Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 52 Bukan Anak Baik


__ADS_3

“Dokter Aria, tolong kami,” ucap salah satu perawat yang berjalan cepat menghampiri Ar.


“Ada apa, Sus?” tanya Ar.


“Nona Lusia sekarang sedang histeris di kamarnya. Ia melempar semua barang yang ada di kamarnya,” jelas sang perawat.


Mendengar penjelasan sang perawat dokter Aria bergegas berjalan cepat menuju salah satu ruang rawat inap yang ada di sekitar koridor rumah sakit tersebut.


“Gawat, keadaannya akan semakin tidak stabil jika ia terus menerus histeris seperti ini,” gumam Ar dengan raut wajah penuh kepanikan.


Setelah berjalan cukup cepat, akhirnya Aria sampai di salah satu kamar VVIP yang ada di rumah sakit tersebut. Saat pintu terbuka terdengar jerit tangis Lusia.


“Hiks, hiks, hiks, aku gak mau. Aku gak mau dioperasi. Aku gak mau rambutku dibotakin,”


“Cia, tenanglah,” sahut Aria yang tampak sedih melihat keadaan Lusia.


“Paman tampan, bohong! Paman bilang kalau aku terus minum obat dan menjalani segala perawatan dengan benar, aku tidak perlu menjalani operasi. Rambutku tidak akan dibotakin lagi, hiks hiks hiks,”


“Rambutku baru saja tumbuh lagi, Paman, hiks,hiks.. Aku gak mau botak lagi. Aku gak mau teman-teman mengejekku lagi, hiks hiks hiks,” tangis Lusia dalam pelukan Aria.


“Maafkan, Paman, Cia. Tapi ini demi kebaikan kamu agar kamu cepat sembuh,” ucap Aria yang tanpa sadar ikut meneteskan air matanya.


“Aku gak mau SEMBUH. Aku mau mati AJA!” teriak Lusia.


“Hus, kamu kenapa bicara seperti itu? Itu gak baik,”


“Iya, aku memang BUKAN ANAK BAIK. Makanya, Tuhan gak sayang sama aku. Tuhan selalu memperlakukan aku berbeda dari teman-temanku yang lain, hiks hiks hiks,”


“Kamu kok bicara seperti itu? Tuhan sayang sama Lusia. Sayang banget,”


“BOHONG! Paman bohong lagi sama aku. Tuhan gak pernah sayang sama aku. Kalau Tuhan sayang sama aku, Tuhan gak akan memperlakukan aku berbeda dengan teman-temanku yang lain, hiks hiks hiks hiks. Aku bisa sekolah seperti biasa sama seperti mereka. Aku gak perlu minum obat tiap hari, gak harus merasa sakit di kepalaku berkali-kali, hiks hiks hiks. Selain itu, Tuhan juga sudah ambil Bunda aku, kenapa gak ambil aku sekalian? Hiks hiks hiks,”


Aria terdiam, hatinya ikut merasakan sakit mendengar satu per satu kalimat yang keluar dari mulut gadis kecil itu.


“Cia, Bunda Paman juga sudah pergi ke surga saat Paman seusia Cia. Paman juga waktu itu sedih banget. Tapi, Paman tahu. Bunda Paman adalah perempuan yang sangat baik. Tuhan pasti menempatkannya di surga. Oleh karena itu, Paman bertekad untuk meraih surga itu. Paman gak mau buat Tuhan marah karena Paman tidak menghargai hidup yang telah Tuhan berikan kepada Paman. Paman gak mau karena kemarahannya, Tuhan menghalangi paman masuk ke pintu surga, tempat Bunda Paman berada,”


“Jadi maksud Paman, kalau aku terus bersikap seperti ini Tuhan akan marah sama aku karena aku gak menghargai hidup aku dan Tuhan akan melarang aku masuk surga-Nya sehingga aku tidak bisa ketemu Bunda selama-lamanya?” tanya Lusia dengan tangis sesegukan.

__ADS_1


“Iya, makanya Cia harus mau ya ikut operasi. Kita berjuang bersama,” ucap Aria meyakinkan gadis kecil di hadapannya.


Tanpa sadar pemandangan itu sedari tadi tak luput dari pandangan Dilla, yang diam-diam sudah berdiri di balik pintu. Kebetulan, ia baru saja baru diterima bekerja di rumah sakit tersebut dan mendapat tugas membersihkan kamar pasien. Namun, saat mendengar keributan, Dilla tampak ragu memasuki kamar tersebut, ia memilih berdiri di balik pintu untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Air mata Dilla, ikut menetes saat ia mendengar pembicaraan Aria dan gadis kecil yang kini sedang berada dalam dekapannya.


“Kamu memang sungguh laki-laki yang baik Ar. Aku tidak menyangka bahwa kita memiliki nasib yang sama dan mendengar kalimatmu barusan aku semakin mengagumi. Kamu bukan baik hanya baik di luar tapi juga baik di dalam,” gumam Dilla.


