
Sebenarnya, sebelum Az bertemu dengan Tania. Ia sedikit dibuat penasaran dengan cerita yang baru saja di dengarnya dari Ar lewat telepon yang belum lama ini ia angkat. Awalnya Ar menelepon untuk menggoda kakak laki-lakinya, tapi rupanya jawaban sang kakak di luar ekspektasinya.
“Jadi, bagaimana? Apa kau sudah berhasil?”
“Berhasil apa?”
“Tentu saja mendaratkan kecebong-kecebong kecil milikmu itu pada wanitamu,”
“Cih, pagi-pagi begini pikiranmu sudah kotor seperti itu,”
“Ayolah, Az, itu wajar kan. Kalian kan baru saja menikah dan kemarin malam adalah malam pertama kalian,”
Az terdiam, ia bingung harus berkata apa kepada Ar karena adiknya itu memang tidak tahu kalau pernikahannya dan Dara terjadi karena permintaan dari ayahnya Dara, bukan karena cinta.
“Az, kau tahu. Kakak iparku itu ternyata sudah lama sekali menyukaimu. Ia menyukaimu dari sejak kecil. Bahkan, ia sudah lama mencarimu dan sekarang aku yakin tentu perasaannya saat ini sangat senang karena laki-laki yang sudah lama disukainya itu kini telah resmi menjadi suaminya,”
“Ar, omong kosong apa yang kau bicarakan?”
“Aku serius Az. Aku mendengar itu semua saat ia berbicara dengan sahabatnya Kalista,”
“Benarkah?”
“Iya, tentu saja benar. Apa kau belum mengetahuinya?”
Az tidak menjawab.
“Ah, kau ini memang benar-benar kakakku yang payah. Pasti, selama bersamanya sikapmu itu dingin dan cuek,”
Lagi-lagi Az tidak menjawab
“Ternyata benar. Ya Tuhan, kasihan sekali kakak iparku mendapatkan suami berhati es sepertimu. Sudahlah, setidaknya sekarang aku sudah mengatakan semua itu padamu. Semoga besok aku mendapatkan kabar bahagia,’ ucap Ar sebelum mematikan teleponnya.
Dara, suka padaku. Apa yang dikatakan Ar benar? Bagaimana bisa? (batin Az).
***
Sekarang isi kepala Az dipenuhi dengan Dara, Dara, dan Dara. Mulai dari apa yang dikatakan adiknya Ar sampai ke sikap Dara kepadanya saat bertemu Tania.
“Mungkinkah tadi itu ia cemburu sama Tania ya?” gumam Az.
“Halo, Tuan Az," sapa si penelepon.
“Iya, Paman Sam, ada apa?”
“Begini Tuan, tadi saya dengar hari ini Nona Dara kembali ke rumah?”
“Iya, tadi Dara sudah minta izin padaku. Dia bilang, ia ingin kembali ke rumah untuk mengambil pakaiannya. Sekalian melihat kondisi kakaknya saat ini,” jawab Az.
“Hah, itulah sebabnya kenapa saya menelepon,”
“Memang ada apa Paman?”
“Tadi saya dengar dari para pelayan kalau Nona Silvia mengamuk lagi. Ia bahkan mendorong Nona Dara hingga kecebur di kolam renang,”
“Ha? Lalu apa yang terjadi? Dara tidak apa-apakan?”
__ADS_1
“Kondisinya memang baik-baik saja, tapi sepertinya sekarang Nona Dara jadi semakin sedih bahkan kata pelayan, ia tidak mau makan,”
“Ah, dasar gadis bodoh,” gumamnya pelan.
“Lalu bagaimana dengan kakaknya,”
“Akhirnya Nona Silvia kami bawa ke rumah sakit jiwa untuk menangani proses perawatan lebih lanjut,”
“Baguslah, memang sebaiknya seperti itu. Dengan kondisi mental Silvia yang masih belum stabil akan lebih baik jika dia dirawat langsung oleh ahlinya,”
“Lalu bagaimana dengan Nona Dara?”
“Aku akan mencoba bicara dengannya,”
“Baiklah, Tuan Az, terima kasih. Mudah-mudahan dengan kedatangan Tuan ke sana Nona jadi tidak sedih lagi,”
“Sama-sama Paman Sam. Lagi pula, itu sudah seharusnya karena biar bagaimana pun Dara sekarang sudah jadi istriku,” jawab Az.
Setelah teleponnya ditutup, Sam berbalik ke belakang menatap dua lelaki yang sama tuanya dengan dirinya. Kedua laki-laki itu saling memandang dan tersenyum penuh makna.
***
Dengan didera keraguan, Az membuka pintu kamar Dara yang kebetulan tidak dikunci. Ia ingin melihat keadaan Dara setelah mendengar informasi yang disampaikan oleh Paman Sam. Namun, begitu pintu kamar dibuka, Az sama sekali tidak melihat Dara.
“Ke mana gadis bodoh itu?” gumamnya.
Samar-samar suara gemericik air terdengar di telinga Az.
“Sepertinya sedang mandi. Dasar gadis bodoh dan ceroboh! Bisa-bisanya tidak mengunci pintu kamar. Bagaimana jika ada laki-laki lain yang masuk?” ucap Az bermonolog.
“Bukankah ini buku harian gadis bodoh itu?”
Az mengambil buku harian itu, memperhatikan sejenak. Lalu, memutuskan untuk membuka isinya.
