
Sekretaris Lim setengah berlari mengejar Dilla, saat gadis itu baru saja keluar dari ruangan Bella.
“Dilla, tunggu sebentar!” ucapnya saat sudah mulai mendekati gadis itu.
“Ada apa, Lim?” tanya Dilla bingung.
“Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu,” sahut Lim seraya merogoh saku jasnya mengambil sesuatu yang ada di dalamnya.
“Ini,” menunjukkan sebuah kalung dengan liontin hati milik Dilla.
“Haa,” terkejut.
“Ternyata kalung ini ada padamu,” ucap Dilla dengan wajah berseri lalu mengambil kalung itu.
“Jadi benar itu punyamu?”
“Iya, ini kalung milikku yang diberikan oleh almarhumah ibuku sebelum meninggal,” jawab Dilla jujur dengan tatapan sedih.
“Tapi dari mana kau tahu kalau kalung ini milikku?” tanya Dilla yang baru tersadar akan hal itu.
“Oh, itu Bos David yang bilang. Nona Bella bertanya pada Bos mengenai kalung itu, lalu karena aku yang menemukannya, jadi Bos memintaku untuk memberikannya padamu,” jawab Lim.
“Jadi Tuan David juga tahu mengenai kalung ini?”
“Iya, dia mengetahuinya. Makanya, dia memintaku memberikannya padamu,” jawab Lim.
Apa David melihat foto yang ada di dalmnya juga ya? (batin Dilla)
“Kalau begitu terima kasih,” sahut Dilla dengan senyuman manisnya.
“Sama-sama,” jawab Lim.
Setelah mendapatkan kalung itu kembali, Dilla mencoba memakai kalung itu lagi. Namun, ia sedikit kesulitan saat memakaikannya.
“Biarkan aku membantumu,” tawar Lim.
“Silakan jika tidak merepotkan,” jawab Dilla, kemudian mengangkat sebagian rambutnya ke atas memperlihatkan leher jenjang putihnya yang mulus.
Lim menelan salivanya, menarik nafasnya pelan guna menetralisir perasaannya.
Huuu, beginilah nasib jomblo akut (batin Lim menenangkan dirinya)
Rupanya pemandangan kedua insan itu menarik perhatian Kamel, orang yang bekerja di bagian yang sama dengan Dilla di rumah sakit itu.
“Dasar perempuan ******! Enggak bisa ya, lihat cowok ganteng nganggur dikit. Mentang-mentang baru ditinggalin Dokter Aria ke luar negeri. Eh.. dia udah cari mangsa baru aja. Huh, sebel! Pokoknya enggak bisa. Memel harus laporin masalah ini sama Dokter Lolita, biar dia yang nyampein masalah ini langsung ke Dokter Aria. Biar si ****** itu nangis bombay karena diputusin sama Dokter Aria,” gumam Kamel yang kemudian mengambil ponselnya dan memfoto adegan saat Lim dan Dilla bersama.
“Terima kasih,” sahut Dilla begitu Lim selesai membantunya memakaikan kalung.
“Sama-sama,” jawab Lim.
“Aku ke kamar Lusia dulu ya,” pamit Dilla.
“Silakan,” sahut Lim.
Dilla berjalan menjauhi Lim, membawa hati yang tak mungkin bisa digapai karena telah dimiliki oleh orang lain.
“Kuharap kau bisa bahagia bersama Aria,” gumam Lim yang kemudian meneruskan perjalanannya menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sudah mulai terasa lapar.
***
David membantu membersihkan mulut Bella setelah menyuapinya makan. Ia menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta, membuat Bella berkali-kali menundukkan pandangannya karena tak kuasa melihat tatapan David yang membuat jantungnya seakan ingin meledak.
“Kenapa malu-malu seperti itu?” goda David saat melihat Bella yang terus menghindari tatapannya.
“Mana ada? Siapa yang malu-malu?” Bella mencoba mengelak.
“Atau mau kucium lagi?” Lagi-lagi David menggoda Bella, membuat pipi Bella kembali merona.
“Cih, dasar mesum! Apa di otakmu saat ini hanya itu yang kau pikirkan?” sahut Bella.
Ia mencoba bangkit dari ranjangnya.
“Eh, kau mau ke mana?” tanya David khawatir.
“Aku mau ke kamar mandi,” sahut Bella. Dengan perlahan ia menginjakkan telapak kakinya ke lantai.
“Aww,” pekik Bella kembali duduk.
“Ada apa?” tanya David kembali khawatir.
“Telapak kakiku terasa perih,” rengek Bella.
__ADS_1
David melihat telapak kaki Bella yang kini tampak memerah dan sedikit melepuh.
“Kakimu ini kenapa?” tanya David dengan suara meninggi.
“Sepertinya itu karena tadi aku berjalan tanpa alas kaki di sekitar aspal panas,”
“Apa? Berjalan tanpa alas kaki? Memang sepatumu ke mana?”
