
Seiring hembusan angin malam yang dinginnya menembus pori-pori wajah kedua gadis jelita, tampak Dilla dan Bella melangkah mendekati pintu rumah milik mereka. Wajah pucat mereka bukan hanya semata karena sentuhan angin dingin, namun perasaan takut dan kekhawatiran yang sulit dijabarkan.
“Bagaimana ini Bel? Kalau Neni benar-benar tidak mau membukakan pintu gimana?” tanya Dilla cemas.
“Ya sudah, terpaksa kita tidur di halaman luar,” jawab Bella.
“Hah??? Kau biasa seperti itu Bel?” sahut Dilla kaget.
“Enggak juga sih, biasanya aku numpang tidur di pos ronda,” ucap Bella yang disambut helaan nafas oleh Dilla.
Langkah mereka semakin mendekat ke arah pintu dan setelah sampai Bella mulai mengetuk pintu tersebut sambil mengeluarkan teriakan khasnya.
Tok tok tok
“Neni, Neni..,”
Tok tok tok
“Neni, Neni..,”
Bella terus berteriak dan mengetuk pintu rumahnya. Namun, tak ada jawaban.
“Mungkin Neni sudah tidur,” ucap Dilla.
Bella terdiam. Lalu, ia berjalan menundukkan kepalanya seolah sedang mencari sesuatu.
“Kamu cari apa, Bel?” tanya Dilla penasaran.
Namun, Bella tak memberikan jawaban. Ia hanya tersenyum saat menemukan sebuah batu berukuran sedang tergelatak di depan jalan rumah mereka. Lalu..
Prank
“Haaa, Bella!!” Mata Dilla terbelalak saat ia melihat Bella memecahkan kaca jendela yang ada di lantai atas rumahnya.
“Bella!!!!” Teriakan Neni menyambut lemparan batu tersebut.
Sementara itu di sudut tempat lainnya, tak jauh dari rumah Bella, tampak David dan Lim yang kini masih berada di dalam mobil juga sama terkejutnya melihat aksi Bella.
“Waduh, alamat menerima pengungsi baru,” ucap Lim cemas. Sedangkan, David hanya terkekeh mendengar ucapan sekretarisnya itu.
Bella, Bella, kamu itu benar-benar gadis yang menarik (ucap David dalam hati).
“Bella, kamu ya!!!” Suara nyaring Neni menggema saat jendela yang barusan kacanya dipecahkan Bella terbuka.
“Hai, Neni,” sapa Bella tersenyum melambaikan tangan tanpa rasa bersalah.
“Dasar gadis dungu! Sudah berapa kali kau memecahkan kaca jendela rumah iniiiiii?!!!!” teriak Neni kesal. Ia kemudian melempar beberapa barang yang ada di dalam kamar mereka ke arah Bella sebagai luapan kekesalannya.
Puk, Puk, Puk...
“Ampun, Neni! Aku hanya ingin masuk ke dalam saja,” ucap Bella sambil terus menahan serangan dari barang yang dilempar Neni. Sedangkan, Dilla memunguti satu per satu barang penting yang dilempar Neni.
“Mimpi!!! Tidur saja kalian di luar!” sahut Neni dengan suara meninggi.
“Neni, kumohon maafkan aku dan Bella. Izinkan kami berdua masuk, ini sudah terlalu malam,” pinta Dilla.
“Kau itu sama saja Dilla. Sekarang, kau sudah sama tak warasnya dengan dia. Sudah, sebaiknya sekarang kau temani saja dia tidur di luar,” bentak Neni yang langsung menutup kaca jendelanya.
Bruakk
__ADS_1
“Bella, kau ini bagaimana? Kenapa kau malah membuat Neni tambah kesal?” rengek Dilla dengan bibir yang maju ke depan. Ia benar-benar sebal dengan kelakuan sahabatnya.
“Hoaam, sudah Dilla, ini sudah biasa terjadi. Neni memang biasa seperti itu kalau kita terlambat pulang. Palingan juga cuma seminggu, nanti juga dia akan minta kita pulang,”
“Ha?? Seminggu? Kau benar-benar sudah tidak waras, Bella. Masa seminggu kita harus tidur di luar,”
“Ah, sudahlah sekarang aku benar-benar sudah ngantuk. Lebih baik sekarang kita cepat ke pos ronda. Aku benar-benar ingin tidur,” sahut Bella mendorong Dilla agar segera pergi meninggalkan rumahnya.
“Tapi, Bel, besok kan aku harus...,”
“Sudah, enggak ada tapi-tapian. Masalah besok kita pikirkan nanti,” ucap Bella yang memaksa Dilla agar lekas beranjak.
Dengan langkah berat kedua gadis itu meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat mereka bermalam.
“Masuklah,” ucap David saat Dilla dan Bellla melewati mobil mereka.
“Eh, kalian masih di sini?” tanya Dilla.
“Ya, kami menunggu kalian. Kami khawatir nenek kalian tidak mengizinkan kalian masuk,”
Jawab Lim.
“Gimana Bel?” tanya Dilla melirik Bella.
“Ya sudah, masuk saja! Lumayan dapat tumpangan gratis,” jawab Bella sambil mendorong Dilla masuk ke dalam mobil.
“Kalau gitu terima kasih,” sahut Dilla saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Bella yang memang terlihat sudah lelah, tidak banyak bicara. Ia langsung tertidur begitu saja di dalam mobil.
