Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 37 Tunangan Pura-pura


__ADS_3

“Dilla, dia itu siapa?” tanya Neni saat melihat penampilan Bella yang serba tertutup.


“Masa Neni tidak tahu, itu kan cucu kesayangan Neni,” ucap David menimpali.


“Bella, kenapa kamu berpenampilan seperti itu?” tanya Neni.


“Aduh, bukannya Neni sendiri yang memintaku berpenampilan seperti ini," jawab Bella.


“Kapan aku memintamu berpenampilan seperti itu?” tanya Neni bingung.


“Kemarin,” jawab Bella.


“Kemarin? Sepertinya Neni tidak pernah menyuruh kamu berpakaian seperti ini?” sahut Neni.


Bella menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbicara.


“Neni, Neni memang tidak memintaku berpakaian seperti ini, tapi Neni kan tidak suka kalau aku berpenampilan serba terbuka seperti kemarin,” sahut Bella.


“Iya, tapi kan bukan berarti kamu harus...”


“Neni, cukup!" seru Bella memotong perkataan Neni.


“Neni, maaf. Di sini ada banyak sekali wartawan kalau Neni bicara sembarangan di depan mereka, maka laki-laki di samping Neni itu akan sangat murka dan bisa-bisa nantinya kedai bakso Neni ini bakal ditutup. Neni tentu tidak mau hal itu sampai terjadi kan?” bisik Bella dengan nada mengancam.


“Tentu saja tidak,” jawab Neni.


“Kalau begitu, Neni tolong diam lah! Biarkan aku bicara sebentar dengan tunangan ku ini,” ucap Bella.


“Baiklah,” ucap Neni yang langsung meninggalkan mereka berempat.


“Tuan, untuk apa Anda datang kemari lagi? Bukankah urusan kita sudah selesai? Kita sudah impas bukan?” tanya Bella dengan nada rendah.


“Satu juta,” sahut David.


“Satu juta? Apa maksudnya?” tanya Bella bingung.


“Aku akan membayar kau satu juta setiap harinya asalkan kau bersedia membantuku untuk berpura-pura menjadi tunangan ku setidaknya selama 1 bulan?” pinta David.


“Satu juta, selama satu bulan?” tanya Bella tak percaya.


“Yap,”


Waw, Bella itu artinya 30 juta kan? (ucap Bella riang dalam hatinya)


“Tunggu kau tidak akan membohongiku kan?” tanya Bella menyipitkan matanya.


“Lim,” panggil David.


Lim yang mengerti maksud dari David mengeluarkan selembar cek dari dalam saku jasnya. Lalu, memberikan cek itu kepada Bella.


“Wow, ini... sepuluh juta?” Mata Bella terbelalak tak percaya saat melihat deretan angka nol pada cek tersebut.


“Iya, itu sebagai uang muka dari tugasmu ini,” jawab David.


“Baiklah sepakat,” sahut Bella yang langung mengulurkan tangannya kepada David.


David yang melihat itu sempat terpaku sebelum akhirnya ia menerima uluran tangan Bella.


Digenggamnya tangan Bella cukup lama hingga akhirnya suara deheman Lim menyadarkan keduanya.


“Ehem, mari Bos sudah waktunya,” ucap Lim kemudian.


Mendengar ucapan Lim, David segera melepaskan genggaman tangannya dari tangan Bella.


Kemudian dengan acuh berjalan keluar kedai meninggalkan mereka bertiga.


Ada apa ini? Kenapa setiap kali bersentuhan dengan gadis itu jantungku seolah berpacu lebih cepat dari biasanya? (ucap David dalam hati)


“Ih, dasar main pergi aja,” gumam Bella.


“Maaf, Nona Bella, Bos memang seperti itu,” sahut Lim.

__ADS_1


“Neni, aku dan Dilla pergi dulu ya ke rumah calon mertua,” pamit Bella kepada Neni yang sedang sibuk melayani para pembeli.


“Iya, hati-hati di jalan! Sampaikan salam Neni pada calon besan,” sahut Neni.


“Siap, Neni,” sahut Bella. Ia pun langsung menarik tangan Dilla untuk mengikuti langkahnya.


“Kok aku juga ikut Bel?” tanya Dilla heran.


“Tentu saja kamu juga harus ikut. Memang kamu tidak mau bertemu dan berkenalan langsung dengan ayah kandungmu. Ini kesempatan yang sangat langka untukmu,” bujuk Bella.


