
Jantung Bella saat itu juga berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia tampak tak begitu yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Benarkah seorang CEO tampan dan berkuasa menyatakan cinta kepadanya? Apakah ini mimpi atau nyata? Bila ini nyata jawaban apa yang harus ia berikan kepada David? Berbagai pertanyaan terus memenuhi benak dan pikirannya hingga Bella hanya bisa terdiam untuk beberapa saat.
“Ha ha ha,” suara tawa David menarik kembali alam pikiran Bella yang sempat berkelana.
“Dasar bodoh! Kau pikir ucapanku yang barusan itu serius. Yang benar saja. Aku kan sudah pernah bilang sebelumnya, kalau kau itu bukan tipeku. Jadi aku tidak akan pernah suka padamu. Jadi tak perlu terlalu serius kau pikirkan, aku hanya menggodamu saja tadi,”
“Hello, Tuan CEO yang sombongnya enggak ketulungan. Siapa juga yang menganggap ucapan kamu tadi serius? Aku hanya sedang berpikir saja, jangan-jangan kamu itu kesurupan gara-gara tadi kebanyakan menjahili para hantu. Baru saja aku mau pukul kepalamu dengan sendal ini supaya hantu yang merasukimu itu keluar,”
“Tapi sepertinya, meski kau sudah tidak kesurupan kau tetap harus dipukul,” memukul David dengan sendalnya berulang-ulang.
“Hey, Bella, hentikan! Kau sadar tidak sih kita sedang berada di mana? Kalau mesinnya tiba-tiba mati gimana?” teriak David.
“Biarkan saja aku tidak peduli,” terus memukul David.
Laki-laki ini kalau aku tidak memberinya pelajaran hari ini aku tidak akan pernah puas (ucap Bella dalam hati sambil terus memukul David).
Tiba-tiba....
Krettttt
Lampu di dalam bianglala yang sedang Bella dan David tumpangi padam, dan bianglala tersebut pun berhenti seketika.
“Ada apa ini?” tanya Bella.
“Sepertinya benar-benar mati,” jawab David.
“Haa,” Bella terduduk lemas. Ekspresinya tak dapat terlihat dengan jelas karena gelap menyelimutinya.
“Kapan mesinnya akan jalan lagi??”rengek Bella.
“Entahlah, mungkin besok baru bisa jalan lagi,”
“Sembarangan sekali kau bicara,” sahut Bella kesal. Ia benar-benar tak percaya bahwa dirinya bisa terjebak di tempat yang sama dengan orang yang paling menyebalkan baginya.
Sesaat matanya mulai merasakan kantuk dan perlahan terpejam. Tanpa sadar kepalanya bersandar di bahu David yang kini berada duduk di sampingnya.
“Eh?” ucap David kaget. Ia pun menyalakan aplikasi lampu senter yang ada dalam ponselnya.
Dilihatnya wajah Bella yang sedang tertidur pulas di sandaran bahunya.
“Gadis ini benar-benar tumor (tukang molor)! Tidak di mana-mana langsung tidur saja. Bagaimana kalau orang yang berada di dekatnya itu orang jahat? Benar-benar kurang waspada!” gumamnya.
“Tapi dia benar-benar sangat cantik,” ucap David sambil membelai lembut wajah Bella.
“Kau tahu Bella. Sebenarnya apa yang tadi aku katakan adalah hal yang sesungguhnya. Aku benar-benar ingin menjadi pasanganmu karena aku yakin sekali kalau saat ini aku sudah jatuh cinta kepadamu. Aku mencintaimu gadis tengik dan aku berharap aku bisa selamanya denganmu seperti saat ini,” ucap David lembut, lalu mencium kening Bella dengan penuh kasih.
Saat ini mereka berdua sedang berada di puncak tertinggi bianglala. Meskipun David tidak sepenuhnya percaya dengan cerita itu, namun ia berharap cerita itu bisa menjadi kenyataan. Ia berharap bahwa ia dan Bella bisa selamanya menjadi pasangan.
Ia tidak ingin mengalami nasib yang sama dengan pamannya. Kehilangan wanita yang dicintainya dan harus terpaksa menikah dengan wanita lain yang tak ia cintai. Hal itulah yang membuat David mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada Bella. Ia bertekad meluluhkan hati neneknya terlebih dahulu sebelum meluluhkan hati Bella.
__ADS_1
David membuka aplikasi pesan yang ada dalam ponselnya, lalu mengetik sebuah pesan kepada Lim.
Lim, segera minta mereka untuk menyalakan kembali mesinnya (pesan David).
Baik, Bos (pesan balasan Lim).
***
Beberapa menit yang lalu di bawah sana.
“Lim, apa yang terjadi? Kenapa bianglalanya berhenti?” tanya Dilla panik.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku akan hubungi teknisinya dulu, ” jawab Lim.
Lim mengambil ponselnya dan tersenyum setelah membaca dan membalas pesan dari bosnya. Kemudian, ia berjalan agak menjauh dari Dilla dan mencoba menghubungi seseorang.
“Halo, semua sudah selesai. Segera nyalakan kembali mesinnya, ” ucap Lim.
“Baik, Tuan,” sahut si penerima telepon.
