Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 94 Teman Kecil


__ADS_3

Roda mobil terus berputar seiring ritme irama jantung Az yang berdetak tak seperti biasanya. Mungkin ini pertama kalinya bagi Az merasakan sensasi itu. Rasa yang sebelumnya belum pernah ia rasakan, terutama saat Az mulai menyadari jika Bella adalah gadis kecil yang selama ini ia cari.


Sebelum hari ini ia memang sudah mengenal Bella dan sudah beberapa kali bertemu dengannya di arena balapan liar. Bahkan, sudah dua kali bertanding dengannya. Namun, selama ini ia menjaga jarak dengannya karena tahu kalau Bella adalah sahabat Ar, adik yang selalu ingin ia hindari.


Di samping itu, pertemuannya dengan Bella dewasa memang tak terlalu baik, mengingat ia pernah dipermalukan karena kekalahan pertama kalinya di arena balap liar sehingga reputasinya sebagai pangeran kegelapan sedikit tercemar. Di matanya Bella dulu adalah gadis liar yang sangat menjengkelkan. Meski cantik, gadis ini terlalu banyak tingkah dan begitu cerewet. Akan tetapi, siapa yang menyangka kalau dia adalah gadis kecil yang tidak pernah hilang dalam ingatannya.


“Tumben sekali kau tidak membawa motor. Ke mana motormu?” tanya Bella memecah keheningan dan rasa canggung yang mulai melanda.


“Sedang dibawa ke bengkel. Kau sendiri, ke mana tunanganmu? Kenapa dia tidak mengantarmu? Sungguh sulit dipercaya, tunangan seorang CEO hebat seperti David malah terlihat luntang-lantung seperti gembel,”


“Hey, jaga bicaramu! Ini tidak ada hubungannya dengan dia. Itu karena aku sendiri yang tadi mati-matian menolaknya karena aku sudah sangat merindukan Bom bomku,” ucap Bella yang tanpa sadar terlihat agak marah dan membela David.


“Bom bomku?” tanya Az bingung.


“Iya, panggilan untuk motor kesayanganku,”


“Panggilan yang aneh,”


“Itu tidak aneh. Sama sekali tidak,” sahut Bella tak mau kalah.


“Tentu saja aneh, mana ada orang menamai motor dengan sebutan Bom Bom,” timpal Az lagi.


“Ada. Memang kau tidak tahu ya.. kalau kita akan menjalankan motor,” memperagakan gaya mengemudikan motor.


“Maka motor kita akan mengeluarkan bunyi bom bom, bommm.....,”


Jawaban Bella membuat Az tergelak, tawanya pecah seketika itu juga. Tawa yang hampir tidak pernah terlihat selama ini.


“Ha ha ha, kau ini ternyata lucu sekali ya...,”


Eh, dia tertawa. Rasanya sangat aneh melihat manusia kutub ini bisa tertawa. Tapi melihat dia tertawa seperti itu ternyata wajahnya tampan juga. Pantaslah jika ternyata dia memang kakaknya si ganteng Ar. (batin Bella).


Melihat Bella memandanginya seperti itu membuat Az sedikit salah tingkah.


“Ada yang salah dengan mukaku?”


“Tidak, aku hanya baru sadar saja kalau kau ternyata sangat tampan,” puji Bella yang membuat Az tersenyum.


“Tuh, tampan kan.. sampai hidungmu saja kembang kempis mendengar pujianku,” ledek Bella yang lagi-lagi membuat Az tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, ia tetap fokus mengemudikan kendaraannya.


“Bella, kita berhenti di sini sebentar ya? Ada pesanan Cia yang ingin kubeli,” ucap Az menepikan mobilnya di sebuah kawasan perbelanjaan yang ada di sekitar Jalan Novelita.


“Kau mau ikut??” ajak Az.


“Tidak deh, aku di sini saja,” tolak Bella karena dirinya merasa sedikit malas bila harus jalan berkeliling kawasan perbelanjaan. Mengingat ini adalah hari pertamanya bangun pagi sehingga ia masih merasa sedikit lemas dan mengantuk.


Meski sedikit kecewa, Az cukup memahaminya karena memang selama ini dia dan Bella tidaklah begitu dekat. Jadi, tidak heran jika Bella menolaknya.