Mendengar itu jantung Dilla langsung berdetak kencang. Tentu saja Dilla ingin, bahkan sangat ingin. Ia benar-benar ingin sekali bisa bertemu dan berkenalan dengan ayah kandungnya, sosok yang selama ini begitu ia rindukan. Sosok yang begitu disayangi dan dicintai ibunya hingga akhir hayat.


Selain itu, Dilla juga ingin tahu apakah ayahnya mengenalinya dan jika ayahnya sudah mengenalinya, akankah ayahnya mau mengakuinya sebagai putrinya di depan semua orang? Pikiran itu langsung terbesit dalam pikirannya.


“Nona Bella, apakah Anda akan pergi bersama Nona..,” ucap Lim menggantung.


“Dilla, namanya Dilla,” jawab Bella.


“Iya, Nona Dilla, apakah Anda juga akan membawa Nona Dilla ke kediaman keluarga Erlangga?” tanya Lim.


“Tentu saja. Dilla itu sahabatku, dan dia sudah seperti bayanganku. Kemana pun aku pergi, maka Dilla juga harus ikut denganku,” sahut Bella.


“Oh, baiklah, kalau begitu,”


Mereka bertiga pun kemudian menyusul David yang sudah keluar dari kedai. Lalu masuk dan menunggu mereka di dalam mobil.


Sesampainya di depan pintu mobil, Lim segera membukakan pintu mobil untuk Bella. Bella diminta duduk di samping David.


“Hey, David, tidak bisa kah kau duduk di depan saja dan biarkan temanku saja yang duduk di sampingku,” pinta Bella.


“Kenapa? Kau takut aku akan memakanmu?” tanya David tersenyum sinis.


“Kalau iya, memang kenapa?” sahut Bella.


“Tenang saja aku tidak bernafsu sama sekali dengan dirimu itu," jawab David.


“Cih, tidak bernafsu! Lalu apa yang kau lakukan kepadaku kemarin?” tanya Bella mengingat kejadian kemarin siang waktu mereka selesai mengadakan konferensi pers di Hotel Grand XX.


“Iya, Nona cepatlah!” bujuk Lim yang sedari memegang pintu mobil menunggu Bella masuk ke dalam.


Bella lalu masuk dan duduk di dekat David.


Setelah Bella duduk, ia pun kemudian membukakan pintu mobil bagian depan untuk Dilla.


“Kenapa gadis itu ikut?” tanya David saat melihat Dilla.


“Kenapa? Dia itu teman sekaligus pengawal ku, kau takut?"


“Cih, untuk apa takut? Terserahlah,” sahut David.


Setelah mereka berempat masuk ke dalam mobil, Lim pun segera melajukan mobilnya.


“Cepat buka!” seru David.


“Apa? Dasar mesum!” sahut Bella yang langsung menutup bagian dadanya.


David yang sadar dengan maksud Bella seketika menyunggingkan senyumnya sebelum akhirnya berkata, “Heh, yang aku maksud itu bukan bajumu! Tapi CADARMU! Masa kamu mau menemui keluargaku dengan cadar seperti itu. Bisa-bisa keluargaku mengira aku membawa ******* lagi ke rumahku sendiri,”


“Hey, jangan sembarangan bicara! Orang pakai cadar itu enggak semuanya ******* tahu,” protes Bella.


“Iya, aku tahu. Tapi aku tidak peduli. Sekarang cepat lepaskan cadarmu! Atau kamu mau aku yang membukanya,” ucap David sambil menaik turunkan alisnya untuk menggoda Bella.


“I-iya, aku saja yang buka,” Bella lalu membuka cadarnya yang menutupi wajahnya itu.


Lagi-lagi David dibuat terpana melihat kecantikan Bella yang begitu natural.


Ya Tuhan, kenapa gadis tengik itu bisa terlihat begitu manis (batin David).


Sesaat tak ada satu pun dari mereka berempat yang berbicara di dalam mobil itu. Masing-masing dari mereka sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.


David yang sibuk menata hatinya agar tidak terus terpana dengan kecantikan gadis yang kini duduk persis di sampingnya itu. Sedangkan, Bella yang kini sibuk memikirkan jumlah uang yang akan ia terima dari David. Adapun, Dilla sibuk memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi saat dirinya bisa bertemu langsung dengan ayah kandungnya, dan Lim yang semakin penasaran dengan perasaan David terhadap Bella.

