Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 103 Sadar


__ADS_3

Langkap tegap pria bertubuh atletis itu menjadi sorotan para pasien, perawat, dan dokter wanita yang ada di Rumah Sakit Internasional XXX. Ketampanan wajahnya tak terkikis, meski terhalang kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


Kacamata hitam itu mulai dilepaskannya ketika ia sudah mulai mendekat ke meja resepsionis. Tak ayal pandangan kaum hawa semakin tertuju padanya. Bukan hanya wanita muda bahkan wanita tua yang usianya sekitar 80 tahunan itu pun merasa takjub hingga mulutnya tanpa sadar sudah mengnganga, beruntung air liurnya tidak menetes saat itu juga.


Merasa cemburu, pria tua yang duduk bersamanya langsung memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya.


“Ya Allah, sadar, Bu. Inget umur,” bisik Bapak tua ke telinga wanitanya, membuat wajah sang nenek memerah karena menahan malu.


“Maaf, Nona, sedikit menggangu,” ucap pria itu sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Ah, iya Tuan. Banyak juga enggak apa-apa kok,” balas salah satu petugas respsionis yang berjaga di lobi rumah sakit.


“Boleh saya tanya, di mana ruangannya Dokter Lolita?” tanyanya yang membuat dua petugas resepisonis itu menghela nafas bersamaan seolah semangat mereka menghilang saat nama “Lolita” disebutkan.


“Dokter Lolita tidak masuk Tuan, masih sakit,” jawab resepsionis bernama Kiara.


“Sakit? Sakit apa?”


“Katanya pergelangan tangannya terluka saat mengobati pasien,”


“Kok bisa begitu?”


“Mana kami tahu,” jawab keduanya sambil mengangkat kedua bahu mereka seolah tak begitu peduli dengan keadaan Lolita.


“Kalau begitu kalian tahu di mana Dokter Azril?”


“Eh, Tuan temannya Dokter Azril juga?” kali ini petugas yang bernama Elma tampak terlihat bersemangat.


“Kalau begitu kenal Dokter Aria juga dong,” sahut Kiara menimpali.


Wajah keduanya kini tampak tersenyum lebar, berbeda dengan saat pria itu menanyakan Lolita.


“Iya, aku mengenal keduanya. Kami bertetangga saat tinggal di Negara R,”


“Oh, jadi Tuan tetangga mereka. Kalau boleh tahu nama Tuan siapa?” tanya Kiara yang tak ingin melewatkan kesempatan.


“Ehem, modus,” sahut rekannya Elma.


Pria itu tersenyum melihat tingkah keduanya. Ia pun mengulurkan tangannya seraya memperkenalkan dirinya kepada kedua petugas resepsionis itu.


“Namaku Steven William,”


Kedua petugas itu saling berpandangan saat pria itu menyebutkan identitasnya.


“Steven, pengusaha muda berbakat dari Negara R?”


“Ah, itu terlalu memuji. Jadi, sekarang bolehkah aku tahu di mana ruangan Dokter Azril berada?” tanya Steven.


“Oh, sekarang Dokter Azril sedang terluka dan beliau sekarang sedang dirawat di kluster melati. Tuan, bisa berjalan ke arah kanan. Di ujung jalan itulah ruang kluster melati berada,” jawab resepsionis bernama Elma.


“Kalau begitu terima kasih,” sahut Steven.


“Sama-sama. Sering-seringlah mengunjungi kami di sini ya, Tuan,” pinta Elma dan Kiara.


“Tentu,”


Steven berjalan mengikuti arah yang dijelaskan oleh Elma. Pandangannya berkeliling ke segala penjuru rumah sakit hingga tanpa sadar menabrak seseorang yang berpapasan dengannya.


“Aww,” pekik wanita yang tertabrak Steven yang tak lain adalah Dilla.


Tangannya tersiram kopi panas yang sedang dibawanya akibat bertabrakan dengan Steven.


“Kau tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa bagaimana? Apa kau bodoh?” sahut Dilla kesal sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang nampak memerah akibat panas yang ia rasakan. Namun, cacian itu tak membuat Steven marah ia justru merasa tertarik karena seumur hidupnya ia lebih sering mendengar pujian dari para wanita cantik ketimbang cacian untuknya.


