
Nyanyian merdu suara burung mulai terdengar di balik jendela dapur, menambah semangat sosok pemuda tampan yang selalu tampil dengan kesederhanaannya. Lim, sekretaris rendah hati yang merupakan tangan kanan sekaligus sahabat David sedari kecil, kini tampak sibuk di dapurnya yang bernuasa putih. Nuansa warna kesayangan Bunda dan dirinya.
“Ya Tuhan, kali ini harus aku akui apa yang dikatakan Bunda selalu benar. Laki-laki itu juga harus bisa memasak. Sekali pun kita punya seorang pembantu, tetapi ada kalanya mereka tak selalu ada untuk kita,”
Menghela nafas
“Hah, Bi Lastri kenapa kau harus izin di saat yang tidak tepat seperti ini. Kenapa juga mereka harus mengungsi di rumahku? Beruntung, meski aku tidak bisa memasak berbagai makanan, setidaknya Bunda pernah mengajariku membuat nasi goreng,”
Lim terus saja berkicau di dapurnya sepanjang pagi hingga tanpa sadar ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya.
“Bos, lihatlah hari ini aku spesial membuatkan nasi goreng untukmu. Jangan mencaci makananku yang super lezat ini! Kalau tidak, akan kusunat kau biar tahu rasa,” ucapnya sambil mengiris bawang merah yang akan ia gunakan untuk memasak.
“Emang berani?” suara lembut terdengar dari arah pintu dapur.
Dilla yang sedari berdiri di dekat pintu dapur nampak menahan senyumnya mendengar ocehan Lim.
“K-kau, sejak kapan kau ada di sini?” tanya Lim.
“Sejak tadi dan aku mendengarnya dengan sangat jelas waktu kau mengatakan ‘akan kusunat kau biar tahu rasa’,” ucap Dilla menirukan suara Lim.
Membuat Lim terkejut dan tanpa sengaja mengiris jarinya sendiri.
“Aw,” pekiknya.
“Kau, kau tidak apa-apa?” tanya Dilla panik melihat jari tangan Lim terkena sayatan pisau oleh Lim sendiri.
Spontan Lim menghisap jarinya sendiri, namun rupanya darah yang keluar cukup banyak hingga tak mampu menghentikan lukanya.
“Hey, jangan seperti itu! Sebaiknya bersihkan jarimu dan akan obati nanti,” ucap Dilla yang kemudian menarik Lim dan membersihkan lukanya di wastafel.
“Tidak usah, merepotkanmu,”
“Tidak apa-apa, lagi pula ini juga salahku. Oh ya? Apa kau punya kotak P3K?” tanyanya.
“Ada di sana,” menunjuk salah satu laci yang di dalamnya terdapat kotak P3K.
Dilla yang melihat kotak tersebut, lalu membukanya dan mengambil kain kasa, obat luka, dan plester. Kemudian dengan cekatan ia memakaikan obat luka tersebut pada luka Lim dan segera menutupnya dengan kain kasa dan plester.
“Terima kasih,” ucap Lim.
“Sama-sama, maaf ya?” sahut Dilla menyesal.
“Tidak apa-apa,” jawab Lim.
Dilla memperhatikan penampilan Lim yang begitu santai dan itu membuat dirinya tampak terlihat lebih muda daripada hari-hari biasanya.
“Lim, apa kau dan Tuan David hari ini libur?”
“Tidak, kami berangkat ke kantor hari ini. Hanya karena pembantuku sekarang sedang tidak ada di rumah, jadi aku ingin menyiapkan sarapan terlebih dahulu. Baru sesudah itu bersiap pergi ke kantor,”
“Kalau begitu izinkan aku menyiapkannya ya? Kau bersiaplah dulu,” ucap Dilla.
“Tapi, apa ini tidak merepotkanmu?” tanya Lim.
“Tidak, aku sudah terbiasa melakukannya lagipula tanganmu sekarang sedang terluka,” jawab Dilla.
“Baiklah, aku akan bersiap dulu. Mudah-mudahan Bos akan menyukai masakanmu”
“Tentu saja, dia harus menyukainya kalau tidak akan kusunat miliknya,” sahut Dilla menirukan ucapan Lim.
Dilla mulai mengikat rambutnya dan memasangkan celemek pada tubuhnya. Lalu mulai meracik masakan dari bahan-bahan yang sebelumnya telah disiapkan Lim.
Sekilas sebelum meninggalkan dapurnya, Lim mencuri pandang ke arah Dilla. Senyum tampak menghias di wajah tampannya. Ada kekaguman yang tanpa sadar mulai masuk ke dalam relung jiwanya, melihat kelembutan dan kecantikan dari gadis yang sekarang sedang bermain dengan wajan dan spatula di dapur rumahnya.
***
Saat ini David telah siap dengan stelan jas rapihnya, matanya berkelana ke tiap sudut ruang seolah sedang mencari seseorang.
