Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 34 Wartawan


__ADS_3

Pagi itu para wartawan tampak sedang berjaga di depan kedai bakso milik Bella. Entah dari mana mereka mendapat informasi tentang tempat tinggal Bella.


“Bella, lihat!" Dilla berulang kali menepuk pipi Bella, namun ia masih saja terbaring di tempat tidurnya.


“Emm” Lagi-lagi Bella hanya menggerakkan sedikit badannya untuk mengganti posisi tidurnya.


“Ya ampun, anak ini susah banget ya dibangunin nya,” gumam Dilla.


Dilla memutar otaknya, mencari cara agar bisa membangunkan Bella yang masih setia di ranjang kasur empuk miliknya. Seketika senyum simpul terangkat dari bibirnya.


“Bella, ada David di bawah sepertinya dia menemui Neni untuk melamar kamu,” bisik Dilla yang berhasil membuat Bella beranjak dari tidurnya.


“Apa kamu bilang?? Si brengsek ini ke sini?” Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Bella.


“Hehe...Akhirnya kamu bangun juga,” jawab Dilla terkekeh yang membuat Bella tersadar dan segera melemparkan bantal tidurnya ke arah Dilla.


“Dasar, kamu membohongiku ya?!”


“Terpaksa! Lagian kamu ini tidur udah seperti orang mati saja sampai dibangunin dari tadi masih enggak bangun-bangun,” jawab Dilla.


“Emang kenapa sih kamu bangunin aku pagi-pagi sekali? ” tanya Bella malas.


“Bella, ini udah jam 8, masa kamu bilang pagi,” sahut Dilla.


“Yaelah, baru jam 8, biasanya juga aku bangun jam 1 siang,” jawab Bella.


“Ha, berarti kamu enggak shalat subuh dong?” sahut Dilla kaget.


“Shalat! Dalam mimpi,” jawab Bella.


“Astaghfirullah, kalau begitu besok kamu harus bangun jam 5. Shalat Subuh bareng aku,” ucap Dilla.


“Iya, Ustadzah,” jawab Bella yang kembali merebahkan badannya di kasur.


“E-eh.. kamu mau tidur lagi, Bell,” protes Dilla.


“Emang kenapa?” tanya Bella.


“Coba kamu lihat ini dulu sini!” sahut Dilla menarik tubuh Bella ke arah jendela kamarnya yang berada di lantai atas.


“Ada apa sih?” tanya Bella dengan malas.


“Ya Tuhan, kenapa mereka semua ke sini?” Mata Bella terbelalak saat melihat kumpulan wartawan sedang berada di depan kedainya.


“Bella,” teriak Neni dari bawah.

__ADS_1


“Oo, sepertinya Kanjeng Neni akan marah besar,” gumam Bella yang langsung keluar dari kamarnya diikuti Dilla.


“Bella, bagaimana Neni bisa buka kedai bakso kalau banyak orang seperti itu?” keluh Neni.


“Tenang Neni, Bella punya ide. Neni bersiap-siap saja seperti biasanya,” jawab Bella.


Bella membuka pintu depan yang ada di kedainya.


“Kalian cari siapa?” tanya Bella sambil berkacak pinggang.


“Eh, Nona cantik, kami mencari tunangannya Tuan David?” jawab salah satu wartawan.


Oh.. jadi mereka benar-benar tak mengenaliku, baguslah (ucap Bella dalam hati)


“Dia sedang tidak ada di sini,” jawab Bella ketus.


“Yang benar Nona? Memang kamu pikir kami percaya apa?” ucap Wartawan dengan name tag 'Nano'.


“Terserah, kalau kalian tidak percaya ya, sudah. Yang jelas kalau kalian masih menunggu di sini, maka kalian wajib membeli bakso Neni! " ancam Bella.


“Baik, Nona, kami akan beli,” jawab Nano lagi.


“Kalau begitu bayar DP nya dulu!” pinta Bella sambil menengadahkan tangannya ke arah Nano.


