Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 74 Terima Kasih


__ADS_3

“Dokter Lolita, ada yang mencarimu,” sahut seorang perawat saat bertemu dengan Dokter Lolita.


“Siapa?” tanya Lolita.


“Dia seorang wanita cantik. Katanya dia teman dokter yang baru datang dari Negara R,” jawab sang perawat.


“Dari Negara R? Apa mungkin...?” terlihat sedang berpikir. “Siapa namanya?”


“Kalau tidak salah namanya Clasrissa, Dok,” jawab perawat itu.


“Oh, jadi benar itu Clarissa. Di mana dia sekarang?” tanyanya.


“Dia sekarang sedang berada di ruangan dokter,” jawab sang perawat.


“Baiklah, Suster Nisa, saya akan ke sana. Terima kasih atas informasinya,”


“Sama-sama, Dok,” sahut Suster Nisa meninggalkan Dokter Lolita.


Setelah mendengar pesan yang disampaikan Suster Nisa, Lolita segera ke ruangannya. Di ruangannya tampak seorang wanita berambut panjang sebahu sedang duduk sambil memperhatikan benda-benda yang ada di ruangan tersebut.


“Clarissa! Apa kabar?” ucap Lolita saat merasa yakin bahwa wanita itu adalah sahabatnya.


Clarissa berbalik ke arahnya, lalu mereka saling berpelukan.


“Kabarku baik, kamu sendiri?” sahut Clasrissa.


“Kabarku juga baik. Oh ya, kapan kau datang? Kenapa tidak mengabariku sebelumnya?” tanya Lolita saat melepas pelukannya.


“Aku datang kemarin siang. Aku sengaja tak memberi kabar karena ingin membuat kejutan untukmu,”


“Ow, aku sangat terkejut. Lalu bagaimana hubunganmu dengan David? Kudengar dia sudah memiliki tunangan ya?” tanya Lolita lagi sambil memberi kode kepada Clarissa untuk duduk.


“Ah, iya, tunangan. Tunangan dengan seorang tukang bakso dan itu benar-benar membuatku sangat kesal,”


“Jadi kabar itu benar ya? Kalau tunangannya David itu cuma seorang tukang bakso?”


“Iya itu benar. Aku sudah menanyakannya langsung pada neneknya David,”


“Wow, ini sungguh kejutan! Seorang CEO tampan yang berkali-kali menolak nona besar Clarissa malah bertunangan dengan seorang tukang bakso,”


“Ah, diam kau! Aku sudah sangat kesal mendengar kabar ini dan kau malah memanas-manasiku,”


“Ha ha ha, maaf. Aku hanya sulit saja membayangkan pesona gadis cantik sepertimu bisa kalah dengan seorang tukang bakso,” ucap Lolita dengan nada mengejek.


“Cukup, Lolita! Aku ke sini bukan ingin mendengar ejekanmu ya,” sahut Clarissa.


“Maaf, maaf, lalu apa yang bisa kubantu Clarissa sahabatku?” tanya Lolita.


“Aku ingin kau memberikanku sebuah obat. Obat yang membuat David tidak bisa berpaling lagi dariku,” jawab Clarissa.


“Maksudmu obat..” menggantung ucapannya.


“Iya, obat itu. Obat yang dulu pernah kau usulkan kepadaku,” melanjutkan acapan Lolita


“Hah, kau serius Clarissa?? Bukankah kau sendiri yang bilang kepadaku waktu itu bahwa putri dari keluarga terpandang sepertimu tidak akan melakukan hal serendah itu,” sahut Lolita tak percaya.


“Iya, aku terpaksa. Karena sekarang hanya itu satu-satunya cara yang bisa membuat David tidak bisa lepas dariku dan bisa segera menikahiku. Apalagi...,” jelas Clarissa menggantung.


“Apalagi apa?” tanya Lolita penasaran.


Clarissa tak langsung menjawab, ia menghela nafasnya pelan.


“Kau tahu. Begitu sampai di Negara S, aku sama sekali tak menyia-nyiakan kesempatanku untuk bertemu dan lebih dekat dengan David. Karena itulah aku membujuk neneknya agar aku bisa tinggal di rumahnya. Tapi kau tahu, David sama sekali tak pulang ke rumahnya, " jelas Clarissa.


“Lho, kok bisa. Memang apa yang terjadi? Kalau dia tidak pulang ke rumahnya lantas dia tidur di mana?" tanya Lolita semakin penasaran.


“Entahlah, aku juga tidak tahu dia tidur di mana kemarin malam,” jawab Clarissa.


“Apa mungkin semalam dia tidur bersama dengan si penjual bakso itu? " tebak Lolita.


