
Sampai di pintu keluar, suara tawa Bella dan David masih saja terdengar dan itu membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang juga baru saja keluar dari rumah hantu tersebut.
“Ha ha ha,” tawa Bella dan David bersamaan.
“Wah, saking ketakutannya mereka benar-benar jadi gila ya,” ucap salah satu pengunjung. Mendengar kata ‘takut’ tawa Bella dan David malah menjadi semakin keras.
“Iya, iya, sayang sekali ya, padahal yang satu cantik dan satunya lagi tampan,”
“Apa hubungannya? Penyakit gila itu tidak mengenal cantik atau pun tampan,”
“Iya, juga ya,”
Bisik-bisik itu terus saja terdengar seiring kepergian mereka meninggalkan David dan Bella yang kini tengah terduduk di kursi taman.
Bella yang sudah bisa menghentikan tawanya, kini melihat ke arah David yang masih saja tertawa.
Dia benar-benar tampan saat sedang tertawa seperti itu (batin Bella).
Sadar dirinya diperhatikan Bella sedari tadi, David pun menghentikan tawanya dan..
Pletak, menyentil kening Bella.
“Iih, kau ini suka sekali menyentil orang,” kata Bella ketus.
“Aku hanya sedang menyadarkanmu karena aku takut kalau kau terlalu lama memandangku kau bisa jatuh cinta kepadaku,” ucapnya.
“Cih, mana mungkin aku bisa jatuh cinta sama Bos sombong sepertimu,”
“Lalu tadi apa?”
“Apanya yang apa?"
“Kau pikir aku tidak lihat kalau kau sedari tadi memandang ke arahku,”
“Kau salah paham. Aku melihatmu karena aku memang lebih suka melihat kau tertawa daripada marah-marah enggak jelas,”
“Cih, enggak mau ngaku,”
“Apanya yang enggak mau ngaku? Sekarang cepat lepas jas dan dasimu itu!” bentak Bella.
“Apa?! Kau jangan melecehkanku ya?” Menutupi dada dengan kedua tangannya.
Bella yang geram melihat tingkah David, langsung mencubit perutnya.
“Aw..,” pekik David.
“Dasar mesum.. siapa yang mau melecehkanmu, hah?” masih terus mencubit perut David.
“La-lalu ke-kenapa kau memintaku me-melepas jas dan da-dasiku?” tanya David terbata karena tak tahan dengan cubitan Bella.
Bella lalu melepaskan tangan yang mencubit perut David, kemudian menghela nafasnya perlahan.
“Aku memintamu melepas jas dan dasimu itu karena penampilanmu saat ini tampak terlalu formal,”
“Lihatlah, aku saja hanya memakai jaket dan kaos,” lanjutnya.
“Iya, aku tahu. Itu karena tadi setelah rapat aku langsung datang kemari dan belum sempat berganti pakaian,” ucap David.
“Oh.. begitu,”
__ADS_1
David melepas dasi dan jas yang dikenakannya. Lalu membuka dua kancing bagian atas kemejanya. Sesudah itu ia menggulung lengan panjangnya itu hingga sampai ke siku dan itu membuat penampilan David terlihat semakin macho.
“Lim dan temanmu itu lama sekali ya?” tanya David saat masih tak melihat Lim dan Dilla. Tampaknya kedua orang itu masih belum keluar dari rumah hantu tersebut.
***
Di rumah hantu tersebut
“AAAA” Teriak Lim dan Dilla bersamaan saat melihat potongan tangan berdarah menempel tempat di pundak Lim. Ia lalu membuang potongan tangan berdarah dan itu menarik lengan Dilla untuk mengajaknya berlari bersama.
Belum hilang rasa lelah mereka karena berlari, tiba-tiba sesosok makhluk terbungkus kain kafan menghampiri mereka dengan cara melompat-lompat.
“Po-po-pocong,” teriakan dua orang itu terdengar kembali.
Mereka terus berlari melewati kutilanak dan drakula palsu hingga sampai ke pintu keluar.
“hah hah hah,” terdengar suara nafas mereka yang memburu karena kelelahan.
“Hey,” teriak Bella ke arah keduanya.
David dan Bella mendekat ke arah Lim dan Dilla yang baru saja mengistirahatkan diri mereka setelah berlari di sepanjang lorong rumah hantu.
“Akhirnya” ucap Lim sebelum tubuhnya roboh menimpa David.
“Lim, kau ini merepotkan sekali!” teriak David.
Kemudian tubuh Lim dibopong menuju kursi yang ada di taman dekat kawasan rumah hantu tersebut.
“Bagaimana ini kita tidak bisa melanjutkan permainan kalau Lim masih saja pingsan seperti itu?” tanya Dilla.
“Sekretarismu itu sungguh payah,” ejek Bella.
