Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Ekstra Part Kelahiran Bagian 2


__ADS_3

“Ke mana David, Neni? Kenapa dia masih belum terlihat? Apa dia masih belum siuman?” tanya Bella usai menyusui bayinya.


“Entahlah, Neni juga tidak tahu. Mungkin memang suami payahmu itu memang masih belum sadarkan diri hingga saat ini


“Besan, tolong jaga bicara Anda, seenaknya saja kau mengatakan cucuku itu payah,” ucap Nenek David yang sedari tadi sibuk bermain dengan cicitnya yang sedang digendong oleh Diana.


“Maaf, Besan. Aku hanya gemas saja dengan tingkah cucumu. Bisa-bisanya dia pingsan saat istrinya melahirkan. Bagaimana jika saat itu Ar dan Dilla tidak sedang bersama dengan mereka?”


“Aku mengerti, tapi bisa saja itu terjadi karena David saat itu terlalu lelah sehabis mendorong gerobak bakso,”


“Eh, baru mendorong gerobak bak…,” ucapan Neni terpotong saat bayi kecil yang digendong Diana menangis.


“Tuh lihat, apa yang sudah kalian berdua lakukan? Kalian berdua telah membuatnya menangis,” ucap Han yang sedari tadi merasa sebal dengan perseteruan ibunya dan nenekmu.


“Oh, cucuku, maaf ya, Neni tidak akan mengulanginya lagi,” ujar Neni yang langsung mengambil bayi itu dari gendongan Diana.


“Aku juga mau menggendong cicitku,”


“Iya, tapi nanti setelah aku puas menggendongnya,”


“Mana bisa begitu,”


“Mulai lagi,” gumam Han sambil menepuk jidatnya, sementara Diana dan Bella hanya tersenyum melihat tingkah dua wanita yang sudah berumur yang kini lebih menyerupai anak kecil yang sedang berebut mainan.


“Hey, apa yang sedang kalian berdua lakukan?” suara David yang baru saja masuk menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan tersebut.


“Ya Tuhan, ini David juniorku bukan?” tanya David yang langsung mengambil bayi itu dari tangan Neni.


“Akhirnya kau siuman juga David, baru aku mau ke sana dan mengambil beberapa jengkol busuk untuk membangunkanmu,”


“Heh, Neni bisa saja. Sebenarnya aku sudah bangun dari tadi hanya saja…,” David tidak jadi melanjutkan ceritanya.


Bodoh, kenapa aku bisa keceplosan? Bisa-bisa aku jadi bahan tertawaan mereka kalau mereka tahu kejadian tadi (batin David).


“Hanya apa?”


“Hanya saja David salah mengenali bayinya Neni,” sambung Dilla yang belum lama ini masuk ke ruangan tempat Bella dan yang lainnya berada.


“Apa?”


“David mengira anaknya Az adalah putranya, ha ha ha,” gelak tawa Dilla mendapat sahutan dari Bella dan yang lain.


“Selain itu..,”


“Dilla stop! Kalau kau tidak ingin mati saat ini juga,” ancam David.


“Sayang, kenapa kau ini bisa begitu bodoh? Bagaimana bisa kau salah mengira putranya Az sebagai putramu?”


“Entahlah,”


“Dasar kau memang payah,” ucap Neni.


“Benar-benar payah,” kali ini Nenek David menyetujuinya.


“Sudahlah, kalian jangan seperti itu. Mungkin David terlalu senang, jadi dia bisa bertindak ceroboh seperti itu,” Diana mencoba membela keponakannya.


“Benar. David, sekarang berikan nama untuk putramu,” sahut Han.


“Baiklah, Paman. Karena ini adalah putra pertamaku dan Bella, aku sudah menyiapkan nama khusus untuknya,”


“Oh ya? Benarkah itu Sayang? Kalau begitu siapa namanya,”


“Nama putra kita adalah Dala Putra Erlangga,”


“Dala? Apa artinya?” tanya Diana.


“Dalla itu berati David dan Bella,”


“Aih, aku kira apa,” gumam Neni.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Neni, aku suka nama itu. Terima kasih, Sayang,” ucap Bella.


Kebahagiaan keluarga Erlangga kini bertambah lengkap dengan kehadiran putra pertama David dan Bella, Dala Putra Erlangga.


***


Di kamar lain


Dara masih terlelap dalam tidurnya setelah melahirkan putra pertama dirinya dan Az.


“Akhirnya Tuhan mengganti kesedihan kami dengan kebahagiaan,” ucap Bernardo.


“Benar, ini adalah salah satu bentuk kasih sayangNya kepada kita,” sahut Damar.


Dua minggu yang lalu keluarga Morris baru saja. Mereka berduka karena Silvia, kakaknya Dara yang juga merupakan ibu kandung Lusia, menghembuskan nafas terakhirnya. Padahal, beberapa hari sebelumnya, kesehatan mental Silvia mulai membaik.


Silvia sudah bisa diajak bicara, tidak lagi histeris seperti sebelumnya. Kesadarannya pun telah pulih sepenuhnya, ia sudah bisa mengingat semua kejadian dan menerima Lusia. Akan tetapi, Tuhan lebih menyayanginya. Ia memanggil Silvia saat sedang tidur bersama Dara dan Lusia. Tentu saja, hal tersebut membuat Dara dan Lusia sempat terguncang. Namun, pada akhirnya mereka bisa menerima takdir ini.


“Lihatlah ini dia cucumu, Ayah,” ucap Az sambil menggendong bayinya dan membawanya masuk ke kamar Dara.


“Ya Tuhan, tampan sekali. Maaf, Opa baru sempat melihat karena Opa sibuk di ruang operasi,” ucap Damar pada sang bayi.


