
Setelah para wartawan itu duduk di kursi para pengunjung, Neni mulai meracik satu per satu bakso pesanan mereka. Mereka pun memakan bakso buatan Neni dengan lahapnya.
“Ternyata baksonya enak juga ya?” tanya salah seorang wartawan kepada rekannya.
“Iya, sayang harga 150 ribu,” jawab rekannya.
“Huss, harganya itu cuma 15 ribu, selebihnya uang informasi,” sahut Nano.
“Iya, haha, daripada bayar yang satu juta,” timpal yang lainnya.
Tak lama berselang, sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti di depan kedai bakso Bella.
Dari dalam mobil itu tampak Lim dan David yang mulai memperhatikan keadaan sekitar.
“Bos, bukankah mereka itu para wartawan yang kita undang kemarin?” tanya Lim melihat ke arah para wartawan yang sedang menikmati bakso di kedai Bella.
“Iya, mau apalagi mereka?” sahut David.
“Sepertinya mereka masih belum puas dengan hasil konferensi pers kita kemarin dan sekarang sengaja kemari untuk mencari tahu lebih banyak tentang Nona Bella,” jawab Lim.
“Sepertinya begitu,” sahut David.
“Kalau begitu apa perlu saya saja yang turun dan menghampiri Nona Bella sendiri, Bos?” tawar Lim.
“Tidak usah, aku juga akan turun bersamamu. Karena gadis tengik itu pasti punya 1001 alasan untuk menolak ikut dengan kita,” jawab David.
“Baik, Bos,” sahut Lim.
Sekretaris Lim lalu membukakan pintu untuk David, setelah dirinya keluar dari sedan silver itu.
Dengan menggunakan stelan jas serba hitam dan kemeja berwarna putih lengkap dengan dasi membuat keduanya tampak terlihat elegan. Tak lupa David memasangkan kaca mata hitam, sebelum dirinya benar-benar keluar dari mobil itu.
Pemandangan keduanya yang berjalan ke arah kedai bakso Bella, tak luput dari para insan yang haus akan berita yang sekarang sedang duduk manis di kedai Bella.
“Coba lihat! Bukankah itu Tuan David Erlangga dan Sekretarisnya!” tunjuk Nano, salah seorang wartawan yang sebelumnya sempat beradu argumen dengan Bella.
“Iya, benar,” jawab rekannya.
“Wah, berarti tunangannya masih tinggal di sini,”
“Untung kita tidak pergi dari sini. Bisa ketinggalan informasi kita kalau sampai pergi, " sahut yang lainnya.
__ADS_1
“Hei, Nona, kamu berbohong pada kami ya?” ucap salah seorang wartawan saat memberikan kembali mangkuk bakso yang telah habis kepada Bella.
“Aduh , ngapain sih dua kampret itu datang kemari,” gumam Bella tidak senang.
“Dilla, kalau raja kampret itu nyariin aku. Bilang saja aku gak ada,” bisik Bella ke telinga Dilla.
Setelah membisikkan hal itu kepada Dilla, Bella langsung naik ke lantai atas meninggalkan tempat itu.
“Mana?” tanya David dingin saat melihat Dilla berdiri di hadapannya.
“Eh, ada Tuan David, mau bakso?” tanya Dilla pura-pura tidak paham dengan maksud pertanyaan David.
“Jangan bersikap bodoh!” sahut David ketus.
“Nona, Anda tentu tahu maksud pertanyaan dari Bos David kan?” ucap Lim kemudian.
“Tuan David, apa Anda kemari untuk mencari tunangan Anda?” celetuk salah seorang wartawan.
David kemudian menoleh ke arah wartawan tadi.
“Apa kamu masih betah dengan pekerjaanmu?” ancam David dengan aura dingin, membuat para wartawan yang hadir di tempat itu hanya mampu menelan ludah mereka. Tak ada satu pun dari mereka yang berani bertanya lebih lanjut.
"Mana?” tanya David lagi.
“I-itu..,” Dilla masih tergagap, ia masih belum bisa menjawab. Ia hanya mampu menggigit bibir bawahnya, mencoba memikirkan jawaban yang terbaik untuk keduanya.
“Ada apa, Dilla? Kenapa kau hanya mengatakan ‘itu’ saja? Memang apa yang mereka cari?” tanya Neni menghampiri ketiganya.
Ia kemudian menatap lekat wajah dua pemuda tampan yang kini berdiri di dekatnya.
Ya Tuhan, tampan sekali kedua pemuda ini. Siapa mereka? Kenapa mereka bisa datang kemari? Tapi.. tunggu, kenapa wajah yang satunya seakan tidak asing ya? (ucap Neni dalam hati)
“Neni, bukan apa tapi siapa?” ucap Dilla kemudian.
“Maksud kamu apa?” tanya Neni bingung.
“Maksud Nona Dilla, Bos David sedang mencari di mana tunangannya,” jawab Lim.
“Tunangan? Memang siapa tunangan Bosmu? Apa kamu mengenalinya, Dilla?” tanya Neni.
“I-itu yang mereka maksud Bella, Neni,” jawab Dilla lirih.
__ADS_1
“Apa? Jadi dia itu tunangan cucuku? MasyaAllah, tampannya,” Neni yang tampak senang langsung memeluk David. Membuat David dan Lim terlihat sedikit bingung.
“Aku nenekmu, neneknya Bella,” ucap Neni dalam dekapan David.
“Oh, Nenek,” sahut David.
“No, bukan nenek, tapi NENI, sayang. Panggil aku Neni seperti Bella memanggilku,” pinta Neni.
“Oh, Neni,” ucap David sambil membalas pelukan Neni.
Entah mengapa ada perasaan hangat saat Neni memeluk David, padahal biasanya ia sering merasa jijik jika dipeluk oleh orang asing. Apalagi saat ini Neni memakai celemek dan tubuhnya pun penuh dengan aroma bakso.
Tumben, Bos David mau dipeluk oleh orang asing (ucap Lim dalam hati)
“Jadi, kamu tunangannya Bella? Bella benar-benar pintar memilih laki-laki ya.. Pantas saja si Otong, Jojon, Jordan sama si Lanang kalah,” puji Neni dengan perasaan sangat senang.
“Kalau begitu duduk di sini, dulu!” ajak Neni mempersilakan David dan Lim duduk di kursi yang masih kosong.
“Dilla, cepat panggil Bella suruh dia ke bawah! Katakan tunangannya datang!” seru Neni.
“I-iya, Neni,” jawab Dilla.
Mendengar permintaan Neni, Dilla sama sekali tak kuasa untuk menolaknya. Dengan perasaan malas, Dilla pun melangkahkan kakinya ke lantai atas menuju kamar Bella.
“Bella, sepertinya kali ini kau harus menghadapinya,” gumam Dilla saat mulai menapaki satu per satu anak tangga yang menghubungkan kedua lantai yang ada di rumah Bella.
***
Bersambung
Apakah yang akan dihadapi Bella setelah kunjungan David ke rumahnya?
Temukan jawabannya di episode selanjutnya..
Agar tidak ketinggalan klik tanda love untuk menjadikan karya ini sebagai favorit Anda dan jangan lupa berikan like untuk karya ini..
Ditambah vote dan hadiahnya juga boleh 🤭🤭
Terima kasih 🤗🤗
Salam sayang dan sehat selalu 💐💐💐
__ADS_1