
“Bagaimana semuanya? Apa gadis itu sudah menanda tanganinya?” suara dari balik telepon langsung membangunkan Lim dari tidur panjangnya. Diliriknya jam dinding yang jarum jamnya menunjuk ke angka 4 dan 9, yang berarti pukul 04.45 pagi.
Lim yang baru tersadar siapa yang meneleponnya segera bangkit dan mendudukkan dirinya dengan malas di atas ranjang.
“Maaf, Bos, saya belum berhasil menemuinya,” ucap Lim dengan suara serak khas bangun tidur.
“Kenapa? Apa gadis tengik itu sedang tidak ada di rumahnya? Jangan-jangan seperti malam itu lagi? Dia pergi adu balap liar dengan beberapa pemuda berandalan di sirkuit jalanan sana?” tuduh David dengan nada kesal.
“Maaf, Bos, bukan begitu. Saya sama sekali tidak tahu Nona Bella ada di rumahnya atau tidak. Karena semalam ada sedikit kecelakaan sehingga saya belum sempat menemuinya,” jelas Lim.
“Apa?! Kamu bilang KECELAKAAN? Lalu, mobilku tidak apa-apa kan?” tanya David.
Aih, si Bos ini, bukannya bertanya tentang keadaan diriku dulu, malah mobil itu duluan yang ditanya. (batin Lim).
“Tidak, Bos, mobilnya masih aman terkendali, tidak ada yang lecet sedikit pun, kaca spion nya juga masih utuh, ” jawab Lim.
“Lalu kecelakaan apa? Kamu tidak menghamili anak gadis orang kan Lim?” tuduh David.
Ya Tuhan, kenapa semakin kemari otak si Bos itu semakin kusut saja. Sepertinya dia sudah tertular penyakit yang sama dengan tunangannya yang kencleng itu (batin Lim lagi).
“Mana mungkin saya menghamili anak gadis orang Bos, menyentuh wanita saja saya belum pernah. Bos tahu sendiri kan saya ini masih perjaka tong tong,” sahut Lim.
“Kalau begitu kata kan dengan jelas! Kenapa hingga saat ini gadis tengik itu belum menanda tanganinya! Jangan berputar terus seperti gangsing!” perintah David.
“Baik, Bos begini ceritanya....”
Dengan berat hati karena ia merasa sudah tak ada pilihan lain, Lim pun mulai menceritakan semua kejadian yang dialaminya saat dirinya ingin mengantarkan surat perjanjian itu kepada Bella malam itu.
Dimulai saat ia menggedor pintu garasi kedai bakso Bella, namun tak ada jawaban, disiram Nenek Bella dari lantai atas, hingga akhirnya mendapat siraman air kembali dari tetangga Bella yang menyebabkan surat kontrak yang dibawanya itu basah sehingga ia harus meminta pengacara untuk kembali membuatnya. David yang mendengar cerita Lim, langsung tertawa terbahak-bahak. Tawa yang jarang sekali, Lim dengar dari David.
“”Ha ha ha, akhirnya kau kena batunya juga! Gimana rasanya dikerjai oleh nenek gadis tengik itu, ha?” ledek David.
“Diperlukan banyak kesabaran,” jawab Lim datar.
“Ha ha ha, tidak aku sangka seorang Lim yang biasa melakukan semua pekerjaannya dengan SEMPURNA, sekarang bisa dibuat mati kutu dan menyerah juga, ha ha ha,”
David masih belum bisa berhenti tertawa, ia masih membayangkan ekspresi Lim saat harus mendapat dua kali siraman dari nenek Bella dan tetangganya.
__ADS_1
“Tertawalah terus Bos, tertawalah,” gumam Lim jengkel.
“Tapi kau masih beruntung, setidaknya Nenek Bella itu masih menyiram dirimu dengan air bersih bukan dengan air bekas cucian piring dari mangkuk- mangkuk bakso itu karena kalau ia sampai melakukan itu, pasti badanmu saat itu akan sangat bau dan menjijikan,” ucap David.
“Iya, saya memang masih beruntung, Bos. Sangat beruntung. Setidaknya saya bisa mengganti kemarahan Bos di pagi hari ini dengan tawa yang renyah,” sahut Lim.
“Kau benar, alasanmu itu bisa kuterima. Sekarang, telepon kembali pengacara itu, saya harap dia sudah ada saat kita sampai di kantor,” tegas David.
“Baik, Bos akan kutelepon pengacara itu sekarang. Tapi, apa Bos berniat mengantar surat itu pagi-pagi begini?” tanya Lim.
“Iya, memang kenapa? Apa kau masih trauma dengan kejadian malam itu?” ledek David.
“Sedikit,” jawab Lim jujur.