Aku benar-benar penasaran. Apa yang terjadi dengan mereka berdua di atas sana? (batin Lim tersenyum).
Semua yang terjadi saat ini memang bagian dari siasat David dan Lim. Mereka sengaja meminta petugas teknisi bianglala untuk mematikan mesin saat Bella dan David sedang berada di puncak tertinggi bianglala.
***
Lampu kembali menyala dan kincir raksasa itu kembali berputar. Di saat yang bersamaan Bella sudah kembali membuka matanya.
Setelah bianglala itu mendarat dengan sempurna David dan Bella bergegas turun dan menghampiri Dilla dan Lim yang sedari tadi menunggu.
“Ya Tuhan, Dilla ini sudah malam sekali,” ucap Bella saat melihat jam di pergelangan tangan Dilla sudah menunjuk ke angka 12.
“Baiklah, kalau begitu kami antar kalian berdua pulang,” sahut David.
Bella dan Dilla berjalan mengikuti David dan Lim menuju tempat mobil David terparkir. Setelah menemukan mobil itu, mereka masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Lim. Lim melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman Bella.
“Gimana ini Dilla? Neni pasti marah sekali pada kita,” rengek Bella.
“Bisa-bisa dia tak mengizinkan kita masuk,” lanjutnya.
“Memang Neni biasa seperti itu ya?”
“Ya Tuhan, kamu belum tahu ya, bagaimana kalau Neni marah?”
“Belum, memangnya seperti apa?”
“Nanti kamu lihat sendiri,”
“Hey, bukannya kamu sudah biasa keluar malam-malam?” sahut David yang sedari tadi ikut mendengarkan percakapan Dilla dan Bella.
“Apa maksudmu? Memang aku perempuan malam?” tanya Bella ketus.
__ADS_1
“Bukan begitu, tempo hari aku lihat kalian sedang berada di arena balapan liar yang jauh lebih malam dari ini," jawab David.
“Itu berbeda. Saat itu Neni sama sekali tidak mengetahui kalau kami keluar diam-diam. Selain itu, kami juga membawa kunci cadangannya,” jelas Bella.
“Hah, keluar diam-diam? Dasar gadis berandalan! " David tak percaya dengan kelakuan Bella yang jauh lebih liar dari perkiraannya.
***
Mobil yang dikemudikan Lim, kini telah sampai di kediaman Bella.
“Kalian tidak mau masuk dulu?” tanya Dilla.
“Kurasa kami cukup waras untuk tidak menerima guyuran air dari Neni kalian,” jawab David sambil melirik ke arah Lim.
“Cih, pengecut!” cibir Bella meninggalkan David dan Lim. Ia dan Dilla berjalan ke arah bangunan berlantai dua, tempat di mana rumah dan kedai bakso Bella berada.
“Bos, apa kita langsung pulang saja?” tanya Lim.
“Tunggu dulu! Aku ingin pastikan mereka berdua sudah diizinkan masuk ke dalam rumah mereka,”
“Kalau mereka berdua tidak diizinkan masuk bagaimana?” tanya Lim.
“Kalau begitu bersiaplah untuk menerima tiga orang tamu di rumahmu malam ini,” jawab David.
“Maksud Bos?”
“Iya, karena kalau mereka sampai tidak diizinkan masuk, maka malam ini aku, Bella, dan temannya itu akan menginap di rumahmu,”
“Apa?! Kenapa harus di rumahku Bos? Rumah Bos kan jauh lebih besar,”
“Tapi kau tahu sendiri wanita tidak tahu diri itu sekarang sedang berada di rumahku dan dia sedang menungguku di sana,” jawab David.
Lim paham dengan wanita yang dimaksud David. Sementara ini David pasti lebih memilih untuk menghindar dari Clarissa karena dia tidak ingin terbawa emosi saat bertemu dengan wanita itu. Tapi kenapa harus rumahnya? Itulah yang di pikirkannya saat ini.
“Kebetulan juga rumahmu itu lebih dekat dari sini,” ucap David yang sepertinya sudah bisa membaca isi pikiran sekretaris sekaligus sahabatnya itu.
Lim hanya bisa menghela nafas panjang. Walau bagaimana pun dia tidak mungkin bisa menolak apa yang sudah menjadi keinginan bosnya. Saat ini, ia hanya bisa berharap bahwa kedua gadis itu akan baik-baik saja dan nenek mereka mau mengizinkan mereka masuk. Karena kalau tidak...
Apa yang akan terjadi di rumahku kalau ketiga orang ini sampai benar-benar menginap di sana? Hah.. aku harap tidak akan terjadi apa-apa. Biarkan kedamaian dan ketenangan di sana tetap terjaga (batin Lim).
***
Bersambung
Menurut kalian Bella dan Dilla bakal diizinkan masuk atau tidak ya oleh neneknya?
Kalau tidak diizinkan masuk apakah mereka akan menginap di rumah Lim?
Temukan jawabannya di episode selanjutnya.
Jangan lupa berikan dukungan kalian pada karya ini dengan memberikan like, vote, dan komen terbaiknya, serta tetap jadikan karya ini sebagai karya favorit kalian ya..
__ADS_1
Terima kasih 💐💐💐