“Cari siapa, Bos?” tanya Lim yang sedari tadi memperhatikan tingkah bosnya.
__ADS_1
“Gadis itu belum bangun?” sahut David.
“Maksud Anda Nona Bella?”
“Siapa lagi? Tidak mungkin kan aku mencari pembantumu,” ucap David jengkel.
Mereka berdua kini sudah berada di ruang makan dan duduk di meja makan yang ada di ruangan itu. Di atas meja makan itu telah tersaji beberapa menu makanan dan minuman. Di antara menu-menu tersebut yang paling mengunggah selera adalah nasi goreng seafood yang dibuat dalam porsi yang cukup banyak.
“Wah, harum sekali. Siapa yang telah memasak semua ini? Bukankah kau bilang pembantu di rumahmu sedang pulang kampung. Apa kau yang menyiapkan ini semua?”
Belum sempat Lim menjawab, Dilla sudah berdiri di hadapan mereka sambil membawa beberapa gelas dan piring kosong, lalu menyajikannya di dekat mereka.
“Bagaimana mudah-mudahan menu yang kubuat cocok dengan selera kalian ya?” ucap Dilla.
“Kau yang menyiapkan semua ini?” tanya David.
“Iya, Tuan. Mudah-mudahan Anda suka,” jawab Dilla.
Kenapa menu-menu di sini sama dengan yang ada di rumahku? Apa gadis ini tahu apa yang aku suka? Ah, mungkin Lim yang memberi tahukannya (batin David).
“Tuan, saya tidak tahu minuman apa yang Anda sukai, tapi saya buatkan teh lemon hangat ini untuk Anda,” menyodorkan secangkir teh lemon hangat kepada David.
“Mudah-mudahan Anda menyukainya, tapi jika Anda tidak menyukainya, Anda boleh mengganti menu yang lain,” ucapnya kemudian.
“Tidak, aku suka dengan teh lemon ini. Justru aku malah merasa heran dari mana kau bisa mengetahui semua ini?”
“Tidak, aku hanya mengira-ngira saja. Aku pikir akan menyenangkan meminum teh lemon hangat di pagi hari. Oh ya, aku juga membuatkan nasi goreng seafood untuk Anda dan bila Anda tidak menyukainya aku juga menyiapkan roti bakar dengan berbagai aneka rasa,” sahut Dilla.
“Tidak, aku juga suka dengan nasi goreng seafood,”
“Oh, baguslah, aku akan mengambilkannya untuk Tuan,” sahut Dilla lalu mengambilkan sepiring nasi goreng untuk David.
Aneh, gadis ini tampak perhatian sekali pada Bos. Dia bahkan mengetahui semua makanan dan minuman yang disukai Bos. Apa jangan-jangan gadis ini menyukai Bos? (ucap Lim dalam hati).
Terselip perasaan tidak senang di hati Lim saat melihat perhatian yang ditunjukkan Dilla pada bosnya.
Sebenarnya aku tidak yakin dengan jawaban yang diberikan gadis ini. Bagaimana bisa hanya dengan mengira-ngira seperti itu dia bisa mengetahui makanan dan minuman kesukaanku? Apa jangan-jangan dia mengetahui semua ini dari Bella? Apa Bella yang menyuruhnya membuatkan semua ini untukku? Sepertinya gadisku ini diam-diam menaruh kepeduliannya tehadapku. (Ucap David dalam hati, lalu tersenyum diam-diam).
“Boleh,” jawab Lim.
Dilla pun mengambilkan nasi goreng dan minuman yang diinginkan Lim untuknya. Ada rona bahagia terpancar di wajah Lim saat Dilla juga menunjukkan perhatian kepadanya. Hal itu tak luput dari perhatian David.
“Ehem, sepertinya ada yang sudah menemukan Nyonya rumahnya di sini,” sindir David yang membuat Lim terbatuk.
“Uhuk, uhuk, apa maksud Anda, Bos? Jangan bicara sembarangan!” sahut Lim sambil memperhatikan Dilla yang nampaknya tak bereaksi dengan ucapan David.
Dilla diam saja bukan karena menyetujui ucapan David, namun ia mengerti bahwa itu hanya sebuah gurauan yang tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Dilla pun duduk bersama David dan Lim menikmati sarapan pagi mereka.
Untung makanan dan minuman yang disukai David sama dengan makanan dan minuman kesukaan aku dan Ayah. Mudah-mudahan dia juga suka dengan rasanya (batin Dilla).
Sebenarnya Dilla tak mengetahui makanan atau pun minuman kesukaan David. Ia hanya menerkanya saja. Mengingat almarhumah ibunya pernah bercerita bahwa ayah dan almarhum kakeknya, Tomi Erlangga, juga sangat menyukai makanan dan minuman jenis ini. Begitu juga dengan dirinya yang memiliki selera yang sama dengan mereka.
“Bella, mana? Mengapa dia tidak ikut sarapan?” tanya David sambil menyuap makanannya.