“Bukan sepatu, aku memakai sandal jepit dan sandal jepit itu putus saat aku berusaha mengejar Nenek,”
“Cih, kau ini membuatku malu saja. Kau itu istriku, masa kau ke mall hanya memakai sandal jepit. Jangan-jangan sandal jepit yang jelek itu lagi yang kau pakai?” terka David.
“Memang aku punya sendal yang mana lagi? Aku ini cuma orang miskin yang hanya punya sepasang sandal dan sepatu yang sudah jebol,” ucap Bella kesal yang membuat David tersadar jika ia selama ini tidak terlalu memperhatikannya.
“Lalu sepatu yang dulu kita beli di tempat Nikita kau kemana kan?” Jangan-jangan kau jual lagi!”
“Cih, aku tidak serendah itu menjual barang pembelian orang lain. Aku hanya takut kalau terlalu sering memakainya sepatu itu akan rusak dan kau akan menuntutku seperti tempo hari,”
“Lalu uang sepuluh juta yang dulu kuberikan?”
“Masih kusimpan di Bank. Rencananya aku baru memakainya kalau aku sudah punya pekerjaan,” jawab Bella.
Mendengar perkataan Bella, membuat David merasa sedih. Ia tidak menyangka bahwa kehidupan yang dijalani istrinya yang selalu tampak ceria itu begitu menyedihkan.
“Kenapa kau tidak membeli sepatu atau sandal di mall itu? Bukan kah kau pergi ke mall bersama Nenek? ”
"Iya, aku lupa,”
“Baiklah, kalau begitu nanti kusuruh Lim untuk membeli semua sepatu dan sandal yang ada di mall itu untukmu, " sahut David.
“Haa,” Bella tampak kaget, ia tak menyangka David akan benar-benar melakukan itu untuknya dan semakin kaget ketika David tiba-tiba menggendongnya.
“Hei, kau mau apa?” tanya Bella panik dengan satu tangan melingkar ke leher David karena takut terjatuh.
“Tentu saja membawamu ke kamar mandi. Bukankah tadi kau bilang ingin ke sana,”
“Tapi aku ke sana karena aku ingin..,” Bella tak melanjutkan ucapannya karena ia merasa malu jika harus mengatakannya pada David.
David yang melihat Bella yang sedari tadi memegang kandung kemihnya mengerti apa yang ingin ia lakukan di kamar mandi.
“Aku tahu apa yang ingin kau lakukan. Jangan khawatir aku tidak akan mengintipnya! Untuk apa juga aku mengintip,” ucap David yang membuat Bella merasa lega.
"Aww, "
“Apa bedanya kalau begitu?” tanya Bella sewot membuat David tertawa.
“Jelas beda dong SAYANG... kalau mengintip itu diam-diam dan hanya melihat dari lubang kecil, tapi kalau melihat itu terang-terangan secara jelas di depan mata,”
“Aaa, kalau begitu lupakan saja. Aku tak ingin melakukannya,” rengek Bella sambil meronta dari gendongan David.
“Husst, diam. Tidak baik menahannya, nanti kau bisa sakit,”
“Tapi kau tidak boleh mengintipnya, apalagi sampai melihatnya,” ucap Bella.
“Baiklah, aku akan menutup mataku. Apa kau puas?”
“Benar ya? Dan awas saja kalau kau sampai berani membuka matamu,”
Cih, gadis ini benar-benar merepotkan. Padahal, cepat atau lambat aku pasti akan melihat semuanya. (batin David).
David membawa Bella ke kamar mandi dan kemudian keluar atas permintaan Bella. Meskipun awalnya ia menolak karena khawatir Bella tak bisa membersihkan bagian itunya dengan benar, mengingat tangan kanan gadis itu sedang terluka. Tapi, karena sifat Bella yang keras kepala, ia hanya bisa menerimanya. Berharap tidak terjadi apa pun di dalam kamar mandi.
***
Setelah selesai makan di kantin, Lim membeli makanan untuk Bosnya. Tak lupa ia ke ruang labotarotium untuk mengambil hasil tes DNA Dilla, serta menemui Dokter Damar meminta salep untuk Bella dan mengurus prosedur kepulangan gadis itu dari rumah sakit.
Selesai mengurus segala hal yang diminta Bosnya, Lim kembali ke ruang perawatan Bella dan mendapati gadis itu tengah tertidur dengan tangan kiri yang masih menggenggam David.
“Bos, ini makanan yang saya bawakan untukmu,” ucap Lim memberikan makanan yang dipesan David.
“Dan ini hasil tes DNA Dilla dan Paman Han,”
“Baiklah, terima kasih. David mengambil makanan dan sebuah amplop yang disodorkan Lim kepadanya,”
“Lalu kapan Bella bisa pulang?” tanya David lagi.
