
“Kurang ajar! Siapa yang mengajari cucu kesayanganku sampai bisa berpikiran bodoh seperti itu?” bentak sang Nyonya Besar dengan tangan yang dikepal.
Ia benar-benar tidak habis pikir jika David yang selama ini menjadi cucu kesayangan dan kebanggaannya itu bisa memberikan persyaratan bodoh seperti itu hanya untuk membuatnya kembali ke rumah ini lagi.
“Diana, aku mempercayakan cucuku David padamu dan Han untuk kau rawat dan kau didik. Tapi, seperti ini kah caramu mendidik cucuku. Menjadi seorang pembangkang dan tidak patuh,” ungkap sang Nyonya Besar dengan nada penuh kekecewaan.
“Maafkan aku, Ma. Jika aku tak bisa mendidik David sesuai dengan keinginan Mama,” hanya itulah kalimat yang bisa dikeluarkan Diana untuk saat ini.
“Nyonya, maaf jika saya lancang. Tapi, bolehkah saya memberikan saran?” kata Bibi Mun yang sejak tadi berada di ruangan yang sama dengan mereka dan ikut mendengarkan pembicaraan yang terjadi antara menantu dan mertuanya itu.
“Katakanlah saranmu, Mun!” seru Nenek David.
“Menurut saya tidak ada salahnya jika kita menerima persyaratan yang diminta Tuan Muda, Nyonya. Dengan demikian, Tuan Muda bisa melihat perbedaan yang terjadi antara dirinya dan juga tunangannya. Selain itu, dengan mengizinkan dia tinggal di sini itu akan lebih mudah bagi kita untuk mengawasi mereka berdua. Setidaknya dengan begitu mereka tidak akan melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan seperti... Maaf, Nyonya saya pikir Anda pasti tahu maksud saya,” jelas Bibi Mun.
“Iya, apa yang dikatakan Bibi Mun benar Mama. Jangan sampai nantinya kita mendapat kabar yang lebih memalukan hanya karena kita sama keras kepalanya dengan dia,” sahut Diana.
Nenek David terdiam, ia berusaha menerima dan mempertimbangkan masukan yang diberikan orang kepercayaannya Mun dan juga menantunya Diana. Apa yang mereka katakan ada benarnya. Lagi pula dengan keberadaannya di sini akan lebih mudah bagiku memberikan gadis gembel yang tidak tahu diri itu pelajaran (pikir Nenek David).
“Baiklah, aku setuju dengan apa yang kalian katakan. Mun, siapkan kamar untuk gadis itu! Ingat, jangan terlalu berdekatan dengan cucuku yang bodoh itu! Kurasa kamar pembantu di rumah kita juga cukup layak baginya. Dan kau Diana, katakan pada David kalau aku menyetujui persyaratannya dan aku berharap dalam waktu 1 x 24 jam, dia sudah bisa kembali ke rumah ini,” kata Nenek David tegas.
Sementara di balik dinding yang membisu itu, tampak Clarissa yang diam-diam mencuri dengar pembicaraan mereka.
Oh, seperti itu rupanya, ternyata David ingin gadis gembel itu tinggal di sini. Baiklah, aku sama sekali tidak takut dengan gadis gembelnya itu. Akan aku buktikan bahwa aku, Clarissa, seratus kali lipat lebih baik darinya. Dan kau gadis gembel, bersiaplah untuk menerima pelajaran dariku. (batin Clarissa dengan senyuman jahatnya).
Setelah mendengar perintah dari mertuanya, Diana bergegas keluar dan itu membuat Clarissa cepat-cepat berjalan menjauh dari kamar itu. Namun, belum sempat berjalan jauh suara Diana menghentikannya.
“Jadi kau sudah mendengar semuanya?” tegur Diana.
Clasrissa pun berbalik, menoleh ke arah Diana.
“Benar, Tante Diana Sayang, aku tanpa sengaja sudah mendengar semua yang kalian bicarakan. Hanya saja dari caramu berbicara aku bisa menebak bahwa kau berpihak pada gadis gembel itu. Benar kan?”
“Maaf Clarissa, aku sama sekali tidak berpihak pada siapa pun karena satu-satunya yang kuinginkan hanyalah kebahagiaan David,”
“Aku harap Tante mengatakan yang sebenarnya. Karena sejujurnya aku kecewa pada Tante yang seolah-olah tidak pernah mendukungku dalam hubunganku dengan David. Padahal, Oma Anna sudah menganggap Tante seperti anak kandungnya sendiri. Dan perlu Tante ingat, jika bukan karena Oma, Nenek Kanaya belum tentu masih mempertahankan Tante sebagai menantu di keluarga ini. Menantu yang sama sekali tidak berguna,” ejek Clarissa dengan angkuhnya, lalu berlalu pergi meninggalkan Diana.
“Pantas saja David sangat tidak menyukainya, gadis itu benar-benar angkuh,” gumam Diana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
***
Setelah menerima minuman khusus yang dibuat Chef Juna, rasa pedas di mulut David pun menghilang. Kini tinggal bibirnya yang masih terlihat membengkak.