Azril mulai menyambangi satu per satu toko yang ada di kawasan perbelanjaan itu, mencari sebuah barang yang dipesan putri angkatnya, Lusia. Sebuah bondu berbentuk telinga kelinci yang dapat bergerak dan menyala. Namun, belum sempat Az menemukan barang pesanan putri angkatnya ia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih dan tangannya mengepal.


“Hey, Bocah! Mana duit lo? Jangan diumpetin deh!” teriak laki-laki berbadan kekar berkepala botak.


“Ampun, Bang, saya emang belum dapat duit sama sekali,” jawab bocah laki-laki yang usianya sekitar 9 tahun.


“Dasar lo bocah!”


Plak


Sebuah tamparan lagi-lagi mendarat di pipi kanan bocah laki-laki itu. Setelah sebelumnya laki-laki berambut gondrong yang berdiri di samping laki-laki botak itu juga memberikan tamparan yang sama pada bocah itu. Namun, bocah itu masih berkeras mengatakan kalau ia memang belum mendapatkan uang sama sekali.

__ADS_1


Hal itu tersebut membuat para preman yang menginterogasinya merasa geram.


Si Ompong yang sedari tadi diam, kini mengangkat sebelah kakinya dan hendak melayangkan sebuah tendangan ke perut bocah laki-laki itu, namun sebelum sampai mendarat ke perut bocah tersebut Az memegang kaki laki-laki itu kemudian menjatuhkannya.


“Aww, kurang ajar siapa lo? Berani-beraninya ikut campur urusan kita. Sudah bosan hidup lo!” bentak preman botak.


Suiwit...


Sebuah siulan dibunyikan oleh si gondrong, membuat para preman lain yang juga tengah berada di kawasan itu mengelilingi Az dan bocah laki-laki itu.


“Gawat, ternyata jumlah mereka cukup banyak,” gumam Az sambil memasang kuda-kuda dan melindungi bocah itu di balik tubuhnya.


Perkelahian tak terhindarkan, Az pun menghajar satu persatu preman itu.


Bugh bugh bugh


***


Bella yang dari kejauhan memperhatikan langkah Az, sedikit merasa khawatir karena sudah cukup lama batang hidung Az masih juga belum terlihat. Apalagi, samar-samar ia mendengar suara ribut-ribut yang mengatakan bahwa beberapa preman telah mengepung dan mengeroyok salah satu pengunjung di tempat tersebut.


“Ya ampun, mereka kejam dan pengecut sekali. Masa mereka mau mengeroyok laki-laki yang hanya seorang diri,” ucap salah satu pengunjung.


“Iya, kasihan sekali ya laki-laki itu gara-gara ingin menolong bocah dari para preman itu sekarang dia sendirilah yang terkena masalah, padahal wajahnya sangat tampan,” sahut yang lainnya.


“Ho oh,”


“Ada apa ini? Siapa yang mereka maksud? Apa itu Az ?” gumam Bella.


“Ah, aku harus segera mencarinya,” membuka pintu mobil dan langsung turun keluar dari mobil.


Dengan perasaan cemas, Bella mengikuti arah sumber suara keributan itu berasal.


Bugh Bugh Bugh


“Ya Tuhan, apa yang terjadi? Bisa-bisa Ar akan marah padaku kalau sampai terjadi sesuatu pada Az,” gumam Bella.


Tanpa berpikir panjang lagi, Bella langsung menghajar beberapa preman yang hendak menyerang Az kembali.


Bugh Bugh Bugh


“Beraninya kalian main keroyok!” bentakku kesal saat berhasil menjatuhkan mereka satu persatu.


“Hey, gadis cantik! Enggak usah ikut campur! Lebih baik ikut abang aja, yuk!” sahut si preman botak.


“Cih, mimpi saja sana!”


Bugh


Bogem mentah mendarat, di bagian hidung si preman botak yang tadi merayu Bella.


“Ha ha ha, rasakan kau botak!” ejek Bella yang membuat para preman semakin brutal melakukan aksinya.


Az yang merasa keadaan sudah tidak aman segera menarik lengan Bella dan bocah laki-laki yang baru ditolongnya itu. Meski ilmu bela diri Bella cukup baik, namun melihat jumlah mereka yang jauh lebih banyak, serta banyaknya dari mereka yang membawa senjata tajam, tentu membuat Az merasa khawatir.


Mereka bertiga berlari ke arah mobil yang dibawa Az sebelumnya.