__ADS_1


Namun, keheningan itu ternyata hanya sesaat karena tiba-tiba...


Citttt.. Bugh!


Tubuh Bella dan Dilla terpental ke samping dua pemuda yang berada di samping kiri mereka masing-masing, saat Lim tiba-tiba menginjak rem mobil dan membanting kemudinya ke arah kiri karena adanya truk dari arah yang berlawanan menghadang mobil mereka.


“Aww,” pekik Dilla dan Bella bersamaan.


“Kalian tidak apa-apa?” tanya Lim panik seraya berusaha membangunkan Dilla yang kini berada di atas tubuhnya.


“Apanya yang tidak apa-apa? Kamu tidak lihat tubuh gadis tengik ini sampai menimpa badanku!" teriak David.


Bella yang sadar David sedang membicarakannya langsung mencoba bangkit dari tubuh David. Namun, bukannya bangkit, ia lagi-lagi malah terjatuh ke tubuh David.


“Hey, kenapa kau suka sekali menimpaku?” keluh David.


“Apa maksud kamu pria mesum? Kamu tidak lihat rambutku tersangkut di kancing jasmu?” ucap Bella yang menyadari kalau rambutnya menyangkut di kancing jas yang dikenakan David.


“Hah, kok bisa sampai tersangkut seperti ini sih?” sahut David kesal.


“Mana aku tahu,” jawab Bella ketus.


“Memang rambut kamu tidak pernah dikeramas berapa lama sih? Sampai kusut dan bisa tersangkut di jas mahal seperti ini?” ucap David yang kesulitan melepaskan rambut Bella dari kancing jasnya.


“Cih, berlebihan sekali aku itu cuma tidak keramas selama satu bulan, TAHU!” ucap Bella.


“Apa?! Jorok sekali,” umpat David yang langsung menutup hidungnya dari rambut Bella.


Lim dan Dilla yang mendengar percakapan dua orang yang kini berada di belakang mereka itu berusaha menahan tawa mereka.


“Hey, Lim! Kenapa kau cuma senyum-senyum saja? Lakukan sesuatu!” bentak David saat menyadari kelakuan anak buahnya itu.


“Tenanglah, Bos, saya menyimpan gunting di dalam laci ini,” ucap Lim yang kemudian mengambil gunting yang ada di dalam laci kecil mobil itu.


“Gunting? Buat apa kau mengambil gunting itu?” tanya David.


“Tentu saja untuk menggunting BODOH,” sahut Bella.


“Hey, gadis tengik! Bukan itu maksud dari pertanyaanku! Yang aku maksud itu dia mau menggunting apa hingga gunting itu dikeluarkan?” tanya David geram.


“Tentu saja kancing jasmu, BODOH,”


“Apa? Kancing jasku ini mau digunting? Enak saja, harga satu kancing jasku ini jelas bisa sepuluh kali lipat lebih mahal dari harga sehelai rambut jorok mu itu, GADIS TENGIK, ” sahut David.


“Cih, sombong sekali! Kalau begitu aku tidak mau bekerja sama denganmu lagi,” ancam Bella.


“Jangan coba mengancam ku gadis tengik! Lim, cepatlah!” perintah David.


Lim yang paham akan maksud dari bosnya itu langsung menggunting beberapa helai rambut Bella yang tersangkut di kancing jas milik David.


“Aaah, kalian berdua menindas ku!” rengek Bella.


“Diamlah!” bentak David. Ia pun langsung mengeluarkan beberapa lembar uang ratus ribuan dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Bella.


“Anggap ini kompensasi dari rambut jorok mu itu,” ucapnya kemudian.


Raut wajah Bella yang awalnya terlihat sedih, seketika berubah bahagia. Ia dengan semangat mengambil beberapa lembar ratus ribuan yang ada di tangan David.


“Dasar gadis matre! “gumam David saat melihat perubahan ekspresi wajah Bella.


“Lim, kita ke Nikita dulu,” ucap David.


“Baik, Bos,” sahut Lim.


Lim yang paham akan maksud David, mulai melajukan kembali mobilnya menuju ke arah jalan simpang lima yang ada di belokan sebelah kanan.


***


Bersambung


Terima kasih bagi yang telah membaca cerita hingga episode ini, nantikan kelanjutannya dan jangan lupa dukung karya author dengan memberikan like, vote, dan love untuk kamu jadikan favorit ya... 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2