
Hawa dingin terasa semakin menusuk seiring dengan tatapan dingin dari laki-laki yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Wajah-wajah tegang terpancar dari raut pria dan wanita yang kini tengah duduk di sekitarnya.
Di sampingnya duduk pula pria berbadan tegap yang tak lain merupakan orang kepercayaan David, Sekretaris Lim.
Kalian ini benar-benar tidak tahu suasana. Apa kalian tidak melihat raut wajah Bos kita ini dari pagi itu sudah seperti apa?? Bos kita ini semalaman tidak tidur karena dijadikan budak oleh istrinya. Sekarang kalian malah menampilkan laporan perencanaan proyek di bawah standarnya (batin Lim)
Selama beberapa menit, keheningan masih saja terjadi di ruangan itu. Tak ada satu pun yang berani bersuara, termasuk Sekretaris Lim. Sekretaris itu tahu jika sang Bos sudah memasang ekspresi seperti itu sebaiknya diam dan jangan sekali-kali mengganggunya.
Aku meriang... Aku meriang... Aku meriang. Meridukan kasih sayang....
Suara nada dering ponsel seketika mengubah suasana. Senyuman tak tertahan menggantikan raut wajah tegang yang sebelumnya terpancar dari para penghuni yang tengah berada di ruangan itu. Seiring irama musik dangdut yang keluar bersama lirik lagu “Meriang” yang dibawakan oleh Cita Citata.
Dengan sigap, sambil menahan tawanya Sekretaris Lim memberikan ponsel milik David yang sedari tadi dititipkan kepadanya. David mengambil ponsel itu dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkan.
Ayolah, Bos. Jangan menatapku seperti itu. Kamu sendiri yang melarangku ketika aku ingin mengganti nada deringmu dengan mode hening. Kamu bilang tidak ingin membuat macan betina kesayanganmu itu marah (batin Lim).
Kenapa kamu ini senang sekali mengerjai suamimu ini, Sayang? Bisa-bisanya kau mengganti nada dering ponsel suamimu itu dengan nada... yah, walaupun jujur aku suka dengan liriknya (batin David sambil mengulas senyum)
Eh, dia tersenyum. Kupikir dia akan marah (batin Lim saat memperhatikan ekspresi dari wajah David).
“Sayaaaaaang, kapan kau akan pulang? Aku merindukanmu” suara manja seorang wanita terdengar dari balik telepon.
Tidak kusangka, Nona Bella benar-benar berubah semenjak hamil (batin Lim).
“Segera, sekarang juga aku akan segera pulang. Kau tunggu saja ya..” jawab David lembut.
“Tapi aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi, karena itu sekarang aku sudah berada di kantormu,” sahut Bella yang membuat David membelalakkan matanya saking terkejut.
David memberi kode lewat mata kepada Sekretaris Lim dan segera meninggalkan ruangan rapat itu.
__ADS_1
“Baiklah, rapat hari ini cukup sampai di sini. Silakan perbaiki laporan kalian. Saya berharap ini pertama dan terakhir kalinya kalian membuat laporan sampah seperti tadi. Rapat selesai, silakan kembali ke ruang kerja masing-masing” ucap Lim sebelum meninggalkan ruangan itu.
Semua orang yang berada di ruangan itu mengelus dada mereka masing-masing. Mereka benar-benar merasa terselamatkan dengan kehadiran Bella di sana.
“Untung saja Nyonya Bella datang. Jika tidak, tamatlah hari ini karir kita di sini,” ucap salah satu karyawan yang disetujui oleh rekan-rekannya.
***
Sebuah pelukan hangat menyambut David saat tiba di ruangannya. Pelukan hangat dari wanita yang sangat ia cintai dan dalam beberapa bulan lagi akan memberinya gelar “Ayah”.
“Sayang, aku merindukanmu,” sahut Bella seraya memeluk David dengan erat, merasakan kehangatan tubuh pria yang dicintainya sambil menyesap aroma yang keluar dari tubuhnya.
David membiarkan Bella memeluknya dalam waktu yang lama. Bella memang banyak berubah sejak buah hati mereka ada dalam kandungannya. Ia menjadi sangat manja, senang sekali menempeli dan memeluknya seperti ini.
Padahal dulu sebelum hamil, Bella sangat cuek. Justru Davidlah yang sering bermanja dan menempel kepadanya.
“Ups, maaf Bos, pintunya tidak dikunci,” ucap Lim yang saat itu hendak masuk ke ruangan David, namun segera berbalik dan keluar kembali.
“Aih, mereka ini tidak di mana-mana selalu seperti itu. Kalista, sepertinya aku harus segera menjemputmu dan menikah denganmu hari ini juga,” gumam Lim.
“Sayang, kau mau apa?” tanya David setelah puas menikmati bibir istrinya.
“Aku mau buah mangga,”
“Mangga? Baiklah, aku akan meminta Lim membawakannya untukmu,”
“Tidak, jangan Lim,” sergah Bella.
“Lalu...? Kau tidak bermaksud mengambil mangga itu dengan naik ke pohonnya sendiri kan seperti waktu itu?” tanya David mengingat kejadian saat Bella memanjat pohon mangga di rumah Lim yang membuatnya terjatuh.
__ADS_1
“Tidak, tentu saja tidak. Aku tidak segila itu Sayang,”
“Syukurlah kalau begitu, karena aku tidak akan mengizinkan hal itu meski itu permintaan Ibu hamil. Aku tidak akan membiarkan dirimu melakukan hal-hal yang akan membahayakan dirimu sendiri dan bayi kita,”
“Tenang saja David Sayang, aku tidak akan melakukan itu. Aku hanya ingin buah mangga yang kupilih sendiri,”
“Maksudnya?”
“Antar aku untuk membeli dan memilihnya, Sayang,”
“Baiklah, aku akan meminta Lim mengantar kita ke pasar swalayan,”
“Tidak, bukan pasar swalayan,” cegah Bella
“Lalu ?”
“Kita akan membelinya di pasar tradisional,” jawab Bella penuh semangat.
“What??” David terbelalak tak percaya. Terbayang dalam benaknya ia harus berjalan di tempat yang becek, bau, dan kotor.
Ya Tuhan, aku tidak percaya hari ini akan terjadi dalam hidupku. Seorang David pergi ke pasar tradisional? Yang benar saja. Ayolah, jagoan kecilku, tak bisakah kau mengajak Mamamu ini ke tempat yang lebih berkelas seperti Paris, Roma, atau Singapur. Kenapa harus pasar tradisional ? Arrgh.. kau sungguh membuat ayahmu frustasi (batin David sambil menggaruk kepalanya)
***
Bersambung
Apa yang nanti akan dialami David dan Bella di pasar tradisional?
Jika kalian merasa penasaran.. Nantikan terus kelanjutan ceritanya ya.. Jangan lupa berikan like, vote, dan hadiah untuk karya ini serta jadikan karya ini ke dalam karya favorit kalian ya… Terima kasih 🥰🥰
__ADS_1