruh snack yang ada di ruangan tersebut.



Bella tampak begitu menikmatinya. Sesekali mulutnya mengemut sisa-sisa makanan yang menempel di ujung-ujung jarinya. David menelan salivanya, melihat pemandangan itu, pemandangan di mana bibir Bella yang tampak begitu seksi mengemut satu per satu ujung jarinya.


Entah, apa yang terjadi dengan dirinya, sesaat pikirannya melayang, membayangkan dirinya mendekati Bella, lalu mencicipi bibir indah itu. Bibir yang terasa manis.


***


Bersambung

__ADS_1


Jangan ikutan travelling ya.. cukup David aja, hehe..


__ADS_2