
Az masih setia menemani Lusia yang masih tertidur lelap di atas brangkarnya. Kekhawatiran Az pada kondisi putri kecilnya perlahan sirna, setelah melihat Lusia sadar pasca operasi besar yang baru saja dijalani gadis kecil itu.
Sempat ada kekhawatiran dalam diri Az, bahwa gadis kecil ini akan mengalami koma karena pembiusan yang kurang sempurna. Meskipun sebenarnya, jika dilihat dari kondisi Lusia saat itu, dosis takaran yang diberikan Ar dalam pembiusan tidaklah keliru. Hanya entah mengapa, kondisi gadis ini yang terlampau kuat atau alasan lain yang tak bisa dijelaskan secara medis, Lusia tiba-tiba mengalami kesadaran. Beruntung Ar bisa segera menangani masalah itu lewat pembiusan ulang.
Hanya saja kondisi para dokter dan perawat yang ikut membantu jalannya operasi tentu mengalami syok melihat kejadian itu dan inilah yang sebenarnya menjadi titik kekhawatiran Az. Dalam kondisi ini, ia tidak bisa menyalahkan siapa pun selain adiknya sendiri yaitu Ar.
Az melihat balutan perban yang membalut tangan kanannya dengan simpul menyerupai bentuk pita membuat sudut bibirnya terangkat.
“Akhirnya aku menemukanmu gadis kecil. Kau masih sama seperti dulu, cantik, pemberani, dan murah hati,” gumamnya.
Pikiran Az berkelana ke masa 19 tahun lalu, waktu pertama kali dirinya bertemu dengan Bella.
Azril saat itu masih berusia 10 tahun. Ia baru saja setahun kehilangan ibunya yang telah tiada dan mulai menjauh dari adiknya Ar karena Ar sendiri saat itu lebih memilih mengurung dirinya sendiri di dalam kamar. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ibunya.
Hal itulah yang membuat kehidupan dua bersaudara itu terlihat menyedihkan. Terlebih saat sang ayah juga sempat mengalami depresi karena kehilangan istri tercintanya dan itulah yang membuat Damar tidak begitu memperhatikan kondisi anak-anaknya.
Maksud hati berniat baik, Handika mengajak David, Lim, dan Steven untuk mengunjungi Az. Namun, ketiga bocah yang masih anak-anak itu bukannya menghibur malah membuat Az semakin kesal.
***
Sembilan belas tahun yang lalu
David, Lim, dan Steven kecil kini tengah berada di dalam kamar Az.
“Hai, Az. Bagaimana keadaanmu? Kau tahu aku, Lim, dan David membawakan bakpau yang masih hangat ini untukmu,” ucap Steven ramah.
Az diam tak menggubris ucapannya.
“Kau tidak suka kami datang kemari Az?” tanya Lim mendekati Az, namun Az masih diam saja.
“Kau tuli atau sariawan sih? Dari tadi kami bicara padamu kau malah diam saja!” bentak David.
“Keluarlah! Aku tak ingin bicara dengan kalian!” usir Az.
"Kau berani mengusirku! Memang kau pikir kau ini siapa, hah?” sahut David kesal.
“David, sudahlah kita di sini untuk menghibur Az, bukan mencari masalah dengannya,” ucap Lim.
“Az, setidaknya makanlah bakpau ini. Kalau kau memakannya kami akan segera keluar dari kamar ini dan tak akan mengganggu kamu lagi,” bujuk Steven sambil menyodorkan bakpau-bakpau yang ada di tangannya itu kepada Az.
“Aku bilang keluarlah! Aku tidak membutuhkan teman yang munafik seperti kalian!” seru Az sambil melempar bakpau-bakpau itu hingga jatuh ke lantai.
“Kau! Berani sekali kau mengatakan kami teman yang munafik!” bentak David sekali lagi.
“David, sudahlah!” Lim berusaha melerai pertengkaran antara Az dan David.
“Baiklah, kalau kau mengatakan kami ini teman yang munafik. Maka, mulai hari ini kami tidak akan mau berteman denganmu lagi. Dasar gendut, pendek, dekil, item lagi!” umpat David terus menerus.
“David!” sahut Steven dan Lim bersamaan.
__ADS_1
“Dan dengar semuanya karena dia tidak mau menerima pemberian bakpau kita yang tulus ini kepadanya, maka mulai saat ini dia akan aku panggil si Bakpau Gosong,” ejek David.
“David!” lagi-lagi Lim dan Steven menyahut bersamaan.
“Kalian ini! Kalau kalian tidak mau keluar aku saja yang keluar!” Az mendorong David dan berlari keluar meninggalkan kamarnya.
“Az!” panggil Steven dan Lim bersamaan.
Namun, Az kecil tak menghiraukan panggilan mereka. Ia terus saja berlari tanpa arah. Air matanya terus mengalir membasahi wajah Az yang terlihat sangat menyedihkan.
“Hiks, hiks, mereka semua jahat! Mereka bukan temanku,” teriaknya yang tanpa sadar telah membangunkan seekor anjing hitam yang sedang tertidur lelap di halaman depan sebuah rumah. Anjing itu menatap Az dengan tatapan membunuh dan lidah yang sudah menjulur keluar.
Degup jantung Az berdebar kencang dan tanpa sadar mendorong gerbang yang menjaga rumah tersebut.
“Sial, kenapa gerbang rumah ini tidak dikunci?” ucap Az semakin bertambah panik saat menyadari sang pemilik rumah lupa mengunci gerbang rumah tersebut.