“Sekarang bagaimana? Kenapa Lim masih belum bangun? Apa perlu kita membawa dia ke rumah sakit?” tanya Dilla.
“Tidak perlu sampai seperti itu kali, Dill. Cuma pingsan doang, kita bangunkan dia pelan-pelan juga pasti sadar,” jawab Bella santai.
“Lalu bagaimana cara kita menyadarkannya? Di antara kita kan tidak ada yang membawa minyak kayu putih?”
“Ah, itu gampang, "
“Bos, coba kau lepas kaos kakinya!” Pinta Bella.
“Apa?! Kau minta aku melepaskan kaos kakinya? Tidak mau. Itu menjijikan,” tolak David.
“Kalau begitu lepas kaos kakimu saja,” tawar Bella.
“Buat apa?” tanya David bingung.
“Ikuti saja! Kau ingin sekretarismu cepat sadar bukan?” sahut Bella.
David melepas kaos kakinya dan memberikannya pada Bella.
“Kenapa diberikan kepadaku?”
“Bukankah kau yang minta,”
“Berikan pada Lim! Tempelkan di dekat hidungnya sampai dia sadar,”
“Oh,”
__ADS_1
David melakukan apa yang dikatakan Bella. Kaos kaki yang telah ia lepas itu, ia tempelkan di dekat hidung Lim.
“Hatchiuuu,” Lim tersadar.
“Bos, ini apa?” teriak Lim bangkit dan menyingkirkan kaos kaki yang berada di dekat hidungnya.
“Itu obat agar kau cepat sadar!” sahut David.
“Bos, ini!” ucap Lim geram. Ia tak melanjutkan lagi perkataannya karena ia tahu akan sangat percuma bila harus berdebat dengan bosnya itu.
Setelah Lim sadar, mereka melanjutkan kembali aksi yang sempat tertunda. Bella mengajak ketiga temannya itu untuk mencoba berbagai macam permainan yang ada di tempat itu. Mulai dari lempar bola, pancing ikan, komedi putar, kora-kora, dan yang terakhir adalah bianglala.
“Sekarang kita naik itu, yuk!” ajak Bella.
“Saya tidak ikut Nona, kepala saya masih sedikit pusing,” tolak Lim.
“Ih, kamu itu sama saja dengan Dilla, baru naik kora-kora seperti itu sudah pusing,” ucap Bella.
“Bel, aku juga tidak ikut aku temani Lim saja di sini,” sahut Dilla.
Sebenarnya Dilla ingin bermain bianglala, tapi ia ingin memberikan kesempatan untuk Bella dan David agar bisa berdua saja.
Aku sudah memberikan kesempatan padamu David. Aku harap kau bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya (batin Dilla).
Bella memegang tangan David, mengajaknya menaiki bianglala.
David tersenyum senang melihat sikap Bella yang lebih lembut dari biasanya.
Mereka berdua masuk dan duduk berdekatan dalam bianglala tersebut. Bianglala itu mulai bergerak naik ke atas, berputar secara perlahan layaknya kincir raksasa.
“Kau tahu David. Aku pertama kali menaiki wahana ini saat aku berumur 6 tahun. Waktu itu masih ada Ayah dan Bunda bersamaku,” ucap Bella sedih.
“Aku tahu perasaanmu. Ikhlaskan mereka dan biarkan mereka tenang di surga sana,” mengelus lembut rambut Bella.
David sangat mengerti perasaan Bella saat ini karena ia sendiri sudah kehilangan kedua orang tuanya saat usianya baru berumur 5 tahun.
“Bella, kau tahu, aku pernah mendengar sebuah cerita. Dalam cerita itu katanya bila ada pasangan yang berjanji setia saat kincir ini sudah sampai di puncak, maka pasangan tersebut tidak akan pernah terpisahkan,” ucap David.
“Lalu apa hubungannya dengan kita? Kita kan bukan pasangan yang sesungguhnya,” ucap Bella.
“Tapi bagaimana kalau aku ingin menjadikanmu pasanganku yang sesungguhnya? Apakah kau bersedia menerimaku, Bella?” tanya David menatap lembut wajah Bella yang kini berada dekat dengannya.
Jantung Bella saat itu juga berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia tampak tak begitu yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Benarkah seorang CEO tampan dan berkuasa menyatakan cinta kepadanya? Apakah ini mimpi atau nyata? Bila ini nyata jawaban apa yang harus ia berikan kepada David? Berbagai pertanyaan terus memenuhi benak dan pikirannya hingga Bella hanya bisa terdiam untuk beberapa saat.
***
Bersambung
Kira-kira apa jawaban Bella atas pertanyaan David ya?
Penasaran?
Nantikan kelanjutan ceritanya di episode berikutnya.
Jangan lupa like, vote, dan komen terbaikmu sebagai dukungan atas karya ini, serta menjadikannya salah satu karya favoritmu.
Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1