
Neni berpikir sejenak, ia tidak ingin salah mengambil keputusan. Biar bagaimana pun Bella adalah satu-satunya cucu yang ia miliki.
“Ya, aku setuju tapi dengan satu syarat,”
“Apa itu?” tanya David.
“Syaratnya adalah....,” Neni menggantung ucapannya seolah ragu dengan syarat yang akan dimintanya pada David.
Sebenarnya aku ingin memintamu menikahi Bella dulu secara siri sebelum membawanya ke rumahmu sebagai syaratnya, tapi itu berarti aku harus mempersiapkan wali untuk Bella. Sementara, aku masih belum tahu banyak tentang keluarga dari almarhum menantuku itu. Sebaiknya aku uji dulu kesungguhan pemuda ini, jika dia lulus aku akan menceritakan semua tentang Bella kepadanya (batin Neni).
“Syaratnya adalah kau harus membantuku,” sahut Neni menatap David dengan pandangan serius.
“Baiklah Neni, aku pasti akan membantumu. Katakanlah kau butuh bantuan apa dariku?” tantang David.
“Aku ingin kau membantuku memenuhi tiga keinginan almarhumah ibunya Bella yang belum terwujud,”
“Kalau begitu katakanlah,” tanya David tidak sabar.
“Sabarlah anak muda! Kau itu benar-benar tidak sabaran,”sahut Neni.
Pantas saja, belum jadi suami cucuku dan baru jadi tunangannya saja kau sudah macam-macam dengan cucuku. Kalau aku tidak memberikan pria bajingan sepertimu pelajaran, maka aku tidak layak disebut neneknya Bella (batin Neni).
“Neni...,” panggil David yang masih menunggu jawaban Neni yang sedari tadi hanya muter-muter saja seperti gansing.
“Keinginan ibunya Bella, baru bisa terwujud jika kau mengajakku ke kampung halaman kami yang ada di ujung selatan kota ini, yakni Kampung Pelangi. Di sanalah ibunya Bella menyimpan tiga keinginannya,” jawab Neni.
“Kampung Pelangi? Kalau tidak salah itu adalah daerah di mana Pantai Indah Pelangi itu berada kan, Neni?” tanya David.
“Ya, tepat sekali. Kami dulu memang tinggal di daerah pesisir pantai yang ada di kawasan Pantai Indah Pelangi berada,” sahut Neni antusias.
“Kalau begitu siang nanti, kita akan segera berangkat ke sana. Kebetulan, siang ini aku dan Lim memang berniat melakukan perjalanan dinas ke sana untuk melihat perkembangan proyek perusahaan kami di tempat itu. Jadi, Neni bersiaplah,”
“Oh, sungguh kebetulan sekali. Baiklah, aku pasti akan bersiap-siap,” ucap Neni antusias.
David tersenyum, ia tidak menyangka syarat yang diminta Neni akan semudah itu. Meskipun sebenarnya, ia belum mengetahui tiga keinginan dari almarhumah ibunya Bella.
Keinginan? Hah, itu pasti akan sangat mudah bagiku. Memangnya ada keinginan yang tidak bisa aku kabulkan (batin David penuh kesombongan)
“Ngomong-ngomong ke mana gadis dungu itu? Aku belum memberikannya hukuman dia main kabur aja,” tanya Neni melihat sekeliling, namun tak menemukan Bella.
Brumm..
Suara mesin motor terdengar dari halaman samping kedai bakso Neni. Saat itu di sana sedang ada Bella yang sedang memanaskan motornya.
“Eits, sedang apa kau?” Tanya Neni menarik telinga Bella.
“Aduduh, Neni. Telingaku bisa copot kalau Neni menarikku seperti ini,” rengek Bella.
__ADS_1
“Heh, kau khawatir telingamu copot, tapi tidak khawatir kalau jantung Neni akan copot mendengar kelakuanmu itu hah,” cibir Neni yang masih menjewer telinga Bella.
“Bagus Neni, jewer saja terus! Cucumu itu memang sangat nakal,” ucap David memanasi.
“Diam kau!!” Teriak Bella dan Neni bersamaan.
Lalu sambil menarik telinga Bella, Neni berjalan ke arah David dan ikut menjewer telinga David.
“Awww, Neni aduh... Kenapa telingaku juga ikut ditarik?” keluh David.
“Karena kau dan cucuku sama-sama nakal. Kalian berdua sama-sama layak mendapatkan ini,”
“Aaww,” jerit Bella dan David bersamaan saat telinga mereka masih ditarik oleh Neni.
“Ooow, ini benar-benar momen yang sangat langka. Jarang-jarang aku bisa melihat Bos sombong itu ditindas secara langsung, he he he. Benar-benar menarik dan perlu diabadikan,” gumam Lim yang langsung mengambil ponselnya dan mengarahkannya kepada mereka berdua.
Jepret
Lim mengambil foto keduanya saat sedang dijewer oleh Neni.