“Iya, lagian baru kali ini aku dengar makan bakso pakai DP dulu,” ucap wartawan yang lain.


“Ya sudah, kalau kalian tidak mau bayar, maka silakan tinggalkan tempat ini! Cari tunangan David di rumahnya saja! Jangan mengganggu orang yang sedang berjualan!” seru Bella.


“Di rumahnya? Memang Tuan David dan Tunangannya sudah tinggal bersama, Nona?” tanya Nano.


“Satu pertanyaan, satu juta,” jawab Bella.


“Haa!!” seluruh wartawan ternganga mendengar jawaban Bella.


“Wah, Nona, kamu cantik-cantik tukang peras ya,” sahut wartawan yang ternyata bernama 'Nano' tadi yang disetujui oleh wartawan yang lainnya.


“Eh, Nano-nano ini namanya bisnis. Bukan pemerasan! Kalau kalian tidak bersedia, tidak masalah. Sekarang pilihan ada di tangan kalian. Kalian mau tinggalkan tempat ini dan cari berita di tempat lain saja, atau mau menunggu di sini sambil menikmati bakso buatan Neni atau masih mau mencari informasi ke saya dengan membayar satu pertanyaan satu juta,” ucap Bella.


Mendengar ucapan Bella, para wartawan itu pun mulai berdiskusi antar satu dengan yang lainnya.


“Gimana ini? Kita tunggu di sini saja atau ke rumah Tuan David?” tanya wartawan lainnya.


“Tapi apa iya tunangannya Tuan David tinggal di rumahnya?”


“Betul sekali, bagaimana kalau gadis itu berbohong?”

__ADS_1


“Iya, benar juga. Kalau sampai dia bohong bisa habis kita,”


“Lebih baik kita tunggu di sini saja, sambil makan bakso,”


“Iya, kelihatannya baksonya enak,”


“Tapi berapa harga satu mangkoknya, jangan-jangan satu juta lagi,”


“Hehe, bisa jadi,”


Para wartawan terus berdiskusi memikirkan tawaran Bella.


“Jadi, apa keputusan kalian?” tanya Bella menghentikan percakapan para wartawan itu.


“Nona, kalau kita tunggu di sini? Harga satu mangkoknya berapa?” tanya Nano.


“Mau harga normal atau harga spesial?” tanya Bella.


“Kalau harga normalnya berapa?” tanya wartawan lain.


“Harga normalnya satu mangkuk 15 ribu. Tapi karena kalian orang-orang spesial, maka aku berikan harga spesial. Satu mangkuknya 150 ribu saja, " jawab Bella.


“Ha.. yang benar saja Nona, masa harganya jadi 10 kali lipat?” protes wartawan yang berdiri di sebelah Nano


“Jadi, mau atau tidak?” tanya Bella tegas.


“Ya sudah, baiklah. Pegel juga dari tadi berdiri di sini,” ucap salah seorang wartawan yang langsung memberikan 3 lembar uang 50 ribuan.


“DP untuk dua orang ya, Nona cantik, setengahnya lagi kalau sudah selesai, " ucap Nano sambil mengedipkan sebelah matanya pada Bella dan masuk bersama laki-laki yang sedari tadi berada di belakangnya. Wartawan yang lain pun mengikuti kedua laki-laki itu..


“Dilla, buka garasinya!” perintah Bella.


“Siap,” ucap Dilla yang dari tadi tersenyum mendengarkan percakapan Bella.


Dasar, Bella! Bisa-bisanya dia membohongi dan mengambil keuntungan dari mereka (ucap Dilla dalam hati)


Setelah para wartawan itu duduk di kursi para pengunjung, Neni mulai meracik satu per satu bakso pesanan mereka. Mereka pun memakan bakso buatan Neni dengan lahapnya.


***


Bersambung


Jika sudah mampir ke karya ini.. jangan lupa like dan votenya ya.. agar author lebih semangat.. terima kasih 😍😍😍


Oh, ya, jangan lupa mampir juga di karya author lainnya "Cintaku di Kampus Pelangi" semoga suka. 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2