“Bella, apakah kau bisa mengemudikan mobil?” tanya Az meringis karena menahan sakit di kedua lengannya.


“Aku..,” Bella ragu untuk menjawab.

__ADS_1


“Kalau kau bisa, tolonglah! Aku sedang tidak bisa mengemudi sekarang,” sahut Az yang kembali meringis karena menahan sakit.


“Baiklah,” jawab Bella.


Setelah Bella mengatakan itu, mereka bertiga langsung masuk ke dalam mobil dengan posisi Bella yang kini berada di depan kemudi. Bocah kecil yang ditolong Az tak bisa berkata apa-apa, selain mengikuti perintah dari dua orang dewasa yang sedang bersamanya.


Bella, menghembuskan nafasnya kasar, saat kunci mobil telah berhasil ia masukan.


Bella, tenanglah. Kau pasti bisa. Anggap kau sedang berada di Power Zone dan sedang bermain game mobil balap. Bukan kah kau juaranya (batin Bella).


Bella mulai memainkan kemudinya, sesaat setelah menginjak pedal gas mobil tersebut. Mobil itu pun berhasil melaju dengan cepat hingga berhasil menghindari para preman yang mengejar mereka. Namun, sesaat setelah itu Az mulai merasakan keanehan saat melihat mobil itu berjalan tak tentu arah, bergoyang ke sana kemari.


“Bella, sebenarnya kau bisa...” Belum Az berbicara tiba-tiba..


“Aaa....,”


Bruk bruk brukk...


Jerit si bocah kecil, bersama dengan bunyi tong sampah yang tersimpan di depan jalan dan tertabrak oleh mobil yang dikemudikan Bella.


“Kau bisa menyetir tidak sih?” tanya Az dengan suara meninggi.


“He he he, sebenarnya aku belum pernah melakukannya. Tapi, percayalah aku sangat hebat saat bermain game mobil balap,” jawab Bella dan jawaban itu membuat Az hanya bisa menepuk jidatnya.


Ya ampun, gadis ini nekat sekali (batin Az).


“Kalau begitu sekarang berhentilah,” pinta Az.


“Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menghentikannya,” jawab Bella yang kini mulai merasa panik.


Az, berusaha menggunakan lengannya yang terluka untuk mengambil alih kemudi, namun belum sempat ia kemudi ia ambil alih, tiba-tiba saja sebuah motor melintas di hadapan mereka. Hal itu spontan membuat Bella, membanting kemudi ke arah kiri, sedangkan Az membantunya menginjak rem kuat-kuat.


Bugh


Mobil mereka menabrak sebuah pohon, namun sebelum itu terjadi Az sempat melindungi tubuh Bella dengan tubuhnya.


“Ya ampun, Az. Kenapa kau melakukan ini?” ucap Bella saat melihat dirinya tidak terluka karena mendapat perlindungan dari Az. Sedangkan, Az kini lukanya malah semakin bertambah parah.


“Kau ini kenapa jadi sok pahlawan seperti ini sih? Pertama, kau menolong bocah yang tidak kau kenal hingga harus berurusan dengan para preman itu dan sekarang kau malah melindungiku yang karena kecerobohanku sendiri hampir mencelakakan kalian,” sahut Bella sedih.


“Itu karena aku memang ingin menjadi pahlawan seperti superman sehingga aku layak menjadi temannya wonder woman,” ucap Az sebelum dirinya tak sadarkan diri.


“Eh, Az...!” panggil Bella.


“Kenapa aku seperti familiar dengan ucapan Az barusan ya? Apa mungkin dia itu...” Bella nampak berpikir.


“Si Gendut,” Mata Bella melebar saat teringat sosok bocah gendut yang pernah ditolongnya sekitar 19 tahun yang lalu.


***


Bersambung


Bagaimana perasaan Bella saat menyadari kalau Az adalah bocah gendut yang pernah ditolongnya?


Akankah Az menjadi penghalang hubungannya dengan David??


Nantikan kelanjutan ceritanya..😊😊😊


Jangan lupa untuk memberikan like, vote, dan komen terbaikmu sebagai bentuk dukunganmu terhadap karya ini dan tetap jadikan karya ini favorit kalian.

__ADS_1


Terima kasih.. 💐💐💐


(Mengenai reaksi David, nanti lagi ya...)


__ADS_2