Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 96 Salah Kamar


__ADS_3

Mendengar kalau Bella dan Az sekarang sedang berada di ruangan yang sama, membuat kemarahan David semakin memuncak. Darahnya mulai mendidih, memikirkan apa saja yang dilakukan dua orang berbeda jenis itu di dalam ruangan yang sama. Ia berjalan semakin dekat dan semakin dekat menuju ruangan yang dimaksud.


Gadis, kau sudah berani berduaan dengan laki-laki lain, hem. Awas saja kau? (batin David di tengah kemarahannya)


Bruaakkk


Dalam kemarahan David menendang dan membuka pintu ruang rawat dengan cukup kencang, membuat dua insan yang berada di dalam ruangan itu melihat ke arahnya dan memberikan tatapan yang sulit diartikan.


“A-anda siapa?” tanya seorang wanita paruh baya dengan tompel besar di pipinya.


Wajah wanita dan pria tua yang bersamanya kini tampak ketakutan melihat wajah David yang terlihat sangar saat itu.


“Astaga, apa ini? Di mana Bella dan si Bakpao Gosong itu?” gumam David yang berkeliling melihat keadaan sekitar.


“Tu-tuan, Anda siapa? Kenapa Anda masuk ke ruangan kekasih saya?” tanya pria tua yang kini berdiri di hadapan David.


Cih, sudah tua masih mengatakan kekasih. Tidak lihat umur apa Bapak tua itu. (batin David)


“Di mana tunangan saya?” tanya David.


“Tunangan yang mana? Ini kamar kekasih saya Tuan. Kamar Liliyanaku, yang gemuk, aduhai, berbibir seksi, dan memiliki tahi lalat yang manis di pipinya,” puji pria itu sambil tersenyum memandangi wanita paruh baya yang sekarang tengah berbaring di atas brangkar yang ada dalam ruangan itu.


David yang ikut mengarahkan pandangannya ke arah pria tadi seketika itu terkejut saat melihat dengan seksama wanita yang dimaksud pria itu.


Weww, apanya yang berbibir seksi? Bibir dower seperti itu dibilang seksi? Kau benar-benar sudah buta pak tua. Dan apa itu tadi tahi lalat yang manis, tidak salah. Tompel sebesar itu kau bilang tahi lalat yang manis (pikir David).


“Maaf, kalau begitu sepertinya saya salah kamar,” ucap David yang mulai menyadari kekeliruannya. Ia pun segera keluar dari ruangan itu bersama dengan suara lega dari dua insan yang ditinggalkannya.


“Untung saja, cuma salah kamar. Kirain perselingkuhan kita benar-benar sudah ketahuan,” suara dari pria tua yang tadi berbicara dengan David.


“Hah, selingkuh. Dasar tidak waras! Sudah tua seperti itu masih saja selingkuh, cih!” gumam David yang merasa jijik mendengar perkataan pria tua tadi dan terus melanjutkan langkahnya.


Sementara itu di balik dinding tampak Damar dan Ar yang sedang mengintip David dari kejauhan. Ia berusaha menahan tawanya saat melihat keponakan dari sahabatnya itu salah masuk kamar.


“David, David, bagaimana rasanya salah masuk kamar orang, ha ha ha,” ucap Damar.


“Ayah, kau benar-benar jahat sekali!” sahut Ar yang melihat ulah ayahnya.


“Biarkan saja, dulu dia kan yang paling sering menjahiliku. Sekali-kali aku membalas menjahilinya tak apalah. Lagi pula ini juga untuk kebaikan kakakmu,” kata Damar membela diri.


Ar yang mendengar pembelaan ayahnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak menyangka sang ayah yang biasanya bersikap dewasa kini bertingkah seperti anak-anak.


Ayah.. ayah.. Sepertinya memang benar. Saat usia kita sudah semakin tua, maka pikiran kita bisa kembali seperti anak-anak lagi (batin Ar)


***


David merasa semakin kesal karena bisa salah masuk kamar. Ia pun mengambil ponselnya sebagai upaya melampiaskan kekesalannya. Kepada siapa lagi? Tentu saja kepada sekretaris sekaligus asistennya, Lim.


“Lim, ke mana saja kau?” tanyanya dengan suara meninggi.


