Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 38 Keramas


__ADS_3

Raut wajah Bella yang awalnya terlihat sedih, seketika berubah bahagia. Ia dengan semangat mengambil beberapa lembar ratus ribuan yang ada di tangan David.


“Dasar matre! “gumam David saat melihat perubahan ekspresi wajah Bella.


“Lim, kita ke Nikita dulu,” ucap David.


“Baik, Bos,” sahut Lim.


Lim yang paham akan maksud David, mulai melajukan kembali mobilnya menuju ke arah yang dimaksud oleh David yakni ‘Nikita Beauty And Fashion Shop’.


Selang beberapa menit mereka pun sampai di sebuah bangunan berwarna abu-abu dengan tambahan batu pualam dan lantai granit yang membuat bangunan itu tampak terlihat modern dan elegan.


“Tempat apa ini?” tanya Bella.


“Bacalah!” jawab David menunjuk papan nama yang tercantum di bagian atas bangunan itu.


“Nikita Beauty And Fashion Shop,” gumam Bella yang kemudian mendekati Dilla, lalu berbisik kepadanya.


“Dil, aku tidak begitu paham dengan bahasa Inggris. Itu artinya apa ya?” bisik Bella.


Dilla kemudian melihat papan nama yang ditunjuk Bella.


“Oh, itu artinya toko baju dan salon Nikita,” jawab Dilla.


“Oh, jadi Nikita itu nama toko dan salon toh. Aku pikir tadinya itu nama tunangan David yang sebenarnya. Buat apa dia membawaku kemari?” tanya Bella setengah berbisik.


“Entahlah,” sahut Dilla.


“Hey, gadis tengik! Kenapa kau ini lambat sekali? Apa perlu aku menggendongmu hingga sampai ke dalam?” teriak David.


“Aduh... Bos sombong yang satu ini! Kamu itu kenapa sih? Lagi PMS ya? Dari tadi uring-uringan terus bisanya. Kalau mau gendong ya gendong aja! Enggak usah pakai ngancem-ngancem segala,” tantang Bella membuat David kehilangan kesabarannya. Ia pun langsung menghampiri Bella dan menggendongnya layaknya menggendong karung beras.


“Hey, bajingan ! Lepaskan! Kamu kira aku ini karung beras apa?” teriak Bella.


Namun, teriakan Bella itu sama sekali tidak dihiraukan oleh David. Bahkan setelah Bella berulang kali memukul punggungnya. Ia masih tak menurunkan Bella. Ia terus menggendong Bella masuk sampai ke dalam toko untuk bertemu dengan sang pemilik toko.


Iya, sesuai dengan papan nama toko tersebut, pemiliki toko bernama Nikita. Nikita memiliki paras yang cantik, namun perawakannya tinggi, besar seperti laki-laki.


“Eh, ada Bos David. Sudah lama Bos tidak kemari?” tanya wanita bernama Nikita itu genit.


“Tidak perlu basa-basi! Sekarang segera kamu urus wanita ini,” sahut David seraya menunjuk Bella yang baru ia turunkan dari gendongannya.


“Siapa gadis cantik ini, Bos? Apa dia pacar Bos?” tanya Nikita kepo.


“Dia bukan pacarku, tapi tunanganku,” jawab David.


“Hah, tunangan! Sejak kapan Bos bertunangan? Kenapa Niki tidak diundang? Ah, patah hati deh Niki,” rengek Nikita manja.


“Udah, Niki jangan rewel! Kamu dengarkan Bos David tadi menyuruh kamu untuk apa?” sela Lim.


“Baik-baik. Kira-kira apa yang perlu Niki urus dari gadis manis ini Bos?” tanya Nikita.


“Kamu keramasi dia!”

__ADS_1


“What?! Keramas? Memang apa yang sudah kalian lakukan?” tanya Nikita lirih, lalu melirik mobil David yang terparkir di luar.


“Bos, kamu dan dia tidak melakukan ‘itu’ di dalam mobil kan?” bisik Nikita yang langsung mendapat tatapan tajam dari David.


“Maksud kamu apa?” tanya David.


“Hey, Niki, kau ini jangan berpikiran macam-macam! Bos kita itu tidak semesum yang kamu pikirkan,” sahut Lim.


“Hehe, maaf, Bos. Nikita khilaf.. habis liat pakaian bos yang berantakan pikiran Niki jadi travelling ke mana-mana,” sahut Nikita yang masih tak berhenti memandang pakaian David dan Bella yang tampak sedikit berantakan akibat pertengkaran mereka di dalam mobil sebelumnya.


“Apa iya mereka tidak melakukan apa-apa?” gumam Nikita dengan nada yang sangat rendah.


“Niki!!!” teriak David gemas saat mendengar gumaman Nikita.


“Ah, i-iya, Bos ada apa?” sahut Nikita gagap.


“Apa yang tadi kau katakan? Bisa kau ulangi? ”tanya David menatap tajam Niki.


“Ah, enggak Bos, aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab Niki.


“Jangan bohong kamu!” ucap David masih disertai tatapan tajam.


“Sungguh Bos, aku tidak mengatakan apa pun pada Bos. Aku hanya sedang berpikir bahwa tunangan bos itu sangat cantik. Jadi, aku tidak boleh sampai membuat kesalahan yang bisa membuat Bos tidak puas dengan pekerjaanku,” jawab Niki bohong.


“Baguslah kalau kamu menyadarinya. Sekarang cepat! Dandani dia secantik mungkin dan jangan lupa keramasi rambutnya sampai benar-benar halus, wangi, dan lembut,” perintah David.


“Oce, Bos, siap!” jawab Niki yang kemudian menarik Bella untuk ikut dengannya.