“Pukul 4 sore ini sudah boleh pulang,”
“Kenapa pukul 4? Terlalu lama,”
“Maaf, Tuan. Bukan kah Anda meminta saya mengajak Nona Dilla juga sakalian dan ia baru selesai bekerja pukul 4 sore ini,” jawab Lim.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu kita tunggu pukul 4 sore ini dan untuk salepnya apa kau bawa juga?”
“Iya, Tuan saya membawanya,” jawab Lim lalu memberikan salep itu kepada David.
David dengan hati mengoleskan salep itu kepada Bella.
“Lim, aku mau kau borong semua sepatu dan sandal yang ada di Mall Nuansa. Tidak boleh ada yang tersisa satu pun,”
“Baik, Tuan,” jawab Lim tanpa bertanya dan tanpa bantahan.
***
Sore pun tiba, Bella dan Lim telah berhasil membujuk Dilla untuk mau tinggal bersama dengan mereka.
“Dilla, kau tak boleh menolak permintaanku ini. Aku sudah susah payah membujuk David agar membiarkanmu tinggal bersamaku. Ini kesempatanmu untuk bisa lebih dekat dan lebih mengenal keluargamu,” ucap Bella lirih.
“Tapi Bel... aku takut. Lagi pula, aku juga harus menjaga Lusia,”
“Cih, kenapa kau penakut sekali? Kau lupa tujuanmu datang kemari. Lagi pula Ar dan Dokter Damar juga sudah menyewa perawat khusus untuk membantu Lusia,” sahut Bella yang merasa jengkel atas kepengecutan yang ditunjukkan sahabatnya itu.
“Baiklah aku ikut denganmu, ” jawab Dilla setelah memikirkan kebenaran akan perkataan Bella.
"Yeeay!!!" seru Bella senang.
Bunda, aku akan tinggal bersama Ayah. Bantu aku agar aku bisa membuat Ayah menerimaku (batin Dilla).
***
“Apa? Kau kira ini rumah pengungsian? Seenaknya saja kau membawa temannya Bella untuk tinggal di sini. Aku bisa mengerti jika kau ingin Bella tinggal di sini, tapi temannya kenapa dia harus tinggal di sini juga,”
“Nenek, apa Nenek lupa kalau sekarang Bella sedang terluka dan itu semua karena membantu Nenek. Jadi, dia memerlukan seseorang untuk membantu melayani segala keperluannya,”
“Tapi rumah ini kan tidak kekurangan pelayan. Dia bisa memakai jasa pelayan di rumah ini kapan saja,”
“Lalu bagaimana kalau Bella ingin ke kamar mandi pada malam hari Nek? Tidak mungkinkan dia harus membangunkan seorang pelayan. Atau Nenek mau kalau aku saja yang menemaninya setiap malam,”
Pletak
Memukul punggung David dengan kipas besi yang sedang dipegangnya.
“Bicara apa kau? Awas saja kalau kau diam-diam menyelinap ke kamar gadis itu!” ancam Nenek.
“Baiklah, ajak temannya untuk tinggal di sini!” ucap Nenek David yang pada akhirnya menerima Dilla untuk tinggal di sana.
***
Sementara di taman belakang
Bella, Dilla, Tante Diana, dan Paman Han sedang menikmati camilan sore.
“Jadi kamu mencoba mendaftarkan dirimu di Kampus Immperial?” tanya Tante Diana dengan senyum ramahnya. Dia senang bisa mendapat kesempatan untuk berbicara lebih banyak dengan Bella maupun temannya Dilla.
“Benar, Nyonya. Tadi pagi, aku baru saja mengikuti tesnya,”
“Semoga saja kamu berhasil diterima di kampus itu dan satu lagi jangan panggil aku Nyonya, panggil aku Tante Diana saja. Karena kamu kan temannya Bella,”
“Baik, Tante,” jawab Dilla kikuk.
“Kalau kau Bella apa kau tidak ingin melanjutkan sekolahmu seperti temanmu itu?” tanya Paman Han.
“Ah, kalau aku nanti saja. Belum kepikiran Paman,” jawab Bella.
“Bella nanti saja Paman. Biarkan Bella dan aku membuat tim kesebelasan dulu,” sahut David yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
“Cih, apa maksudmu membuat tim kesebelasan denganku?” cibir Bella.
“Apa perlu aku jelaskan sayang? Atau langsung dipraktikan saja,” goda David yang langsung mendapat cubitan dari Bella. Membuat semua orang yang berada di sana, tertawa menyaksikan tingkah keduanya.
Aku harap kau selalu bahagia dengan gadis pilihanmu David dan setelah itu aku akan pergi meninggalkan rumah ini (batin Tante Diana).
***
Bersambung
Maaf, baru bisa update ya..
Jangan lupa tetap dukung karya ini dengan memberikan like, vote, dan komennya serta jadikan karya ini favoritmu.
Sekedar info juga, cerita ini sudah mendekati babak akhir cerita ya... Jadi jangan sampai terlewatkan.
Terima kasih 💐💐💐
__ADS_1