“Bella, apa yang sudah kau lakukan? Berani sekali kau melakukan itu pada David,” bisik Dilla gemas dengan tingkah sahabatnya itu.
“Biarkan saja, laki-laki mesum itu pantas menerimanya,” sahut Bella lirih.
“Kau ini susah sekali diberi tahu,” ucap Dilla.
Ya Tuhan, gadis itu benar-benar luar biasa. Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat ada gadis yang begitu berani memperlakukan David seperti itu (pikir Lim).
Tanpa banyak bicara, David segera naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Chef Juna pun meminta izin untuk pulang karena merasa sudah selesai dengan tugasnya. Meskipun, jantungnya sempat berlari kencang saat melihat reaksi bosnya yang menahan pedas, sesaat setelah memakan salad buah buatannya.
Hampir saja, nyawaku terancam. Lain kali aku harus lebih berhati-hati dengan gadis cantik ini. Yang jelas hari ini aku semakin yakin apa yang diucapkan si Mbok kepadaku kalau yang cantik itu biasanya berbahaya (batin Chef Juna saat melihat wajah Bella karena dia menduga bahwa Bella lah yang menjadi biang kerok dalam kejadian ini).
Setelah Chef Juna pergi semuanya kembali ke atas dan masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
***
Tok tok tok
“Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?” tanyanya.
Kali ini Lim berbicara, tidak dengan nada formal seperti biasa. Ia menggunakan bahasa yang lebih santai.
“Gadis itu benar-benar kelewatan, berani sekali dia mengerjaiku seperti ini!” ucap David yang masih terlihat kesal.
“Tapi aku sungguh penasaran, apa yang sebenarnya sudah kau dan dia lakukan di kamar ini?”
Mendengar pertanyaan Lim, membuat David kembali tertawa saat mengingat bagaimana ia berhasil mengerjai Bella. Dari kejadian itu juga, ia semakin yakin kalau Bella itu masih sangat polos. Di balik sifat liarnya, kelakuan nakalnya, serta hobinya yang suka keluar malam untuk ikut balapan liar, Bella tetaplah seorang gadis yang polos yang sepertinya belum terjamah oleh laki-laki mana pun.
“Kau ini aneh sekali, aku bertanya kau malah tertawa,” sahut Lim yang melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
“Aku tertawa karena teringat kejadian tadi sore. Dia itu sungguh gadis yang menggemaskan, tapi sekaligus menjengkelkan,” ucap David menekan kata terakhir saat mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.
Kemudian David membuka pintu yang mengarah ke balkon, menghirup udara malam, dan menikmati bintang-bintang yang bertaburan di atas langit.
__ADS_1
“Kau tahu kehadiran gadis itu membuat kehidupanku semakin berwarna. Setiap hari ada-ada saja kelakuannya yang membuatku gemas dan kesal seperti sekarang ini,” ucapnya kemudian.
Memang benar apa yang dikatakan David, sebelumnya Lim jarang sekali melihat berbagai ekspresi yang ditunjukan David seperti yang akhir-akhir ini ditunjukkannya. Selama ini, ekspresi yang lebih sering ditunjukan David hanya wajah datar dan dinginnya, marah, dan sedih. Jarang sekali ia melihat David tertawa dan tersenyum seperti yang akhir-akhir ini ditunjukkannya.
Suara dering ponsel David memecah keheningan.
“Iya, halo Tante, bagaimana?” tanya David sesaat setelah melihat nama di layar ponselnya.
“Seperti permintaanmu, Nenekmu sudah setuju dengan persyaratan yang kau ajukan. Kau boleh membawa gadis itu tinggal di sini dan Nenek memberikanmu waktu 1 x 24 jam untuk kau bisa kembali segera ke rumah ini,” jawab Tante Diana.
“Begitu ya, baiklah Tante, terima kasih atas informasinya. Aku akan segera mengurusnya,” sahut David.
“Kalau begitu Tante tutup teleponnya dulu ya, selamat malam David,” ucap Diana sebelum mengakhiri teleponya.
“Malam juga, Tante,” jawab David.
“Kau benar-benar akan mengajaknya tinggal di rumahmu?” tanya Lim yang sedari tadi ikut menyimak pembicaraan David dengan tantenya.
“Tentu, semua sudah diputuskan. Sekarang, kita hanya tinggal membuat agar Bella dan Neninya mau menyetujui hal ini,” jawab David.
“Jadi, besok kau akan menemui neneknya?” tanya Lim.
“Iya, aku akan menemui neneknya besok,” jawab David mantap.
Dan saat itu juga aku akan menggunakan tangan neneknya untuk memberikan gadis itu pelajaran yang pantas ia terima atas perbuatannya malam ini (pikir David).
***
Bersambung
Wah, wah apalagi nih yang akan David lakukan?
Apa saja yang akan dikatakan David pada Neni ya?
Lalu apakah Bella akan setuju dengan permintaan David untuk membuatnya tinggal di kediaman Erlangga?
Penasaran? Saksikan dan nantikan cerita selanjutnya.
__ADS_1
Dan berikan dukungan untuk karya ini lewat like, vote, dan komentar positifnya dan tetap jadikan karya ini favorit kalian. Terima kasih. 💐💐💐