Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 41 Perhatian


__ADS_3

Bella dan Dilla duduk di dekat Diana. Sementara David dan Lim, duduk di dekat Handika. Keenam orang ini duduk menghadap ke arah Nenek David.


“Mun, tolong minta pelayan untuk menyiapkan makan siang!” seru Nenek David.


“Baik, Nyonya,” jawab Bibi Mun.


Bibi Mun segera berlalu meninggalkan ruang tengah, tempat David, Lim, Diana, Handika, Bella, Dilla, dan Nenek David berkumpul.


“Jadi, sudah berapa lama kalian berdua saling mengenal?” tanya Nenek David.


“Saya dan David maksud Nenek?” tanya Bella.


“Ya, siapa lagi? Memangnya aku perlu tahu berapa lama kamu dan teman di sampingmu itu saling mengenal,” sahut Nenek David ketus.


“Maaf, Nenek mungkin karena aku sedang kehausan karena dari tadi tidak ada orang yang menawariku minum. Mungkin karena itu aku jadi gagal fokus,” jawab Bella santai.


Gila, berani sekali gadis ini menjawab perkataan Nenek (batin David).


“Diana, cepat minta pelayan untuk bawakan gadis ini minum. Bila perlu ambilkan satu galon penuh air!” bentak Nenek David.


“I-iya, Ma,” sahut Diana.


Waduh, Nenek Tua ini ternyata sama saja dengan cucunya sama-sama sadis (batin Bella).


“Nenek, maaf, sebelum kemari aku memang sempat mengajak Bella berkeliling sebentar saking asyiknya aku lupa kalau dia belum minum sedikit pun,” ucap David.


“Sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan. Lagipula Bella baru datang kemari, jadi dia belum tahu bagaimana seharusnya menjawab pertanyaan Nenekmu itu,” sahut Handika mencoba mencairkan suasana.


Diana dan seorang pelayan kemudian datang membawakan beberapa jenis minuman, makanan camilan, dan satu galon air mineral yang diminta sang ibu mertua.


“Silakan pilihlah minuman dan makanan camilan yang kalian sukai,” ucap Diana setelah pelayan menyajikan makanan dan minuman itu di atas meja.


“Bella, jika segelas air mineral ini tidak cukup untukmu. Tante masih membawakan segalon air lagi untukmu,” ucap Tante Diana sambil memberikan segelas air mineral kepada Bella.


Bella yang mendengar perkataan Diana hanya bisa menelan salivanya sebelum ia menerima segelas air mineral yang ditawarkan Diana.


Yang benar saja Tante Cantik, apa kau benar-benar menganggap serius perkataan Nenek Tua itu? (batin Bella).


“Sekarang apa kau sudah bisa menjawab pertanyaan ku dengan benar?” sahut Nenek David.


“Pertanyaan yang mana?” ucap Bella yang membuat semua mata menatap tajam ke arah Bella.


“Bella, Nenek tadi bertanya sudah berapa lama kau mengenal David?” ucap Dilla lirih.


“Oh, itu, yang aku ingat aku baru mengenal dia kemarin, Nek,” jawab Bella santai.


“Apa?!” pekik Nenek David terkejut.

__ADS_1


“Maksudku aku baru tahu kalau dia itu David Erlangga baru kemarin. Sebelumnya aku tidak tahu identitasnya yang sebenarnya, Nek,” jelas Bella.


Jadi, gadis ini sebelumnya tidak tahu siapa David. Berarti dia memang tidak mengincar kekayaan David. Baguslah. (ucap Diana dalam hati).


“Jadi, sebelumnya David tidak menyebutkan siapa dia kepadamu?” tanya Nenek David.


“Tidak,” jawab Bella cepat.


“Dan sekarang setelah kau mengetahui identitas David yang sebenarnya. Apa kau bersedia untuk mundur?” tanya Nenek David.


“Tak masalah, ” sahut Bella santai. Ia benar-benar lupa akan kesepakatannya dengan David. Membuat David menjadi tidak senang dan memberikan tatapan tajam kepadanya.


Ya Tuhan! Aku lupa aku punya kesepakatan dengan laki-laki brengsek ini? Bella, Bella kau sungguh tak bisa menahan mulutmu ini? (ucap Bella dalam hati).


“Ehem,” David berdehem sebelum memulai ucapannya.


“Nenek, Nenek itu apa-apaan? Aku dan Bella baru saja mengumumkan pertunangan kami. Dan sekarang Nenek meminta Bella untuk mundur. Aku sangat mencintainya, Nek. Jadi, Walaupun Bella bersedia mundur, tapi aku tidak. Dan aku tidak akan melepaskannya begitu saja,” ucap David.


"Tapi tadi tunangan mu bilang tak masalah jika dia harus mundur, " ucap Nenek David.


"Maaf, Nenek. Tadi aku salah bicara. Awalnya aku memang takut menjadi bagian dari keluarga ini. Tapi, karena David begitu mencintaiku. Maka, aku harap Nenek dapat melupakan ucapanku sebelumnya, " jelas Bella.


"Heh, melupakan, " ucap Nenek David sinis.


“Nyonya, maaf, makan siang sudah tersedia,” ucap Bibi Mun yang muncul tiba-tiba.


