Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 69 Kandang Macan


__ADS_3

Dilla melangkah memasuki gerbang utama rumah sakit.


“Pagi, Neng. Enggak bareng sama teman Neng yang jagoan itu?” tanya satpam bernama Jaka. Satpam itulah yang menjadi saksi pertengkaran antara Bella dan Dokter Azril.


“Enggak, Pak,” jawab Dilla tersenyum ramah.


Tettt tett..


“Dilla, masuklah,” ajak Aria dari balik mobil yang dikemudikannya.


“Dokter Aria, selamat pagi,” sapa Dilla.


“Pagi, masuklah!” membuka pintu mobilnya.


“Tidak usah, biar aku jalan kaki saja,” sahut Dilla.


“Jarak dari sini ke rumah sakit cukup jauh Bella, nanti kau terlambat. Cepat naiklah!” perintah Aria.


Jarak gerbang depan dengan rumah sakit, memang terbilang cukup jauh. Karena rumah sakit tersebut memiliki halaman parkir yang cukup luas. Halaman yang dibuat bukan hanya sekedar untuk parkir kendaraan saja, tetapi juga untuk tempat tumbuhnya pohon-pohon rindang yang membuat bagian halaman depannya terlihat asri.


Tempat parkir itu sendiri terbagi menjadi dua. Ada yang digunakan untuk para pengunjung rumah sakit dan ada pula yang digunakan untuk para pegawainya. Tempat parkir yang digunakan untuk para pegawai inilah yang letaknya lebih dekat dari rumah sakit.


Saat Dilla turun dari mobil Aria, tampak sepasang mata menatap Dilla dengan penuh kecemburuan.


“Siapa gadis itu? Apa dia yang kemarin diceritakan Kamel? Berani sekali dia ingin bersaing denganku,” ucap gadis berkacamata dari balik mobilnya.


***


Dilla dan Aria berjalan bersama memasuki area rumah sakit.


“Dil, kamu sudah sarapan?” tanya Dokter Aria.


“Sudah. Memangnya Dokter belum?” sahut Dilla.


“Yah, sayang sekali.. Padahal aku baru saja mau mengajak kamu sarapan bersama,”


“Tidak perlu, Dokter. Walaupun nanti aku belum sarapan, kau tidak perlu mengajakku karena aku takut seluruh wanita di rumah sakit ini akan membenciku jika kau terlalu sering jalan bersamaku,”


“Kamu ini memang aku siapanya mereka?”


“Dokter ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.


Dokterkan idola para dokter, perawat, bahkan pasien wanita di seluruh rumah sakit ini,”


“Ha ha, kamu ini ada-ada saja sama seperti Bella,” ucap Aria yang membuat rona ceria di wajah Dilla tampak meredup. Entah mengapa meskipun Bella mengatakan antara dia dan Aria hanya sebatas teman, Dilla masih saja merasa tidak nyaman jika Aria menyebutkan nama Bella.


“Oh ya, pagi sekali Dokter datang hari ini?” tanya Dilla mengalihkan pembicaraan.


“Iya itu karena hari ini aku ada jadwal operasi. Jadi, aku harus bersiap lebih awal,” jawab Aria.


“Siapa yang dioperasi?”


“Cia, Lusia,” jawab Aria dengan raut wajah penuh kesedihan.


“Putrinya Dokter Azril?”


“Iya,”


“Mudah-mudahan operasinya sukses dan kalau boleh tahu hubunganmu dengan Dokter....”


“Dilla!” teriak seorang wanita memanggil Dilla yang membuat Dilla tak menyelesaikan ucapannya.


“Kamu ini di sini bukan untuk ngobrol tapi untuk bekerja,” sahut wanita itu saat menghampiri Dilla.


“Ah, iya, Kak Kamel, aku akan segera bersiap,” sahut Dilla.


“Dokter, maaf, saya permisi dulu,” ucap Dilla berpamitan pada Aria.


“Iya, cepatlah! Kalau tidak si Kamel itu akan terus berkicau!” sahut Aria yang tampaknya cukup mengenal karakter rekan sekerja Dilla itu.


***


Dilla mengganti pakaiannya dengan seragam petugas kebersihan.

__ADS_1


“Dil, kata Bu Wati, kamu bersihkan ruangan Dokter Azril ya? Ruangannya ada di sebelah sana,” tunjuk Kamel pada salah satu ruangan yang ada di sudut kanan koridor rumah sakit.


“Oh, ya,” jawab Dilla tersenyum kecut.


Astaga, kenapa harus ruangan dokter kutub itu sih (batin Dilla).


