Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 110 Belaian Lembut


__ADS_3

Di kamar Clarissa, tampak Clarissa yang sedang mondar-mandir ke sana kemari. Ia tampak kesal saat mengetahui kalau kakaknya Steven kini berada di Negara S. Itu artinya ia harus lebih berhati-hati dalam bertindak. Ia tahu meskipun Steven sangat menyayanginya, tapi Steven tidak akan pernah tinggal diam jika adiknya melakukan kesalahan.


“Gawat, Kak Steven sudah ada di sini. Mau apa dia? Apa Opa dan Oma yang menyuruhnya mengawasiku? Jika ada Kak Steven di sini, aku harus lebih berhati-hati. Karena jika tidak, dia akan menggagalkan semuanya. Dan yang lebih buruk dari ini adalah dia pasti akan segera mengirimku ke Negara R,” ucap Clarissa berbicara pada dirinya sendiri.


“Oh, Clarissa pikirkan caranya, pikirkan caranya dengan baik agar David bisa sepenuhnya jatuh dalam rencanamu,” gumam Clarissa.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu mengejutkan Clarissa


“Oh, itu pasti Kak Steven,” terka Clarissa sebelum membuka pintu kamarnya. Dan benar saja, Steven sudah berdiri di depan pintunya sambil memperlihatkan senyuman khasnya.


“Ya ampun, adikku yang cantik. Tega sekali kau ini. Masa kakakmu datang kau sama sekali tidak memberikan sambutan?” keluh Steven lalu masuk ke dalam kamar adiknya.


“Oh, maaf, Kak Steven. Aku agak terkejut saja karena kau tak mengabariku dulu,” ucap Clarissa.


“Agak terkejut atau kecewa karena aku datang?” tanya Steven.


“Maksudmu apa? Mana mungkin aku sebagai adik bisa merasa kecewa dengan kedatanganmu kemari? Lagi pula kenapa kau datang ke sini tiba-tiba tanpa memberiku kabar?” tanya Clarissa.


“Kau masih bertanya? Kau bodoh atau apa sih Clarissa? Kau hampir saja menghancurkan proyeknya Opa yang ada di negara ini?”


“Apa kau lupa tujuan kepindahanmu kemari? Kau itu diminta mengurus proyeknya Opa yang ada di negara ini? Dan apa yang kau lakukan, kau tidak mengurus proyek itu dengan benar hingga Opa menyuruhku kemari untuk membereskannya,” ucap Steven.


“Maaf, Kak Steven. Tapi kau juga harusnya tidak lupa apa yang menyebabkanku menyetujui kepindahanku ke negara ini, tak lain karena aku ingin dekat dengan David,”


“Cih, David, David, David lagi. Sampai kapan kau akan terus terobsesi kepadanya. David itu tidak mencintaimu dan dia juga sudah memiliki tunangan,”


“Iya, aku tahu, tapi bukannya kalian sudah sepakat akan memberikanku waktu satu bulan untuk mendapatkan David,” ucap Clarissa.


“Lupakan waktu satu bulan itu, karena David tidak akan pernah melirikmu. Dia sudah memiliki tunangan yang sangat cantik bukan gadis ondel-ondel seperti perkiraanmu,” sahut Steven.


“Aku tidak peduli. Aku akan membuktikan pada kalian semua kalau aku bisa mendapatkan cintanya David,”


“Silakan saja! Tapi sebagai kakak, aku hanya ingin memperingatkanmu. Jangan pernah menggunakan cara licik yang sama seperti yang pernah kau lakukan pada Almira! Karena itu hanya akan membuat David semakin membencimu,”


“Apa maksud kakak?”


“Sebenarnya David sudah mengetahui semua kejahatan yang kau lakukan pada Almira, tapi aku memohon padanya agar memberikanmu pengampunan dan tidak menjebloskanmu ke dalam penjara,”


“Apa?? Sejak kapan David mengetahui semua itu?” teriak Clarissa yang tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.


“Kau pikir David bodoh. Dia memiliki banyak koneksi untuk mengetahui semua itu,”


“Jadi itu sebabnya David selalu menjauhiku?”


“Iya, jadi kau harus sadar. Walaupun David tidak memilih gadis itu David juga tidak akan pernah memilihmu,” ucap Steven penuh penekanan sebelum berlalu meninggalkan Clarissa.


“Aaarghh, Almira sialan! Bahkan setelah mati pun kau buat David membenciku! Tidak, David tidak boleh membenciku. Aku harus segera mengambil kesempatan itu, aku tidak peduli sekalipun Steven akan menggagalkannya. David hanya akan menjadi milikku, milikku!” ucap Clarissa penuh penekanan.


Dalam kemarahannya ponsel Clarissa berbunyi, tertera nama Lolita dari balik layar ponselnya.


“Ada apa? Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah lebih baik?” tanya Clarissa dengan nada ketus begitu mengangkat telepon dari Lolita.