“Jadi ke mana kita, Bos?” tanya Lim yang sebenarnya masih berharap bosnya berubah pikiran.
“Lim, tidak ada tawar menawar,” jawab David.
***
Mobil yang dibawa Lim kini sudah sampai di depan gerbang rumah mewah yang letaknya tak jauh dari tempat Bella tinggal. Rumah itu dijaga oleh seorang satpam yang kini membukakan pintu gerbang rumahnya.
“Bi Lastri, sudah tidur?” tanya Lim membuka kaca jendelanya.
“Bukannya Bi Lastri sudah bilang ke Tuan kalau hari ini dia pulang kampung,” jawab satpam yang bernama Edo.
“Oh ya, aku lupa,” karena terlalu banyak pekerjaan membuat Lim lupa kalau pembantu di rumahnya itu hari ini hingga seminggu ke depan sedang izin pulang ke kampung halamannya.
Sebenarnya kalau bukan karena permintaan orang tuanya, Lim lebih suka tinggal di apartemen karena jaraknya lebih dekat dengan kantornya. Namun, karena permintaan sang Bunda, Lim tetap tinggal di rumah yang sejak tiga tahun lalu ditinggalkan orang tuanya yang sekarang menetap di Negara K.
“Ini rumah siapa?” tanya Dilla yang sama sekali tidak menyangka akan dibawa ke rumah mewah yang biasa mereka lewati. Dilla ingat kalau Bella pernah diam-diam mencuri mangga dari rumah itu.
“Rumah Lim,” jawab David singkat. Ia kini duduk di samping Lim. Hal itu karena saat pulang dari pasar malam, Bella menolak untuk duduk terpisah dengan sahabatnya.
****
Mobil itu kini sudah sampai di halaman depan pintu utama rumah Lim. Lim dan David keluar dari mobil itu secara bersamaan.
“Lim, bisakah kau bantu aku?” pinta Dilla.
“Bella, sulit sekali dibangunkan. Bisakah kau menggendongnya?” ucapnya.
“Tidak perlu, biar aku saja. Kalian berdua masuklah terlebih dahulu,” cegah David.
__ADS_1
Lim dan Dilla mengikuti perintah David, mereka masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Sedangkan David akan menyusul mereka di belakangnya.
David membelai lembut wajah Bella sebelum ia menggendong gadis itu.
“Setiap kali kau tertidur aku selalu ingin membelaimu seperti ini. Kau tahu kau sungguh cantik saat kau tertidur. Bolehkah aku menggunakan kesempatan ini untuk mencuri sesuatu darimu? Sedikit saja?” tanya David lirih.
“Ugh,” Bella melenguh.
“Aku anggap itu jawaban ‘ya’ darimu,”
Cup
David mengecup bibir merah Bella sekilas dan itu membuat wajahnya langsung merah merona. Kelakuannya saat ini persis seperti ABG yang baru mengenal cinta.
“Bos,” panggil Lim.
“Mengganggu saja,” gumamnya pelan hingga tak bisa didengar Lim.
Mendengar panggilan Lim, David langsung menggendong dan mengeluarkan Bella dari dalam mobil dengan hati-hati. Bella digendong dengan gaya bridal style.
“Wajah Anda kenapa?” tanya Lim saat melihat rona merah di wajah David. Ia tak menjawab hanya memberikan tatapan yang mengisyaratkan agar Lim berhenti bertanya tentang hal itu.
“Oh ya? Kamar Anda dan Nona Bella ada di lantai atas,” ucapnya kemudian.
“Apa maksudmu? Aku dan Bella belum menikah. Kenapa kau menempatkan kami dalam satu kamar?”
“Bukan, Bos, bukan itu maksudnya. Jelas kamar Anda dan Nona Bella terpisah. Hanya saja kamar kalian berdua sama-sama ada di lantai atas,” jelas Lim.
“Kalau begitu lain kali bicaralah yang jelas!”
“Baik, Bos,”
Lagipula kenapa juga Anda bisa sampai berpikir seperti itu? Memang saya sudah segila itu apa? Tidak mungkinlah saya menempatkan kalian berdua dalam satu kamar. Atau memang itu yang sekarang sedang Anda harapkan (ucap Lim dalam hati).
****
David mulai menaiki anak tangga dan memasuki kamar yang ditunjuk oleh Lim. Kamar itu berada di lantai atas dan terletak persis di samping kamar David.
“Kau berat juga gadis,” ucap David sambil tersenyum saat merebahkan tubuh Bella di atas ranjang secara perlahan.
“Bos, Anda tidak bermaksud untuk tidur di sini kan?” goda Lim yang langsung mendapat pukulan di lengannya.
“Diam kau!” ucap David melangkah keluar dari kamar Bella.
“Lim, kalau di sini bicaralah biasa saja! Jangan terlalu formal seperti itu! Biar bagaimana pun kita adalah sahabat,”
“Oke, kalau gitu aku tidur dulu ya, Bro!”
“Hey, kau tidak menyiapkan air panas untukku dulu?”
“Kau kan tinggal putar keran air panasnya. Lagipula kau sendiri yang barusan bilang, di sini aku temanmu, bukan bawahanmu,” ucap Lim berjalan santai meninggalkan David.
***
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian sebagai bentuk dukungan pada karya ini dengan memberikan like, vote, dan komen terbaiknya, serta jadikan karya ini sebagai favorit kalian.
Terima kasih..💐💐💐
__ADS_1
Salam sayang dan sehat selalu untuk semua
😍😍