Tanpa menunggu untuk digigit, Az langsung berlari jauh meninggalkan anjing itu. Melihat Az yang berlari, anjing hitam itu juga ikut berlari mengejarnya. Terjadilah kejar-kejaran antara Az dan anjing itu.
Az hampir menyerah karena merasa sudah tak sanggup lagi berlari. Beruntung saat larinya hampir tersusul oleh anjing itu, sebuah tangan kecil menariknya untuk bersembunyi di sebuah gorong-gorong yang ada di lapangan kosong.
“Hus, diamlah! Aku akan membantumu,” ucap gadis kecil yang menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
Gadis kecil yang membantu Az itu berambut pendek, gaya berpakaiannya menyerupai laki-laki, namun dari wajahnya yang terlihat imut, semua bisa menerka bahwa dia seorang anak perempuan.
Usia gadis kecil itu terlihat lebih muda dari Az. Tentu itu bisa dilihat dari tubuhnya yang pendek, meski tak terlampau jauh berbeda dari Az yang juga berbadan pendek.
“Bagaimana caranya kau bisa membantuku?” tanya Az yang meragukan kemampuan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu hendak mengeluarkan ketapel yang melingkar di lehernya, namun tersangkut kalung yang juga dipakainya.
“Kau bisa tidak?” tanya Az.
“Coba kau bantu aku melepaskannya! Hati-hati kalungnya jangan sampai putus,” pinta si gadis kecil.
Az mengikuti ucapan gadis itu membantunya mengeluarkan ketapel yang talinya membelit di kalungnya. Saat mengeluarkan ketapel itu, ia juga sempat melihat sebuah tanda hitam di leher gadis kecil itu.
“Aneh sekali, di mana-mana orang pakai cincin itu di jari. Kok kamu malah memakainya di kalung,” ucap Az.
“Cincin itu milik ayahku, ukurannya terlalu besar untukku. Jadi kata Ayah pakaikan saja pada kalungku jika aku memang ingin memakainya, " jawab si gadis kecil.
“Kenapa kau meminta cincin milik ayahmu?” tanyanya.
“ Aduh, kau ini cerewet sekali bertanya terus. Kau tidak melihat anjing itu mulai kemari. Sepertinya dia sudah menyadari keberadaan kita di sini. Cepatlah bantu aku!” ucap si gadis kecil saat suara gonggongan anjing mulai terdengar.
Tak butuh waktu lama Az telah dengan berhasil mengeluarkan ketapel dari leher gadis kecil itu.
Setelah ketapelnya terlepas, sang gadis kecil mengambil beberapa batu berukuran sedang yang ada di sekitarnya. Lalu mengarahkan ketapel pada sang anjing.
“Kau lihatlah ini!” menarik ketapel sambil menyipitkan sebelah matanya.
__ADS_1
Pletak, pletak
Dua buah batu berhasil ditembakkan ke arah mata sang anjing dengan menggunakan ketapel itu, membuat anjing itu meringis tak berdaya.
“Sekarang, saatnya kita keluar dari sini!” menarik Az untuk berlari pergi. Namun, belum jauh melangkah Az sudah terkulai lemas karena ia sudah tak sanggup lagi berlari.
“Hah, hah, cukup! Aku sudah capek sekali. Sepertinya anjing itu juga sudah tak mengejar kita lagi,” ucap Az dengan nafas ngos-ngosan.
“Kau benar. Kalau begitu kita berpisah di sini saja,” ucapnya yang berjalan menjauhi Az.
“Tunggu!” teriak Az.
“Ada apa lagi?” tanya gadis itu membalikkan badannya.
“Boleh aku tahu namamu?” ucap Az.
“Kata Ayah, pahlawan itu tidak boleh dikenali. Jadi, panggil saja aku ‘wonder woman’,” jawab si gadis kecil.
“Kalau begitu bisakah kita berteman?” pinta Az.
“Tidak bisa, kalau ayah bilang ‘No’. Wonder woman itu hanya berteman dengan superman. Jadi, kalau kau ingin berteman denganku kau harus menjadi orang yang lebih kuat terlebih dahulu seperti superman. Dan superman itu badannya tidak gendut seperti kamu. Jadi, perbanyaklah olahraga agar menjadi kuat seperti superman. Setelah itu kau baru bisa berteman denganku sang wonder woman, yeeayyy,” ucap gadis itu riang, lalu berjalan menjauhi Az sambil melompat-lompat.
***
Senyum kembali nampak di bibir Az saat ia kembali teringat pada kejadian di masa kecilnya.
“Wonder woman, apakah kau masih mengenaliku? Apakah aku sudah bisa menjadi pria yang kuat seperti superman?” ucap Az sambil terus memperhatikan balutan luka yang dibuat Bella.
***
Bersambung
Benarkah Bella si gadis kecil itu?
Jika benar, apakah ia masih bisa mengenali Az?
Akankah hal itu mempengaruhi hubungannya dengan David?
Penasaran? Nantikan kelanjutan ceritanya di episode selanjutnya.
Jangan lupa berikan like, vote, dan komentar positif untuk karya ini dan tetap jadikan karya ini favorit kalian.
Terima kasih 🙏🙏🙏
Untuk episode Bella dan David masih dalam proses ya..
Kalau sudah selesai, akan langsung diupdate.
Doakan hari ini bisa selesai 2 episode tanpa kendala apa pun, jika tidak mohon dimaafkan ..
__ADS_1
Peluk jauh dari author untuk kalian semua
Semoga sehat selalu.