Perlahan Dara mulai membuka matanya.


“Sayang, kau sudah bangun,” ucap Az saat melihat Dara bangun dan mendudukan dirinya di ranjang rumah sakit.


“Iya,”


“Apa kau butuh sesuatu?”


“Tidak, aku hanya ingin menggendong bayi kita,”


“Baiklah, ini,” Az memberikan bayi itu kepada Dara.


“Tampan sekali anak Mommy,” ucapnya sambil mencium sang bayi.


“Iya, aku sudah mendapatkannya,”


“Siapa namanya?”


“Nama putra kita adalah Aldian Azra Effendi. Aldian berasal dari kata ‘dian’ yang berarti cahaya dan Azra yang merupakan gabungan dari nama kita Azril dan Dara,” jelas Az.


“Nama yang bagus,”


“Putraku sekarang namamu adalah Aldian Azra Effendi dan Mommy akan panggil kamu Al, apa kau suka?” tanya Dara pada sang bayi.


Mendengar pertanyaan Dara ibunya, bayi itu hanya melengos tak peduli. Ia seolah mengabaikan pertanyaan sang Mommy.


“Ya ampun, Sayang, bayimu ini ternyata sama dinginnya denganmu,” keluh Dara yang membuat Damar dan Bernardo tersenyum. Sementara Az hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


***


Delapan tahun kemudian


“Marsella!!!”


Seorang gadis kecil dengan rambut hitam bergelombang berlari menjauh dari kejaran ibunya.


“Ya Tuhan, sampai kapan kau mau terus berlari? Sini pakai bedaknya,” teriak sang Bunda yang tak lain adalah Bella.


“Tidak, Bun. Cella tidak mau dipakaikan bedak sama Bunda. Nanti wajah Cella, bisa seperti badut,” jawabnya sambil memanyunkan bibirnya membuat siapa pun yang melihatnya menjadi gemas.


“Sudahlah Sayang, putriku ini mau pakai bedak atau tidak dia tetap cantik kok seperti ibunya,” sahut David yang baru saja turun.


“Tapi hari ini adalah hari ulang tahun kakaknya. Dia harus tampil lebih cantik dari biasanya,”


“Kalau begitu biarkan Omanya yang melakukannya,”


“Omanya sedang sibuk dengan Paman kecil. Mereka sedang mendekor pesta untuk Dala,”

__ADS_1


“Hah, makin pintar saja adikku. Kalau begitu biar aku yang melakukannya,” tawar David.


“Nih,” Bella memberikan bedak itu pada David dan David dengan telaten memakaikan bedak untuk putrinya.


“Dasar anak Ayah,” gerutu Bella.


“Uwek,” Marsella menjulurkan lidahnya pada Bella yang membuat Bella membalasnya.


Aksi keduanya membuat David tersenyum. Bahagia rasanya di kelilingi perempuan-perempuan cantik yang dicintainya.


***


Pesta dimulai, semua kerabat hadir di pesta ulang tahun yang diadakan untuk Dala. Tak terkecuali Az yang hadir bersama istrinya Dara dan putranya Al.


“Al, apa kau tidak ingin Mommy mengadakan pesta semacam ini juga untukmu?”


“Tidak,”


“Kenapa?”


“Membosankan,”


Ya ampun, anak ini. Kenapa bisa satu cetakan dengan ayahnya sih? Padahal aku ingin sekali merayakan ultahnya sekali saja. (batin Dara)


“Hai, Kak Al, kita temuin Kak Dalla dulu yuk,” ajak seorang gadis kecil dengan rambut hitam sebahu yang dihias bando pink yang cantik.


"Enggak, Marsya. Kamu aja,”


“Ayo, dong Kak Al. Di sana juga sudah ada Kak Jo, Cella, Rika, dan Riko,”


“Hah, apalagi ada mereka,” jawab Al malas.


“Marsya, Al, sini! Kita foto bareng dulu! Jarang-jarangkan kita semua kumpul,” ajak Dilla.


“Iya, Bun,”


“Tuh, Kak Al, Bunda manggil. Ayo,” sahut Marsya menarik paksa Al.


Semua keluarga dan kerabat dekat Erlangga tengah merapatkan posisi untuk berfoto bersama. Orang dewasa dari keluarga Erlangga, William, Wijaya, dan Effendi berada di belakang dan anak-anak mereka di barisan paling depan.


Ada Marsella yang tampil cantik dengan gaun merahnya dan kini telah berdiri di antara Dala dan Aldian.


“Kak, ayo senyum! Atau nanti Bunda akan pukul bokongmu,” bisik Sella ke telinga Dala yang saat itu memasang wajah jutek.


Cih, Bunda benar-benar pintar menyuruh aku berbaris dekat si kriwil ini (batin Dala yang mulai tersenyum setelah mendapat ancaman dari sang adik)


“Ayo, senyum!” kini Sella menarik bibir sebelah kiri dan kanan milik Al.


“Diam,” ancam Al.


“Ayo, senyum dong tunangan kecilku,” bujuk Sella berpura-pura centil.


Cih, siapa juga yang mau jadi tunanganmu. Mimpi (batin Al)


Cekrek


Foto keluarga besar dari orang-orang hebat itu pun telah selesai diambil dan mengisi tempat dari berbagai rubrik berita yang ada di seluruh kota di Negara S.


***


TAMAT


Usai sudah cerita “Mengaku Tunangan CEO”


Terima kasih bagi yang sudah mendukungg cerita ini lewat like, vote, hadiah, dan komentarnya.


Semoga bisa menjadi cerita berkesan bagi kita semua.


Salam sayang untuk semua

__ADS_1


__ADS_2