
Mobil yang dikemudikan Lim kini telah berada di jalan yang letaknya tak jauh dari Pasar Tradisional XX itu berada. Dari jalan itu terlihat pemandangan luar Pasar Tradisional XX yang nampak dipenuhi para pengunjung dengan kondisi jalanan yang licin dan tampak becek.
Ya, kondisi pasar itu kali ini tampak sedikit berbeda dari biasanya, meski hari sudah mulai menjelang siang, para pengunjung masih terlihat cukup ramai. Hal itu mungkin karena hujan yang terus menerus mengguyur tempat itu sehari semalam dan baru reda menjelang siang ini sehingga pasar yang biasanya hanya akan ramai di pagi hari kini hingga menjelang siang pun masih dipadati para pengunjung. Belum lagi harga sembako yang meroket, menjadikan pasar tradisional sebagai alternatif tempat termurah untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
“Bos, apa Anda yakin Anda dan Nona Bella akan membeli mangga itu sendiri? Bagaimana jika saya suruh orang lain saja yang membelinya?” usul Lim.
“Tidak boleh. Kau jangan mempengaruhi suamiku, Lim. Dia sudah setuju mengantarku untuk membelinya sendiri,” ucap Bella yang tampak tak suka mendengar usulan Lim.
“Sayang, kau tidak akan berubah pikiran kan?” tanya Bella memandang David dengan wajah memelas.
Jujur, David sebenarnya ingin menolak keinginan istrinya yang satu ini. Betapa tidak, ia cukup khawatir melihat kondisi jalanan yang becek. Khawatir istrinya akan terpeleset dan jatuh dan itu membahayakan bagi kondisi istrinya yang sedang hamil saat ini. Namun, ia tak tega melihat wajah memelas istrinya itu.
“Baik, tapi kau tak boleh melepaskan peganganmu dari tanganku. Aku tak mau kalau kau sampai terpeleset dan jatuh,”
“Baiklah, Sayang. Aku akan terus memegang erat tanganmu,” sahut Bella menyetujui.
David segera melepaskan jasnya dan hanya mengenakan kemeja putihnya saja. Kemudian memilitkan lengan kemeja panjangnya itu hingga ke bagian siku, membuat Bella terpana.
“Sayang, kau sangat tampan,” puji Bella.
“Kau baru sadar kalau suamimu ini sangat tampan,” ucap David mengulum senyumnya.
Sekretaris Lim pun membukakan pintu untuk keduanya.
“Saya tidak ikut ya, Bos. Saya di sini saja menunggu mobil,” ujar Sekretaris Lim.
“Cih, alasan,” sahut David karena David tahu Lim hampir sangat tidak suka dengan aroma bau amis dari ikan. Bisa-bisa baru sampai di depan pasar, Lim sudah pingsan karena baunya.
Mereka pun meninggalkan Sekretaris Lim sendirian. Bella memegang tangan David dengan begitu erat.
***
Saat sudah sampai di pasar, kepala David mulai terasa sedikit pening. Betapa tidak, berbagai aroma langsung menyambutnya. Mulai dari aroma bau amis ikan, bau daging, bau kuah soto dan bau berbagai manusi keringat manusia menusuk hidungnya. Sumpah demi apa pun, jika bukan demi Bella, seumur hidup dia tidak akan melangkahkan kaki ke tempat itu.
Bella terus memegang David dengan erat. Selain agar dirinya tidak terjatuh karena jalanan yang becek, juga karena rasa cemburu yang mulai menyapanya saat melihat tatapan dari sejumlah wanita yang terpana melihat ketampanan wajah suaminya.
Lihat apa sih mereka? Mau aku congkel apa matanya (batin Bella).
“Wah, tampan sekali pria itu. Siapa dia dan siapa wanita di sebelahnya?” bisik-bisik para wanita yang menggema di telinga Bella.
“Eh, mereka itu teh artis bukan sih?” bisik lainnya.
“Ah, masa artis masuk pasar,” timpal temannya.
“Jah, bukannya itu Neng Bella ya.. cucu pemilik kedai bakso “Goyang Lidah” bukan?” ucap seorang ibu tua yang sepertinya mengenali Bella.
“Iya, Nung itu Bella. Tambah cantik ya.. Tapi sama siapa dia?”
