
Sepanjang perjalanan David dan Bella tak henti berdebat seperti anjing dan kucing. Mereka berdua saling menyalahkan satu dengan lainnya. Serta membahas segala peraturan aneh yang terkait dengan kesepakatan keduanya.
“Ingat, kalau kau tidak ingin aku sampai melanggar batasan yang kau berikan. Jangan pernah melakukan tindakan yang memancingku untuk melakukan itu atau jangan salahkan aku jika aku sampai melanggar batasan itu,” sahut David.
“Apa maksudmu? Kau pikir aku senang memancing laki-laki?” tanya Bella kesal.
“Iya, memang kalau bukan memancing apalagi disebutnya. Memakai pakaian kurang bahan seperti kemarin sampai seluruh bagian tubuhmu terlihat oleh semua orang,” cela David.
“Hey, dengar baik-baik ya.. waktu itu aku sama sekali tidak ada maksud untuk memancing. Aku hanya ingin memberi kamu sedikit pelajaran karena kamu sudah bertindak semena-mena kepadaku,” jawab Bella.
“Tapi kenyataannya bagi laki-laki normal manapun, tindakanmu yang kemarin itu sama saja dengan memancing,” sahut David.
“Oh, memangnya Tuan di sampingku itu laki-laki normal ya?” ejek Bella.
“Apa perlu aku buktikan?” tantang David.
“Cih, tidak usah.. TERIMA KASIH,” sahut Bella.
“Kalau begitu sepakat?” tanya David.
“Baiklah, aku sepakat aku tidak akan memakai pakaian seksi seperti itu lagi,” jawab Bella.
Menyebalkan, cuma sebagai tunangan pura-pura saja aturannya begitu banyak. Kebayang kalau laki-laki ini benar-benar menjadi tunanganku yang sesungguhnya (batin Bella).
“Ada lagi,” lanjut David.
“Apalagi???” tanya Bella dengan nada penuh penekanan karena geram.
“Jangan pernah terlalu dekat apalagi sampai menempel kepadaku,” ucap David.
“Ih.. Memang siapa yang suka dekat-dekat denganmu apalagi sampai menempel," ucap Bella dengan memasang gaya jijik di hadapan David.
“Iya, intinya jangan pernah lagi! Atau kau sendiri yang akan menanggung akibatnya,” ancam David.
“Lagi? Memang kapan aku pernah menempel kepadamu?” tanya Bella.
“Oh ya, kau lupa dengan kejadian saat pertama kali kita bertemu? Atau harus aku ingatkan kembali? Bagaimana kau berusaha menempel kepadaku hingga tak mau lepas. Bahkan, membuat barang berhargaku yang ada di bawah sempat terbangun karenanya,” jelas David yang membuat Bella saat itu benar-benar merasa gemas kepada David.
Lalu tanpa sadar Bella mencubit kedua pipi David dengan cukup lama sambil berkata,
"Daviid... diam!!! Kenapa kamu bicara vulgar sekali sih??”
“Aww, kau ini! Berani sekali kau mencubit pipiku! Orang tua, nenek, dan pamanku saja tidak pernah melakukannya,” ucap David dengan nada kesal sambil menurunkan kedua tangan Bella.
“Biarin, rasakan saja itu! Kalau kau terus berbicara kotor seperti tadi aku bukan hanya akan mencubit pipimu, tapi aku juga bisa melakukan yang lebih kasar lagi dari itu,” tantang Bella.
“Huh, dasar gadis tengik gila. Aku kan hanya bicara yang sebenarnya!” sahut David.
Lim yang mendengar itu benar-benar tidak kuasa menahan tawa yang sedari ditahannya.
__ADS_1
Bos, Bos, kali ini kau benar-benar mendapat lawan yang sepadan, tapi aku benar-benar tidak menyangka Bos yang biasanya bersikap dingin dan tidak banyak bicara di depan para gadis. Kali ini malah seperti bel yang sedang rusak yang tidak pernah bisa berhenti berbunyi. Telingaku saja sampai sakit mendengar perdebatan kalian berdua (ucap Lim dalam hati).
“Lim, kamu bisa berhenti dulu dan mencari toilet sebentar enggak?” bisik Dilla tiba-tiba.
“Kenapa? Apa kamu benar-benar sudah tidak bisa menahannya?” tanya Lim.
“Bukan aku, tapi justru teman yang sekarang duduk di sampingku,” jawab Dilla pelan.
“Maksud kamu aku?” tanya Lim menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, aku rasa kamu sudah tidak bisa menahannya lagi Lim. Kamu sudah terlalu banyak menahan tawa mendengar omong kosong mereka berdua. Lihat saja sekarang celanamu itu ! Kamu bahkan tidak sadar kalau celana kamu itu sudah basah sedari tadi,” ucap Dilla pelan yang sontak membuat Lim begitu terkejut dan langsung menginjak rem mobilnya.
Citt
“Kenapa lagi kamu Lim?” bentak David.
Lim segera melihat ke arah celananya dan ternyata memang benar, celananya itu sudah basah.
“Maaf, saya mau ke toilet sebentar karena saya benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi, Bos,” ucap Lim dengan wajah memerah karena malu.
“Kau gila, mana ada toilet di sini?” tanya David saat melihat jalanan yang sepi.
“Iya, maksud saya nanti Bos di SPBU depan,” jawab Lim.
