Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 14 Telepon


__ADS_3

Sekretaris Lim terus melajukan mobilnya sambil sesekali melihat spion ke arah David yang duduk di belakangnya. Ia memperhatikan David yang tampak asyik memainkan ponsel milik Bella.


‘Sepertinya Bos memiliki perasaan yang khusus pada gadis itu. Aku yakin cepat atau lambat dia akan jatuh cinta pada gadis itu,’ (ucap Lim dalam hatinya)


David terus tersenyum saat melihat satu persatu foto Bella yang tersimpan di galeri ponselnya. Foto yang menampakkan wajah imut Bella dengan berbagai macam gaya. Namun, raut wajahnya mulai berubah saat melihat Bella berfoto dengan beberapa pria di dekatnya. David pun berdehem.


“Ehem, Lim, tadi kau bilang kau sudah mendapatkan nomor orang yang mungkin tahu banyak tentang gadis itu. Siapa orangnya?” tanya David yang teringat kembali apa yang pernah diucapkan Lim.


“Sandi,” jawab Lim singkat.


“Sandi? Siapa Sandi?” tanya David kembali.


“Sekuriti yang tadi Bos karena saya perhatikan dari cara dia menyapa gadis itu dia cukup akrab dengan gadis itu dan sepertinya ini bukan pertama kalinya gadis itu masuk ke perusahaan,” jawab Lim.


“Iya, aku pikir juga begitu,” sahut David.


Di tengah percakapan antara David dan Lim, tiba-tiba terdengar nada dering ponsel milik Bella.


‘Goyang domret.. ah.. goyang domret.. goyang domret ah.. goyang domret.. Kang Dadang paling ganteng.. Saya suka Akang... suka sekali.. Bang Mandor paling kasep.. saya demen Abang.. demen sekali..’


“Apa ini? Norak sekali,” sahut David.


Sementara Lim terus menahan tawanya saat mendengar nada dering ponsel milik Bella.


‘Gadis itu benar-benar lucu sekali’ (ucap Lim dalam hatinya)

__ADS_1


Meski sempat ragu, David mencoba memberanikan diri untuk mengangkat panggilan telepon yang sebenarnya ditujukan kepada Bella. Sebelum mengangkatnya, David melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut yang bertuliskan ‘Si Ganteng Ar’.


“Halo, Bella cantik... Aku sudah kembali untukmu.. Malam ini aku dan teman-teman menunggumu di tempat biasa, oke? Kami sangat menantikan aksi hebatmu malam ini,” ucap si penelepon yang nyerocos begitu saja sebelum David sempat menyahut.


“Ehem,” David berdehem.


“Oh, maaf, kamu ini siapa ya?” tanya si penelepon yang kaget saat mendengar suara deheman pria dari ponsel Bella.


“Tunangannya,” jawab David spontan membuat Lim membelalakkan mata saat mendengarnya.


‘Heh.. ternyata si Bos dan gadis itu sama saja, tukang ngaku-ngaku... ‘ (batin Lim)


“Tunangan? Sejak kapan Bella bertunangan? Oh, aku tahu. Kamu pasti akan mengaku kalau kamu itu David Erlangga, tunangan khayalannya Bella, kan? Ha ha, sudahlah jangan omong kosong! Sekarang berikan teleponku pada Bella,” pinta pria ditelepon itu dengan nada mengejek meremehkan David.


Tut


“Sialan, gara-gara gadis tengik itu aku diremehkan oleh seseorang,” umpat David kesal.


“Anda kenapa, Bos?” tanya Lim heran.


“Laki-laki itu meremehkan ku,” jawab David kesal.


“Meremehkan bagaimana?” sahut Lim bingung.


“Dia berpikir aku itu hanya membual. Dia tidak percaya kalau aku ini David, tunangan Bella,” sahut David kesal.

__ADS_1


“Bukankah Bos tadi memang sedang membual?” sahut Lim.


“Membual apanya? Aku ini kan memang David,” tanya David dengan nada tinggi.


“Bukan begitu, Bos.. Bos memang David, tapi Bos kan memang bukan tunangannya gadis itu,” jawab Lim.


“Benar juga ya.. Mana mungkin seorang David yang tampan, kaya, dan sempurna ini memiliki tunangan gadis bar-bar seperti dia,” sahut David sombong.


“Tapi Bos.. “ ucap Lim ragu-ragu dengan ucapannya.


“Tapi apa?” tanya David penasaran.


“Kenapa Bos mengaku sebagai tunangan gadis itu? Apa Bos juga mengharapkan dia sebagai tunangan Bos,” Ledek Lim.


Plak


“Kau itu bicara sembarangan!! Siapa yang ingin jadi tunangannya? Walau dia mengemis cinta kepadaku aku tidak akan sudi menjadi tunangannya,” ucap David kesal.


“Baik, Bos. Maaf..” lirih Lim.


‘Tapi tolong hati-hati Bos dengan ucapanmu itu bisa-bisa malah kau sendiri yang nanti mengemis cinta kepadanya, bukan dia,’ (batin Lim)


Lim terus melajukan kendaraannya hingga sampai di kediaman keluarga Erlangga.


***

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa selalu tinggalkan jejak dengan memberi like, vote dan jadikan favorit ya untuk karya ini...😘😘


__ADS_2