“Kita panggil saja yuk....” ajaknya.
“Neng Bella,” teriak dua wanita tua tadi yang membuat Bella dan David menoleh bersamaan.
“Emak Enung, Emak Ijah...,” gumam Bella saat melihat keduanya.
“Sayang, kita ke sana,” ajak Bella yang diangguki oleh David dan saat mereka membelah jalanan untuk melangkah ke tempat tujuan, suara genit seorang wanita menghentikan langkah keduanya.
“Ganteng, mau ke mana? Enggak beli sayurannya dulu,”
“Maaf, dia sudah beristri dan sebentar lagi akan punya anak. Jangan genit-genit sama dia!” sahut Bella.
__ADS_1
David tersenyum mendengar ucapan Bella, dia senang dengan perubahan Bella yang semakin possesif kepadanya.
“Sudah, Bella.. Jangan dengarkan si Atun! Dia mah emang gak bisa lihat cowok ganteng,” lerai Emak Enung setengah berteriak. Mendengar itu Bella pun segera melanjutkan langkahnya menghampiri dua wanita yang dikenalinya itu.
“Emak Nung, Emak Ijah, kalian sekarang jualan di sini?” tanya Bella saat sampai di tempat keduanya.
“Iya, Neng.. persaingan di pasar yang dulu semakin ketat. Jadi, Emak dan Emak Ijah pindah ke sini,”
“Bener, Neng.. Oh, ya, Neng Bella mau beli jengkol gak?” tawar Emak Ijah membuat Bella melirik ke arah David yang langsung memasang wajah masam.
Bella ingat kemarin malam, ia begitu ingin dibuatkan berbagai menu dari jengkol. Mulai dari semur jengkol, rendang jengkol, dan jengkol goreng. Meski pada awalnya David sangat tidak setuju, tapi demi istri yang dicintaiya dan bayi sedang ada dalam kandungan sang istri, ia tetap meminta para koki di rumahnya untuk membuatkan menu yang diinginkan istrinya itu. Tapi apa yang terjadi selanjutnya, begitu masakan yang diminta Bella matang, Bella hanya mencium aroma masakannya saja dan yang lebih menjengkelkan Bella malah merengek meminta David untuk menghabiskannya. Alhasil, sudah bisa ditebak. David yang bahkan tidak tahan dengan aromanya itu langsung muntah-muntah semalaman karena harus begitu banyak memakan hidangan jengkol malam itu.
“Ah, tidak Emak. Kemarin malam aku sudah banyak makan itu,” jawab Bella sambil nyengir kuda melirik ke arah David.
Cih, apanya yang banyak makan? Jelas-jelas kau tidak makan sama sekali, malah memaksaku untuk menghabiskannya (batin David).
“Kalau begitu buat Nenimu saja,” tawar Emak Ijah lagi yang membuat Bella berpikir ulang.
“Iya deh, Emak saya beli,” sahut Bella selanjutnya.
Bella merasa tak bisa menolak tawaran Emak Ijah, wanita tua yang sudah dianggapnya seperti neneknya itu.
“Sayang, jangan marah ini bukan buatku. Tapi, buat Neni,” bisik Bella yang membuat David mau tidak mau menyetujuinya.
“Berapa banyak, Neng?” tanya Emak Ijah.
David yang melihat Bella hendak menjawab, segera memotong ucapan istrinya itu.
“Setengah saja, Emak,” sahut David.
Untung Bella belum sempat menjawab karena akan gawat kalau sampai dia yang jawab. Bisa-bisa dia akan membeli jengkol sebanyak kemarin (batin David)
“Setengah?” tanya Emak Ijah lagi.
What? Setengah karung. Apa-apaan dia? Maksudku kan setengah kilo bukan setengah karung (batin David jengkel).
“Salaknya sekalian, Neng..” tawar Emak Enung.
“Mangga enggak jualan, Emak?” tanya Bella.
“Enggak, Neng. Enggak berani. Di sini cuma satu orang yang boleh jualan mangga,” jawab Emak Enung.
“Kok bisa begitu?” tanya Bella heran.
“Iya, Neng. Yang jualan mangga di sini cuma Mang Kadir, anaknya pemimpin preman pasar di sini. Yang lain tidak diizinkan,” jawab Emak Enung.