“Daripada aku penasaran, lebih baik aku cari tahu dari sini saja. Lagian salah sendiri, menyimpan buku penting seperti ini begitu saja,”
Az mulai membaca isinya. Beberapa kali nampak terlihat senyum dari bibirnya saat membaca untaian kata yang tertulis dalam buku harian tersebut.
Aku tak tahu namanya, tapi anak laki-laki gendut itu selalu bilang kalau dia superman (halaman pertama buku harian)
Ah, lagi-lagi mereka menggangguku. Apa salah ya, memiliki badan yang gemuk? Beruntung superman datang menolongku dan sekarang aku tahu kalau namanya Azril. AZRIL, nama yang akan selalu kuingat. (halaman kedua buku harian)
Hari ini aku harus pergi meninggalkan negara ini. Sedih rasanya, tapi aku pasti akan meminta Ayah agar kami bisa kembali dan saat kami kembali akan aku katakan pada superman kalau aku sangat menyukainya. (halaman ketiga buku harian)
Diary,
Sudah lama sekali aku tak menyapamu. Terlalu banyak kejadian dalam hidupku.
Diary,
Kau masih ingat ceritaku tentang superman. Ternyata dia lah orang yang telah menemukan dan merawat keponakanku. Dia memang lelaki baik dan penolong sama seperti waktu itu, tapi diary… Kau tahu ternyata dia juga punya sisi yang amat sangat menyebalkan. Dingin, jutek, ketus, pokoknya benar-benar menyebalkan.
(halaman keempat buku harian)
Diary,
__ADS_1
Hari ini ayahku memintaku untuk menikah dengannya. Aku tak tahu harus sedih atau bahagia. Di satu sisi dia banyak menolongku, dia juga adalah cinta masa kecilku. Tapi diary, dia itu sungguh sudah banyak berubah. Menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan itulah kata yang tepat untuk menggambarkannya saat ini.
(halaman kelima buku harian)
Diary.
Aku benar-benar menikah dengannya sekarang dia sudah resmi menjadi suamiku dan kami juga menerima beberapa kado dari teman terdekat kami. Lalu, apa kau tahu diary? Teman CEO nya itu memberikan hadiah yang menjijikan. Aku tidak tahu ada masalah apa di antara mereka berdua. Yang kutahu sejak kecil mereka tak pernah akur.
Tapi Diary, kau tahu malam itu aku merasakan jantungku terus menerus berdebar saat di dekatnya. Apa Kalista benar, kalau sampai saat ini aku masih menyimpan perasaan kepadanya. Ah, bagaimana ini? Aku tak mau jadi pecundang yang cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Tuhan, bantu aku. Aku tak mau menganggap pernikahan ini hanya sebuah mainan. Aku juga ingin cinta dari suamiku. (halaman keenam buku harian)
Diary,
Aku sangat sedih sekaligus kesal. Ternyata aku memang tidak pernah tahu apa-apa tentangnya. Seperti hari ini aku baru tahu kalau dia pernah dekat dengan seorang wa…. (halaman ketujuh buku harian)
Belum selesai Az, membacanya sepasang tangan telah merebut buku itu dari Az.
“Lancang sekali kau, apa aku mengizinkanmu untuk membacanya,”
Dara yang baru keluar dari kamar mandi terlihat kesal saat mengetahui kalau Az sudah berada di dalam kamarnya dan membaca buku harian miliknya.
“Maaf,”
Hanya itu kata yang keluar dari mulut Az. Kali ini Dara sudah tak mampu menahan kekesalannya. Ia terduduk di atas ranjangnya bersama dengan buliran air mata yang jatuh dari mata jernihnya. Ia terisak, membuat hati Az tersayat.
“Maafkan aku,”
“Hiks, hiks.. Kenapa Az? Kenapa kau membaca bukuku tanpa izinku?”
“Karena aku ingin tahu isi hatimu yang sebenarnya kepadaku,”
“Oh ya, lalu apa itu penting bagimu?” tanya Dara tanpa memandang Az.
“Penting, sangat penting, karena kau adalah istriku,” jawab Az sambil membalikan badan Dara memaksanya untuk melihat kedua matanya.
Sesaat kedua mata insan itu saling bertemu. Perasaan aneh mendera keduanya. Az mulai mendekatkan bibirnya ke bibir ranum wanita yang berada di hadapannya. Wanita yang kini hanya berbalut handuk dan mempertontonkan lekukan badannya yang indah, membuat Az semakin ingin melanjutkan aksinya.
Sementara Dara seolah terhipnotis dengan perlakuan suaminya hingga tanpa sadar ia membalas ciuman mesra dari suaminya. Tangan Az semakin nakal, kini ia mulai membuka pengait yang membelit handuk Dara, membuat Dara tersadar.
“Az,” ucapnya mencoba menghentikan aksi Az.
“Huss, aku mencintaimu Dara. Inilah bukti dari perasaan cintaku ini,” bisiknya lembut di telinga Dara membuat Dara serasa melayang. Ia tak menyangka bahwa perasaan cintanya akan terbalas secepat itu dan tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk terhanyut dalam buaian cinta.
***
Bersambung
Azril dan Dara siap menyambut momongan nih..
Kira-kira di antara David dan Az, siapa ya yang lebih dulu dapat momongan?
Baca dan nantikan terus kelanjutan ceritanya..
Jangan lupa like, vote, dan hadiah untuk penyemangat bagi author menulis dan tetap jadikan favoritmu.
Info tambahan : Mulai hari ini updatenya habis buka puasa ya..
__ADS_1
Terima kasih