“Ya sudah, terserah. Tapi cepatlah! Jangan terlalu lama!” perintah David.
"Siap, Bos,"
Kasihan! Apa aku sudah keterlaluan ya pada laki-laki itu? (Ucap Dilla dalam hati)
***
Sekretaris Lim segera keluar dari mobil yang ia kemudikan, setelah dirinya menemukan sebuah SPBU. Tak lupa ia mengeluarkan paper bag yang berisi celana panjang miliknya yang sempat ia beli sebelumnya saat sedang berada di Nikita Beauty and Fashion Shop.
“Uh, untung saja aku sempat membeli celana ini,” gumam Lim.
Ia segera masuk ke kamar mandi dan mengganti celananya yang sedikit basah.
“Sungguh memalukan kamu ini Lim, bisa-bisanya kamu tidak sadar kalau celana mu itu sudah basah. Mau ditaruh di mana muka itu nantinya? Mudah-mudah gadis itu tidak menceritakan apapun pada Nona Bella dan Bos karena kalau sampai mereka berdua tahu bisa-bisa habis aku dibully oleh mereka,” gumam Lim di sepanjang jalan menuju toilet.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Lim kembali dengan celana yang baru ia ganti.
“Kau ini tidur apa di toilet? Lama sekali seperti perempuan saja,” keluh David saat Lim masuk kembali ke dalam mobil.
“Maaf, Bos, tadi waktu di kamar mandi ada sedikit insiden, jadi saya terpaksa mengganti celana saya dulu,” ucap Lim berbohong.
“Insiden apa? Jangan-jangan kamu ngompol ya?” tuduh David.
“Apaan sih Bos?" sahut Lim pura-pura tak terima dengan tuduhan bosnya membuat Dilla diam-diam tersenyum mendengar hal itu.
__ADS_1
“Tolong ya, Nona Dilla cantik, kau jangan sampai memberi tahu mereka,” bisik Lim kepada Dilla yang dijawab sebuah acungan jempol oleh Dilla.
Setelah memakai sabuk pengaman, Lim mulai kembali melajukan mobilnya. David yang sedari tadi gusar menunggu Lim, kembali bisa duduk dengan tenang.
Ditatapnya Bella yang saat ini sedang tertidur pulas di sampingnya. Gadis itu merasa lelah dan bosan menunggu Lim yang pergi ke kamar mandi cukup lama.
“Cantik,” puji David dalam hatinya.
Tatapan matanya kini tak bisa lepas dari wajah Bella yang sedang tertidur. Alis yang hitam lebat, hidung mancung, dan bibir tipis berwarna merah itu tampak sangat menggoda.
David menelan salivanya, ia berusaha menahan hasratnya agar tak melampaui batas.
Ya Tuhan, sepertinya aku harus memikirkan kembali isi perjanjian itu (ucap David dalam hati sambil memijat keningnya yang terasa sedikit pening).
Sepanjang perjalanan, David melihat kepala Bella yang bergoyang-goyang. Bahkan sesekali kepala itu terbentur jendela mobil hingga membuat gadis di samping itu terbangun tiba-tiba, namun kemudian tidur kembali.
Merasa tidak tega, David pun memperbaiki posisi kepala Bella. Disandarkannya kepala gadis itu pada bahu kekar miliknya.
Pemandangan yang nampak manis, membuat dua insan yang berada di depan mereka tersenyum melihat kejadian yang mereka saksikan dari balik kaca spion yang ada di depan mereka.
Semoga nasib percintaan kalian tidak seperti Ayah dan Ibuku (batin Dilla).
Rasanya sungguh damai ketika melihat dua insan yang sedari tadi ribut layaknya anjing dan kucing, sekarang berhenti bertengkar. Semoga ini pertanda baik untuk jodoh kalian (ucap Lim dalam hati).
Mobil yang dikendarai Lim, akhirnya sampai juga di depan kedai bakso milik Bella. Di saat yang sama gadis itu pun mulai membuka matanya perlahan.
“Hoam, sudah sampai ya,” sahut Bella menggeliat.
“Sudah, sekarang cepat turun! Nanti kalau terlalu lama di sini, bisa-bisa ilermu itu mengotori mobil ini lagi,” usir David.
“Cih, sombong sekali!” sahut Bella yang langsung turun dan keluar dari mobil. Diikuti Dilla yang menyusul Bella turun.
“Besok, datanglah ke kantorku untuk menandatangani kontrak perjanjian yang tadi kita bicarakan,” sahut David
“Hah, merepotkan sekali! Kenapa tidak kau antarkan saja ke sini?” protes Bella.
“Baiklah, nanti Lim saja yang akan antarkan. Sekarang kami pamit dulu. Salam buat calon Nenek mertua ya?” sahut David menggoda Bella.
“Dih, siapa juga nenek mertuamu,” gumam Bella tak terima.
Setelah berpamitan, David lalu memerintahkan Lim untuk melajukan kembali mobilnya. Seiring hembusan angin dan laju putaran roda kendaraan, sebuah senyum tampak merekah di wajah David.
Indahnya yang sedang jatuh cinta (ucap Lim dalam hati)
***
Bersambung
Jangan lupa berikan dukungan kalian lewat like, vote, komentar dan jadikan favorit ya...😍😍😍
__ADS_1
Terima kasih.. 🙏🙏🙏