
Suara dering ponsel milik Nenek David menggema di kamar mewah miliknya. Bibi Mun yang sedari tadi sibuk memijat kaki majikannya itu menoleh sekilas ke arah ponsel yang terletak di atas meja yang berada di samping ranjang sang majikan.
“Angkatlah, pasti itu dari Clarissa!” seru Nenek David.
“Baik Nyonya,” Bibi Mun lekas mengangkat ponsel milik majikannya itu.
“Halo,” sahut Bibi Mun begitu ia menekan tombol hijau yang ada di ponsel tersebut.
“Halo, Bibi Mun ya? Nenek ada?” tanya si penelepon yang tak lain adalah Clarissa.
“Ada Nona Clarissa, sebentar,” Jawab Bibi Mun yang kemudian menyerahkan ponsel itu kepada Nenek David.
“Halo, Clarissa sayang, apa kabarmu, Nak?” tanya Nenek David ramah.
“Baik, Nek. Nenek sendiri gimana kabarnya di sana? Apa kalian semua baik-baik saja?” tanya balik Clarissa.
“Huft... tidak terlalu baik, sayang,” jawab Nenek David setelah menghela nafasnya pelan.
“Kenapa? Apa Nenek sakit?” tanya Clarissa.
“Aku sehat-sehat saja, hanya saja.... “ Nenek David tidak meneruskan ucapannya. Ia hanya kembali menghela nafasnya pelan.
“Hanya saja apa Nek?” tanya Clarissa penasaran.
“Apa kau tidak melihat berita hari ini?” Nenek David balik bertanya.
“Tidak, Nek, aku tidak sempat membaca berita. Belakangan ini aku sibuk sekali karena aku harus mengurus berkas-berkas kepindahan ku ke Negara S,” jelas Clarissa.
“Kau akan pindah ke sini?” tanya Nenek David.
“Iya, Nek, kebetulan Opa akan melebarkan proyek kerja sama perusahaan kami hingga ke Negara S. Lalu aku menawarkan diri untuk mengurus proyek tersebut,” jawab Clarissa.
“Oh, baguslah,” sahut Nenek David.
“Iya, Nek, aku sangat senang sekali. Dengan begitu aku bisa lebih sering bertemu dengan David setiap hari,” ucap Clarissa antusias.
__ADS_1
“Tapi Clarissa, ada satu hal yang harus kamu ketahui? Dan mungkin ini tidak begitu menyenangkan untukmu dan keluargamu,” sahut Nenek David.
“Apa itu Nek? Tolong jangan membuatku khawatir,” tanya Clarissa.
“David sekarang sudah memiliki tunangan,” jawab Nenek David.
“Apa? Bagaimana itu bisa terjadi, Nek? Bukankah Nenek bilang hanya aku yang akan menjadi istrinya David,” sahut Clarissa dengan suara sedikit meninggi.
“Tenang, Clarissa sayang, mereka hanya bertunangan saja. Jadi, kamu masih bisa memegang ucapan Nenek karena Nenek pastikan hubungan David dan tunangannya tidak akan sampai ke pernikahan,” ucap Nenek David.
“Benar kah itu, Nek?” tanya Clarissa sedikit tidak yakin.
“Tentu saja itu benar karena Nenek sama sekali tidak menyetujui hubungan David dengan gadis miskin itu,” jawab Nenek David.
“Gadis miskin?” Clarissa tampak kaget mendengar itu.
“Iya, gadis miskin dan dia sama sekali tidak setara dengan keluarga ini. Gadis itu hanya seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh seorang wanita tua penjual bakso,” sahut Nenek David, membuat Clasrissa semakin dibuat tidak percaya.
“Apa Nek? Penjual bakso? Bagaimana bisa? Seorang CEO tampan, kaya, keren seperti David bertunangan dengan gadis yatim piatu yang hanya dibesarkan oleh seorang penjual bakso? Apa David tidak takut kehilangan reputasinya,” sahut Clarissa kesal.
“Entahlah, Clarissa sayang, Nenek juga tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Mungkin saja gadis itu menjebak David atau ini hanya permainan dari David saja karena kau tahu sendiri kan, David selalu menentang yang namanya perjodohan,” jelas Nenek David.
“Iya, itu karena David sebelumnya tidak memberi tahu kami tentang pertunangannya. Kami saja mengetahui berita pertunangannya itu dari media massa dan itu membuat Nenek semakin yakin, pasti ada sesuatu di balik semua ini. David sengaja berpura-pura karena dia tidak ingin dijodohkan dan dipaksa menikah secepatnya,” jelas Nenek David.
