Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 9 Pembalap Sejati


__ADS_3

Jantung Dilla seolah hampir keluar saat Bella membawa motor sportnya melaju dengan sangat cepat di sepanjang jalan.


“Ya ampun, Bellaaaaa. Kamu benar-benar mau aku cepat mati ya.. Aku masih mau hidup..” teriak Dilla dengan wajah yang memucat.


“Hahahaa.. Tenang saja, kau tidak akan mati, Dilla. Aku hanya membuat jantungmu sedikit bergoyang,” sahut Bella penuh tawa.


“Tidak bisakah kau bawa motornya lebih pelan?” pinta Dilla.


“Oh, tidak bisa. Motor seperti ini kalau dibawa pelan akan aneh rasanya,” sahut Bella.


“Tapi aku benar-benar takut Bella, kumohon... ” rengek Dilla yang membuat Bella menepikan motornya.


Lalu ia membuka helm yang sedari tadi menutupi rambutnya yang indah. Sejenak Bella menoleh ke belakang dan menghela nafasnya kasar.


“Sebelum ini kan aku sudah bilang padamu, kalau kau ikut denganku kau pasti menyesal,” ujar Bella.


“Maaf,” ucap Dilla lirih setelah ikut melepas helm yang terpasang di kepalanya.


“Jadi, bagaimana? Kau mau aku turunkan di sini atau tetap ikut denganku? Tapi dengan catatan kau tidak boleh merengek seperti tadi lagi kalau aku membawa motorku dengan kecepatan seperti tadi,” ucap Bella.


Dilla mulai memikirkan kata-kata Bella. Ia melihat daerah sekelilingnya yang tampak terlihat sepi.


“Apakah kau benar-benar tidak bisa membawa motormu sedikit lebih pelan?” tawar Dilla.

__ADS_1


“Hey, tadi aku kan sudah bilang akan aneh kalau membawa motor seperti ini dengan pelan. Lagipula aku ini kan seorang pembalap, bisa ditertawakan aku kalau teman-temanku lihat aku membawa motor ini dengan pelan,” ujar Bella yang membuat Dilla membulatkan kedua matanya.


“Apa? Jadi kau seorang pembalap?” tanya Dilla yang hanya dijawab anggukkan oleh Bella.


“Baiklah, aku ikut denganmu,” jawab Dilla cemberut seolah tak punya pilihan lagi.


Lalu, ia segera memasangkan kembali helmnya dan memeluk Bella dengan sangat erat.


“Aduh, tak bisakah kau sedikit melonggarkan pelukanmu itu. Aku bisa sesak nafas kalau seperti itu,” keluh Bella.


“Iya, iya,” ucap Dilla melonggarkan sedikit pelukannya.


Setelah Dilla sedikit melonggarkan pelukannya, motor yang dikendarai Bella itu pun segera melaju kembali dengan kecepatan yang sama seperti tadi. Namun, kali ini Dilla tidak berteriak-teriak histeris seperti sebelumnya.


***


“Jadi, hari ini kita akan lewat gerbang belakang saja, Bos??” tanya Sekretaris Lim pada David.


“Iya, aku ingin sedikit memberi kejutan pada mereka, sekaligus ingin memastikan bahwa informasi yang kita dapatkan benar adanya,” jawab David.


Setelah mendengar ucapan bosnya, Sekretaris Lim mengambil jalur ke sebelah kiri, jalur menuju gerbang belakang gedung ABC Company. Mereka sengaja ke gedung tersebut untuk memeriksa laporan yang menyatakan bahwa karyawan di sana tidak pernah mendapat jatah makan siang yang layak. Padahal dana yang dikucurkan cukup besar. Beberapa di antaranya malah memilih membeli makan di luar sehingga terkadang hal itu membuat para karyawan sering datang terlambat dan berdampak pada kinerja mereka yang menjadi kurang optimal.


“Kira-kira kenapa Paman Han menyuruh Anda untuk datang langsung kemari, Bos?” tanya Sekretaris Lim.

__ADS_1


“Entahlah,” jawab David singkat.


Sebenarnya memang agak aneh jika seorang CEO dari perusahaan pusat diminta datang langsung menyelidiki masalah makan siang karyawan saja. Namun, karena David sangat menghormati Handika yang sudah ia anggap seperti ayah kandungnya sendiri, ia pun menuruti saja perintah pamannya tanpa banyak bertanya.


Tak membutuhkan waktu yang lama, setelah Sekretaris Lim mengambil jalur kiri, mobil sedan hitam yang dikemudikannya pun memasuki halaman parkir Gedung ABC Company. Gedung yang menjadi tujuan utama mereka ke tempat itu.


Para satpam tampak kaget saat melihat Bos besar yang biasanya hanya bisa mereka lihat saat perayaan ulang tahun perusahaan yang dirayakan hanya setahun sekali itu kini berada di dalam mobil bersama orang kepercayaannya, Sekretaris Lim. Mobil itu diparkir di halaman belakang, parkiran yang biasa dipakai para karyawan dan orang luar yang ingin menjemput keluarga mereka yang bekerja di tempat tersebut atau pengantar makanan seperti Bella, bukan parkiran khusus yang biasanya disediakan untuk bos-bos besar seperti David.


“Maaf, Tuan. Apa mobilnya perlu saya pindahkan?” tanya seorang Satpam.


“Tidak usah, biarkan saja di situ,” jawab David dengan nada dingin seperti biasa.


David yang diikuti Sekretaris Lim memasuki gedung tersebut dengan langkah tegap dan penuh keyakinan. Aura yang dimiliki laki-laki itu begitu kuat, ketampanan dan kegagahan yang sering dikabarkan oleh media bukan kebohongan belaka. Pesona yang dimilikinya membuat kaum hawa tak bisa berhenti memandangnya saat langkah kaki kedua laki-laki itu memasuki gedung yang menjadi tujuan utama mereka.


“Ya Tuhan, apakah aku sedang berada di surga,” gumam salah satu karyawan wanita yang melihat David saat itu.


Pujian-pujian lain untuk David dan Sekretaris Lim terus mengalir tiada henti sepanjang mereka memasuki gedung itu. Tak ada sedikit pun dari mereka yang menaruh curiga apalagi khawatir dengan kedatangan David yang tiba-tiba ke tempat itu. Mereka malah terus fokus pada ketampanan yang dimiliki David dan juga sekretaris kepercayaannya. David hanya menyunggingkan senyumnya seolah pemandangan itu sudah menjadi pemandangan yang biasa baginya.


***


Bersambung


Jangan lupa like, vote, dan jadikan favorit ya... 😍😍

__ADS_1


__ADS_2