“Anda ini kenapa Bos? Bukan kah Bos sendiri yang menyuruhku ke ruang laboratorium untuk bergegas memeriksakan hasil tes DNA milik Dilla dan mencocokannya dengan Paman Anda,” jawab Lim.


“Hah, ya, aku lupa. Lalu bagaimana perkembangannya?” tanya David sesudah menghembuskan nafasnya pelan untuk menetralisir suasana hatinya.

__ADS_1


“Anda tidak perlu khawatir Bos, rambut Dilla yang tadi kita ambil secara diam-diam sudah saya bawa ke lab. Sedangkan, untuk DNA Paman Han sendiri masih tersimpan di Bank DNA rumah sakit ini,”


“Baguslah, kalau begitu. Lalu kapan kita akan menerima hasilnya?” tanya David.


“Kemungkinan besok, kita sudah bisa menerimanya. Lalu, sekarang bagaimana dengan kondisi Nona Bella? Apa Anda sudah menjumpainya? Anda tidak membunuh orang kan, Bos,” ledek Lim.


“Bagaimana bisa membunuhnya? Kamarnya saja salah,”


“Apa? Ha ha ha.. Jadi Anda salah masuk kamar Bos?”


“Diam kau! Berhenti tertawa atau kukirim kau ke bulan sekarang juga,” ancam David.


“Tenang, Bos, tenang, maafkan hambamu ini. Hamba takut jika Anda mengirim hamba ke bulan, hamba akan menjadi makhluk paling tampan di sana,”


“Oh, jadi kau serius ingin aku kirim ke bulan, hah?”


“Tidak, Bos, tidak. Saya hanya bercanda saja. Jadi, sekarang apa yang Anda ingin saya lakukan?”


“Cari tahu di mana Az dirawat! Lima menit!”


“Siap, Bos. Laksanakan!” jawab Lim.


Tidak lama setelah ia menutup teleponnya, David menerima pesan dari Lim yang berisi tempat di mana Az di rawat. David segera membaca pesan itu, lalu berjalan menuju ruangan di mana Az dirawat.


Kali ini David lebih berhati-hati membuka pintu ruang rawat. Ia khawatir salah masuk kamar lagi. Dan apa yang dilihatnya saat pintu kamar itu terbuka? Pemandangan yang membuat tensi darah yang tadinya sempat menurun kembali tinggi.


“Apa yang kalian lakukan?” suara David yang menggelegar mengejutkan Bella yang sedang menyuapi Az hingga menyebabkan separuh bubur kacang yang ada di tangan Bella tumpah mengenai pakaian Bella.


Ia lalu bangkit dan berjalan menghampiri David.


“Aww,” Bella menarik telinga David.


“Kau ini ya? Tidak tahu apa ini rumah sakit, masih saja teriak dengan begitu kencang seperti di dalam hutan,” ucap Bella geram dengan tangan yang masih menarik telinga David.


“Hey, gadis tengik! Berani sekali kau menarik telingaku! Apa kau mau mati, hah?” sahut David yang langsung melepas paksa tangan Bella dari telinganya dengan hentakan yang cukup kuat hingga membuat tangan Bella kesakitan.


“Aww, David, kau menyakitiku. Tidak tahu apa kalau aku baru saja mendapatkan musibah,” rengek Bella.


“Ma-maaf, aku tidak sengaja. Itu semua salahmu sendiri, kenapa kau malah menarik telingaku dan berduaan dengan laki-laki bajingan itu,” ucap David menatap tajam Az yang sedari tadi memperhatikannya.


“Siapa yang bajingan? Az sudah melindungiku. Jika tidak ada Az, mungkin aku juga akan terbaring di sana,” sahut Bella.


“Baiklah, aku yang salah. Tapi, aku minta kau jangan menyuapinya lagi karena dia kan bukan bayi,” ucap David melirik Az yang sedari hanya diam mendengarkan pertengkaran mereka.


“Hey, David, apa maksudmu? Kau tidak lihat kedua lengannya sedang terluka seperti itu. Kalau bukan aku yang menyuapinya siapa lagi? Kamu?” tunjuk Bella pada David.


“Baiklah, aku yang akan menyuapinya,” ucap David menyanggupi dan itu membuat Bella dan Az yang mendengarnya tak percaya.