“Ya, itulah yang sempat aku pikirkan karena itulah aku datang kemari untuk memintamu memberikan obat itu untukku. Aku tidak ingin wanita ****** itu mencuri star terlebih dahulu daripada aku," sahut Clarissa.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan memberikan obatnya untukmu. Dan akan aku pastikan David tidak akan bisa lagi menahan hasratnya untuk tidak menyentuhmu,” ucap Dokter Lolita sambil menuliskan sebuah resep obat dan memberikannya kepada Clarissa.


“Lalu David tidak akan bisa lagi menolak untuk menikahiku dan akan segera membatalkan pertunangannya dengan gadis gembel itu,” sahut Clarissa tersenyum saat menerima resep itu.


“Tentu saja, dengan obat itu impianmu pasti akan segera terwujud. Tapi, kau perlu memikirkan cara yang tepat agar David bisa meminum obat itu. Karena setahuku dia pasti akan menolak apa pun yang kau berikan kepadanya. "


“Kau benar, tapi tenang saja. Aku sudah punya rencana yang matang. Aku sudah memilih orang yang akan membantuku menjalankan misi ini,” jawab Clarissa tersenyum licik.


“Siapa?” tanya Lolita yang lagi dibuat penasaran oleh Clarissa.


“Siapa lagi kalau bukan tante kesayangannya David, Tante Diana,” jawab Clarissa.


“Waw, kau benar-benar hebat Clarissa. David tidak akan menolak apa pun minuman yang diberikan Tante Diana. Dia juga tidak akan pernah mencurigainya,”


“Tentu, sekarang satu-satunya masalah adalah bagaimana caranya agar bisa membujuk David pulang ke rumah karena hanya dengan begitu rencanaku baru akan berjalan dengan sempurna,”


“Kalau itu mudah Clarissa. Kau minta saja neneknya David untuk mengadakan acara ulang tahun untuk Paman Han. Bukankah kalau aku tidak salah ingat, itu seminggu lagi bukan?”


“Ah, kau benar. Ternyata takdir memang berpihak kepadaku. Dengan begitu aku akan lebih mudah menjalankan misiku. Selain itu, ini juga akan menjadi hadiah teristimewa untuk Nenek dan juga Paman Han,”


“Kalau begitu bagaimana kalau kita merayakan ini terlebih dahulu? Merayakan rencana Clarissa yang hebat," sahut Lolita diiringi tawa kemenangan.


“Ok, kau ingin apa?”


“Traktir aku makan siang di luar hari ini karena aku sudah bosan makan makanan di kantin ini terus,”


“Baiklah, mari,” ajak Clarissa.


Clarisaa dan Dokter Lolita kini tengah bersiap untuk keluar dari rumah sakit. Mereka berencana untuk makan siang di Restoran Kelapa Dua yang terletak di samping kanan rumah sakit.


***


Aria masih menunggu Lusia yang masih terbaring di ranjangnya.


“Ar, apa kau sudah makan?” tanya Damar begitu masuk ke dalam kamar Lusia.


“Nanti saja Ayah, aku tidak lapar,”


“Baiklah, Ayah. Aku pergi makan dulu,” sahut Aria.


Sebenarnya Aria sangat enggan meninggalkan Lusia yang masih tak sadarkan diri. Namun, ia tidak bisa terus di sini terutama jika ada ayahnya yang mengawasi di kamar yang sama. Itulah sebabnya, ia memilih mengalah.


Dengan berat Aria keluar dari kamar Lusia, namun langkahnya terhenti saat melihat Dilla duduk termenung sendiri di sebuah taman yang ada di rumah sakit.


“Ehem,” Deheman Ar membuat Dilla menoleh ke arahnya.


“Aria,” sahut Dilla senang.


“ Kenapa kau duduk sendiri di taman? Bukan kah ini sudah waktunya makan siang,”


“Aku tidak lapar,” jawab Dilla.


Maaf, Ar. Aku bohong sebenarnaya itu karena aku sama sekali tidak membawa uang. Karena biasanya Nenilah yang memberikanku uang jajan (batin Dilla).


“Kalau begitu bisa temani aku makan siang,”


“Hah?” terkejut “ Bukannya tadi aku katakan aku tidak lapar,”


“Menemani makan tidak berarti harus makan kan?”


“Oh, baiklah,”


Akhirnya Dilla setuju dengan tawaran Aria karena ia khawatir jika dirinya menolak itu akan merusak suasana hati Ar yang nampaknya sudah mulai membaik. Kini ia mengikuti langkah kaki Aria ke tempat makan yang menjadi tempat favorit Ar, Restoran Kelapa Dua.


***


“Uhuk, uhuk..." Clarissa tersedak saat melihat Aria dan Dilla berjalan memasuki sebuah restoran yang sama dengan tempat ia dan Lolita menikmati makan siangnya.


