Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 86 Luka


__ADS_3

Kala bayan (siang) hendak mendekati senja, di saat itulah Diana merasakan sepi di dalam lubuk hatinya. Satu dari dua alasan yang membuat ia bertahan tinggal di rumah mewah itu dua hari ini tak terlihat.


David, itulah salah satu alasan Diana tetap bertahan di rumah itu. David adalah putra dari sahabat terbaiknya Dania.


Persahabatan mereka terjalin dari sejak mereka masih kecil hingga Dania menghembuskan nafas terakhirnya. Di detik terakhir itulah Dania menitipkan David pada Diana.


Adapun alasan lainnya hanyalah sebuah kekonyolan bagi Diana. Betapa tidak, laki-laki yang sekarang ini menjadi suami Diana adalah cinta pertama dalam hidupnya. Namun, cinta itu selalu bertepuk sebelah tangan. Hampir 26 tahun mereka menikah, namun itu tak juga bisa membuat perasaan laki-laki dingin itu berubah.


“Han, aku ingin bicara denganmu,” kata Diana saat memasuki ruang kerja Handika.


“Bicaralah!” seru Handika.


“Apakah kau tidak bisa membujuk Mama agar Clarissa keluar dari rumah ini? Kau tahu benar David tidak menyukai gadis itu. "


“Aku tahu dan aku sudah berusaha mengatakan itu pada Mama. Tapi, kau tahu sendiri Mama sangat keras kepala,”


“Lalu David?”


“David bilang dia akan memikirkannya, tapi mungkin jika kau yang membujuknya dia bisa segera kembali,” jelas Handika.


“Meskipun aku bisa, aku juga tidak ingin dia berada di rumah ini selama Clarissa masih ada di sini,”


“Memangnya sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau dan David sangat tidak suka dengan kehadiran gadis itu di sini? Bukankah selama ini kau sangat dekat dengan keluarga William?”


“Itu karena..” Diana menghentikan ucapannya saat mendengar Handika mengerang kesakitan.


“Aww...,” pekik Handika sambil memegang pinggangnya.


“Di mana obatmu?” tanya Diana cemas.


Matanya melihat ke arah Han yang hanya menunjuk sebuah laci, tanpa mengatakan apa-apa. Ia merasa kesakitan hingga menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang sedang didudukinya.


Diana yang paham dengan maksud yang ingin disampaikan suaminya itu bergegas membuka laci, lalu mengambil obat yang ada di laci itu dan memberikannya pada Han. Han menerima pemberian obat dari Diana, lalu meminumnya. Setelah melihat, rasa sakit yang dialami suaminya berkurang, Diana merasa lega. Ia pun menyimpan kembali obat tersebut ke tempat sebelumnya.


Deg


Jantungnya terasa sakit saat dirinya melihat selembar foto usang yang tersimpan dalam laci tersebut. Sebuah foto pernikahan antara Han dan istri sebelumnya Arini masih ada dan tersimpan rapi di dalam laci itu.


Tanpa sadar air matanya menetes, ingin rasanya ia marah, berteriak, namun ia tahu semua itu tak berguna. Ia hanya mampu menghapus air matanya dan berpura-pura bersikap tegar di hadapan suaminya.


“Kau masih menyimpan foto ini?” tanya Diana menunjuk foto yang ditemukannya.


Han tak menjawab. Ia hanya menatap Diana. Rasa nyeri yang tadi dirasakannya kini mulai berkurang, berganti dengan rasa bersalah kepada wanita yang ada di hadapannya.


Ia memilih tak menjawab karena ia tahu jika jawabannya itu hanya akan lebih melukai perasaan wanita yang selama ini begitu tulus menyayanginya. Namun, untuk saat ini Han belum bisa membalas perasaan wanita itu. Bahkan, setiap kali ingin menyentuhnya, bayangan Arini selalu muncul di hadapannya hingga ia selalu mengurungkan kewajibannya sebagai suami Diana.


Melihat kediaman suaminya, Diana memilih tak melanjutkan pertanyaannya.


“Kalau kau sudah tidak sakit, aku kembali ke kamar. Istirahatlah dengan benar dan jaga kesehatanmu,” ucapnya dingin sambil meletakkan kembali foto tersebut.


Diana bergegas menjauh dari hadapan Han. Lalu, masuk ke dalam kamarnya. Mengalirkan air mata yang sudah sejak tadi di tahannya untuk keluar.


Ya Tuhan, kenapa aku harus menjalani kehidupan seperti ini? Sampai kapan aku harus menunggunya untuk bisa menerimaku (batinnya).


