
“Dok, semua persiapan untuk operasi nanti telah selesai. Operasinya sudah bisa dilakukan pukul 08.00 pagi ini sesuai dengan yang telah dijadwalkan,” ucap salah seorang perawat yang bernama Suster Inggit.
“Baik, Sus, terima kasih atas informasinya,” sahut Dokter Azril.
“Sama-sama, Dok,” balas Suster Inggit sebelum meninggalkan ruangan Dokter Azril.
Saat akan keluar, Suster Inggit berpapasan dengan seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan seragam dokter yang sama dengan para dokter lainnya.
“Selamat Pagi, Dokter Damar,” sapa Suster Inggit saat laki-laki itu memasuki ruangan Dokter Azril.
“Pagi, juga Suster Inggit,” balas dokter yang dipanggil Damar tersebut.
“Saya permisi dulu, Dokter,” sahut Suster Inggit.
“Silakan,” ucapnya mempersilakan Suster Inggit keluar dari ruangan Dokter Azril.
“Ayah, kau sudah kembali?” tanya Azril kepada Dokter Damar.
“Tentu saja, mana mungkin Ayah bisa tenang tinggal di sana saat Ayah mendengar kabar bahwa hari ini dua putra Ayah akan melaksanakan operasi yang sangat penting seperti ini. Ayah tidak menyangka kalau operasi Cia akan dilaksanakan secepat ini,”
“Aku juga tidak menyangka Ayah karena selama ini Cia sudah menjalani kemoterapi dan radioterapi secara rutin untuk menekan sel-sel kanker yang ada dalam otaknya Akan tetapi, kondisi Cia tidak ada perubahan. Bahkan, belakangan ini Cia sering merasakan pusing dan mual,”
“Tapi kamu tahu kan operasi itu resikonya sangat besar?”
“Aku tahu Ayah karena itu aku mohon doakan kami,”
“Tentu, aku akan mendoakan agar Cia, cucuku baik-baik saja dan semoga operasi kalian berjalan dengan lancar dan membuahkan hasil sesuai yang diharapkan,”
__ADS_1
“Terima kasih, Ayah. "
“Sama-sama, tapi apakah kau sudah mencoba Terapi K3 untuk Cia?”
“Sejauh ini aku belum mencobanya karena terapi seperti itu masih baru di negara ini. Lagi pula kondisi Cia sekarang cukup membahayakan jadi aku hanya bisa mengambil alternatif tercepat,”
“Baiklah, sekarang sudah waktunya. Tenangkan dirimu dan bersiaplah untuk operasi ini,” ucap Dokter Damar saat melihat jam sudah menunjuk ke angka 8.
“Baiklah, terima kasih, Ayah, " ucap Azril sebelum meninggalkan ruangannya.
Aku berharap kalian berdua bisa melakukan yang terbaik untuk Lusia sehingga setelah ini hubungan di antara kalian berdua bisa menjadi lebih baik (ucap Dokter Damar dalam hati)
***
Sementara di tempat lain, Aria sudah mengganti stelan jas dokternya dengan pakaian serba hijau sebelum memasuki ruang operasi. Ia ingat dengan kata-kata Ayahnya untuk selalu bersikap tenang. Ini adalah saatnya ia membuktikan kemampuannya pada sang kakak. Ia benar-benar berdoa agar operasi kali ini bisa berhasil
Sebagai dokter anastesi, Aria menjadi pihak yang mengawali jalannya operasi.
“Dokter Aria, segera lakukan pembiusan!” seru Dokter Azril.
“Baik," sahut Dokter Aria.
Operasi mulai berjalan, para dokter dan perawat berkosentrasi dengan tugasnya masing-masing. Operasi yang mungkin akan berlangsung cukup lama, bisa satu atau dua jam atau bahkan lebih.
***
Di luar ruangan operasi
__ADS_1
Dilla semakin giat melakukan pekerjaannya. Ia berkeliling memasuki kamar para pasien yang ada di rumah sakit bersama rekannya Kamel. Mereka mengambil bekas selimut, seprai, dan pakaian pasien yang telah kotor untuk dicuci.
Saat Dilla sedang berkeliling, tampak sepasang mata memperhatikannya. Pemilik sepasang mata itu kini mendekat ke arah Dilla.
“Kamu ini Dilla kan? Petugas kebersihan yang belum lama bekerja di rumah sakit ini?” tanya si pemilik mata tersebut yang dari pakaiannya bisa diterka bahwa dia adalah seorang dokter di rumah sakit ini.
“Iya, saya Dilla. Ada apa, Dok?” sahut Dilla tersenyum ramah.
“Begini ya, Dil. Sebelumnya saya minta maaf telah mengganggu pekerjaanmu, tapi saya berharap kamu bisa sadar diri siapa kamu sebenarnya di rumah sakit ini,”
“Maksud Dokter?” tanya Dilla tak paham.
“Kamu itu di sini cuma seorang babu, jadi tidak pantas kalau kamu terlalu dekat dengan Dokter Aria. Kehadiranmu hanya akan menjatuhkan reputasinya di rumah sakit ini. Dan asal kamu tahu, Dokter Aria itu adalah putra dari pemiliki rumah sakit ini. Jadi jangan pernah bermimpi untuk bisa bersanding dengan dia karena statusmu sangatlah tidak pantas,” ucap Dokter tersebut sinis. Lalu berlalu meninggalkan Dilla.
Dilla yang mendengar omongan sang dokter hanya bisa diam terpaku, mencerna satu per satu kalimat yang keluar dari mulut sang dokter. Hatinya seolah disayat oleh pisau yang sangat tajam. Begitu perih dan menusuk.
Kenapa? Kenapa takdir selalu seperti ini? Kenapa aku harus seperti Bunda? Mencintai laki-laki dengan status yang jauh lebih tinggi dari statusku. Laki-laki yang tak pantas dan tak seharusnya aku impikan. Ayah, kau meninggalkan Bunda karena statusmu ini bukan? Dan karena status ini juga kau bahkan tak bisa mengenali putri kandungmu sendiri. Sekarang mereka mempertanyakan status putrimu Ayah. (ucap Dilla dalam hati)
Air matanya tanpa sadar mengalir membasahi pipinya yang putih bersih dan itu terlihat oleh Kamel, teman seprofesinya yang juga sedang mengambil seprai dan selimut kotor di ruangan tersebut bersamanya.
“Makanya lo kalau jadi orang harus sadar diri. Meskipun lo cantik, di rumah sakit ini lo cuma seorang petugas kebersihan yang enggak ada bedanya sama babu. Jangan mimpi deh bisa jadi pacarnya Dokter Aria karena yang pantas sama Dokter Aria itu cuma Dokter Lolita, dokter tercantik di rumah sakit ini dan memiliki status yang sama dengannya. Lo ingat itu,” sahut Kamel penuh dengan nada hinaan.
Dilla yang mendengar itu kini hanya bisa mengelus dada, menelan segala kepahitan dari kenyataan yang harus ia terima. Meskipun ia putri kandung dari seorang pengusaha sukses, Handika Erlangga, tetap saja statusnya kini hanyalah anak yang terbuang, yang bahkan tak dikenali oleh ayah kandungnya sendiri.
****
Bersambung
__ADS_1
Like, vote, komen, dan favoritnya ditunggu...