“Nenek, benar. Kemungkinan besar ini hanya permainan David saja karena yang Ica tahu David itu laki-laki tidak mudah jatuh cinta. Dia itu laki-laki yang sangat dingin. Dia sangat sulit didekati,” sahut Clarissa.
“Maka dari itu Nenek sangat senang jika kamu bisa pindah kemari. Dengan begitu kamu bisa membantu Nenek menyingkirkan duri itu,” ucap Nenek David.
“Tentu saja, Nek. Aku pasti akan membantu Nenek karena aku Clarissa Anna William, tidak akan rela milikku direbut oleh orang lain,” tegas Clarissa.
“Bagus sayang, Nenek senang mendengarnya dan tolong yakinkan keluargamu untuk tidak menghiraukan berita ini. Karena kamu tahu sendiri kan watak Oma dan Opamu. Mereka itu sangat idealis. Setelah mendengar berita ini mereka mungkin tidak akan setuju hubunganmu dengan David,” jelas Nenek David.
“Ya, Nek aku tahu, tapi Nenek tenang saja. Aku akan bicara pada mereka dan Kak Steven pasti akan membantuku meyakinkan Oma dan Opa,” sahut Clarissa.
“Baguslah, Nenek senang mendengarnya. Dengan begitu keinginan Nenek dan almarhum suami Nenek bisa terwujud,” ucap Nenek David.
__ADS_1
“Tentu saja, Nek. Keluarga William dan keluarga Erlangga pasti akan bersatu dan menjadi keluarga terkuat dan terpandang di seluruh dunia,” sahut Clarissa.
Clarissa memang tahu kalau Nenek David dan almarhum suaminya, Tomi Erlangga sangat ingin menjalin hubungan dengan keluarga William, keluarga terpandang di Negara R. Hanya saja dari dulu keinginan mereka tidak pernah bisa terwujud. Hal itu karena anak yang terlahir dari Nenek David maupun Oma dari Clarissa sama-sama sepasang bayi kembar laki-laki.
Nenek David melahirkan Haris dan Handika, Sedangkan Oma Anna, Nenek dari Clarissa melahirkan Tonny dan Thomas sehingga keinginan untuk menikahkan anak-anak mereka belum bisa terwujud. Kini harapan yang tertinggal hanya pada David dan Clarissa, selaku cucu-cucu mereka.
Mungkin seandainya saja, keluarga Erlangga memiliki cucu perempuan, bisa jadi bukan David yang dijodohkankan dengan Clarissa. Melainkan, cucu perempuan mereka dengan cucu laki-laki dari keluarga William yaitu Steven, kakak Clarissa.
“Kalau begitu sekarang aku tutup teleponnya dulu ya, Nek. Salam buat David, Paman, dan Tante Diana,” ucap Clarissa sebelum menutup teleponnya.
“Iya, sayang. Salam juga buat Oma, Opa, juga kakakmu,” sahut Nenek David.
“Baik, Nek,” Setelah percakapan itu berakhir, keduanya pun menutup telepon mereka secara bersamaan.
Muncul perasaan lega di dada Nenek David setelah percakapannya dengan Clarissa.
“Jadi, Nona Clarissa akan pindah kemari Nyonya?” tanya Bibi Mun.
“Benar Mun, dia akan pindah kemari untuk membantu Opanya mengurus proyek kerja sama yang dilakukan di negara ini,” jawab Nenek David.
“Bagus sekali, Nyonya. Dengan begitu Nona Clarissa bisa membantu Nyonya menyingkirkan tunangan Tuan David,” sahut Bibi Mun.
“Kau benar, Mun. Dengan bantuan Clarissa akan mudah bagiku menyingkirkan gadis miskin itu. Aku tidak mau kehadirannya membuat keretakan hubungan aku dan cucuku satu-satunya seperti halnya Arini,” ucap Nenek David dengan pandangan kosong yang mengarah ke langit-langit kamarnya.
***
Bersambung
Setelah kehadiran Clarissa, calon menantu pilihan Neneknya David, bagaimana ya hubungan Bella dan David selanjutnya?
Mampu kah Clarissa dan Nenek David membongkar permainan Bella dan David?
Saksikan terus kelanjutan ceritanya ya...
Jangan lupa dukung author dengan like, vote, dan jadikan favorit ya... 😉😉
__ADS_1
Terima kasih
❤️❤️❤️