Lalu ia membuka laci yang ada di meja riasnya, mengambil buku diary yang selama ini menjadi satu-satunya teman yang ia jadikan tempat curhatnya. Namun...


Cling


Sebuah benda yang terselip dalam buku diary tersebut terjatuh. Diana membungkuk untuk mengambil benda tersebut.


Air matanya kembali menetes saat memandang benda yang terjatuh tadi. Benda tersebut tak lain adalah sebuah cincin sederhana, namun memiliki motif yang unik dan elegan.

__ADS_1


“Andaikan kau masih hidup, mungkin kehidupanku tidak akan seperti ini,” gumam Diana sambil memandang cincin tersebut.


***


David, Lim, Bella, Dilla, dan Ar sudah kembali ke rumah sakit dengan membawa jus alpukat yang dipesan Az.


“Bos, saya menunggu di luar saja karena rasanya tidak nyaman jika harus masuk ke ruang perawatan beramai-ramai,” ucap Lim sebelum David dan yang lainnya masuk ke kamar Lusia.


“Apa kau yakin? Memang kau tidak merindukan sahabat kecilmu itu?” tanya David.


“Kalau begitu jika Anda bertemu dengan dia, katakan saja kalau sahabatnya Lim yang tampan, baik hati, dan tidak sombong ini ada di luar,”


“Cih, kenapa kau semakin narsis saja?”


“Bukan narsis Bos, tapi memang itulah kenyataannya,”


“Tapi tidak ada yang lebih tampan dariku kan?”


“Yang lebih sombong dari Bos juga tidak ada,”


“Kau!! Semakin pintar membantah ya..,”


“Kan Anda memang menyukai sekretaris yang pintar,”


“Cukup! Kalau aku terus meladenimu bisa habis waktuku di sini,” jawab David yang langsung menyusul Bella, Ar, dan Dilla ke ruangan Lusia.


“Dokter Tua, kau ada di sini?” sahut Bella saat melihat Dokter Damar yang masih berada di dalam kamar Lusia.


“Huss, Bella, jaga bicaramu! Bersikaplah yang sopan! Dia itu ayahnya Ar dan Az. Dokter Damar,” bisik Dilla.


“Apa?” teriak Bella tak percaya.


di kamar itu sama terkejutnya dengan Bella.


“Kau itu bukannya tunangannya David?” tanya Damar.


“Benar, Dokter. Saya tunangannya David, yang baru-baru ini tanpa sengaja mematahkan tangan salah dokter di rumah sakit ini,” jawab Bella yang membuat mata Ar dan Dilla terbelalak bersamaan saking terkejutnya.


“Kau mematahkan tangan seorang dokter, Bella? Yang benar saja,” ucap Dilla tak percaya.


“Benar, tapi dokter itu pantas mendapatkannya. Siapa suruh dia menyakiti tunanganku?” sahut David yang baru masuk ke ruangan itu.


Lusia yang sedari tadi menyimak percakapan orang-orang dewasa yang ada di hadapannya, tampak tidak suka melihat kehadiran David.


Jadi, Tante Bella sudah punya tunangan. Tapi tunangan itu apa? Apa itu sama dengan yang disebut pacar? Kalau begitu aku harus membuat mereka putus, meski tunangannya itu tampan tapi ayahku juga tidak kalah tampan dan aku ingin Tante Bella jadi ibuku (ucap Lusia dalam hati).


“Cia, Paman bawakan jus alpukat pesananmu? Katanya kamu ingin meminum ini,” ucap Ar menyodorkan jus alpukat kepada Lusia.


“Terima kasih, Paman Tampan,” sahut Lusia yang langsung mengambil salah satu jus yang dibawa oleh Ar.


“Oh ya, Ayahmu di mana?” tanya Ar melihat ke sekeliling karena tak menemukan Az.


“Ayah ada di dalam kamar mandi, Paman,” jawab Lusia sambil menunjuk kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu.


Tak lama pintu kamar mandi itu terbuka, tampaklah Az yang keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos oblong berwarna putih yang memperlihatkan otot lengannya yang kekar dan rambut basah yang memberikan kesan segar dan seksi. Membuat Bella dan Dilla sesaat terpana melihatnya.


Siapa laki-laki itu? Jangan bilang kalau dia itu si Bakpao gosong (ucap David dalam hati saat melihat Az yang keluar dari kamar mandi)


Az yang melihat kehadiran Bella di ruangan itu melayangkan senyum manisnya ke arah Bella.