“Ah, David apa aku harus melakukan itu? Kenapa aku harus keramas segala? Merepotkan sekali,” keluh Bella.


Meskipun tidak suka dengan sikap David yang suka memerintah dengan seenaknya, namun karena tidak ada pilihan lain bagi Bella sehingga mau tidak mau ia pun mengikuti perintah David.


Dengan muka yang cemberut, Bella pun akhirnya bersedia dikeramas oleh Niki.


Apa sih maunya laki-laki brengsek itu? Ngapain juga rambutku harus dikeramas seperti ini? Menyebalkan sekali! (ucap Bella dalam hati)


“Nona, kalau boleh tau nama kamu siapa?” tanya Niki saat dirinya mulai mengeramasi rambut Bella.


“Bella,” jawab Bella singkat.


“Apa? Belek?!” tanya Niki.


“Ih.. bukan belek Tante, Bella, Bel-la” ucap Bella mengeja namanya sendiri.


“Aih, masa aku dipanggil Tante sih? Emang aku tua banget apa?” keluh Niki.


“Terus aku harus panggil Tante apa?” tanya Bella.


“Niki. Panggil aku Niki saja,” jawab Niki.


“Oh, Niki saja,” ucap Bella datar.


“Bella.. ‘saja’ nya jangan kamu pakai! Cukup kamu panggil aku “Niki”, kamu mengerti? Niki, ingat itu ‘Niki’ ” tegas Niki.

__ADS_1


“Iya, iya, aku ngerti, Niki,” sahut Bella.


“Bagus, anak pintar,"


“Oh ya, Bell? Kalau boleh tahu sudah berapa lama kamu mengenal Bos David?” tanya Niki.


“Sekitar seminggu yang lalu,” jawab Bella.


“Apa? Baru seminggu tapi kalian sudah memutuskan untuk bertunangan?” sahut Niki terkejut.


“Iya, kenapa? Heran ya? Sama aku juga heran,” jawab Bella santai.


“Apa kira-kira yang disukai Bos David dari kamu, Bella? Kok bisa baru satu minggu hatinya langsung luluh dan mau mengajakmu bertunangan. Padahal, kau tahu Bella, Bos David itu selama ini dikenal sebagai laki-laki dingin dan sulit jatuh cinta. Bahkan, aku sampai mengira bahwa Bos David dan Sekretarisnya itu..” ucap Niki melirik ke arah David dan Lim.


“Kau tahu kan apa maksudku?” bisik Niki di telinga Bella membuat Bella yang mengerti maksud perkataan Niki tertawa lepas.


**


Tingkah Bella dan Niki yang sedang tertawa lepas, tak luput dari pandangan David yang memang secara diam-diam memperhatikan Bella dan Niki. Meski saat ini sebenarnya dirinya sedang membahas masalah proyek dengan Lim. Namun, pembahasan itu terhenti saat suara tawa Bella menggema hingga sampai ke ruangan Davi, Lim, dan Dilla berada. .


“Apa yang sedang dibicarakan Niki dengan gadis tengik itu?” tanya David pada Lim..


“Entahlah, Bos. Hanya mereka yang tahu,” jawab Lim spontan, membuat David memberikan tatapan tajam kepadanya.


“Maaf, Bos, aku sungguh tidak tahu karena dari tadi kan aku sibuk memperhatikan masalah tender yang tadi kita bicarakan bersama,” sahut Lim yang paham akan kekesalan David terhadap jawaban yang ia berikan sebelumnya.


David yang mulai menerima jawaban Lim, kemudian mengalihkan pandangannya pada gadis yang kini tengah duduk di hadapannya. Gadis itu tidak lain adalah Dilla.


Dilla bersama David dan Lim menunggu di sofa yang sama. Hanya bedanya, jika David dan Lim menunggu sambil membahas masalah tender perusahaan mereka. Sedangkan Dilla, justru sedari tadi hanya sibuk membolak-balik isi majalah yang ada di tangannya. Padahal sebenarnya, Dilla tidak benar-benar membaca isi majalah itu. Itu semua ia lakukan untuk menutupi perasaan cemasnya karena akan bertemu dengan sang ayah yang selama ini ia rindukan.


“Kamu itu siapanya Bella? Dan kenapa sepertinya wajahmu itu tidak asing ya?” tanya David tiba-tiba.


“Sa-saya temannya Bella, Tuan. Tapi masa sih muka saya ini tidak asing bagi Tuan? Karena sepertinya kita baru bertemu beberapa kali ini saja atau mungkin Tuan merasa wajah saya tidak asing karena muka saya memang pasaran kali ya,” jawab Dilla gugup.


“Mmmm.. mungkin, bisa jadi. Oh, ya, kamu tinggal dengan Bella?” tanya David menyelidik.


“Iya, saya tinggal di rumahnya Bella, tapi itu belum terlalu lama kok karena sebelumnya saya tinggal di Kota KR,”


“KR? Bukankah kota itu cukup jauh dari sini? Kenapa bisa kamu datang kemari?”


“Sa-saya waktu itu ingin mengantar almarhumah Nenek saya untuk berobat di rumah sakit yang ada di kota ini sekaligus mencari keberadaan keluar....,” jawaban Dilla menggantung saat Bella tiba-tiba datang menghampiri mereka.


***


Bersambung


Akankah Dilla memberi tahu David bahwa ia adalah saudara sepepupunya? Penasaran?


Nantikan kelanjutan kisahnya di episode berikutnya dan jangan lupa beri author dukungan lewat like, vote, dan tanda love untuk menjadikan karya ini sebagai karya favorit kalian ya.. dan kalian tidak akan ketinggalan ceritanya.


Terima kasih


Salam sayang selalu

__ADS_1


David dan Bella


😘😘😘


__ADS_2