“Sedang apa kamu di sini?” suara menggelegar muncul di dekat Dilla yang saat ini berada di depan pintu kamar Lusia.


“Menghalangi jalan saja,” mendorong Dilla dengan kasar.


Ya Tuhan, itu kan laki-laki yang sebelumnya menabrakku. Kasar sekali. Untuk apa dia ke kamar ini. Mau memarahi pasien? (batin Dilla sebal saat melihat laki-laki yang sebelumnya telah menabraknya itu berada di hadapannya).


Laki-laki itu tak lain adalah Dokter Azril. Ia berjalan masuk ke dalam kamar Lusia. Pandangan dingin mengarah ke sekitar kamar itu.


“Ada apa ini?” tanyanya.


“Ayah,” Dilla membelalakkan matanya saat mendengar gadis kecil yang kini dalam pelukan Aria memanggil laki-laki itu dengan sebutan ‘Ayah’.


Jadi, dokter dingin ini ayahnya (ucap Dilla dalam hati).


“Bagus lah,” jawabnya datar dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Dilla.


“Dan kau jangan melamun saja, cepat bereskan tempat ini!” ucap Dokter Azril tegas.


Azril berjalan mendekat ke arah gadis kecil yang telah melepaskan pelukannya dari Aria. Mengusap lembut rambut gadis itu.


“Kalau begitu.. besok.. bersiaplah,” ucapnya dengan nada perlahan dan penuh kelembutan.


“Iya, Ayah aku siap,” ucap gadis itu tersenyum lembut.


Setelah mengucapkan kalimat itu, tanpa banyak berkata lagi, Azril berbalik dan berlalu pergi meninggalkan mereka.


Apa? Dia hanya bicara itu saja pada putrinya. Benar-benar ya.. tidak tahu apa kalau putrinya itu baru saja mengamuk. Huh, beda sekali dengan Dokter Aria. (ucap Dilla dalam hati).


Namun, saat Azril membuka pintu kamar dan hendak keluar dari kamar Lusia. Langkahnya kembali terhenti.

__ADS_1


“Hei, kamu! Lain kali saya tidak mau melihat kamu berdiri di depan pintu lagi! Itu sangat mengganggu!” ucapnya memandang Dilla dengan tatapan sinis.


“Ba-baik, Dok. Saya minta maaf, saya janji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Dilla menundukkan kepalanya. Sementara Dokter Azril sudah berlalu pergi sebelum Dilla sempat menyelesaikan ucapannya.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Ar sesaat setelah kepergian Dokter Azril.


“A-aku, tidak apa-apa,” jawab Dilla gugup.


“Jangan diambil hati! Dia memang orangnya seperti itu. Sebenarnya dia juga dokter yang baik kok,” ucap Aria menenangkan.


“Paman dokter, kenal kakak cantik ini?” tanya Lusia setelah memperhatikan kedekatan Aria dan Dilla.


“Oh ya, Cia, kenalkan ini teman Paman. Kamu bisa panggil dia Kak Dilla,” ucap Ar.


“Halo, Kak Dilla, aku Cia, salam kenal,” ucap gadis itu terseyum manis hingga gigi gingsul yang dimilikinya tampak terlihat jelas oleh Dilla.


“Salam kenal juga, Cia,” membalas senyuman Lusia.


“Kak Dilla itu pacarnya paman dokter ya?” tanya Lusia yang membuat wajah Dilla merona.


“Bu-bukan Cia, kami hanya berteman,” jawab Dilla yang tak berani memandang Aria.


“Oh.. hanya teman. Lalu, Kak Dilla ke sini apa sengaja untuk menjenguk aku?” tanya Lusia penasaran.


“Oh, bukan Cia, aku ke sini karena kebetulan aku bekerja di sini dan tadi aku diminta untuk membersihkan kamarmu ini,” ucap Dilla sambil menunjukkan beberapa peralatan kebersihan yang dibawanya. Sebenarnya, saat menunjukkan peralatan itu timbul rasa minder di hati Dilla. Biar bagaimana pun di rumah sakit ini dia hanya seorang petugas kebersihan dan rasanya tidak pantas jika harus menyukai Aria yang notabene adalah dokter di rumah sakit yang mahal itu.


***


Bersambung


Bagaimana ya kisah percintaan Dilla? Akan kah perasaannya kepada Aria dapat terbalaskan?


Lalu bagaimana dengan David dan Dilla yang dua episode ini tidak terlihat? Kangen sama mereka?


Baca terus ceritanya... dan jangan lupa untuk memberikan like dan vote sebagai dukungan serta menjadikan karya ini favorit kalian. 🤗🤗


Terima kasih author ucapkan bagi yang telah memberikan dukungannya. Like dan vote kalian menjadi semangat bagi author untuk terus berkarya.

__ADS_1


Salam hangat dan sehat selalu..💐💐💐


__ADS_2