“Kau ini kenapa?” tanya Lolita.


“Kau lihat! Bukankah itu Ar, tapi siapa wanita yang bersamanya?” ujar Clasrissa sambil menujuk ke arah Ar dan Dilla.

__ADS_1


“Kurang ajar, ternyata OB itu masih berani mendekati Aria!” sahut Lolita geram.


“What? OB? Apa aku tidak salah dengar?” tanya Clarissa tak percaya.


“Tidak, kau tidak salah dengar. Wanita yang bersama Ar itu cuma seorang tukang bersih-bersih di rumah sakit kami,”


“Tapi dia sangat cantik,” ucap Clarissa.


“Hanya cantik saja apa pantas menyandang gelar Nyonya Effendi,” sahut Lolita.


“Bagi kita mungkin tidak, tapi bagi Paman Damar belum tentu. Karena yang aku tahu Paman Damar itu hampir sama dengan Paman Han, keduanya sama-sama tidak pernah memikirkan status,” sahut Clarissa.


“Jadi menurutmu Paman Han bisa menerima tunangannya David?” tanya Lolita yang membuat Clarissa memutar kedua bola matanya.


“Kenapa kau jadi menghubungkannya dengan David sih?” sahut Clarissa.


“Karena jawabanmu itu menghilangkan semangatku,” balas Lolita.


“Oh, baiklah, baiklah, bagiku kau yang terbaik. Sekarang melihat Ar bersama wanita itu apa yang akan kau lakukan,”


“Apalagi kalau bukan memberikan wanita itu pelajaran yang membuat dia kehilangan reputasi baiknya di hadapan Ar maupun Paman Damar,” ucap Lolita tersenyum smirk.


“Oow, aku jadi tidak ingin pulang dulu sebelum melihat pertunjukkan dari sahabatku,”


“Tentu, kau tidak boleh pulang karena kau juga akan ikut bermain dalam pertunjukan ini,”


Wanita ******! Bersiaplah untuk menerima pelajaran dariku. Siapa suruh kau berani mendekati pria yang seharusnya jadi milikku (ucap Lolita dalam hati).


Pandangan penuh kebencian, ia arahkan pada Dilla yang saat ini tengah asyik berbincang dengan Ar.


“Bagaimana keadaan Lusia? Apa dia sudah sadar?” tanya Dilla.


“Belum, dia masih belum sadar,” jawab Ar dengan wajah yang kembali terlihat sedih.


‘Tenanglah, Lusia pasti akan segera sadar,” ucap Dilla menggengam lembut lengan Aria.


“Terima kasih atas ketenangan yang telah kamu berikan,” balas menggenggam lengan Dilla.


“Terima kasih juga atas pelukannya yang hangat,” lanjutnya seraya tersenyum ke arah Dilla yang membuat wajah gadis di hadapannya itu kembali merona.


Sesaat Dilla dapat merasakan debaran jantungnya yang berdetak semakin kencang. Ingin rasanya ia melompat bahagia saat menerima perlakuan hangat dari Ar.


“Krukkk krukk,” suara perut Dilla yang tak terkendali terdengar jelas oleh Aria, membuat Ar terkekeh karenanya.


“Katanya tadi ada yang bilang tidak lapar. Tapi sepertinya perutnya berkata lain ya?” ucap Ar sambil menahan tawanya.


Dilla yang mendengar itu hanya bisa menunduk malu.


“Sudahlah, sekarang pesan makananmu,” ucap Ar sambil membelai lembut pipi Dilla.


Ya ampun Aria, kenapa kamu memperlakukanku semanis ini? Membuat aku semakin tak bisa berpaling darimu saja (batin Dilla).


Gadis ini sangat manis. Dia sangat berbeda dengan Bella. Kalau Bella sangat pemberani dan ceplas ceplos. Sementara dia cenderung pendiam dan pemalu. Tapi, entah kenapa aku malah suka melihatnya bertingkah seperti ini (batin Ar).


***


Bersambung


Sepertinya Aria juga menaruh perasaan yang sama terhadap Dilla. Tapi apakah kisah percintaan mereka akan berjalan mulus?


Apakah rencana Clarissa dan Lolita akan menuai hasil?


Bisakah Bella mengatasi siasat licik dari keduanya?


Penasaran? Nantikan kelanjutan ceritanya di episode selanjutnya.


Jangan lupa like, vote, dan komen terbaik kalian untuk kaya ini. Serta menjadikannya karya favorit kalian.


Terima kasih 💐💐💐


(Episode untuk Bella dan David, insyaAllah besok ya..😎 sekarang pemainnya lagi pada istirahat dulu lagi persiapan lebaran 😁)

__ADS_1


__ADS_2