“Dasar gila, malah senyum-senyum lagi,” umpat Dilla.


Entah mengapa Dilla kali ini tampak tidak ramah seperti biasanya, mungkin karena terlalu sering mendengar kata-kata kasar dari Az, Bella, dan David.


“Maaf, boleh aku melihat tangannya,”


“Tidak perlu,” jawab Dilla jutek sambil berlalu meninggalkan Steven sendirian.


“Gara-gara laki-laki itu aku jadi harus mengambil kopi lagi,” gerutu Dilla kesal.


“Nona cantik, boleh aku tahu siapa namamu?” panggil Steven, namun tak dihiraukan oleh Dilla.


“Menarik,” gumamnya dengan ujung bibir yang terangkat.


Steven kembali menyusuri jalan untuk menemukan ruangan tempat teman kecilnya dirawat.

__ADS_1


Dari dalam ruangan tersebut, terdengar suara ribut yang berasal dari mulut Ar dan Az.


“Kau ini, apa kau bodoh? Bubur itu masih terasa sangat panas. Apa kau sengaja ingin membakar lidahku ya?” omel Az saat Ar menyuapinya bubur yang masih panas.


“Maaf, Az. Aku tidak tahu kalau buburnya masih panas,” sahut Ar membela diri.


“Lagian siapa yang menyuruhmu menyuapiku segala, hah?”


“Ayah yang menyuruhku, Az. Lagian kau tidak mungkin makan sendiri dalam keadaanmu seperti ini kan atau kau masih menunggu David untuk menyuapimu?”


“Cih, siapa yang menunggunya,”


“Ya, aku kira kau memang menunggunya,” ledek Ar sambil memasukan satu sendok bubur ke dalam mulutnya lalu menyodorkannya kembali kepada Az.


“Cih, kau ini jorok sekali. Kenapa kau memberikan bubur yang sudah kau masukan ke dalam mulutmu untukku,” umpat Az kesal melihat kebodohan adiknya.


“Aku melakukannya agar buburnya tak terlalu panas lagi Az karena aku sering melihat Bunda melakukan hal itu saat menyuapi kita dulu,” ucap Ar yang membuat keduanya teringat kembali kenangan mereka pada sang Bunda.


“Kau kan tahu, kita tidak boleh meniup makanan dengan mulut kita,” lanjut Ar.


“Kalau begitu letakkan saja bubur itu di situ dulu. Nanti kalau sudah tidak pan aku akan memakannya,” ucap Az.


“Kalau begitu makanlah apel ini dulu,” menyodorkan potongan buah apel ke dalam mulut Az.


Az yang melihat ketulusan adiknya, membuka mulutnya lalu memakannya.


Saat Ar sedang menyuapi Az, Steven tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan itu.


“Waw, pemandangan yang sangat langka. Aku tidak menyangka kalian sudah seakur ini,” ucap Steven saat pertama kali masuk ke ruangan itu dan menjumpai Az tengah disuapi oleh adiknya, Ar. Karena yang Steven tahu hubungan kedua kakak beradik ini tidak terlalu baik.


“Steven, kau ada di sini?” sapa Ar.


“Ya, seperti yang kalian lihat. Aku baru saja datang ke negara ini dan langsung kemari,”


“Tapi tidak mungkin sengaja kemari untuk menemuiku kan?” tanya Az dengan senyum dinginnya.


“Bisa dibilang 50 persen benar, 50 persen salah,” jawab Steven.


“Apa maksudmu?” tanya Az.


“Iya, tujuan utamaku kemari adalah untuk menemui Lolita. Setelah itu, menemuimu karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua,”


“Apa hubungannya antara aku dan Lolita?”


“Kalau begitu katakan!” seru Az. Sementara Ar sedari tadi hanya diam mendengarkan.


“Begini, kau masih ingat dengan teman kita yang bernama Dara kan?”


“Heh, kau bercanda. Sejak kapan aku mengingat nama seorang wanita,” jawab Az.