Dilla berjalan ke arah ruangan Dokter Azril.


“Rasakan! Emang enak disuruh bersihin KANDANG MACAN,” ucap Kamel tersenyum senang.


***


Dilla berjalan sesuai dengan arah yang ditunjukkan oleh rekan seprofesinya, Kamel. Di koridor yang ditunjuk oleh Kamel terdapat tiga ruang dokter spesialis. Dilihatnya satu per satu papan nama yang terpasang di tiap pintu ruangan.


Langkahnya terhenti saat mendapati ruangan yang bertuliskan:


...Ruang Spesialis Bedah Saraf...


...(dr. Azril Damara Effendi, Sp.BS.)...


“Azril Damaral Effendi, di sini rupanya, tapi kenapa namanya seperti tidak asing ya?” gumam Dilla.


“Ah, sudahlah, sekarang bukan waktunya memikirkan tentang namanya,” ucapnya sambil mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan Dokter Azril.


“Aku harus cepat membersihkan ruangan ini, sebelum dokter kutub itu datang karena kalau tidak, dia pasti akan menyemburkan mulut beracunnya,” ucap Dilla bermonolog.


Ia mulai membersihkan setiap bagian yang ada di ruangan itu seperti menyapu, mengepel lantai, dan mengelap meja-meja yang berdebu. Semua itu ia lakukan dengan cepat, namun tetap berhati-hati.


“Akhirnya selesai juga. Untunglah dokter kutub itu belum datang,” ucap Dilla.


“Eh, masih ada bingkai foto ya?” Dilla mengambil bingkai foto yang berada di atas meja kerja Dokter Azril. Lalu mengelap bingkai foto tersebut dan...


“Wah, cantik sekali gadis kecil itu, senyumnya benar-benar menggemaskan. Tidak seperti ayahnya yang bahkan difoto sama anaknya saja mukanya masih datar. Dasar gunung es!” umpat Dilla saat memandang foto Dokter Azril bersama putrinya Lusia yang saat itu baru berusia 5 tahun.


“Siapa yang mengizinkanmu memegang barang-barang yang ada di sini?” tanya Dokter Azril yang saat itu sudah ada di ruangannya dan memandang Dilla dengan tatapan tidak suka.


“Eh, Do-dokter, ma-maaf, saya sedang membersihkannya,” meletakkan kembali bingkai foto itu di atas meja.


Kapan dia masuk ke dalam ruangan ini? Seperti hantu saja tiba-tiba muncul? (batin Dilla).


Dih, siapa juga yang mengotak-atik? Cuma memandang fotonya saja, apa tidak boleh ? (menjawab dalam hati)


“Kamu dengar??” tanya Dokter Azril dengan nada meninggi.


“I-iya, Dok. Sa-saya permisi dulu,” jawab Dilla seraya meninggalkan ruangan Dokter Azril.


“Aduh, Dilla kenapa kamu dari tadi enggak buru-buru pergi aja sih? Hampir saja,” gumam Dilla..


“Hey,” teriak Azril.


“Tuh, kan. Kenapa lagi coba?” gumam Dilla yang kembali masuk ke ruangan Dokter Azril.


“A-ada apa, Dok?” tanyanya.


“Kau lupa membawa barang-barangmu. Ceroboh sekali!” sahut Azril ketus.


Aduh, kenapa pakai lupa segala sih? Gak tau apa kalau sang macan sedang menunjukkan taringnya (ucap Dilla dalam hati).


Dilla segera mengambil peralatan kebersihan miliknya yang sebelumnya tertinggal di ruangan Dokter Azril. Setelah mengambilnya, ia bergegas keluar dari ruangan itu.


Azril menghela nafas pelan saat Dilla meninggalkan ruangannya.


"Menyebalkan, pagi-pagi sudah bertemu dengan orang bodoh, " gumam Azril.


***


Sementara itu di kantor David


“David, kenapa kau tidak pulang semalam?” tanya Handika yang sekarang sedang berada di hadapan David.


“Aku rasa Paman sudah tahu alasannya bukan,”


“Ayolah David, jangan ke kanak-kanakan! Sampai kapan kau akan terus menghindari gadis itu?”

__ADS_1


“Aku tidak bermaksud menghindarinya terus, Paman. Aku hanya sedang malas jika harus bertemu dengan dia sekarang. Apalagi kalau harus tinggal seatap dengannya. Rasanya itu membuatku muak, " jawab David.


“Apa kau masih belum bisa melupakan masalah dia dan Almira, David?”