Eh, dia tersenyum apa aku tidak salah lihat. Dokter galak, jutek, dan dingin yang sering dipanggil macan kutub itu tersenyum kepada Bella (batin Dilla sambil menoleh ke arah Bella)

__ADS_1


Ada apa dengan gunung es itu? Kenapa dia tiba-tiba tersenyum seperti itu? Apa dia baru saja kerasukan jin yang ada di dalam kamar mandi? (batin Bella).


“Ayah, kau sudah selesai. Lihatlah, Paman sudah membawakan jus alpukat ini untukku!” seru Lusia riang sambil memperlihatkan jus buah yang dibawa oleh Ar.


“Terima kasih, Ar,” ucap Az ramah, membuat Ar dan Damar merasa senang dengan perubahan sikapnya.


Akhirnya kau bisa menghilangkan sikap dinginmu pada adikmu (batin Damar).


“Ayah, tapi Paman itu sepertinya tidak membawa apa-apa kemari,” celetuk Lusia melihat ke arah David.


Sial, apa maksudnya anak kecil itu bicara seperti itu? Lihat saja, besok akan kubawakan satu truk coklat buat kamu anak kecil (batin David).


Az memandang David, memperhatikannya dengan seksama.


“David,” sapanya.


David yang mendengar namanya disebut, menatap Az dengan tatapan tak percaya.


Jadi benar, dia itu si Bakpau Gosong? Sial, kenapa wajahnya bisa setampan itu? (batin David).


“Hai, Az, sudah lama kita tidak bertemu. Tak kusangka kau sudah banyak sekali berubah,” ucap David berbasa-basi.


Az hanya menanggapi perkataan David dengan senyum sinis. Ia masih ingat betapa David paling sering mengejek penampilannya saat itu.


“Lalu bagaimana keadaan putrimu? Kudengar dia sedang sakit dan baru saja menjalani operasi besar?” tanya David berusaha memecah kecanggungan.


“Seperti yang kau lihat. Keadaannya sekarang sudah lebih baik,” jawan Az memandang putrinya.


“Ayah, bagaimana sekarang? Keadaan luka di tanganmu? Apakah sudah lebih baik? Terima kasih ya.. Tante Bella sudah membalut luka Ayahku dengan baik.


“Sama-sama gadis kecil, itu tidak masalah,” jawab Bella.


Luka? Apa yang mereka bicarakan? Kapan Bella membalut luka si Bakpao Gosong ini? (ucap David dalam hati dengan tangan yang sudah mengepal).


Ia pun memperhatikan perban yang ada di tangan Az yang bentuknya terlihat sedikit aneh.


“Oh ya, Tante Bella, bagaimana keadaan luka di pinggangmu itu? Apakah sekarang sudah terasa lebih baik? Ayahku itu dokter yang hebat loh. Luka seperti apa pun pasti bisa disembuhkannya,” puji Lusia yang tidak tahu kalau Az sama sekali belum sempat menyentuh luka Bella karena waktu itu ia sudah keburu tertidur.


Sementara tangan David semakin mengepal mendengar hal tersebut karena sedari awal dia tidak setu ju jika kulit putih Bella yang mulus disentuh oleh laki-laki lain selain dirinya.


Ternyata yang membalut luka di tangan Az dan membuatnya senyum-senyum sendiri itu gadis ini, Bella, tunangannya David. Ya Tuhan, kenapa harus dia? (batin Damar).


David yang tak kuasa menahan kemarahannya, langsung memilih meninggalkan ruangan itu sebelum sempat mendengarkan penjelasan Bella lebih lanjut.


“Hey, gadis...Kau sudah berani selingkuh di hadapanku ya.. Kau lihatlah setelah ini kau akan menerima akibatnya” gumam David yang kini terlihat sangat kesal.


Dan kekesalan itu pun semakin bertambah ketika sebuah panggilan masuk dari Clarissa muncul di layar ponselnya.


***


Bersambung


Apa yang akan dikatakan Clarissa pada David?


Apakah ia akan kembali mengingatkan tentang foto Bella dan Az yang baru saja diambilnya itu?


Lalu bagaimana reaksi David saat melihat foto itu?


Nantikan kelanjutan ceritanya di episode berikutnya.


Terima kasih yang telah memberikan dukungan kepada karya ini lewat like, vote, dan komen terbaik kalian serta menjadikan karya ini favorit kalian semua. Author sangat terharu.... 😄

__ADS_1


__ADS_2