Oh ya, aku lupa. Dia kan dan David sama. Sama-sama es balok yang dingin dan sulit didekati (batin Steven)


“Baiklah, kalau kau tidak ingat. Aku bantu mengingatnya kembali. Dara itu gadis berkacamata tebal yang paling sering dibully di kelas kita dulu saat kita masih SD,”


“Tunggu, maksudmu gadis yang paling sering kau dan David bully kan?”


“He he.. ya, seperti itulah,” jawab Steven menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Lanjutkan!"


“Beberapa minggu belakangan ini dia terus mencarimu. Awalnya aku mengira dia ingin mencari pahlawan di masa kecilnya dulu selain Lim tentunya. Tapi, terakhir kali aku baru tahu bahwa dia mencarimu bukan karena hal itu. Melainkan, kemungkinan besar dia mengetahui siapa orang tua kandung Lusia,”


“Apa?” Teriak Az dan Ar bersamaan.


“Wah, tidak menyangka selama di sini kalian semakin kompak saja,” sahut Steven.


“Apa kamu yakin dia mengetahui orang tua kandung Lusia?”


“Iya, karena dia mengatakan kalau dirinya mendapat informasi bahwa ada seorang bayi yang dibuang di depan rumahmu delapan tahun yang lalu,” jawab Steven.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu menghentikan obrolan mereka.


“Maaf, bolehkah saya masuk?” ucap Dilla yang sebenarnya sudah berdiri sedari tadi dan sempat mendengar obrolan ketiga orang yang kini berada di hadapannya. Sejujurnya dia kaget saat mengetahui kalau Lusia bukan putri kandung Az, melainkan putri angkatnya.


“Masuk saja, Dill,” sahut Ar dengan senyum manis menyambut kedatangannya.


“Ar, ini kopi pesananmu,” ucap Dilla sambil menyerahkan kopi ke tangan Ar.


“Tidak disangka ternyata kita berjodoh ya, Nona Cantik,” sahut Steven saat menyadari kehadiran Dilla dalam ruangan itu.

__ADS_1


“Kau kenapa kau di sini?” tanya Dilla saat melihat Steven ada di ruangan itu.


“Apa kau mengenalnya Dilla?” tanya Ar yang kaget saat melihat reaksi Dilla dan Steven saat pertama bertemu.


“Tidak, dia hanya laki-laki ceroboh yang telah menabrakku dan menjatuhkan kopi yang kubeli sebelumnya untukmu,” jawab Dilla saat teringat kalau kulit tangannya hampir melepuh karea kecerobohan pria itu.


“Astaga, tapi kau tidak apa-apa kan, Dil?” tanya Ar khawatir. Ia pun langsung melihat tangan Dilla.


“Tidak kok Ar, ini tidak apa-apa,” sahut Dilla.


“Apanya yang tidak apa-apa kulitmu memerah seperti ini. Sekarang ikut aku!” ajak Ar menarik Dilla keluar.


“Hey, kau tidak mengenalkan aku pada Nona Cantik ini,” teriak Steven saat melihat Ar dan Dilla keluar.


“Lain kali saja! Sekarang aku ingin mengobatinya terlebih dahulu dan kau bantulah kakakku suapi dia ya?” pinta Ar seraya meninggalkan tempat itu.


“Hah, tidak salah? Kenapa jadi aku yang harus menyuapi es balok ini?” teriak Steven.


Namun, Ar tak menyahuti teriakan Steven karena ia tahu Steven tidak mungkin tega membiarkan kakaknya kelaparan. Ia dan Dilla pun tetap berjalan meninggakan mereka berdua.


****


Di Kediaman Erlangga


Setelah berganti pakaian, David turun ke bawah untuk menikmati sarapan paginya. Tampak wajah Clarissa yang terlihat ceria saat melihat David sudah berada di depannya.


Sebenarnya David tak suka dengan kehadiran Clarissa, namun saat melihat Bella yang baru saja turun dan berada di sana, keinginannya untuk melihat kecemburuan istrinya itu muncul.


Bella yang awalnya tampak tak peduli dan langsung menyambar buah pisang yang ada di depan matanya itu tampak geram saat melihat David yang diam saja menerima pelukan dari Clarissa.


