
Dilla yang berdiri di samping Bella tampak terpesona melihat penampilan Ar yang terlihat sangat tampan.
“Ya Tuhan, ini manusia apa malaikat? Tampan sekali,” (puji Dilla dalam hati)
Bella yang melihat keterpesonaan Dilla, langsung tersenyum dan mencubit lengan Dilla.
“Aww, sakit,” ringgis Dilla menatap Bella.
“Kau kenapa? Terpesona ya, sama Pangeran tampan yang ada di depanmu itu,” goda Bella.
“Huss,” sahut Dilla tak ingin ucapan Bella terdengar Ar.
“Oh ya, Ar, kenalkan ini teman sekaligus saudara angkatku Dilla,” ucap Bella memperkenalkan sepasang insan yang berdiri di dekatnya.
“Ar,” ucap Ar menyodorkan tangannya kepada Dilla.
“Dilla,” sahut Dilla.
Tanpa sadar Dilla menggenggam tangan laki-laki tampan itu cukup lama.
“Ehem,” Ar berdehem.
Pipi Dilla merona saat tersadar tingkahnya yang melewati batas. Ia pun segera melepaskan genggaman tangannya. Melihat tingkah konyol sahabatnya membuat Bella semakin ingin menggodanya.
“Kau pakai blush on ketebelan tuh,” bisik Bella.
Dilla yang sadar dirinya sedang digoda Bella, langsung menyikut lengan Bella.
Sadar dirinya sedang dibicarakan, Ar segera mengalihkan topik untuk memecah kecanggungan.
“Bel, kau sudah siap dengan pertandingan malam ini?” tanya Ar.
“Sudah, dong.. kamu enggak lihat apa?” sahut Bella sambil menunjuk motor yang dibawanya dengan dagunya.
“Wuih.. motor baru.. kelihatannya ada yang siap menang nih?” sahut Ar saat melihat motor yang dibawa Bella.
“Siapa yang siap menang?” suara bas seorang laki-laki menggema di tengah percakapan Bella dan Ar.
Laki-laki itu baru saja turun dari motornya dan membuka helm yang ia kenakan.
__ADS_1
“Az, kau datang juga.. Sepertinya malam ini akan menjadi pertandingan yang sangat menarik,” ucap Ar.
“Yang jelas kali ini temanmu itu harus bersiap dengan kekalahannya dan menerima pembalasan dariku,”
“Oh ya?? Aku sangat takut..” ejek Bella.
Az mengepalkan tangannya. Ia benar-benar masih menyimpan dendam pada Bella atas kekalahannya beberapa pekan lalu.
Betapa tidak, reputasi Az sebagai pangeran kegelapan yang dikenal karena kemenangannya beberapa kali di area balapan liar harus hancur karena kekalahannya dari gadis ingusan seperti Bella.
“Berapa taruhannya?” tanya Bella.
“Lima,” jawab Az tanpa melihat Bella.
“Lima ratus ribu?" ujar Bella yang disambut senyuman sinis dari Az.
“Bukan, lima puluh juta,”
“Ha,” jawaban Az sontak membuat Bella dan Dilla tersentak.
“Kenapa? Kau bisa berhutang dulu kepadaku kalau kau memang tidak mampu membayarnya,” ejek Az.
“Ar, kau gila! Lima puluh juta bukanlah jumlah uang yang sedikit,” ucap Bella.
“Tenanglah aku percaya kau tidak akan kalah,” sahut Ar.
“Lagi pula, bukannya kau itu tunangannya pewaris utama keluarga Erlangga ya?” bisik Ar menggoda Bella. Dia tahu kalau Bella suka membual dan suka mengaku-ngaku sebagai tunangan David.
“Oke, kalau begitu siapa takut?” Bella pun akhirnya memberanikan diri menjawab tantangan Az.
Pertandingan pun dimulai, kedua motor melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sorak-sorai suporter dari kedua kubu menyemangati pertandingan keduanya.
Kali ini Ar, memilih tidak ikut bertanding dan menjadi pendukung Bella. Saat kedua motor sedang melaju dengan cepat, tampak kecemasan di wajah Dilla. Berulang kali ia merapalkan doa agar tidak terjadi hal-hal buruk pada sahabatnya itu.
“Kau, tenang saja. Bella, gadis yang hebat tidak akan terjadi apa-apa padanya,” ucap Ar berusaha menenangkan Dilla.
“Apa Bella sudah terbiasa dengan semua ini?” tanya Dilla.
“Iya. Dan hingga saat ini belum ada yang mampu mengalahkannya,” jawab Ar.
__ADS_1
Dua puluh menit pun berlalu, sebuah motor melaju cepat ke arah mereka.
“Yeaaay..” teriak Bella begitu sampai di garis finish. Sorak sorai dan ucapan selamat menggema di kubu Bella.
Selang 1 menit, tampak motor Az juga melaju di belakang Bella.
“Sial,” pekik Az sambil melempar helmnya.
“Sayang.. kau tidak apa-apa kan?” ucap seorang wanita cantik nan seksi yang sempat menggelayut manja dengan Az sebelumnya.
Namun, Az tak menjawab, ia hanya menatap wanita itu dengan tatapan dingin.
“Ambil ini,” ucap Az dingin sambil melempar amplop coklat ke arah Ar dan segera berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Waw, lima puluh juta??” teriak Bella senang saat melihat isi amplop yang diberikan Ar.
‘Aneh, kenapa Az bisa semudah itu kalah?’ Aku pikir pertandingan kali ini bakalan seri (batin Ar)
“Yeayy.. akhirnya aku bisa melunasi semua hutang-hutang Neni. Terima kasih Ar, kau sudah percaya padaku,” ucap Bella senang.
“Ini lima juta, kau bisa membagikan kepada teman-teman yang ada di sini,” ucap Bella kembali sambil menyerahkan lima juta rupiah kepada Ar.
Ar pun dengan senang menerimanya dan membagikan uang yang diberikan Bella kepada yang lain. Mereka yang menerima uang itu menjadi sangat senang dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Bella.
“Ayo, Dil, kita pulang! Sebelum Neni menyadari kita tidak ada di rumah,” ajak Bella.
“Iya, ayo!” sahut Dilla.
“Semuanya.. aku pulang!” teriak Bella diiringi lambaian tangan kepada teman-temannya.
“Oke, Bel, hati-hati dan sekali lagi makasih ya!” sahut teman-teman yang lainnya.
" Oke, sama-sama,"
Setelah berpamitan Bella dan Dilla bergegas meninggalkan tempat itu.
***
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih yang sudah membaca cerita ini, jangan lupa dukung cerita dengan memberi like, vote, komen, dan jadikan favorit ya... 🙏🙏🙏