Hebat, foto ini bisa aku simpan di galeri pribadiku dan kuberi tanda bintang (batin Lim)
***
Setelah Neni puas memberikan David dan Bella hukuman, mereka pun berpamitan pada Neni.
“Hei, kau pikir aku senang. Aku juga dihukum oleh Neni. Lihatlah, sudah bibir merah gara-gara cucunya. Sekarang telingaku juga ikutan merah gara-gara neneknya,” ucap David menunjukkan telinganya yang memerah akibat jeweran dari Neninya.
“Rasakan itu!” umpat Bella sambil memakai jaket dan menaiki motornya.
“Kau benar-benar akan membawa motor ini ke rumah sakit??”
“Tentu saja,” sahut Bella yang kali ini memasangkan helm di kepalanya.
“Kenapa tidak naik mobilku saja?” protes David.
“Ma-las,” sahut Bella yang langsung melesat begitu saja meninggalkan David.
“Dasar gadis tengik! Aku belum selesai bicara, dia main kabur saja,” gerutu David saat Bella meninggalkannya begitu saja.
“Lim, perhatikan baik-baik motor gadis itu! Dan nanti segera telepon anak buahmu, sebarkan pada mereka perintah untuk membuat ban motor gadis itu kempes sehingga dia kesulitan untuk datang ke rumah sakit. Aku ingin membuat dia menyesal karena telah menolak tawaran seorang David,” ucap David yang masih merasa kesal karena penolakan Bella.
“Baik, Bos.” sahut Lim.
Mereka berdua pun berjalan, lalu masuk ke dalam mobil yang mereka parkir tak jauh dari kedai Neni.
“Bos, kalau aku tak tahu cerita lengkap yang sebenarnya. Mungkin pikiranku juga sudah sampai ke Planet Neptunus seperti Neni. Kau itu sungguh pandai mengarang Bos," ucap Lim saat mengingat kembali kalimat menggelikan yang disusun David sebelumnya.
__ADS_1
Hal itu membuat David menarik kedua sudut bibirnya ke atas, merasa menang satu poin dari Bella dalam hal ini.
Memang aku mengharapkan Neni berpikir demikian. Dengan begitu, Neni tidak akan mudah menyerahkan Bella kepada laki-laki lain sehingga ke depannya Bella tidak akan memiliki pilihan lain selain diriku ini (batin David).
***
Bella masih mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup kencang. Namun, tiba-tiba laju motornya terhenti begitu saja.
“Aih, ada apa ini?” gumam Bella, lalu melihat keadaan motornya.
“Ah, sial sekali! Kenapa ban motornya pakai kempes sih?” keluh Bella saat melihat keadaan ban motornya yang sudah menciut.
Merasa tidak ada pilihan lain, Bella pun akhirnya memilih mendorong motor tersebut ke bengkel terdekat yang ada di kawasan itu. Lalu menitipkan motornya itu di sana karena ia sudah janji pada Dilla bahwa ia akan segera menyusul ke rumah sakit segera setelah urusannya dengan David selesai.
Tetttttttttttttttttttttt
Suara klakson mobil membuat pandangan Bella yang sedang berjalan teralihkan ke asal suara dari klakson itu. Seorang pria yang berada di dalam mobil itu tampak membuka kaca mobilnya, lalu tersenyum ke arah Bella.
Eh, bukankah itu si manusia kutub Az, tumben. Ada angin apa dia tiba-tiba tersenyum ke arahku? Apa hari ini ayam jantan sudah benar-benar bisa bertelur ya.. (ucap Bella dalam hati).
“Naiklah,” ajak Az membuka pintu mobilnya.
Bella yang awalnya enggan dan tidak percaya dengan tawaran Az, akhirnya memilih untuk masuk menaiki mobil Az.
“Sudahlah, naik saja. Dari pada jalan kaki,” gumamnya.
Dengan telaten Azril memasangkan sabuk pengaman pada Bella.
Eh, kenapa dia hari ini? Perhatian sekali. Apakah itu karena terlalu banyak membedah saraf otak manusia sehingga saraf otaknya juga jadi ikutan rusak (batin Bella yang masih tidak percaya dengan perubahan sikap Az).
Setelah dipastikan Bella memasang sabuk pengamannya dan duduk dengan benar. Azril kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Sesaat keheningan mulai melanda di antara mereka berdua.
Masuknya Bella ke dalam mobil milik Az, tak luput dari pengamatan orang-orang suruhan Lim. Mereka pun mengambil foto Bella yang masuk ke dalam mobil Az, lalu mengirimkannya kepada Sekretaris Lim.
***
Bersambung
Bagaimana reaksi David jika melihat foto yang dikirimkan anak buah Lim kepada Lim?
Apa yang akan terjadi antara Bella dan Az selama perjalanan mereka berdua ke rumah sakit?
Mungkinkah hati Bella bisa berpaling?
Tunggu dan nantikan kelanjutannya ya.. dan tetap berikan dukungan pada karya ini dengan like, vote, dan komentar positifnya. Terima kasih. 💐💐💐
Salam sayang untuk kalian semua dan sehat selalu.
__ADS_1