“Masih tidur. Dia itu memang tidak pernah bisa bangun pagi. Biasanya dia baru bangun kalau mendengar teriakan Neni,”
“Hah, dasar gadis pemalas!” ucap David menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ketiga orang itu terus menikmati sarapannya. Sesaat suasana di ruangan itu menjadi hening hingga suara Dilla memecah keheningan tersebut.
“Oh ya, Tuan bolehkah aku minta tolong,” pinta Dilla.
“Minta tolong apa?” tanya David.
“Bisakah Anda membujuk Neni agar tidak marah lagi pada kami dan mengizinkan kami pulang?”
“Kenapa harus aku?”
“Karena Neni pasti akan mendengar ucapan Anda,”
__ADS_1
“Baiklah, nanti akan kupikirkan,”
“Terima kasih, Tuan,”
“Kalau begitu untuk hari ini sampai aku dan Lim pulang, kalian tinggallah dulu di sini,” ucap David yang membuat Lim menatap ke arahnya.
Hey, Bos, ini rumah siapa? Rumahku atau rumahmu. Hebat sekali Anda menyuruh orang tinggal di sini tanpa bertanya dulu kepada pemiliknya (batin Lim).
Dilla yang paham maksud tatapan Lim pada David tersenyum, lalu berkata..
“Terima kasih, Tuan. Tapi, sebaiknya Anda tanyakan hal ini dulu kepada pemiliknya,” ucap Dilla yang membuat David langsung menatap Lim dengan tatapan penuh ancaman.
“Tentu, tentu saja aku setuju dengan yang dikatakan Bos,” sahut Lim.
“Kau sudah dengarkan?” ucap David.
“Kalau begitu terima kasih, tapi untuk saat ini aku harus pergi bekerja ke rumah sakit. Jadi, mungkin hanya Bella yang tinggal di sini,”
“Rumah sakit?” tanya Lim.
“Iya, aku bekerja sebagai petugas kebersihan di sana,”
“Biasanya kau ke sana berangkat naik apa?” tanya Lim.
“Biasanya aku diantar Bella naik motornya, tapi untuk hari ini mugkin naik angkot dulu karena motor Bella kan ada di rumah Neni,”
“Kalau begitu biar kami yang antar,” tawar David.
“Ti-tidak usah Tuan, ini pasti merepotkan kalian,”
“Tidak apa, anggap saja ini sebagai upah karena kau telah membuatkan masakan untuk kami,”
“Baiklah, terima kasih,”
Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka bertiga bersiap untuk berangkat ke tempat kerja mereka masing-masing. Sebelum berangkat, Dilla membawakan sarapan ke kamar Bella.
“Bella, aku berangkat,”
“Ugh,” jawab Bella dengan mata terpejam.
Setelah berpamitan pada Bella, Dilla masuk ke dalam mobil David. Saat mobil mereka melewati pintu gerbang, David membuka kaca mobilnya dan memberi isyarat pada Edo.
“Edo, di dalam masih ada Nona Bella. Dia sekarang sedang tidur. Aku harap kau jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia keluar tanpa memberi tahu kami terlebih dahulu. Dan ingat aku tidak ingin ada luka di badannya sedikit pun. Mengerti?!”
“Siap, Bos,”
Hadeuh, si Bos ini memangnya siapa yang berani melakukan kekerasan pada gadismu itu? Bisa-bisa kepalanya bakal bocor dilempar batu (batin Lim).
Mobil mereka mulai melaju meninggalkan kediaman Lim. Lim sengaja memilih jalan yang dekat dengan rumah sakit agar bisa mengantar Dilla terlebih dahulu.
Sesampainya di gerbang depan halaman rumah sakit, Dilla turun dan berpamitan pada keduanya. Sesaat setelah Dilla meninggalkan mobil mereka, Lim menemukan sebuah kalung yang sepertinya terjatuh dari leher gadis itu.
“Ada apa Lim?” tanya David saat melihat mobil mereka belum bergerak.
“Sepertinya ini punya Dilla,” memperlihatkan kalung dengan liontin hati berwarna merah muda.
“Iya, sepertinya memang punya dia karena tadi aku sempat melihat dia memakai itu dari balik kaca spion. Dan kau tahu Lim, sepertinya aku pernah melihat liontin itu tapi di mana ya?” ucap David mencoba mengingat-ingat liontin yang dipakai Dilla.
Liontin yang di dalamnya terdapat rahasia besar tentang jati diri Dilla yang sesungguhnya. Liontin yang akan membawanya pada keluarga Erlangga.
****
Bersambung
Akankah jati diri Dilla terungkap di hadapan David dan Lim?
Penasaran? Temukan jawabannya di episode selanjutnya.
Jangan lupa terus dukung karya ini dengan memberikan like, vote, dan komen terbaiknya. Terima kasih. 💐💐
__ADS_1
Salam sayang dan sehat selalu. 😘😘😘