“Sudahlah, Paman. Jangan bahas masalah itu lagi! Kalau Paman kemari hanya untuk membahas masalah Almira dan Clarissa, maaf aku masih banyak pekerjaan yang lebih penting yang harus kuurus,”


"Apa kau semalam bersama Bella?"


"Iya, aku semalam bersamanya, " jawab David tersenyum. Ia teringat pengalaman yang dilaluinya bersama Bella semalam.


"Kau tidak melakukan apa-apa padanya kan? "


"Apa maksud, Paman? Tidak mungkin aku tidak melakukan apa pun dengannya, Paman. Banyak hal yang kami lakukan semalam, "


Namanya juga pergi ke Pasar Malam, tidak mungkin tidak melakukan apa-apa (batin David)


"Tapi bukan melakukan sesuatu yang melampaui batasanmu sebelum menikahkan?" tanya Handika mulai panik.


"Paman, aku masih tahu batasan,"


Aku hanya mencium bibirnya sekilas saja (batin David merona)


“Lalu apa kau sungguh mencintainya?"


"Tentu, Paman. Aku sungguh mencintainya. Karena itulah aku akan berjuang agar dia bisa diterima di keluarga Erlangga. Aku tidak akan bertindak pengecut seperti Paman yang lari dari rumah, lalu menikahi wanita yang Paman cintai, hidup bertahun-tahun bersamanya, tapi sesudah itu Paman meninggalkannya dan malah menikahi wanita lain,”


“Cukup, David! Kau tidak berhak mencampuri urusan pribadiku,”


“Kalau begitu Paman juga berhentilah mencampuri urusan pribadiku,” tegas David.


Mendengar jawaban-jawaban yang diberikan David, Handika hanya bisa menghela nafasnya panjang untuk meredam emosinya.


“Baiklah, David. Aku memang pengecut, tapi kuharap kau tidak jadi pengecut seperti aku. Hadapilah apa yang harus dihadapi. Pulanglah dan selesaikan masalahmu di rumah,”


“Aku akan memikirkannya, Paman,” jawab David.


Setelah mengatakan itu Handika pun keluar dari ruangan David.


“Bagaimana menurutmu, Lim?” tanya Lim yang sedari tadi berada di ruangan itu dan ikut mendengarkan pembicaraan David dengan pamannya.


“Aku rasa apa yang dikatakan Paman Han ada benarnya. Akan lebih baik kalau Bos menghadapi masalah ini. Bukan malah menghindarinya,” jawab Lim.


“Dan sepertinya aku punya ide, Bos,” lanjutnya.


“Ide? Ide apa yang kau maksudkan?” tanya David.


“Bagaimana kalau Anda meminta izin pada neneknya Nona Bella agar Nona Bella bisa ikut tinggal di rumah Anda? Bukankah dengan begitu wanita jalang itu tidak punya kesempatan untuk menggangu Anda di rumah. Lagi pula bukankah tadi Dilla meminta Anda untuk membujuk neneknya agar mereka bisa pulang ke rumah kan? Jadi, Anda gunakan kesempatan itu bukan untuk membujuk mereka kembali ke rumah mereka, tapi membawa mereka ke rumah Anda, "


“Ah, kau benar Lim. Aku akan menggunakan kesempatan ini agar Bella mau tinggal di rumahku. Dan memintanya agar menjadi tameng bagiku untuk bisa menjauh dari Clarissa. Dia kan tunanganku tentu dia punya hak dan Clarissa tidak akan bisa berkutik,”


“Kau hebat Lim! Kalau begitu sekarang kau buat schedule ulang untukku Karena siang nanti aku akan ke rumah neneknya Bella,”


“Siang ini, Bos?”


“Iya, siang ini. Apa ada masalah?”


“Bukankah siang ini Anda harus bertemu dengan Direktur Andi untuk membahas masalah ynag semalam tertunda, Bos?”


“Kalau begitu minta dia untuk memajukannya menjadi pagi ini,”


“Hah.. Anda selalu seperti itu. Baiklah, Bos,” sahut Lim sebelum meninggalkan ruangan David.


Andy.. Andy.. nasibmu sungguh tidak mujur (batin Lim)


***


Bersambung


Apakah Neni akan mengizikan Bella tinggal di rumah David?


Bagaimana cara David meminta izin pada neneknya Bella?


Penasaran? Baca terus cerita ini dan jadikan karya ini sebagai karya favorit kalian, serta berikan dukungan berupa like, vote, dan komen terbaiknya ya..

__ADS_1


Terima kasih 💐💐💐


__ADS_2