“Pengecut,” umpat David.
Lim hanya menghela nafas mendengar perkataan David.
“Bos, bagaimana kalau kita minta Nona Bella ke kantor saja? Dengan begitu karyawan kita bisa mengenal Nona Bella sebagai tunangan Bos? Dan itu juga bisa membuat sandiwara Bos semakin meyakinkan,”
“Bagus juga, kalau begitu sekarang hubungi juga gadis itu,”
“Baik, Bos,”
Lim menutup telepon David, setelah memastikan bosnya itu sudah benar-benar menutup teleponnya. Ia mulai mempersiapkan dirinya menuju rumah David, untuk pergi bersamanya ke perusahaan tempat mereka bekerja.
Tak lupa, Lim juga menelepon kembali pengacara itu dan memintanya untuk segera menemui Lim di kantor mereka tepat sebelum dia dan David tiba.
“Bagaimana suratnya sudah siap?” tanyanya saat telepon itu sudah diangkat.
“Sudah, Tuan,”
“Kalau begitu segera temui saya dan Bos David di kantornya karena ia ingin kau sudah berada di ruangannya saat kami tiba,”
“Baik, Tuan,”
Setelah menghubungi pengacara, Lim menekan nomor ponsel Bella. Cukup lama ponsel itu berdering, namun tak ada yang menjawab.
__ADS_1
Lim tak ingin membuang waktu lebih lama. Ia segera menutup telepon dan melanjutkan kembali aktivitas paginya.
***
Seperti hari-hari biasanya, sebelum pergi ke kantor, Lim menjemput David terlebih dahulu di rumahnya untuk menjemputnya. Mobil miliknya ia parkir di garasi mobil milik keluarga Erlangga dan kemudian memilih mobil untuk dibawanya ke kantor.
Dalam perjalanan, David yang sedari tadi menahan dirinya untuk tak menanyakan tentang Bella kembali bersuara.
“Bagaimana gadis itu? Apa kau sudah meneleponnya? Apa dia mau datang ke kantor?” tanya David beruntun.
“Sudah, Bos. Saya sudah meneleponnya, tapi teleponnya masih belum diangkat,” jawab Lim.
“Belum diangkat? Bagaimana bisa?” Lim mengangkat bahu mendengar pertanyaan David itu kemudian ia berkata kembali, “Mungkin masih tidur, Bos.”
“Masih tidur? Bisa jadi, hidupnya kan memang banyak kejutan. Kalau begitu kau hubungi dia nanti saja lagi setelah kita menemui pengacara itu,” ucap David.
“Baik, Bos,”
Lim terus melajukan kendaraannya hingga sampai ke bangunan mewah yang sering disebut gedung pencakar langit. Gedung itu disebut gedung pencakar langit karena tinggi bangunan itu sangatlah tinggi. Saking tingginya, bangunan itu seolah mencapai langit.
Dengan langkah tegap Lim dan David memasuki kantornya. Seperti biasa kehadiran mereka berdua selalu menjadi sorotan bagi para karyawannya, terutama karyawan wanita.
“Ya ampun, Bos David dan Tuan Lim semakin hari semakin tampan saja, ingin rasanya aku bisa bersanding dengan salah satu dari mereka berdua,” bisik seorang resepsionis yang berjaga di lobby.
“Hus, kalau mimpi jangan ketinggian, Lin. Nanti, saat jatuh akan sangat sakit rasanya,” sahut resepsionis yang lain.
“Tapi aku rasa, aku jauh lebih cantik dari tunangannya Bos David. Jika gadis jelek penjual bakso itu saja bisa memikat Bos David, kenapa aku tidak? Jelas-jelas aku terlihat 100 kali lebih cantik daripada gadis yang mengaku tunangannya itu kan?” ucap resepsionis bernama Alin dengan penuh percaya diri.
“Iya, yah.. aku juga gak nyangka selera Bos David bisa aneh seperti itu. Jangan kan dengan kamu Lin, dengan aku aja sepertinya aku masih lebih cantik dari dia,” sahut Dara resepsionis lainnya.
Meski bisikan para karyawan itu terdengar jelas oleh David, namun ia sama sekali tidak mempedulikannya karena kenyataannya bagi dirinya sosok Bella masih terlihat lebih cantik dibandingkan para karyawannya itu.
Lihat saja ketika kalian melihat rupa tunanganku yang sesungguhnya. Apa kalian masih berani membandingkan diri kalian dengan dia? Hus, bicara apa aku ini tidak mungkin kan aku merasa gadis tengik itu lebih cantik dari mereka (batin David).
***
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih telah memberikan like dan vote terhadap karya ini, serta menjadikan karya ini favoritmu.
Salam hangat dan sehat selalu untuk semua 😍😍