Cih, dia bilang dia tidak suka sama perempuan jadi-jadian itu. Tapi dipeluk olehnya sama sekali tak menolak. Dasar laki-laki brengsek! Bajingan kau David! Dan kau perempuan jadi-jadian mau jadi pelakor? Jangan mimpi! (batin Bella)


Ide jahilnya muncul, saat Clarissa mulai melenggak-lenggok di hadapannya.


Breettt


Clarissa terpeleset dan terjatuh saat kakinya menginjak kulit pisang yang dilempar Bella.


“Rasakan itu pelakor!” gumamnya.


“Hey, gadis bodoh! Kenapa kau lempar kulit pisang ini di sini? Kau sengaja ya,” bentak Clarissa.


“Diam! Siapa yang kau katakan bodoh? Berani sekali kau, dia itu... tunanganku Clarissa,” ucap David yang hampir saja keceplosan.


“Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sudah ribut seperti ini?” bentak Nenek Kanaya yang baru saja turun, disusul dengan Paman Han dan Tante Diana.


“Nenek, lihatlah dia! Gadis ini baru saja menjadi tunangan David tapi sudah bersikap semena-mena kepadaku,” rengek Clarissa menghampiri Nenek David.


“Memang apa yang terjadi Clarissa?” tanya Diana.


“Tante, dia melempar kulit pisang itu dengan sengaja hingga membuatku terpeleset dan terjatuh,” jawab Clarissa dengan raut wajah memohon belas kasihan.


“Bella, apa yang dikatakan Clarissa itu benar?” tanya Paman Han yang ikut bicara.


“Jika itu benar, kau benar-benar sangat lancang! Asal kau tahu Clarissa bukan hanya tamu di sini, tapi dia juga sudah kami anggap seperti putri dalam keluarga ini,” jelas Paman Han.


Cih, putri, tidak salah. Hello, Paman Tua, putrimu itu temanku. Orang yang beberapa hari ini tinggal bersamaku, namun tak kau kenali dan sekarang kau malah mengganggap pelakor ini sebagai putrimu (batin Bella).


“Kau dengar itu! Jangan hanya karena kau itu tunangan David, lantas kau bisa seenaknya memperlakukan Clarissa seperti itu,” ucap Nenek Kanaya yang membuat Bella bertambah geram.


Sabar Bella.. sabar, kau pasti bisa membalikkan keadaan (batin Bella)


“Nenek, sepertinya Bella hanya cemburu. Karena Clarissa tanpa tahu malu langsung saja memelukku,” ujar David membela istrinya.


“Tidak, apa-apa sayang. Aku tahu kau tak perlu membelaku karena apa pun yang kau katakan keluargamu tidak akan membela atau mempercayai gadis yatim piatu miskin sepertiku. Meskipun aku melakukan itu secara tak sengaja,” ucap Bella dengan berpura-pura berakting sedih dan itu membuat Han dan Diana merasa bersalah. Sedangkan Nenek David, hanya terdiam tanpa banyak bicara lagi.


Heh, kau pikir cuma kau saja yang pandai berakting. (batin Bella).


Oh, hebat juga gadis itu membalikkan keadaan. Tapi, itu tidak akan lama lagi. Aku akan segera membuat rencana yang akan membuatmu segera tersingkir dari rumah ini (batin Clarissa)


Kemudian Clarissa mengalihkan pandangannya ke arah David.


Dan untuk kau David sayangku, sebentar lagi aku akan menggunakan obat pemberian dari Lolita yang akan membuatmu tak bisa lepas lagi dari diriku (batin Clarissa dengan tawa menyeringai seolah kehadiran David saat ini akan menjadi akhir dari kemenangannya).


***


Bersambung


Akankah Clarissa berhasil dalam rencananya dan5 menjadi penggangu hubungan di antara mereka berdua?


Nantikan kelanjutan ceritanya ya...

__ADS_1


Jangan pernah bosan untuk mengklik tanda jempolnya, dan mengirimkan vote dan hadiahnya ya.. serta komentar untuk karya ini dan tak lupa menekan tanda love untuk menjadikannya karya ini sebagai favorit kalian.. terima kasih...😍😍


__ADS_2