“Hey, ada apa denganmu? Kenapa kau sepertinya sangat marah, teman? Apa Steven mengatakan sesuatu kepadamu?” tanya Lolita.


“Kau tahu kalau Kak Steven ada di negara ini?”


“Iya, tentus saja aku tahu. Karena begitu dia sampai ke negara ini, dia langsung mencariku ke rumah sakit dan dia langsung meneleponku saat tak menemukanku di sana,”


“Apa? Jadi, Kak Steven mencarimu? Untuk apa?” tanya Clarissa.


“Sepertinya selama ini kakakmu itu memata-mataimu Clarissa. Dia mencariku karena dia tahu kamu sempat bertemu denganku. Dia ingin tahu apakah aku dan kamu merencanakan sesuatu yang buruk di sini,”

__ADS_1


“Lalu apa yang kau katakan?” tanya Clarissa.


“Tentu saja aku tidak mengatakan apa pun. Aku hanya mengatakan kalau kau mencariku karena kau rindu kepadaku,”


“Baguslah, jangan beri tahu apa pun pada Kak Steven! Lalu, kapan kau akan mulai mengerjai teman dari gadis gembel itu?”


“Entah lah, tanganku belum benar-benar sembuh, tapi tadi aku mendapat kiriman foto yang menarik dan sudah kukirimkan langsung foto itu pada Ar. Aku tidak tahu seperti apa reaksinya setelah melihat foto itu. Tapi, aku berharap Ar akan sadar kalau gadis gembel itu tidak pantas untuknya,”


“Oh ya, ngomong-ngomong tentang gadis itu. Apa kau tahu gadis itu sekarang tinggal di mana?”


“Mana aku tahu. Aku bukan ibunya,”


“Karena itu aku beri tahu kepadamu bahwa gadis itu sekarang tinggal di sini bersama tunangannya si David yang gembel itu,” jawab Clarissa kesal.


“Haa, jadi dia tinggal di sana? Untuk apa? Kok bisa?"


“Entahlah, mana aku tahu, yang jelas yang aku tahu itu permintaan dari gadis gembel itu karena telah berhasil menyelamatkan nyawa Nenek,”


“Apa? Menyelematkan Neneknya David gimana?”


“Ah, sudahlah Loli. Aku malas menceritakan itu. Sekarang sebaiknya kau beri aku saran bagaimana sebaiknya aku bisa secepatnya menjalankan rencana kita sebelumnya,”


“Aku rasa aku punya ide yang menarik. Dengan rencana ini kita bisa menyingkirkan kedua gadis itu secara bersamaan. Kau hanya tinggal menunggu waktu ulang tahun Paman Han saja,”


“Hah, itu kan baru empat hari lagi. Itu lama sekali,”


“Bersabarlah. Lagi pula tanganku belum benar-benar sembuh. Ar dan Az juga belum kembali dari Negara R,”


“Apa hubungannya dengan mereka?”


“Karena aku juga ingin mereka ikut melihat pertunjukan ini,” ucap Lolita tersenyum smirk.


“Baiklah, aku akan bersabar, tapi pastikan kalau kau memiliki rencana yang brilian,” sahut Clarissa sebelum menutup teleponnya.


***


Di ruang makan


“Jadi kau yang memasak semua makanan ini?” tanya Paman Han.


“Benar, Paman. Aku harap Paman menyukai masakanku ini. Nenek juga,” ucap Dilla pada Paman Han dan Nenek David.


“Aku bukan Nenekmu. Panggil aku Nyonya di sini,” ucap Nenek David ketus.


“Oh, maaf, Nyonya,”


Cih, Nenek tua ini benar-benar tidak punya perasaan. Kalau bukan karena aku ingin memberi kesempatan pada Dilla untuk mengambil hatinya dan juga Paman Han, aku pasti sudah memasukan banyak cabe ke dalam mulutnya (batin Bella kesal)


“Halo, semua.. Halo, Paman Han yang tampan, Tante Diana yang baik" sapa Steven ramah.


“Halo juga, gadis cantik yang galak dan kau bidadari sendal jepit,” sapa Steven pada Dilla dan Bella.


“Halo juga, Tuan Tampan, terima kasih ya.. karena kau telah menolongku dan Nenek tempo hari” balas Bella dengan senyum manisnya.


“Ehem,” David berdehem menandakan ketidak sukaannya.


“Hei, halo Tuan “Ehem”, lama kita tidak berjumpa. Kau semakin kalah tampan saja dariku,” ucap Steven dengan gaya narsisnya.


"Cih, yang benar saja. Jelas-jelas aku lebih tampan darimu," gumam David.


“Halo, Nenek Kanaya tersayang.. Aku senang sekali melihat Nenek selalu sehat dan wajah nenek pun semakin bertambah cantik,”


“Kau juga semakin tampan saja Steven. Seandainya saja aku punya cucu perempuan, aku pasti sudah menikahkannya denganmu,” ucap Nenek yang membuat Dilla yang sedang meminum air putihnya pun tersedak saking kagetnya.