Akhirnya makan siang sudah siap. Jika tidak, perang dunia ketiga bisa-bisa segera terjadi(batin Lim yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia)


Benar firasat ku. Menyingkirkan gadis ini ternyata bisa lebih sulit daripada menyingkirkan Arini. David ini memang lebih keras kepala daripada pamannya Handika. (batin Nenek David).


David yang hanya berpura-pura saja bisa bersikap seperti itu kepada Bella, tapi kenapa Ayah tidak bisa mempertahankan Ibu seperti David mempertahankan Bella? (batin Dilla sedih).


Ketujuh orang itu sekarang sedang beranjak menuju ruang makan dengan segala pikirannya masing-masing.


Kenapa aku bisa bicara seperti itu kepada Nenek? Kenapa aku jadi merasa kesal dengan perkataan Nenek dan Bella barusan? Ini kan hanya pura-pura saja. Apa mungkin aku diam-diam sudah menaruh hati pada gadis tengik ini? Gadis yang bahkan seperti selalu saja ingin menjauh dariku (batin David).


Sepanjang acara makan siang Bella tak banyak bicara, selain memang sudah jadi aturan di rumah itu untuk tak banyak bicara saat makan. Bella juga nampaknya sedang kurang bersemangat. Ia hanya menatap makanan yang ada di depannya begitu saja. Ia benar-benar malas. Apalagi jika mengingat sikap David tadi. Apa mungkin dia harus terus bersandiwara ?


Sementara David, tatapannya tak sedikit pun teralihkan dari wajah Bella. Ia terus menatap wajah Bella lekat. Seolah ingin mengetahui sikap yang ditujukan Bella, setelah David terang-terangan berbicara seperti itu tentang dirinya di depannya tadi.



Apa sebenarnya yang dipikirkan gadis ini? Apa dia tidak suka dengan yang aku katakan tadi? (pikir David).


Bos, Bos, seperti inikah dirimu ketika sedang jatuh cinta. Kau bahkan tak memperhatikan orang-orang yang sekarang sedang menatap kalian berdua (pikir Lim).


Aku tidak tahu kenapa David bisa berkata seperti itu? tapi kata-katanya benar-benar membuatku terharu (batin Dilla).

__ADS_1


Sepertinya cucuku ini benar-benar sudah terhipnotis dengan gadis ini. Lihat saja sedari tadi pandangan matanya tak pernah lepas dari gadis itu ingin rasanya aku mencongkel matanya itu (batin Nenek David)


So sweat.. kedua anak muda ini benar-benar membuatku iri. Inilah yang disebut jika sedang jatuh cinta dunia terasa milik berdua yang lain ngontrak aja (batin Diana).


Aku harap nasib percintaan David tidak seperti nasib percintaan ku dengan Arini. Yah, Arini, aku sangat merindukanmu. Apakah masih ada cinta di hatimu terhadapku? Setelah begitu banyak rasa sakit yang kuberikan kepadamu (batin Handika).


Satu persatu anggota keluarga mulai menikmati makan siang mereka, hanya tersisa Bella dan David saja yang sedari tadi belum menyentuh makanan mereka sama sekali.


“David, makanlah!” ucap Handika.


Namun, David sepertinya tidak mendengar perkataan Handika sampai Lim menyenggol lengannya.


“Bos, makanlah!” seru Lim.


David yang baru menyadarinya langsung dengan sigap mengambil makanannya.


“Bella, kamu juga makan,” sahut Diana pada Bella.


Sama seperti David, Bella juga tidak menyadari ucapan Diana sampai Dilla yang duduk di sebelahnya menepuk paha Bella.


“Bella, makanlah,” bisik Dilla membangunkan kesadaran Bella.


Bella kemudian menatap berbagai menu makanan yang ada di depannya


Apa ini? Makanannya terlihat enak-enak sekali, tapi bagaimana cara aku memakannya? Aku kan belum terbiasa makan dengan pisau dan garpu (batin Bella).


David yang menyadari kesulitan Bella, segera menyerahkan piring yang berisi daging steak yang sudah dipotongnya kepada Bella.


“Makanlah ini aku sudah memotongnya untukmu,” ucap David.


“Baiklah, terima kasih,” sahut Bella.


Ya Tuhan, ternyata David bisa begitu hangat dan perhatian seperti itu pada seorang gadis. Aku pikir dia akan terus menjadi es balok yang selalu dingin terhadap wanita (batin Diana).


Tumben baik, membuatku tersanjung saja (batin Bella).


Beruntung sekali wanita ini. Ia begitu dimanja oleh Tuan David, sampai-sampai daging steaknya saja dipotong kan oleh Tuan David (ucap salah seorang pelayan dalam hatinya saat melihat pemandangan itu)


Mereka bertujuh terus menikmati makanan mereka dengan lahap, sampai suara dering ponsel milik Nenek David yang ia simpan di sampingnya itu berbunyi. Nenek David tak segera mengangkat ponsel itu. Ia hanya melirik ke arah Bibi Mun yang sedari tadi sudah berdiri di sampingnya.


Bibi Mun yang paham dengan isyarat dari Nenek David, langsung mengangkat telepon milik nyonya besarnya.


***


Bersambung


Nantikan kelanjutan kisahnya di episode berikutnya dan jangan lupa klik like, vote, dan komen serta jadikan favorit.

__ADS_1


Terima kasih...


💐💐💐


__ADS_2