Bella mengerti ini adalah salah satu strategi pasar untuk memonopoli pembeli. Namun, cara ini termasuk cara yang licik.
“Kakaknya si Atun juga, makanya dia banyak tingkah,” sahut Emak Ijah melirik ke arah wanita genit yang tadi sempat mengganggu David.
“Cih, yang seperti ini yang harus dibina. Binasakan,” gumam Bella.
“Apa Neng?” tanya Emak Enung yang samar-samar mendengar ucapan Bella.
“Enggak, Mak. Ngomong-ngomong lapaknya di mana, Emak?”
“Dari sini belok kanan, jalan sedikit. Pasti ketemu,” jawab Emak Enung.
“Baik, Mak. Makasih infonya,”
__ADS_1
“Salaknya dibeli juga ya, Neng..” rayu Emak Enung.
“Boleh, deh Mak. Salaknya satu..,”
“Satu kilo saja,” potong David sebelum Bella menyelesaikan ucapannya.
“Dikit amat ganteng tambah atuh,” rayu Emak Enung.
“Mak, inget umur. Jangan rayu-rayu suami saya,” ucap Bella galak.
“Oh, suaminya Neng. Ganteng pisan.. sing panjang jodohna (semoga panjang jodohnya),”
“Aamiin,”
“Salak dan jengkol ini dibawa sama suaminya Neng?”
“Tentulah saya bawa. Masa suami saya, mau saya tinggal di sini,”
“Maksud Emak Enung teh jengkol sama salaknya mau dibawa langsung sama suami Neng, gak pake kuli gitu,” sahut Emak Ijah sambil senyum-senyum bersama Emak Enung melihat tingkah possesif Bella pada suaminya.
Bella yang menyadari kesalah pahamannya karena sifatnya yang kini semakin possesif pada suaminya itu seketika menampilkan wajahnya yang merona. Hal itu membuat David ikut tersenyum.
Meskipun kehamilanmu ini kadang sangat menyebalkan, tapi melihat sikapmu yang seperti sekarang ini menjadi berkah tersendiri dan membuatku semakin mencintaimu (batin David).
“Barangnya ditinggal di sini dulu, nanti saya akan suruh orang untuk mengambilnya,” ucap David.
“Berapa semuanya, Emak?” tanya Bella.
“Untuk hari ini gratis, anggap aja hadiah pernikahan dari kami berdua,”
“Yang bener, Mak?”
“Iya, Neng. Tapi kalau Eneng tetap maksa mau bayar boleh. Dibayar sama ciuman pipi suami Neng juga boleh,” canda Emak Ijah yang langsung mendapat cubitan dari Emak Enung dan pelototan dari Bella dan David.
“Ijah, jangan suka becanda kaya gitu deh,” bisik Emak Enung.
“Maaf, canda, hehe..”
Huh, untunglah. Kebayang kalau aku benar-benar harus mencium Nenek bau tanah kaya gini (batin David).
“Maksud saya, kalau Neng mau bayar, berapa pun saya terima,”
“Baiklah, Emak. Ini dua juta untuk kalian berdua. Semoga cukup,” ucap David sambil mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu yang sebelumnya telah dimintanya kepada Lim untuk disiapkan.
“Tentu saja, ini mah lebih dari cukup. Terima kasih Neng Bella, terima kasih ganteng...” sahut keduanya yang tampak senang menerima pemberian David.
“Kalau begitu sekarang kita ke tempat mangga ya, Sayang,” ajak David yang dijawab anggukan oleh Bella.
“Emak Ijah, Emak Enung, saya cari mangga dulu. Titip ya.. salak sama jengkolnya,” sahut Bella.
Setelah menitipkan barang yang mereka beli kepada Emak Ijah dan Emak Enung, Bella dan David pun melanjutkan perjalanan mereka membeli buah mangga yang diinginkan Bella. Yang merupakan tujuan utama dari keberadaan mereka di pasar tradisonal tersebut.
***
Bersambung
Kira-kira bisa kah David memenuhi keinginan Bella mendapatkan buah mangganya?
Simak lanjutan ceritanya ya..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu dengan memberikan like, vote, dan komennya terhadap karya receh ini dan jadikan favorit.
Terima kasih...