“Kau serius?” tanya Bella yang masih tak percaya dengan apa yang didengar.


“Dua rius,” mengangkat kedua jarinya.


“Baiklah, kalau begitu kau suapilah Az sekarang juga. Aku ingin membersihkan ini dulu, sekaligus menuntaskan semediku yang sempat tertunda,” sahut Bella menyerahkan sisa bubur kacang yang belum habis dimakan Az.

__ADS_1


Setelah Bella, masuk ke kamar mandi, kedua sahabat kecil yang sudah lama tidak saling berbicara itu kini berhadap-hadapan.


“Makanlah! Dan jangan pernah bermimpi tunanganku akan menyuapimu lagi!” ucap David sambil menyendokkan bubur dan menyodorkannya secara paksa kepada Az.


“Heh, tunangan? Kau pikir aku benar-benar percaya dengan itu? Mana ada seorang tunangan memanggil tunangannya gadis tengik?” cibir Az.


Perkataan Az cukup memberikan sindiran kepada David. Saking marahnya, David sampai keceplosan memanggil Bella seperti itu.


“Memang apa urusannya denganmu? Aku mau memanggil Bella seperti apa, itu urusanku kan?” sahut David menatap Az dengan tatapan tajam.


“David, kau berkali-kali mengatakan kalau Bella itu tunanganmu, tapi aku sama sekali tidak melihat ada cincin jari manisnya. Apakah itu mungkin jika seorang CEO hebat sepertimu tidak mampu membelikannya sebuah cincin?” Lagi-lagi Az mengejek David.


“Ternyata kau begitu perhatian sekali dengan tunanganku ya atau jangan-jangan kau menginginkannya?” balas David mengejek Az balik.


“Kalau aku memang menginginkannya bagaimana?” tantang Az.


“Kau!” ucap David setengah berteriak sambil mencengkeram kerah baju Az.


“Jangan pernah bermimpi kau bisa merebut Bella dariku! Karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan Bella sampai mengalihkan pandangannya dariku,” ucap David penuh penekanan.


“Hah, kau ini masih saja sama. Percaya dirimu terlalu tinggi, tapi aku pikir kau masih ingat apa yang pernah kau janjikan kepadaku kan?” tanya Az mencoba mengingatkan David akan janjinya di masa lalu.


“Memang apa yang pernah aku janjikan kepadamu?” tanya David karena ia sama sekali tidak ingat pernah berjanji sesuatu kepada Az.


“Kau pernah bilang kalau aku ini pecundang dan aku tidak akan pernah bisa menang bertanding apa pun darimu. Karena itulah kau pernah mengatakan kepadaku, kalau aku sekali saja bisa menang bertanding denganmu, maka kau akan mengabulkan satu permintaanku apa pun itu,” jawab Az.


David mulai ingat dengan janjinya di masa kecil pada Az.


“Jadi pertandingan apa yang kau inginkan?” tanya David.


“Bagaimana kalau kita bertanding di Sirkuit Labora? tantang Az.


David tersenyum, ia mengerti pertandingan apa yang diinginkan Az di sirkuit tersebut.


“Baiklah, aku terima tantanganmu dan aku tunggu kesembuhanmu karena setelah itu kita akan segera bertanding," ucap David mengulurkan tangannya pada Az.


Az menerima uluran tangan David. Keduanya saling menggenggam tangan erat, sama-sama yakin kalau mereka bisa menang dalam pertandingan itu.


Bella yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap keduanya heran. Apalagi sisa bubur di mangkuk yang ia titipkan kepada David sama sekali tidak berkurang.


“David, apa itu? Kenapa sisa buburnya masih banyak? Apa kau tidak menyuapi Az?” tanya Bella menatap David tajam.


“Oh, itu karena tadi Az mengajakku mengobrol. Kami sedang mengenang masa kecil kami. Lihatlah sekarang aku akan menyuapi dia,” ucap David sambil menyendokkan bubur secara paksa ke mulut Az.


Az dengan terpaksa menerima suapan yang diberikan David kepadanya.


Sial, kenapa laki-laki sombong ini harus datang sekarang? Kalau tidak kan Bella yang seharusnya menyuapiku (pikir Az).


***


Bersambung


Jangan lupa like, vote, dan komennya ya say... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2