__ADS_1


“Uhuk, uhuk,”


“Dilla, kau tidak apa-apa?” tanya Bella menepuk pundak Dilla.


“Tenanglah gadis cantik, Nenek Kanaya itu tidak punya seorang cucu perempuan. Kalau kau berminat padaku. Aku masih membuka lowongan untukmu,” jawab Steven sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Cih, siapa yang berminat denganmu? Diobral juga aku belum tentu mau,” gerutu Dilla. Steven yang mendengarnya justru tersenyum.


Gadis ini sungguh menarik sekali, semakin dia galak semakin senang aku menggodanya. (batin Steven)


Sepertinya Steven mulai menyukai Dilla. Jadi, aku rasa, aku tidak perlu bersusah payah untuk mendekatkan mereka (batin David yang memperhatikan bagaimana Steven memandang sepupunya)


“Hai, Tuan Tampan,”


“Bella, namanya Steven. Jadi jangan panggil dia Tuan Tampan, itu panggilan yang amat sangat tidak cocok dengannya,” sahut David kesal.


“Ok, Steven, temanku itu sudah punya kekasih. Kau tidak boleh sering-sering memandangnya. Nanti kau bisa jatuh cinta kepadanya,"


“Siapa? Dokter kecil itu? Dia masih anak ingusan levelku masih jauh di atasnya,” jawab Steven menarik turunkan alisnya.


“Huweek, tidak kusangka ada orang yang begitu narsis sepertimu," sahut Bella.


“Bella, diamlah! Ini meja makan, habiskan makananmu dan jangan banyak bicara!” bentak Nenek Kanaya yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu langsung terdiam.


Steven terus saja memandangi wajah Dilla. Sementara Dilla terus cemberut karena merasa risih dengan tatapan Steven. Tapi dengan perlakuan Dilla seperti itu justru membuat Steven semakin tertarik kepadanya.


Terbesit pikiran nakal untuk menggoda gadis itu. Ia mulai memainkan kakinya yang ada di bawah meja makan. Mencoba mencari sesuatu untuk dibelainya.


Saat ia mendapati sesuatu yang terasa lembut di bawah mejanya. Ia mulai menaik turunkan kakinya menyentuh sesuatu yang lembut di bawah sana.


Sesat Dilla merasa bergidik karena merasakan sesuatu sedang membelai kakinya. Karena tak ingin mengganggu, ia mencoba tak menghiraukannya.


David yang merasa curiga, terus menerus menatap Steven yang sedari tadi senyum-senyum tak jelas. Tanpa sadar, David yang saat itu sedang menyuapi Bella memasukkan sendok kosong ke dalam mulut Bella. Bella yang sudah terlalu lapar mendapati sendok yang kosong, langsung saja menggigit tangan David.


“Aww,”


“Kau ini kenapa sayang? Kenapa kau malah menggigitku?”


"Itu hukuman untukmu, siapa suruh kau memberikanku sendok kosong? Apa kau tidak tahu kalau aku ini sangat lapar," bentak Bella.


Steven yang melihat kejadian itu berusaha menahan tawanya karena selama ini dia belum pernah melihat David dimarahi, justru David lah yang paling sering memarahi mereka bertiga (dirinya, Lim, dan juga Az).


“Diam kau! Apanya yang lucu?” bentak David.


Steven tak menghiraukannya, ia malah terus tertawa dan melanjutkan aksi nakalnya. Tapi, kali ini dia merasakan justru dirinyalah yang dibelai dengan lembut.


Ah, ternyata gadis galak itu hanya segitu. Baru dibelai sedikit saja sudah jatuh (batin Steven dengan tawa menyeringai)


David mulai merasa curiga dengan apa yang sedang dikerjakan temannya itu di bawah meja sana. Apalagi karena ulahnya ia sampai mendapat gigitan dari Bella. Sekilas, ia menatap ke bawah sana. Dan apa yang David lihat...


Seekor kucing betina anggora milik Tante Diana sedang membelai lembut kaki Steven. Mengusap-usap bulunya yang lembut ke betis Steven.


“Steven, tidak kusangka jiwa penjelajahmu semakin luas saja. Sampai-sampai kucing anggora betina pun masih kau goda juga, ha ha ha” ucap David yang tak lagi bisa menahan tawanya, dan itu membuat Steven langsung melihat ke bawah.


Mata Steven terbelalak saat mendapati seekor kucing anggora tepat berada di bawah kakinya.


Astaga, Steven hari ini kau telah merusak citra dirimu yang begitu hebat di depan CEO sombong itu, sial (batin Steven mengumpat kesal).


****


Bersambung


Halo.. SEMANGAT MERDEKA. "Mengaku Tunangan CEO" semakin mendekati babak akhir.

__ADS_1


Jadi, jangan luka dukung karya ini dengan memberikan like di tiap episodenya, komen, dan votenya serta tetap jadikan favorit ya..


__ADS_2